Sunrise In Your Eyes

Sunrise In Your Eyes
Birthday



"Andai aku membawa kamera, aku ingin menyimpan momen ini" ucap Jacob


"Aku pikir ada baiknya kita tidak membawa handphone. Jika sinyal kita terlacak, akan lebih mudah orang menemukan posisi kita sekarang." Hani menimpali.


"Benar juga, " Jacob berfikir cara untuk menyimpan momen mereka saat ini tanpa melalui kamera. Ia melihat sekitar, mencari batu yang cukup besar untuk mengukir nama disana.


Dan ya akhirnya ia menemukan sebuah batu yang besarnya cukup untuk dijadikan objek tempat duduk. Ia mengajak Hani bangkit dan berjalan mendekati batu itu. Ia mengeluarkan swiss army knife dari saku celananya dan berjongkok untuk mulai mengukir tulisan di batu itu. Hani hanya mengikuti Jacob dan berada di sampingnya sejajar dengan Jacob.


J and H - last year


"Kenapa tahun terakhir? "


"Karena kita bertemu di tahun terakhir sekolah. At last, but not least"


Hani tersenyum mendengar jawaban Jacob, "that's good"


Dan begitulah mereka mengakhiri perjalanan sore itu dan memutuskan untuk kembali ke tenda karena hari sudah mulai gelap. Di tenda, Hani mulai menulis di jurnal kecil miliknya, sedangkan Jacob berada di luar tenda sedang berusaha memasak sesuatu sambil sesekali mengamati Hani yang sedang menulis. Ia penasaran kali ini apa yang ditulis oleh perempuan itu.


Beberapa menit kemudian makanan selesai dimasak, dan Jacob memanggil Hani untuk makan malam bersama. "Hani, sudah waktunya untuk makan" ucap Jacob lembut, yang berada di pintu tenda. Hani melihat ke arah Jacob dan mengangguk pelan. Ia menutup buku jurnal dan memasukkannya kembali ke dalam tas.


Makan malam berjalan dengan hening. Jacob makan sambil mengamati Hani yang menikmati makanannya. Seolah menunggu kalimat apa yang akan diucapkan gadis itu padanya. Karena merasa diperhatikan, Hani menoleh dan menanyakannya. "Apa ada sesuatu di wajahku?" tanyanya polos.


Jacob menjawab gugup, "um nothing". Hani tak percaya dengan jawaban itu, "you wanna say something?" tanya Hani sekali lagi. "No, tidak ada yang aku tanyakan". Melihat gelagat Jacob sekarang, Hani merasa lelaki di sampinya cukup menggemaskan. Kemudian ia tersenyum dan memuji masakan yang dibuat Jacob.


"Ini sangat lezat, kamu memang pandai memasak" ucapny sambil menyuap satu sendok makanan ke dalam mulutnya.


Jacob menoleh dengan cepat dan tersenyum, ternyata ia menunggu pujian dari Hani. "Thanks" ucapnya lembut dengan senyum yang tak memudar sekalipun.


Setelah selesai makan malam mereka merapikan area luar tenda dan kembali duduk di depan tenda. Jacob sibuk dengan memilah buah-buah yang sempat mereka petik sebelumnya. Dan Hani duduk disampingnya, ikut membantu.


"Kamu adalah orang pertama yang mencicipi masakanku" ucap Jacob membuka percakapan


"Benarkah? Jangan-jangan kamu belum pernah memasak sebelumnya"


"Hehehe percayalah ini kali pertama aku memasak"


Jacob tertawa kecil, "hanya karena gagal satu kali bukan berarti kamu tidak bisa melakukan apapun, cobalah hal lain kamu selalu punya kesempatan memulai hal baru"


"Benar juga, sepertinya aku terlalu pesimis. Karakter kita benar-benar berbeda. Si paling optimis dan si paling pesimis"


"Selama bukan sesama si paling keras kepala, aku pikir kita masih memiliki banyak kesamaan."


Hani diam sejenak seolah mengingat sesuatu setelah mendengar kalimat terakhir Jacob. "Tunggu dulu, aku baru ingat tanggal lahir kita sama"


"Benarkah?"


"Hum 25 April kan?"


"Ah beda sehari, aku 24 April"


"Aku pikir tanggalnya sama, ternyata hanya bulan dan tahun" suara Hani terdengar kecewa. Jacob menganggapnya menggemaskan dan memberinya umpan balik.


"Setidaknya kita masih bisa merayakannya bersama kan? Lagipula akan lebih menyenangkan jika kita berbagi pesta perayaan bersama"


"Aku lebih suka jika hanya memiliki satu orang yang tulus memberiku ucapan di hari ulang tahun. Entah kenapa saat bersama teman-temanku dulu, mereka memberiku ucapan dan kado terkesan hanya formalitas. Bukan karena benar-benar peduli padaku. "


"Lalu, bolehkah aku menjadi satu orang itu?"


"Hmm?"


Jacob menghentikan aktivitasnya sejenak, ia menoleh pada Hani. Diikuti dengan sang lawan bicara yang juga menghadapkan tubuhnya ke arah Jacob.


"Aku tahu hari ulang tahun kita sudah terlewat, tapi aku belum pernah mengucapkan apapun padamu sebelumnya. Jadi aku ingin mengatakan, selamat ulang tahun. Tapi maaf aku tidak bisa memberimu apapun saat ini"


Hani tersenyum, matanya hampir menangis. Namun berhasil ia tahan dan perlahan memeluk Jacob.


"Thank you, selamat ulang tahun juga untukmu. Kamu adalah lelaki pertama yang berhasil bertahan sejauh ini. Aku tidak butuh kado atau sesuatu yang spesial lagi, karena bagiku kamu sudah lebih dari cukup."