Sunrise In Your Eyes

Sunrise In Your Eyes
Persimpangan



Keesokan paginya, Hani terbangun lebih dulu, ia melihat Jacob yang masih terlelap di hadapannya. Perasaannya jauh lebih baik ketika Jacob berada bersamanya. Perasaan aman, dan nyaman itu benar-benar membuat Hani bahagia.


Ia meraba wajah Jacob tanpa menyentuhnya. Perlahan, dari kening hingga berhenti pada dagu, membayangkan sensasi ketika ia benar-benar menyentuh kulit lelaki itu.


Kemudian ia beranjak keluar dari tenda dan pergi ke sungai, untuk mandi. Setelah selesai ia pun kembali ke tenda dan membawa air dari sungai itu. Namun Jacob masih belum bangun, mengetahui hal itu Hani pun masuk ke dalam tenda dan mencoba untuk membangunkan Jacob. Namun ia sangat terkejut mendapati bahwa Jacob terserang demam.


"Jacob are you ok?" Hani mencoba membangunkan Jacob dengan menepuk-tepuk pipinya perlahan, ia memastikan bahwa Jacob masih bisa terjaga.


Jacob membuka mata perlahan, namun tubuhnya tak berdaya, wajahnya pucat dan suhu tubuhnya meningkat. Ia tak mengucapkan satu kata pun, hanya membuka mata dengan tatapan kosong.


Hani pun keluar, ia berusaha membuat api dari kompor portabel milik Jacob untuk memanaskan air. Namun berulang kali ia gagal dan hampir putus asa dengannya. Lalu ia teringat bahwa Jacob memiliki botol termos yang semalam ia isi dengan air. Setelah menemukan botol itu, ia pun menuangkannya ke tutup botol sebagai gelas dan berusaha membuat Jacob terduduk.


"Hei, Jacob bangun ayo minum dulu" Hani menopang kepala Jacob supaya ia lebih mudah untuk meminum air yang masih hangat itu. Kemudian ia menyuapi Jacob dengan makanan yang ia bawa, hanya makanan ringan namun ia harap itu bisa membantu menahan rasa lapar Jacob untuk sementara.


Setelah itu ia memberikan obat paracetamol pada Jacob yang kebetulan selalu ia bawa ketika bepergian. Lalu membaringkan Jacob kembali dan menutupinya dengan beberapa pakaian untuk menjaganya tetap hangat.


Ia mengambil tas Jacob dan melihat ada makanan apa saja yang ia bawa. Sayangnya semua makanan yang dibawa Jacob adalah makanan instan quick cook, atau harus dimasak terlebih dahulu. Kemudian ia mengambil satu bungkus bubur instan dari sana dan keluar tenda untuk memasaknya.


Setelah hampir 3 jam menyalakan kompor itu, akhirnya ia berhasil dan mulai memanaskan air terlebih dahulu kemudian membuat bubur untuk Jacob. Ia juga mengambil air lebih banyak dari sungai untuk dipanaskan nya.


Waktu menunjukkan pukul 2 siang, suasana hutan tetap sejuk karena sinar matahari tidak banyak menembus hingga ke tanah. Ia kembali masuk ke dalam tenda, menyuapi Jacob dengan bubur dan memberinya obat.


Jacob masih terlihat lemas dan pucat, kemudian Hani membuka baju yang Jacob kenakan lalu mengusapnya menggunakan air hangat, perlahan dan penuh perhatian merawat lelaki itu. Kemudian ia juga mengusap bagian betis hingga telapak kaki Jacob supaya tetap bersih dan hangat.


Hari mulai menjelang malam, suasana hutan semakin lama semakin gelap. Hani pun mengemasi barang-barang yang berada di luar tenda, lalu masuk ke dalam dan mengatasi Jacob yang terlihat menggigil.


"Hei, Jacob, hei look at me" Ia menggoyangkan pipi Jacob untuk menyadarkannya. Kemudian Jacob perlahan terjaga dan Hani menanyakan apa yang ia rasakan saat ini.


"Dingin, ini dingin" Jawab Jacob perlahan dengan suara parau dan lemah.


"It's okay, I am here with you"


Hani mengusap tangan Jacob dan menambah kain untuk menyelimuti tubuhnya supaya tidak merasa kedinginan. Kemudian ia mendekat pada tubuh Jacob dan memeluknya. Ia menopang kepala Jacob di dadanya, lalu Jacob meringkuk menghadap pada Hani, mengharap kehangatan akan menyelimuti mereka berdua malam ini.


