
Setelah cukup lama berbincang, mereka perlahan mulai tertidur. Hani menyandarkan kepalanya di dada Jacob, dan Jacob menggunakan telapak tangan kanannya sebagai bantalan kepala. Sedangkan tangan yang lain merangkul tubuh Hani yang berada di sampingnya.
Keduanya terlelap untuk beberapa saat, kemudian terbangun karena bunyi alarm jam tangan milik Jacob. Membuat Hani membuka matanya terlebih dahulu, lalu terduduk dan melihat pemandangan di depannya. Sebuah matahari yang hendak terbit membangunkan semesta.
Ia pun membangunkan Jacob yang masih terlelap.
"Jacob bangun, kamu harus lihat ini, jangan sampai ketinggalan"
Ia menggoyangkan tubuh Jacob perlahan, hingga lelaki muda itu membuka matanya.
Ketika kesadarannya sudah sepenuhnya pulih, ia pun duduk sama seperti Hani. Ia melihat ke depan dan matahari itu perlahan muncul ke permukaan.
"Apa kamu melihatnya?" tanya Hani
"Apa? Matahari yang baru saja terbit?" jawab Jacob dengan polosnya
"Bukan, kilatan berwarna hijau yang terlihat di tepi atas matahari" Hani menjelaskan
"Entahlah, aku tidak memperhatikannya"
"Itu fenomena langka, hanya muncul beberapa detik"
"Ah that's why kamu sangat antusias untuk melihat sunrise" ujar Jacob, sambil menoleh pada Hani di sampingnya.
Ia terdiam beberapa saat ketika melihat ekspresi bahagia terpancar di wajah Hani, apalagi dari sorot matanya dan senyum yang terukir, seolah ketulusan akan kebahagiaan itu nampak benar-benar nyata.
Cahaya matahari pagi menyinari wajahnya, menampilkan kilauan keemasan di kulitnya. Menambah suasana yang hangat dan menyenangkan. Tanpa di duga, ketika melihat Hani dalam situasi seperti itu, membuat Jacob meneteskan air mata.
Air mata bahagia, juga rasa sayang yang tak bisa ia ucapkan secara langsung. Ia merasa semesta sedang memberikan pelajaran berharga dalam hidupnya, mencintai seseorang dengan tulus, akan membuatmu mendapatkan ketulusan itu kembali.
Ia hampir tak bisa menahan air mata yang mengalir dari kelopak matanya, ia tersenyum lalu menghapus jejak itu dari sana. Kemudian ia mengusap rambut Hani dari samping. Membuat gadis itu menoleh padanya. Masih dengan senyuman di wajahnya, tak ada kata-kata yang terucap dari mulut mereka masing-masing. Hanya saling berpandangan untuk menyampaikan ketulusan yang terpancar dari sorot mata keduanya.
Mereka memutuskan untuk menikmati sinar matahari pagi yang masih hangat itu, mengeluarkan makanan dan minuman yang mereka bawa untuk sarapan di atas bukit. Di tengah menikmati makanan itu, tiba-tiba Jacob bertanya mengenai impian Hani.
"Hani, apa impian kamu? Seperti suatu hal yang sangat ingin kamu lakukan?" tanya Jacob sambil menyandarkan salah satu tangannya ke tanah, sebagai penopang tubuhnya. Ia menghadap ke arah Hani yang hendak menjawab pertanyaannya.
"Umm travelling maybe" jawab Hani cepat namun ragu jika jawabannya tidak menjelaskan maksudnya secara spesifik.
"Bukan-bukan, lebih tepatnya aku ingin melihat dunia dari atas. Melihat betapa cantiknya bumi dari atas awan." jawabnya sambil kembali mengunyah makanan yang baru saja ia masukkan ke mulutnya sebagai suapan terakhir.
"Selain itu?" tanya Jacob kembali
Hani mengambil nafas panjang sejenak sebelum mengakhiri sarapannya dan menjawab pertanyaan Jacob. Ia menundukkan kepalanya, lalu melihat ke arah sinar datang, sambil berbicara mengenai impiannya itu.
"Umm, sebenarnya aku ingin pergi ke banyak tempat, mungkin semacam backpacker, atau mengikuti beberapa tur. Menjelajahi belahan dunia lain, benua-benua lain, bertemu orang baru, dan cerita baru di setiap perjalanannya."
