Sunrise In Your Eyes

Sunrise In Your Eyes
Sarapan



Keesokan paginya, cahaya matahari menembus sela-sela pepohonan yang tidak terlalu rimbun, menciptakan seberkas cahaya yang terserap oleh tenda dan memberikan sedikit penerangan didalamnya.


Hani membuka mata perlahan, mendapati sosok di depannya itu sedang tertidur dengan damai. Ia tak memikirkan apapun, hanya terus menatap mata lelaki yang tertutup itu. Kemudian ia bangkit, dan keluar dari tenda.


Di luar keadaan lebih baik, udara segar, hangatnya sinar matahari, dan hutan yang hijau. Tempat mereka saat ini tidak tertutupi dengan kanopi hutan yang terlalu lebat sehingga cahaya matahari pun bisa menembus hingga ke tanah.


Hani memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar, berkeliling untuk melihat-lihat apa saja yang ada di sekitarnya. Setelah beberapa menit berlalu ia pun berjalan kembali ke tenda, untuk mengambil makanan dari tasnya.


Disisi lain, Jacob yang baru saja bangun dari tidurnya, merasa khawatir mengetahui seseorang di sampingnya telah pergi. Ia berpikir apakah mungkin Hani meninggalkannya sendiri. Ditengah kepanikan itu ia mencoba untuk keluar dari tenda, lalu tepat pada saat itu Hani muncul dan hendak masuk ke dalam tenda. Keduanya sama terkejut, namun kemudian Jacob merasa lega dengan kehadiran sosok yang ia khawatirkan.


"Kamu baru bangun?" tanya Hani ketika ia masuk ke dalam tenda, dan berusaha mengambil tasnya


"Hmm iya, kamu baru saja kembali?" Jacob bertanya balik pada Hani yang sudah duduk di depannya


"Iya, aku pergi berjalan-jalan dan menikmati udara pagi"


Jacob tidak memberikan respon apapun, ia memperhatikan gerak gerik Hani yang tengah sibuk dengan tas punggungnya.


"Kamu mau sarapan? Aku membawa beberapa makanan, tidak terlalu banyak, tapi sepertinya cukup untuk hari ini" Hani mengeluarkan satu bungkus roti sandwich dalam kemasan yang tertera tanggal kadaluarsa 2 hari lagi.


Jacob mengiyakan, lalu Hani membagi roti itu menjadi dua bagian dan menyerahkan salah satunya pada Jacob.


"Apa saja yang kamu bawa di dalam tas itu?" Jacob bertanya setelah menggigit satu bagian dari roti berselai coklat itu.


"Tidak banyak" kemudian Hani mengeluarkan semua isi tasnya dengan cara membalikkan tas itu, sehingga semua barang di dalamnya tumpah di atas alas tenda.


Terdapat variasi barang di sana, mulai dari notes kecil, beberapa makanan ringan lain, obat-obatan, survival kit, sebuah gaun, pakaian dalam, bahkan sekotak tampon.


Melihat dua barang terakhir membuat Jacob tak sengaja tersedak. Ia cukup terkejut karena Hani membawa barang-barang itu di acara jelajah alam kemarin. Dengan segera ia mengambil botol miliknya dan meminum beberapa mililiter air di dalamnya.


"Kenapa kamu membawa pakaian dalam?Lalu tampon?"


"Memangnya kenapa? Perempuan itu harus selalu siap apapun situasinya. Lagipula kamu pasti juga membawa pakaian dalam kan? Aku juga yakin kamu membawa sekotak pengaman"


"Hah? Apa maksudmu, aku tak mungkin membawa barang seperti itu. Pikiranmu terlalu jauh"


"Kenapa? Lelaki itu juga harus siap sedia, namanya juga kebutuhan"


"No, no, no. Lagipula aku tak ada niat melakukan hal-hal itu "


"Memangnya kamu masih perjaka?"


