Sunrise In Your Eyes

Sunrise In Your Eyes
Tersesat



Sepanjang perjalanan itu, mereka tidak saling berbincang sama sekali. Hanya terus berfokus pada jalanan di depannya. Mereka terus berjalan, tanpa peta, hanya bermodalkan kompas dan ingatan mereka tentang perjalanan menuju perkemahan 2 hari yang lalu.


Namun semakin lama, kepercayaan Hani pada kemampuan Jacob memimpin pun memudar seiring jauhnya perjalanan yang mereka tempuh. Ia berusaha menepis keraguan itu, tapi instingnya semakin kuat bahwa mereka tidak akan mencapai luar hutan menuju jalan besar yang mengubungkan antar kota.


Kemudian tiba-tiba Jacob berhenti, hal itu membuatnya juga ikut berhenti. Jacob melepas genggaman tangan dari Hani kemudian memeriksa jam tangannya dengan seksama. Hal itu menimbulkan pertanyaan dari Hani, karena ia melihat raut wajah Jacob seperti orang yang kebingungan. Ia khawatir jika intuisinya benar kali ini.


"Ada apa? Kenapa kita berhenti?" Hani mencoba memastikan apa yang menghentikan Jacob disini.


"Entahlah, kita berjalan hampir 3 jam tapi kenapa jalan besar antar kota masih belum nampak?"


"Kamu yakin kita menuju arah yang benar?"


"Aku cukup yakin"


"Cukup ? Sebenarnya kamu ini memang paham arah atau hanya prediksi ? Seingatku perjalanan kita ke perkemahan kemarin tak sampai selama dan sejauh ini. Seharusnya pedesaan tadi sudah semakin dekat ke jalan raya"


Jacob menghela nafas, ia tidak menanggapi perkataan Hani dan hanya berfokus pada pikirannya sendiri.


Ditengah heningnya hutan dan kekhawatiran yang menyelimuti masing-masing pikiran dua muda mudi itu, tiba-tiba saja terdengar suara burung gagak yang sangat keras, dan berada tak jauh dari tempat mereka saat ini.


Hal itu membuat Hani kaget, dan dengan spontan berlindung di belakang punggung Jacob. Sementara yang dijadikan tameng tak menunjukkan adanya rasa takut dengan suara-suara itu.


"Itu hanya burung gagak, jangan terlalu paranoid" Jacob mengatakan kalimat itu dengan nada kesal, dan tentu saja menyampaikan maksud bahwa ia sedang kalut dengan situasi saat ini.


Mendapati perkataan seperti itu tertuju padanya, Hani pun juga terpancing emosi. Ia berbalik menjauh dari punggung Jacob dan beralih ke hadapan sosok lelaki itu.


"Andai kamu tidak salah arah, mungkin sekarang kita sudah sampai ke jalan raya. Dan aku juga tak akan terus menerus ketakutan di tengah hutan. Memangnya aku yang memintamu?"


Mendengar kalimat itu, Jacob pun semakin terpancing emosi. Ia menaikkan volume suaranya.


"Jadi kamu berfikir ini semua salahku? Kamu seharusnya sadar betapa merepotkannya dirimu, kamu terlalu penakut. Jika saja aku tak bertemu denganmu, mungkin aku sudah sampai tujuanku lebih awal"


Hani hanya terdiam sesaat, kemudian berbalik punggung dan berjalan menjauh dari hadapan Jacob. Ia tidak ingin Jacob mengetahui bahwa ia hampir meneteskan air mata mendengar ucapan Jacob.


"Hei kamu mau kemana?! Oke terserah kemanapun kamu akan pergi, kita berpisah disini"


Hani tak menghiraukannya, ia hanya terus berjalan tanpa tau arah. Bahkan senter yang ia bawa dipegang oleh Jacob saat ini. Ia mempercepat langkah dan berusaha lari.


Di waktu yang sama, Jacob tersadar bahwa ia sedang memegang senter milik gadis itu. Ia merasa bersalah jika membiarkan gadis itu pergi sendiri dan semakin kehilangan arah. Terlebih keadaan hutan yang gelap tanpa penerangan rembulan sekalipun. Ia pergi, mencari jejak Hani yang sudah menghilang dari hadapannya.


