Sunrise In Your Eyes

Sunrise In Your Eyes
First Kiss



Setelah berjam-jam mereka berjalan dan beristirahat beberapa kali, hari mulai menjelang malam, mereka memutuskan untuk bermalam sekali lagi di hutan, karena belum mencapai bukit yang lebih tinggi.


"Hani, hari menjelang malam, bagaimana jika kita membangun tenda disini? Tidak terlalu jauh dari sungai kecil yang kita lewati tadi"


Jacob memberikan saran ketika mereka sedang beristirahat dibawah pohon.


"Baiklah, aku mengikuti saranmu"


Kemudian mereka berdua membangun tenda disana, membersihkan diri dan mengambil air dari sungai. Keduanya saling membantu satu sama lain. Malam harinya, Jacob berencana membuat api unggun untuk menjaga mereka tetap hangat.


Hani masih memakai gaun miliknya, karena setelan olahraganya masih belum kering. Ia pun menjemurnya di dekat api unggun yang telah dibuat oleh Jacob. Begitu pun Jacob yang juga menjemur baju miliknya disana.


Keduanya duduk di depan api unggun, bersebelahan namun tidak terlalu dekat. Tak ada satu pun yang membuka suara, mereka terhanyut dalam suasana malam di hutan denvan suara-suara burung atau dedaunan yang tertiup angin.


Tiba-tiba Hani bersuara, menanyakan satu pertanyaan pada Jacob.


"Jacob, who's your first kiss?"


Jacob mengalihkan pandangannya semula ke arah api unggun, lalu kepada Hani yang sedang menatap ke arahnya.


"What?" ucapnya sambil tertawa kecil


Melihat reaksi Jacob, Hani pun ikut tersenyum.


"Cukup jawab saja, siapa gadis yang menjadi ciuman pertamamu?"


Jacob kembali mengalihkan pandangan pada api unggun di depannya.


"Jujur saja, aku tak pernah mencium gadis sebelumnya. Aku tak pernah mencium siapapun"


"What? Jacob kau bercanda" Hani cukup tercengang dengan pengakuan Jacob.


"Aku bersungguh-sungguh haha, ya aku tau itu terdengar sedikit memalukan"


"God, no, itu tidak memalukan sama sekali. You really such a nice guy! Maksudku, dengan semua gadis-gadis yang pernah kamu pacari, kamu tidak pernah mencium mereka sama sekali?"


"Nope, sepertinya aku tak memiliki keberanian untuk melakukannya"


Hani menjeda kalimatnya, dan tersenyum sekali lagi untuk melanjutkan perkataannya. Ia menatap ke arah Jacob dengan pandangan yang tidak biasa.


"Menurutku itu luar biasa, di zaman sekarang, masih ada lelaki sepertimu yang tak berani mencium gadis, menurutku itu lebih gentle daripada para lelaki yang hobi pamer ke teman-teman mereka ketika mereka baru saja melepas keperjakaannya. Aku tidak menduga, dengan penampilanmu ini ternyata memiliki kepribadian yang cukup polos."


Jacob melirik sekilas Hani yang masih memandanganinya, dan tersenyum padanya. Lalu tertawa kecil dan menggelengkan kepala pelan.


"Yeah, aku tak punya waktu untuk memikirkan hal-hal seperti itu, aku terlalu sibuk mengukir nama untuk dapat pengakuan, kau tahu maksudku"


"Dan kemudian kamu mendapatkan semuanya, perhatian, pengakuan, dan juga kehormatan seorang pria"


"Dan kedunguan tentang nilai-nilai filosofis sebagai manusia, contohnya cinta, mungkin"


"Hmm? menurutku, hanya karena kamu tidak pernah berani mencium seorang gadis, bukan berarti kamu dungu soal cinta dan sebagainya. Kamu pasti akan memahaminya suatu hari nanti"


Jacob tersenyum tipis mendengar jawaban Hani. Kemudian ia menanyakan hal yang sama pada Hani.


"So, what about you?"


"What? Me? My first kiss?"