Jacob hanya terdiam, ia tidak menjawab pertanyaan Hani, namun membalikkan pertanyaannya.


"Kamu sendiri masih perawan?"


Hani menjawabnya dengan tenang.


"Tidak, kenapa?"


Jacob terkejut dengan pernyataan Hani, ia hampir saja tersedak dua kali.


"Tak ada, hanya, bukankah sedikit memalukan untuk mengakui kamu tidak lagi perawan?"


Jacob bertanya dengan keheranan dan juga hati-hati, sedangkan Hani justru membalasnya dengan santai sambil tersenyum seolah tak terjadi apapun.


"Itu hanya sebuah pertanyaan, kamu tanya, aku jawab. Bagaimana denganmu, kenapa tak menjawabnya saja?"


Jacob terdiam sesaat, memikirkan jawaban yang tepat.


"Kalau kau diam, berarti jawabannya iya, masih perjaka"


Jacob hanya melihat pada Hani yang seperti mengatakan hal itu seperti meremehkannya. Dengan kesal ia menjawab pertanyaan itu dengan lantang.


"Iya aku memang masih perjaka, setidaknya itu lebih baik daripada harus membuka aib sendiri" kemudian ia melanjutkan memakan roti yang ada di tangannya.


Melihat ekspresi kesal Jacob yang sangat imut membuat Hani sangat senang, beberapa detik kemudian ia tertawa, Jacob tidak mengerti apa yang lucu dari ucapannya.


Jacob mengerutkan dahi, dan menatap ke arah Hani.


"Kamu terlalu banyak menggunakan perasaan, lagipula itu hanya sebuah pertanyaan, kamu tidak perlu menjawabnya dengan serius. Dan tentang keperawanan itu, aku bohong. Pertanyaan pengaman itu juga hanyalah lelucon, kenapa kamu berubah menjadi sensitif ? Bahkan lebih sensitif daripada perempuan, hahaha"


Melihat tawa dan senyum Hani, Jacob pun ikut hanyut dalam tawanya, ia tak mengindahkan emosi apapun yang tadinya ia rasakan.


"Ha dasar" Jacob menggelengkan kepala pelan dan tersenyum kemudian tertawa pelan dengan mata yang tertuju ke arah Hani.


Setelahnya, Hani memasukkan kembali semua barang-barangnya. Namun notes kecil miliknya di ambil oleh Jacob untuk dibaca.


"Ini notes apa?"


"Hanya tulisan-tulisan biasa" jawab Hani seraya memasukkan dan menata barang-barangnya.


"Rainbow is our shadow, sunrise in your eyes. Semuanya tulisan bahasa inggris,"


"Iya, tentu saja"


"Sunrise in your eyes, matahari terbit dimatamu, kenapa kamu membuat kalimat-kalimat pendek seperti ini?"


Hani terdiam sesaat, dan menghentikan semua aktivitas berkemas. Lalu menatap Jacob yang ada di depannya.


"Karena kamu tidak perlu menjelaskan panjang lebar kepada orang lain mengenai apa yang kamu rasakan. Satu kalimat dan itu sudah cukup menjelaskan semuanya."


"Baiklah, lalu arti dari kalimat ini?"


Hani secara perlahan mengambil notesnya dari tangan Jacob, dan mulai menjelaskan apa yang menjadi pertanyaan bagi Jacob.


"Sunrise in your eyes. Artinya sebuah harapan baru yang datang dari orang lain. Matahari terbit, menyiratkan kehangatan dan kembalinya harapan saat bersama seseorang. Karena hanya melihat dari sorot matanya, kita akan mengerti apa yang sedang ia rasakan, entah kebahagiaan, atau kesedihan."


Sekali lagi, Jacob terhipnotis dengan perkataan Hani dan sorot matanya yang sendu seperti menyimpan luka dan kesedihan.


