Sunrise In Your Eyes

Sunrise In Your Eyes
I see the light



Setelah selesai bermain air di sungai dengan pakaian basah kuyub, mereka kembali ke tenda. Hani meminta tolong pada Jacob yang berada di dalam tenda untuk mengambil sisir di dalam tasnya. Ketika mengambil sisir dari dalam tas Hani, Jacob tidak sengaja menjatuhkan notes milik Hani. Ia diam beberapa detik, lalu mengintip keluar memastikan Hani sedang sibuk mengeringkan bajunya, kemudian dengan penasaran ia pun membuka halaman terakhir tulisan di notes itu. Ketika ia membacanya, ia merasa cukup terkejut namun juga terharu, karena jelas ada namanya tertulis disana.


'JACOB : Dia adalah satu-satunya yang terbaik, sejak pertama kalinya bertemu, ia benar-benar berbeda. Dia seperti bintang jatuh, membawa harapan dan juga ketenangan. Andai aku bisa menyimpan bintang itu, aku tak akan meninggalkan ia sendirian, apapun situasinya.'


Ia mematung untuk beberapa sesaat, sebelum suara Hani memanggilnya dan membuatnya tersadar. Kemudian ia memasukkan kembali notes itu lalu keluar tenda. Ketika Hani meminta sisir yang dibawa Jacob, ia justru menawarkan diri untuk membantu menyisir rambut Hani. Tentu saja Hani tidak keberatan dengan hal itu. Namun di tengah keheningan mereka berdua, Jacob bertanya mengenai hal yang berkaitan tentang kejadian kemarin.


"Boleh aku tanya sesuatu hal?"


"Tentu, apa itu?" Hani menjawabnya santai


"Aku baru sadar, kamu tak berkomentar apapun tentang pernyataanku kemarin? Maksudnya, kamu bahkan tidak memberiku kepastian apa kamu juga merasakan hal yang sama?"


Hani diam untuk beberapa saat, pikirannya berkelana jauh ke antah berantah. Ia masih ragu, bimbang, ia takut memulai komitmen tanpa dasar yang jelas. Namun ia juga tak bisa terus terang pada Jacob.


"Aahh itu, aku pikir hal itu sudah kita selesaikan kemarin, semuanya cukup jelas"


"Menurutku itu masih abu-abu, tidak ada kejelasan diantara kita sama sekali"


Hani menjawab kalimat Jacob tanpa menoleh sama sekali, dan Jacob yang masih terus menyisir rambut Hani perlahan.


"Oke listen, Jacob kamu belum sepenuhnya mengenal aku, dan aku pun belum sepenuhnya mengenal kamu meskipun aku yakin kamu orang yang sangat baik. Meskipun kita selalu menjadi teman sekelas selama tiga tahun di sekolah, tapi kita tidak pernah memiliki percakapan ataupun kesempatan untuk saling mengenal satu sama lain. Jadi kupikir aku hanya butuh waktu lebih lama untuk menerjemahkan perasaanku ke kamu. Kita tidak perlu sebuah hubungan yang resmi kan untuk saling memahami satu sama lain? Kita lebih bahagia dan nyaman dengan hubungan kita sekarang, dan itu lebih baik menurutku."


"Maksudnya kita friendzone sekarang?" tangan Jacob berhenti bergerak, dan Hani menganggapnya sebagai suatu pertanda yang tidak baik.


"Bukan itu maksudku, perempuan terkadang butuh waktu lebih lama untuk yakin apa mereka siap untuk menjalani sebuah hubungan. Dan dalam rentang waktu itu, rasanya lebih baik jika kita berada dalam hubungan tanpa status, karena kita tidak akan terbebani dengan perasaan masing-masing, iya kan?"


Hani berbalik, ia menghadap Jacob. Terlihat raut kecewa dari wajah lelaki itu. Mengetahui hal itu, Hani berusaha menghiburnya.