"Yeah,"


"Oh tidak, percayalah kamu pasti tidak ingin mendengar cerita mengenaiku"


"Ayolah, come on, Aku telah berbagi cerita, dan sekarang gilitanmu. Apa itu sesuatu yang sangat menggairahkan?"


Hani diam sejenak, menyusun kalimatnya dengan benar.


"Emmm my first kiss is a girl"


Jacob menoleh dengan cepat ke arah Hani, melihat gadis itu perlahan mengarahkan pandangannya ke api unggun. Ia merasa sangat penasaran dengan kelanjutan kalimatnya. Namun setelah beberapa lama ia tak kunjung mendapatkan kelanjutannya, ia pun bertanya satu kali lagi.


"Who is that?" Jantungnya berdegub kencang, ketika baru saja menyelesaikan kalimat itu. Ia sangat penasaran, dengan apa yang terjadi pada gadis yang membuatnya tertarik ke dalam cerita-cerita gelap milik gadis itu.


"My step sister"


"Apa yang terjadi?"


"Itu terjadi dua tahun lalu, dia anak dari ibu tiriku, tiga tahun lebih tua, dan aku sangat senang ketika mendapati fakta bahwa aku memiki seseorang yang bisa kuandalkan. Dia membantuku keluar dari permasalahan kekerasan seksual."


"He is our english tutor, and when it happened to me, she bring me out of there. God, Jacob she is really nice. Tapi aku masih tidak memahami alasan kenapa dia mencuri ciuman pertama itu dariku, dan polosnya aku menyukai itu. Bahkan ketika dia mencoba menyentuhku, ahh aku tak bisa menjelaskan seluruh ceritanya, itu membuatku menggila. Kamu tahu, dia membantuku keluar dari kandangan singa, tapi kemudian kembali memasukkanku ke kandang ular. So what the different?"


Jacob melihat Hani dengan tatapan miris, dan bertanya dengan hati-hati.


"Dia berusaha melakukan hal buruk padamu? you know what I mean"


Hani terdiam sejenak, mengendalikan emosinya, dan melanjutkan setiap kalimatnya dengan perlahan.


"Tidak, dia tidak melakukannya. Dia hanya memelukku kemudian semuanya terasa hangat dan nyaman. Aku tak pernah merasakan hal itu sebelumnya. Dan yah meskipun aku tahu ciuman itu salah. Dan kamu bisa menilaiku aneh dan tak bermoral. "


Jacob menelan ludah, ia berusaha mencerna semua kalimat itu dengan hati-hati.


"I'm sorry it happened to you"


"Tak apa, setidaknya sekarang dia sudah tiada. Dia meninggal setahun lalu, kecelakaan mobil bersama beberapa temannya. You know, I'm glad she was dead, karena kenangan itu tak akan terjadi lagi, meskipun terkadang aku masih memikirkan dan merindukannya."


Jacob terdiam dengan cerita Hani, terdengar sangat rumit dan tragis. Kemudian Hani menoleh pada Jacob, mereka berdua bertatapan.


"Jacob, aku bukan gadis baik-baik, aku melakukan sesuatu hal yang kotor, sekalipun aku tahu itu salah. Terkadang ketika mengingat semuanya, aku merasa seperti orang yang jahat. Dan itu semua membuatku hancur di dalam"


Hani mengatakannya tanpa meneteskan air mata sekalipun, ketegaran nampak di wajahnya. Emosi benci, muak, kesedihan tertumpah dalam setiap nada dan sorot mata yang ia ia tunjukkan.


Mengetahui hal itu, Jacob memberikan beberapa kalimat yang ia pikir mungkin akan membuat Hani merasa lebih baik.


"Kamu bukan orang jahat, kamu terjebak, dan kamu tidak tahu cara untuk keluar. Kamu bukan orang jahat, bukan kamu, bukan aku. Kita hanya manusia, yang membuat kesalahan. We are just human, Hani"


Mereka masih bertatapan ketika percakapan itu hampir selesai. Selang beberapa lama mereka terdiam dan kembali hanyut dalam pemikiran masing-masing, kemudian memutuskan untuk mematikan api unggun. Lalu masuk ke dalam tenda karena hari semakin malam dan mereka kelelahan.