"Makna yang bagus"


"Thank you"


Mereka berdua diam sesaat, kemudian Hani bertanya pada Jacob alasan ia kabur dari perkemahan.


"Emm maaf sebelumnya kalau aku menanyakan hal ini lagi, aku hanya ingin tahu alasan kamu pergi ? Kenapa kamu merasa bersalah ? Dan kenapa akhirnya kamu memutuskan memilih jalan ini?"


Jacob mengalihkan pandangan, berfikir untuk menjawab pertanyaan itu.


"Aku tak tahu harus menjelaskan dari mana, tapi mungkin aku bisa menjelaskan singkat kronologinya. Itu sekitar sebulan lalu, ketika aku tidak terpilih menjadi salah satu pasukan pengibar bendera, padahal aku termasuk salah satu yang seharusnya mendapat prioritas. Aku menduga ada masalah internal, dan setelah aku telusuri ternyata memang ada salah satu anak yang tak suka padaku. Dia menggunakan kekuasaannya untuk menyingkirkanku darisana. Karena emosi, aku pun menemuinya dan berkelahi di halaman belakang sekolah. Berita itu cepat menyebar dan permasalahan semakin rumit. Banyak orang yang tak lagi mempercayaiku. Mungkin semua itu karena aku bersikap sombong, aku sulit menerima suatu hal yang tidak berjalan sesuai dengan keinginanku. Dan sekarang aku mendapat hukuman, hukuman atas keegoisanku sendiri."


Hani yang mendengar cerita Jacob dengan seksama hanya mengangguk ringan, ia merasa tak bisa cepat menyimpulkan kesimpulan dari suatu masalah. Apalagi ia hanya mendengarnya dari satu pihak.


"Setidaknya, itu bukan puncak dari keegoisan. Kamu berusaha mempertahankan harga diri, dan itu bagus, sangat berbeda denganku. Aku selalu ingin sendirian, ingin bebas, memikirkan diriku sendiri, dan aku tak mau terbebani tanggungjawab atas hidup orang lain. Meskipun aku dianggap pecundang, tetapi aku tak peduli. Aku merasa itu adalah tingkatan egois paling tinggi, hanya memikirkan hidup dan kebahagiaanku sendiri, tanpa memikirkan bagaimana hidup orang lain yang bergantung padaku berjalan."


Jacob pun hanya terdiam mendengar cerita Hani, ia tak tau pasti apa yang harus ia katakan. Meskipun ia menangkap maksud Hani untuk menghiburnya, namun justru pernyataan itu membuat Jacob cukup iba pada Hani. Perempuan yang menyedihkan namun tak layak dikasihani. Itulah yang Jacob pikirkan tentang sosok gadis dihadapannya ini.


"Ah tidak seharusnya aku menceritakan hal ini padamu, pasti terdengar menyedihkan ya? Padahal aku hanya berniat memberi semangat"


"Tak apa, lagipula semua orang punya ceritanya masing-masing. Kita ada di situasi yang sama, ada baiknya juga kita saling menguatkan satu sama lain"


Hani mengangguk, mengiyakan apa yang Jacob katakan. Ia merasa tidak sendirian, setidaknya untuk sekarang.


"So, sekarang rencana kita kemana?"


"Kita harus menemukan tempat yang cukup tinggi, area perbukitan mungkin, supaya kita bisa menentukan arah ke jalan raya"


"Ah, aku ingat saat akan kembali kesini aku menemukan sungai kecil mungkin kita bisa menyusuri sungai itu untuk menemukan arus utamanya, air terjun, area-area yang lebih tinggi?"


"Bagus, info yang sangat membantu."


Kemudian Jacob keluar tenda dan mengeluarkan barang-barang dari sana. Ia bersiap untuk membongkar tenda. Hani tersenyum melihat semangat Jacob telah kembali, kemudian ia pun membantu Jacob membongkar tenda. Perjalanan mereka dilanjutkan menuju ke area perbukitan.