Beberapa menit kemudian, ia menemukan gadis itu sedang duduk bersandar di sebuah pohon yang tak terlalu besar. Tubuhnya meringkuk dan kepalanya terbenam di kedua tangannya yang bersilangan di atas lutut. Sudah jelas ia menangis di sana, meskipun hanya pelan. Jacob perlahan menghampiri, dan memanggil namanya, lalu duduk di samping Hani. Ia mematikan senter, menatap ke atas, melihat langit penuh bintang. Suatu kebetulan tempat mereka berada tidak dipenuhi pepohonan yang menjulang tinggi, sehingga langit masih bisa terlihat dengan cukup jelas.


Tiba-tiba Hani bersuara, namun masih dengan posisi yang sama.


"I'm sorry, I'm hopeless"


"Hmm?"


"Aku minta maaf, aku merasa putus asa, karena itu aku terlalu mudah menyalahkan orang lain"


Jacob terdiam beberapa detik mendengar ucapan Hani tersebut. Namun kemudian menjawabnya.


"Aku juga minta maaf, karena sudah memarahi dan membentakmu. Aku tak berniat begitu, dan yah intinya aku tak bermaksud untuk mengatakan hal buruk tentangmu"


"Its okay, I am ok"


Mereka berdua diam untuk sesaat kemudian, lalu Jacob memberikan salah satu saran agar situasi kembali kondusif dan damai.


"So, bagaimana jika kita mendirikan tenda disini? Anginnya tak begitu kencang sama sekali, jadi aku berfikir kita akan tetap aman. Kita bisa mendirikan tenda diantara dua pohon ini"


Hani mengiyakan, lalu mereka berdua bangkit dan mulai merakit tenda berdasarkan ilmu seadanya yang mereka miliki. Hani memegang senter dan memberikan penerangan pada Jacob yang memasangkan tali antara satu pohon dengan pohon disampingnya. Ia memilih area itu karena tanahnya yang kering, rata, dan ukuran pohon yang dirasa cukup kuat sehingga tidak mudah terhuyung angin. Ditambah akar pohon yang tidak mencuat ke permukaan, sehingga menjadikan tanah itu area yang ideal untuk mendirikan tenda sementara, selagi menunggu waktu pagi dan memulai perjalanan mereka kembali.


Setelah atap tenda selesai dipasang, dan pasak juga sudah terpasang dengan kuat, Jacob menggelar alas dibawahnya sebagai tempat beristirahat. Kemudian memasukkan barang-barangnya dan juga milik Hani. Lalu mempersilahkan Hani masuk terlebih dahulu.


Mereka berdua terbaring bersebelahan, karena tenda yang tidak terlalu besar, maka tak ada sekat pembatas diantara mereka. Keduanya saling menatap keatas, tak ada yang memulai pembicaraan dan hanya berkutat dengan pikirannya masing-masing.


"Aku tak pernah tidur bersebelahan dengan orang lain sebelumnya" Hani membuka suara


Jacob menoleh, melihat kearah Hani yang menatap ke langit-langit tenda.


"Kenapa?"


"Karena aku terbiasa sendiri, dan rasanya cukup canggung tidur disebelah orang lain. Kemungkinan aku tidak bisa tidur karena tak merasa nyaman."


"Ouh, sorry, tapi masalahnya diluar dingin, jadi sepertinya tidak mungkin salah satu dari kita tidur di luar"


"Bukan itu maksudnya, aku hanya asal bicara, tak bermaksud mengusirmu atau apapun."


"Okee, jadi, apa alasan mengatakan hal itu padaku?"


"Aku hanya berusaha untuk percaya pada orang lain,"


Kemudian Hani menoleh pada Jacob yang masih memperhatikannya. Mata mereka saling bertemu, Jacob melihat adanya kesedihan di mata Hani.


"Apa kamu akan membawa aku keluar dari sini? Semua ini? Bahkan dunia ini?"


Jacob terhipnotis untuk beberapa saat di momen itu. Ia tak bergeming, bahkan otaknya berhenti untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan yang diberikan padanya. Perasaannya bercampur aduk, antara iba, bingung, dan perasaan ingin membantu gadis dihadapannya ini menemukan tujuannya.


"Entahlah, kita berdua sama-sama tersesat. Apa mungkin, aku bisa membawamu keluar dari sini?"


"Hanya diri kita sendiri yang akan menemukan jawabannya" Hani membalikkan badan memunggungi Jacob, dan berusaha memejamkan mata.


Jacob yang tersadar beberapa detik kemudian, melihat Hani membelakanginya, ia pun melakukan hal yang sama. Akhirnya mereka berdua pun tidur dengan saling memunggungi satu sama lain.