"Jacob, aku menyayangimu, tapi aku butuh lebih banyak waktu untuk memulai suatu hubungan, apalagi situasi kita sekarang tidak mendukung semua teori romantisme untuk kita jalani"


Jacob menyadari ke arah mana percakapan ini berjalan, ia yakin betul bahwa sebenarnya Hani menyimpan rasa padanya, hanya saja ia tak mau mengambil resiko karena mereka akan berpisah nantinya.


"Katakan sesuatu untuk membuatku bertahan"


Mendengar hal itu, Hani memeluk Jacob secara tiba-tiba, membuat Jacob sedikit terkejut.


"Stay with me Jacob, kamu bersedia menunggu dan menemaniku sampai waktu itu tiba kan? Kamu sendiri yang mengatakan tidak akan meninggalkanku. Jadi aku memintamu untuk tak menarik kalimat itu lagi."


Jacob tak segera menjawabnya, meskipun jawaban yang ia dapat dari Hani masih saja tidak memberikan kejelasan, namun ia cukup lega bahwa instingnya benar. Hani tidak ingin mengakui perasaannya karena khawatir akan perpisahan. Ia pun membalas pelukan Hani dengan melingkarkan tangannya di punggung gadis itu. Seraya berkata, "I'll never leave you alone"


Hani tersenyum sambil mengalihkan pandangannya, bertatapan dengan Jacob dan berkata, "thank you, for everything". Jacob pun membalasnya dengan senyuman hangat miliknya.


Malam harinya Jacob mengajak Hani berjalan ke bukit untuk menunjukkan sesuatu. Hani pun mengiyakan ajakan itu, mereka berdua mulai berjalan ketika waktu telah melewati tengah hari supaya tidak terlalu lelah. Ia memperkirakan sampai di atas bukit pukul 3 pagi. Hanya bermodalkan senter, jaket, dan tas kecil berisi botol air minum, dan selimut milik Jacob yang baru saja ia ingat jika membawanya, dan mereka pun mulai berjalan. Di depan Jacob menuntun jalan dengan menggandeng Hani yang membawa tas.


Setelah sampai di atas bukit, mereka merasa cukup kedinginan. Namun hal itu bukan menjadi masalah besar, karena mereka sudah mulai beradaptasi dengan hawa dingin di hutan. Mereka memutuskan berbaring di bawah salah satu pohon. Memandangi langit penuh bintang di atasnya, dan menjadi sangat senang mendapat kesempatan melihat pemandangan menakjubkan itu.


Jacob yang juga memiliki posisi sama dengan Hani juga berdecak kagum dengan pemandangan langit diatasnya kini, ia tidak menyangka bahwa akan menemukan pemandangan secantik ini.


"Kamu tahu, pemandangan ini sungguh membuatku ingin bernyanyi, seperti dalam film-film disney" ujar Hani


"Bernyanyilah, aku ingin mendengarkan suaramu" Jacob memberi semangat


Dalam posisi saling memandangi langit, Hani mulai bernyanyi, suaranya cukup merdu membuat Jacob menoleh pada Hani dan tersenyum sebagai bentuk apresiasinya, lalu kemudian kembali menatap langit sambil mendengar nada-nada yang keluar dari mulut Hani.


'All those days watching from the windows


All those years outside looking in


All that time never even knowing


Just how blind I've been


Now I'm here blinking in the starlight


Now I'm here suddenly I see


Standing here it's all so clear


I'm where I'm meant to be


And at last I see the light


And it's like the fog has lifted


And at last I see the light


And it's like the sky is new


And it's warm and real and bright


And the world has somehow shifted


All at once everything looks different


Now that I see you'


Menyelesaikan kalimat terakhir dari soundtrack film disney Tangled itu, membuat Hani menoleh pada sosok di sampingnya. Ia menatap lelaki itu dengan tatapan penuh kehangatan dan juga rasa syukur. Ia bahkan tak bisa berhenti untuk memandangi lelaki itu, ditambah senyum yang terukir di wajahnya kini, menyiratkan kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.