
Setelah berjalan cukup jauh dan memakan waktu sekitar 2 jam, Hani mulai mengeluh karena ia merasa kelelahan. Ia ingin mengatakan pada Jacob untuk istirahat sejenak sekedar meminum air dari botolnya. Namun niat untuk mengatakan hal itu ia urungkan karena berfikir permintaannya hanya akan menghambat rencana perjalanan mereka keluar hutan secepatnya.
Akibatnya ia mengalami dehidrasi, ia mulai kehilangan fokus dan tak sengaja terjatuh akibat kakinya yang lunglai tak kuasa menahan beban tubuhnya. Hampir saja ia kehilangan kesadaran, jika Jacob tidak segera menyadari situasi yang menimpanya saat itu.
Karena tangan Hani yang masih dalam genggaman Jacob, maka dengan mudah ia menarik dan membantu Hani kembali berdiri. Ia membalikkan badan dan bertanya apakah Hani butuh istirahat. Karena meskipun ia tidak dapat melihat raut wajah pucat Hani, namun ia merasakan genggaman tangan Hani yang terasa makin erat dan dingin, seolah menyiratkan bahwa gadis itu butuh sesuatu.
"Aku sangat kelelahan" ucap Hani, suaranya lemah dan sedikit parau. Ia hampir kehilangan kesadaran, ketika Jacob mencoba menyentuh salah satu pipinya. Dan benar saja, ia terjatuh sekali lagi, dan benar-benar kehilangan kesadaran kali ini.
Mengetahui hal itu, Jacob dengan segera memindahkan tas ranselnya ke depan, lalu mengangkat dan menggendong Hani di punggungnya. Ia berusaha tetap tenang, berjalan dengan cepat dan hati-hati menuju tempat yang telah ia perkirakan sebelumnya ada di depan sana.
Hani membuka mata perlahan dan mendapati kesadarannya berangsur kembali. Dan ketika ia sepenuhnya sadar, ia berfikir sedang berada di dalam sebuah ruangan berdinding kayu, yang ia duga adalah gubuk tua berukuran kecil. Ia mengedarkan pandangan mencari sosok Jacob, namun ia tidak menemukan apapun selain ruangan dengan pencahayaan minim dari sebuah lilin yang berjarak sekitar 1 meter dari tempatnya terbaring.
Ia berusaha untuk duduk, dan tepat setelahnya terdapat suara pintu kayu dibuka, di sana berdiri sosok Jacob yang telah berganti pakaian. Semulanya ia memakai seragam pramuka lengkap, namun kini ia mengganti atasannya dengan kaus lengan panjang dengan celana dan sepatu yang masih sama.
"Kamu baru saja terbangun?" tanyanya sambil berjalan mendekati Hani yang berada di atas banku kayu yang cukup besar beralaskan jas hujan ponco milik Jacob.
"Iya, aku baru saja terbangun. Kita dimana? Sekarang jam berapa?" tanya Hani ketika Jacob sudah duduk di sebelahnya.
Jacob mengangkat salah satu pergelangan tangannya yang mengenakan jam tangan, dan menyalakan tombol lampu di samping jam tangan modern itu.
"Jam 11 malam, sebentar lagi tengah malam, lebih baik kita istirahat disini selama beberapa jam, supaya tenaga kamu pulih"
"Kenapa tidak menunggu sampai fajar?"
"Karena situasi kita tidak aman. Kita harus terus berjalan, supaya tak ada yang mengetahui jejak kita."
"Kita ada dimana sekarang?"
"Aku menduga kita berada di area pedesaan terdekat dari perkemahan. Jika seseorang tahu kita disini, mereka akan melaporkan kita ke tim SAR."
"Pedesaan terdekat? Kita berjalan selama berjam-jam dan ini desa paling dekat? Yah, lagipula orang-orang di perkemahan tak mungkin mencari kita sampai kesini, karena aku yakin tak ada yang mencariku. Tapi kamu, aku pikir wajar jika mereka akan mencarimu"
"Hmm apa maksudnya? "
"Banyak orang mengenalmu, pasti saat ini banyak orang yang menyadari kamu tak ada di perkemahan, sementara aku? Tak ada peduli, bahkan aku yakin saat ini teman-temanku belum menyadari kepergianku"
"Katakan dengan jujur, sebenarnya apa alasan kamu melarikan diri?"
