
"Disini dingin" ucap Hani, "Kemarilah" ucap Jacob sambil merentangkan lengan tangan kanannya, memberikan peluang pada Hani untuk mendekat padanya.
Hani pun mendekat, berada dalam jangkauan Jacob sekarang. Kemudian Jacob memeluk Hani membuatnya tetap hangat. Keheningan menyelimuti mereka berdua, hingga Jacob memulai sebuah percakapan dengan menanyakan beberapa pertanyaan.
"Hani, apa kamu pernah berfikir jika suatu ketika kamu meningggal di usia muda?" tanya Jacob yang tentu saja mengundang tanda tanya Hani yang mendengarnya.
Hani tak mendongak, ia menatap langit diatasnya, seraya menjawab pertanyaan yang diberikan Jacob padanya. " kamu tahu ada satu lagu yang paling aku suka dari series Glee? Berjudul If I die young. Itu lagu favoritku ketika aku berada di suasana yang tidak baik. Seperti aku merasa dunia akan menghilang"
"Semacam suicide plan?" Jacob berhati-hati dengan ucapannya
"Haha iya. liriknya seperti ini :
If I die young, bury me in satin
Lay me down on a bed of roses
Sink me in the river at dawn
Send me away with the words of a love song"
Hani mengucapkan setiap liriknya sambil bersenandung, menyanyikan lagu itu sesuai nadanya.
"Itu terdengar seperti tragedi yang indah, isn't it?"
"yeah, ketika aku mendengar lagu itu, I'm crying down, aku pikir kehidupan setelah kematian akan lebih indah, kematianku akan dikenang, dan aku akan tersenyum menuju tempat peristirahatan terakhir. Ketika aku mendengarnya sampai di lirik 'The sharp knife of a short life' , disana aku mulai berfikir untuk segera mengakhiri semuanya. Dan ya, aku pernah berencana untuk suicide, tapi kemudian aku berfikir hal itu bukan satu-satunya jalan untuk menyelesaikan masalah. Karena bahkan di hari terburuk sekalipun, hidup adalah sesuatu yang luar biasa kan?"
Jacob menatap Hani, ketika gadis itu berbicara sambil memandangi langit, mendengarkan setiap kata yang diucapkannya dengan seksama, kemudian tersenyum mendengar kalimat terakhir yang terdengar sangat menginspirasinya.
"Hm itu benar, terkadang kita terlalu memikirkan pahitnya kehidupan tanpa mengingat kebaikannya. Tapi aku pernah hampir melakukan hal itu, dan juga hampir membunuh temanku."
Hani mendongak ke arah Jacob, raut wajahnya memperlihatkan ekspresi tak percaya dengan kalimat yang baru saja Jacob ucapkan.
"Bagaimana bisa?"
"Waktu itu aku masih sangat labil, anak SMP yang terlalu ambisius untuk menjadi nomor satu di kelas. Jadi ada satu anak lelaki, awalnya kita berdua teman baik, bahkan bersaing pun secara sehat. Tapi suatu ketika dia terpilih menjadi duta sekolah mewakili kandidat pemilihan tingkat kota. Awalnya aku bersikap seperti biasa, tak ada rasa iri, karena kami teman baik. Aku cukup senang dia bisa mendapatkan kursi itu, tapi entah kenapa justru dia yang bersikap sensitif kepadaku, dia berpikir bisa mengalahkanku adalah sebuah kebanggaan, dan bisa ditebak apa selanjutnya, dia meremehkanku.
Dan ketika aku mencoba menyelesaikan masalahnya, dia justru semakin menjadi. Dia bilang selama ini dia hanya menjadi bayangan, dan dia merasa puas telah mengalahkanku. Aku tidak menyangka pertemanan yang selama ini dibangun semudah itu rusak hanya karena ego."
Hani mendengarkan cerita Jacob dengan seksama. Ia melihat Jacob seperti hendak menangis, karena suaranya yang tercekat.
"Lalu apa yang terjadi ?"tanya Hani dengan hati-hati
"Di jam olahraga, saat itu pelajaran renang. Aku kehilangan akal sehat, aku menantangnya untuk tahan nafas di air, karena di depan banyak orang tidak mungkin kami berdua bertengkar.
Setelahnya, ketika di dalam air ia mendorongku. Aku cukup tersinggung lalu membalasnya. Bodohnya kami berdua bertengkar, padahal saat itu berada di dalam air. Sampai kami berdua hilang akal, aku mencengkeram lehernya, dia pun melakukan hal yang sama padaku. Karena terbawa emosi, aku menekan lehernya terlalu kuat. Dan tak lama, aku merasa cengkraman tangannya di leherku semakin melemah. Disitu aku sadar, kemungkinan besar dia pingsan atau meninggal.
Awalnya aku hanya diam beberapa detik, tak tahu harus melakukan apa, karena dia tidak bergerak sama sekali. Tak lama aku segera ke permukaan, mengambil nafas lalu kembali masuk ke dalam air. Menariknya ke permukaan dan membawanya ke tepi kolam renang.
Di momen itu suasana sangat kacau dan riuh, dia langsung mendapat pertolongan pertama dari guru. Aku berharap dia hanya pingsan, meskipun hingga ambulans datang pun dia belum sadar. Aku masih berharap dia hanya pingsan."