Di dalam tenda, Hani mengeluarkan isi tasnya untuk mengambil sesuatu barang. Setelah mendapatkannya, ia memasukkan barang-barang yang ia keluarkan tadi. Namun Jacob menahan satu barang ketika Hani memegang dan hendak memasukkannya.


"Apakah ini benar-benar tampon? How its look like?"


Hani tersenyum kemudian tertawa kecil dengan rasa penasaran Jacob pada barang-barangnya.


"Kamu pasti sangat penasaran ? Sayangnya rasa penasaran itu tak bisa terobati. Karena isi kotak ini sebenarnya adalah.."


Hani membuka kotak itu dan menjatuhkan isinya di depan Jacob. Tergeletak kotak MP3 kecil lengkap dengan earphone yang tertancap disana, serta beberapa coklat batangan berukuran mini.


Jacob kebingungan melihatnya. Kemudian Hani menjelaskan alasan ia menyimpan barang-barang itu disana.


"Aku menyimpan barang-barang itu disana supaya aman, tidak akan ada yang mengetahui jika aku menyimpan harta karun. Yah seperti yang kamu tahu, kita tidak diperbolehkan membawa perangkat media apapun, jadi aku menyimpannya disini, supaya aku bisa menggunakannya saat bosan, tentunya sambil memakan coklat. Ide cemerlang kan haha."


"Ah kukira isi sebenarnya memang tampon, ternyata aku salah"


"Lagipula bagaimana aku bisa memakai tampon jika aku masih perawan, itu pernyataan yang kontradiksi bukan?"


"Lalu darimana kamu mendapatkan kotaknya?"


"Sejujurnya aku memungut kotak itu dari tempat sampah perkemahan hehe, agak memalukan ya"


Jacob tersenyum dan tertawa kecil dengan penjelasan Hani yang dianggapnya aneh tapi juga menarik untuk disimak.


"Kamu terlihat cukup imut saat tertawa" Hani memberikan pujian pada Jacob yang tentu saja membuat Jacob merasa tersipu dalam hati.


"Oh ya? Memang biasanya aku tidak terlihat seperti itu?"


"Tidak sama sekali, karena kamu cukup emosional, jadi lebih sering terlihat serius"


Jacob tersenyum mendengar kalimat Hani yang dia rasa sangat sesuai dengan kehidupan nyatanya selama ini.


"Apakah menurutmu itu buruk?"


"Tentu saja tidak, itu tidak buruk sama sekali. Yah meskipun aku tidak bisa mengatakan kalau itu baik baik jika terlalu sering. Lika what I said, you are a nice guy, senyuman itu membuatmu terlihat lebih baik"


Mereka berdua bertatapan dan saling tersenyum satu sama lain.


"Kamu mau mendengarkan bersama?" Hani menyodorkan satu earphone yang terikat kabel pada Jacob. Ia menerimanya dan mengusulkan untuk memakainya sambil rebahan.


Akhirnya mereka berdua sama-sama terbaring bersebelahan menghadap ke arah langit-langit tenda. Lagu She Will Be Loved - Maroon 5 mulai berputar dan membuat perasaan mereka bahagia saat ini.


Hani berpindah posisi menghadap Jacob dan memindahkan earphone yang ia pakai ke sebelah kanan telinganya. Kemudian Jacob pun melakukan hal yang sama, mereka berdua saling berhadapan dan menatap satu sama lain. Tak ada pikiran apapun, hanya raga yang lelah, ditemani cahaya remang dari lampu senter, membuat salah satunya terlelap lebih dulu.


Jacob memejamkan matanya perlahan namun pasti, hal itu membuat Hani tersenyum dan melihat Jacob dengan gemas. Kemudian ia mengusap rambut Jacob dengan lembut, melepaskan earphone dari telinganya, lalu mematikan MP3. Ia pun mulai memejamkan mata dan akhirnya terlelap.