Hani menatap mata Jacob yang baru saja menanyakan satu pertanyaan yang paling ia benci. Ia memberikan tatapan tajam seolah menyiratkan bahwa ia tak akan menjawab pertanyaan itu. Meskipun pada akhirnya tetap saja ia menjawab pertanyaan itu, tanpa menyebutkannya secara jelas.
"Aku punya banyak alasan untuk pergi dari kehidupanku saat ini"
"Kamu yakin tidak akan pulang?"
"Sama sekali, kamu sendiri berencana pulang?"
Jacob menggelengkan kepala pelan, lalu mengalihkan pandangannya menghindari bertatapan dengan Hani. Menyadari hal itu, Hani berbalik melontarkan pertanyaan pada Jacob mengenai alasan ia kabur dari perkemahan.
"Kamu sendiri, kenapa melarikan diri?"
"Untuk apa? Kamu memiliki banyak hal. Kamu cerdas, kamu berbakat, semua guru menyayangimu, kamu bahkan memiliki teman yang selalu memberimu dukungan."
"Kamu tidak memahami, karena kamu bukan aku"
Hani menghela nafas mendengar perkataan Jacob yang baru saja diucapkannya. Hani merasa perkataan Jacob adalah sebuah kebenaran bahwa ia bukan siapa-siapa dan tak berhak menilai hidup orang lain hanya dari sisi luarnya saja.
"Iya, kamu benar aku bukan kamu. Dan tak akan pernah memahami bagaimana posisi kamu"
Mereka berdua terdiam sesaat, situasi menjadi kikuk. Jacob memilih untuk menata ulang ranselnya dan Hani yang juga sibuk dengan tas punggungnya setelah meneguk beberapa mililiter air dari botolnya.
Selama beberapa saat tak ada yang membuka percakapan, mereka hanya diam hanyut dalam pikiran sendiri dan saling mengurusi diri masing-masing. Tak ada lagi yang berusaha melewati batas dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menyinggung kehidupan pribadi. Karena mereka berdua tahu, tak ada gunanya mengetahui cerita-cerita atau alasan-alasan mereka memilih jalan ini. Hanya akan membuat suasana semakin canggung.
Jacob kembali melihat jam tangan miliknya, ia merasa sudah cukup beristirahat dan sekarang waktunya untuk berjalan kembali. Ia menoleh ke arah Hani yang sedang membenahi baju olahraga yang ia kenakan.
"Apa lebih baik jika kita lanjutkan perjalanan sekarang?"
Hani menoleh ke arah Jacob, dan mengiyakannya dengan mantap.
"Kamu yakin cukup kuat untuk melanjutkan perjalanan? Atau mungkin kamu ingin berganti pakaian?"
"Sepertinya cukup dengan apa yang ku pakai sekarang, lagipula pakaian olahraga ini nyaman"
"Kamu melarikan diri saat acara jelajah alam?"
"Tentu, bukankah kamu juga?"
"Aku tidak mengikuti acara itu, para pembina butuh beberapa anak untuk mempersiapkan acara api unggun. Dan ya, kamu bisa menebaknya, aku selalu masuk ke dalam daftar. Jadi aku pergi saat situasinya lengang."
"Bukankah ada panitia untuk acara itu?"
Jacob mengedikkan bahu dan tak melanjutkan kalimatnya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, dan segera mengatakannya pada Hani untuk mencari tahu kebenarannya.
"By the way, saat kamu pingsan aku tak sengaja menemukan gulungan kertas yang terjatuh dari saku celana olahragamu"
Jacob menyerahkan gulungan kertas kecil itu pada Hani. Jelas tertulis di sana kalimat, 'aku membayangkan mimpi yang aku impikan' yang ditulis menggunakan huruf balok setiap katanya.
Hani menerima gulungan kertas miliknya itu, ia memperhatikannya dengan seksama dan menggenggamnya dengan erat sebelum menyimpannya kembali ke saku celana.
"Itu bukan apa-apa, hanya salah satu kalimat yang aku robek dari tulisan aslinya, tepat sebelum aku melarikan diri"
Hani menjawabnya tanpa menatap ke arah Jacob, dan itu membuat Jacob merasa tak perlu berkomentar apapun lagi. Ia cukup puas dengan jawaban yang ia dapatkan.
Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan keluar dari pedesaan itu ditengah gelapnya hutan dan hanya bermodalkan satu senter milik Hani yang digunakan Jacob sebagai penerang jalan di depannya.
Semakin masuk ke dalam hutan, semakin mereka tidak menyadari bahwa suatu kesalahan besar telah mereka lakukan dengan pergi ke arah Utara pedesaan.