"Di fikiranku saat ini hanya ada satu tempat dimana aku bisa melihat aurora" Mata Hani terlihat berbinar ketika mengatakan keinginannya di depan Jacob. Jacob pun memberikan respon positif dan mengajak Hani untuk pergi bersama suatu saat nanti.
"Ayo kita bepergian bersama, kita harus berjanji untuk pergi melihat aurora. Entah beberapa tahun lagi, kalau kita dipertemukan, kita harus mewujudkan impian kamu itu bersama-sama"
Hani menoleh ke arah Jacob, ia tak bisa berhenti tersenyum dan raut wajahnya menunjukkan rasa bahagia dan juga ketertarikan yang luar biasa terhadap tawaran Jacob.
"Sure ! Jari kelingking dulu"
Hani mengangkat jari kelingkingnya ke arah Jacob, seperti anak kecil yang sedang membuat perjanjian dengan temannya. Bahkan sebelum melepas tautan jari kelingking itu, Hani menyampaikan beberapa tempat yang ingin ia kunjungi.
"Oh kita juga harus ke Yunani, kita melihat langsung Parthenon! Ke Amerika juga, kita harus melihat langsung bukit Hollywood !"
Jacob tertawa kecil mendengar permintaan Hani yang cukup banyak, ia pun mengusap rambut Hani, membuat gadis itu terdiam sesaat.
"Iya iya, aku menyerahkan daftar destinasi padamu"
Keduanya kembali terdiam untuk beberapa saat kemudian. Menikmati sinar matahari sekali lagi, kemudian Jacob bertanya kembali pada Hani.
"Hani, what do you think about love?"
Hani menoleh, cukup bingung dengan pertanyaan Jacob. Kemudian kembali melihat ke arah depan.
"I don't know, I'm not sure, tapi aku yakin itu adalah sesuatu yang memberikan efek positif, bukan hanya ke kita, tapi juga ke sekitar kita. Intinya aku pikir cinta itu sesuatu yang bagus. What about you? Pendapat kamu tentang cinta?"
Jacob terdiam sesaat, ia berfikir mengenai jawaban atas pertanyaan yang juga menghantuinya beberapa waktu belakangan.
"Entahlah, mungkin itu tentang give and take? Jika kita memberikan cinta, kita juga akan mendapatkan cinta?"
"Mungkin itu konsep yang bagus, tapi bukankah terkesan terlalu berharap? Maksudku, kita tidak bisa mengharapkan mendapat porsi cinta yang sama seperti yang kita berikan ke orang itu. Karena cinta bukan arus listrik bolak-balik, jadi aku pikir ini lebih kepada give and give tanpa berharap kembalian. Bagaimana menurutmu?"
"Iya itu masuk akal, sama seperti efek bahagia ketika kita bisa memberikan sesuatu untuk orang lain, dan melihat mereka bahagia membuat kita juga bahagia."
Mereka berdua saling menatap dan tersenyum kemudian. Lalu Hani berfikir ini sudah saatnya untuk kembali ke tenda dan beraktifitas seperti biasa.
"Bagaimana jika kita turun sekarang?"
"Umm okay, come on" jawab Jacob
Mereka berdua pun mengemasi barang-barang dan bersiap untuk berjalan kembali ke tenda. Selama perjalanan itu, Jacob terus saja menggandeng tangan Hani dan berjalan di depan sebagai pemimpin. Melihat hal itu, Hani merasa gejolak perasaannya benar-benar hampir tak bisa dibendung lagi.
Apalagi ketika Jacob berbalik badan dan tersenyum padanya. Membuat hatinya semakin bimbang antara mempertahankan ego, atau mengalah pada perasaannya.
Dia berjalan di depanku, menggandeng tanganku, dan berbalik tersenyum kepadaku. Seakan kehidupan memberiku kesempatan kedua untuk hidup dengan lebih bersinar.
Hani merasa nyaman namun juga bimbang dengan perasaannya sendiri. Ia tak ingin memberikan Jacob harapan palsu, namun ia juga tak bisa membiarkan egonya mengalah lagi kali ini. Ia harus tetap teguh pada rencana awal.