"Akhirnya dia meninggal?" tanya Hani
"Kabar baiknya dia masih selamat, tapi kabar buruknya hubungan pertemanan kami makin pecah. Bahkan sejak kejadian itu dia tak pernah menganggapku ada. Kita benar-benar putus hubungan."
Hani menggerakkan tangannya ke pipi Jacob, ia mengusap pipi lelaki itu mencegah air mata jatuh kebawah. Meskipun sebenarnya tidak ada air mata yang benar-benar keluar dari mata Jacob.
Jacob tersenyum dan memegang tangan Hani yang masih berada di pipinya. Ia mengelus punggung tangan gadis itu perlahan. Dan mengucapkan terimakasih.
"Thanks, untuk pengertiannya"
Hani pun tersenyum pada Jacob, dan menyandarkan kepalanya pada dada lelaki itu. Keheningan kembali menyelimuti mereka berdua.
"Jacob, do you know, ada rasi bintang bernama Orion?" Hani membuka percakapan di tengah dinginnya malam, agar membuat mereka berdua tetap terjaga untuk beberapa saat.
"Hmm? seperti pernah mendengarnya"
"Mitologi di baliknya?"
Jacob hanya menggelengkan kepalanya, tanda ia tak tahu apapun tentang rasi bintang itu.
"Well I'll tell you, jadi menurut mitologi Yunani, Orion itu adalah seorang pemburu yang handal. Dan kisah yang paling terkenal dari Orion adalah kisah kematiannya." Hani menjeda kalimatnya, membuat Jacob berkesempatan untuk bertanya.
"Memangnya bentuk rasi bintang Orion seperti apa? Kenapa disebut pemburu?"
"Orion itu tersusun dari bintang-bintang yang berbentuk seperti pria yang sedang mengacungkan pedang dan perisai, seperti seorang pemburu."
"Ah Orion itu bukannya dipakai sebagai penunjuk arah barat ?"
"Correct! Sebenarnya bisa terlihat dari seluruh bagian bumi. Tapi karena aku tak pernah mempelajari cara membaca rasi bintang jadi aku hanya tahu tentang mitologinya hehe"
"Bagaimana kelanjutan ceritanya tadi?"
"Diceritakan, karena keterampilannya dalam berburu, Orion ditugaskan oleh Raja Oenopion untuk membunuh hewan-hewan buas di Pulau Chios. Hal ini membuat Orion sombong dan mengatakan kepada Artemis, sang Dewi Pemburu bahwa ia bisa membunuh semua hewan di bumi.
Ternyata, kesombongan Orion membuat Gaia, Dewi Pelindung Semua Makhluk menjadi murka. Ia pun mengutus seekor kalajengking untuk membunuh Orion. Cerita ini juga disangkut pautkan menjadi alasan rasi bintang Orion tidakĀ akan muncul bersamaan dengan rasi bintang Scorpio. Jadi, ketika rasi bintang Scorpio muncul, rasi bintang Orion akan menghilang karena konon Orion akan lari ketakutan."
"Sangat tragis"
"Tapi kamu tahu yang lebih tragis sebenarnya adalah, diceritakan Dewi Artemis jatuh cinta pada Orion. Apollo, kakak Artemis yang overprotektif, tak menyetujui kisah cinta mereka dan kemudian menipu Artemis. Ia menantang Artemis yang jago memanah untuk menembak sasaran yang tengah bergerak di air. Artemis menyanggupi tantangan tersebut tanpa menyadari bahwa yang ia panah sebenarnya Orion yang tengah berenang. Bidikan Artemis tentu saja tepat sasaran. Begitu menyadari ia telah membunuh lelaki yang ia cintai, Artemis sangat sedih dan kemudian menempatkan Orion di langit agar ia senantiasa bisa melihatnya. Berakhir dengan menyedihkan bukan ?"
"Ternyata kamu tahu tentang banyak hal ya? "
"That's me hehe, tapi aku cerita tentang mitologi Orion juga ada alasannya loh"
"Oh ya? apa alasannya?"
"Aku merasa kamu itu adalah Orion" Hani menggerakkan tangannya di angkasa seolah sedang menggambar sosok pemburu dengan panah di tangannya. Sambil berbicara pada Jacob yang melihat kemana arah tangan Hani bergerak.
"Why?"
"Seorang lelaki yang tangguh, bisa diandalkan, sempurna. Namun karena satu kesombongan membuat hidupnya berakhir tragis"
Jacob terdiam sesaat, menyadari apa yang diucapkan oleh Hani adalah sebuah kebenaran, juga ketidaksengajaan kisah hidupnya mirip dengan Orion.
"Tapi aku percaya kamu tidak akan berakhir seperti Orion, karena kamu layak untuk menjadi lebih baik. I believe it"
Hani meletakkan tangannya kembali ke tempat semula, Jacob merasa kikuk namun juga senang karena Hani mempercayainya dengan sungguh-sungguh. Membuatnya merasa dihormati, juga dicintai. Kemudian mereka berdua kembali menatap langit penuh bintang itu dengan menggambarkan imajinasi mereka masing-masing.