Keesokan harinya, suasana menjadi lebih baik. Jacob membuka mata dan menyadari bahwa ia tertidur dalam pelukan Hani. Tangannya masih memeluk pinggang Hani dan kepalanya yang bersandar di dada gadis itu, terasa hangat dan nyaman hingga membuatnya tak merasa sakit apapun lagi.


Ia hendak mendongakkan kepala, namun tak sengaja rambutnya menyentuh pipi Hani, membuat gadis itu terbangun. Mereka berdua bertatapan, dan membuat suasana cukup canggung. Lalu Hani mengusap pipi Jacob untuk mencairkan suasana, dan beralih pada kening lelaki itu untuk memastikan bahwa demam tak lagi menyerangnya.


Gadis itu tersenyum, dan mengatakan bahwa Jacob sudah tak lagi terkena demam. Lalu ia mengusap rambut lelaki itu perlahan. Penuh perhatian dan kasih sayang, sesuatu yang tak pernah Jacob rasakan sebelumnya ketika bersama gadis lain.


"Apa yang terjadi semalam?" Jacob bertanya dengan masih mendongakkan kepala, menatap Hani.


"Kamu menggigil parah, aku khawatir kamu terserang hipotermia, jadi aku berusaha membuatmu tetap hangat. Kamu tahu aku tidak bisa apa-apa tanpa kamu kan?"


Hani mengatakan kalimat itu sambil membersihkan wajah Jacob dengan tangan kosongnya. Sementara Jacob terdiam, ia tak tau harus mengatakan kalimat apalagi selain terimakasih.


"Thanks, Hani. Bolehkah kita tetap seperti ini untuk beberapa saat?"


Hani menatap kedua bola mata Jacob, dan tersenyum.


"Tentu" lalu Jacob kembali menyandarkan kepalanya ke tempat semula.


Beberapa saat kemudian mereka saling terdiam dengan posisi yang tidak berubah. Memejamkan mata untuk menikmati momen itu sedikit lebih lama lagi. Dan saling membagi kehangatan satu sama lain.


"Hampir jam 9 pagi" Hani menjawab.


"Kita harus mulai berkemas dan berangkat sekarang, kita akan sampai ke bukit dengan lebih cepat" ucap Jacob


"Kamu yakin cukup kuat untuk kembali berjalan?"


Jacob mendongak, matanya kembali bertatapan dengan mata Hani. Kemudian ia tersenyum, dan mengatakan bahwa semua baik-baik saja. Lalu ia beranjak dari sana, dan keluar tenda.


"Kamu mau kemana?" tanya Hani


"Ke sungai, kamu mau ikut?"


"No, aku cukup disini membereskan barang-barang, kamu jangan lama-lama ya, aku takut kalau kamu pingsan di sana."


Jacob hanya tertawa kecil dan melanjutkan langkahnya menuju sungai. Sementara Hani mengemasi barang-barang ke dalam tas. Setelah berkemas dan sarapan, mereka pun melanjutkan perjalanan ke bukit.


Beberapa kali mereka beristirahat, meskipun jarak ke bukit tidaklah begitu jauh, karena Hani yang memaksa Jacob untuk berhenti sejenak. Ia khawatir perjalanan yang dipaksakan ini akan berdampak buruk pada kesehatannya yang baru saja pulih.


Setelah sampai di sana, mereka beristirahat. Minum, makan dan mengatur ulang rencana. Jacob melihat jalan besar dan memutuskan untuk segera berjalan kembali agar cepat sampai ke sana. Namun Hani berubah pikiran. Ia memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan.


"Hani kamu lihat jalan besar itu, aku pikir sebaiknya kita lanjutkan perjalanan kita sekarang. Hari masih terang, kalaupun kita tidak sampai kesana saat petang kita bisa mendirikan tenda sekali lagi"


Jacob menjelaskan rencananya panjang lebar sambil menunjuk arah yang ia maksudkan. Hani berdiri di sebelahnya, menatap sisi samping lelaki itu. Tatapannya berubah.


"Jacob, I think I can't go with you" ucapnya


Jacob sedikit kebingungan, ia menoleh pada Hani disampingnya. Menatap gadis itu, sedang yang ditatap tak menatapnya balik.


"Aku pikir aku selesai disini. Aku menemukan kedamaian, ketenangan disini, lagipula disini cukup aman dari hewan buas. Aku merasa aku harus tinggal disini lebih lama. Sebelum melanjutkan perjalananku."


Hani melihat ke arah Jacob yang sedang menatapnya. Kemudian ia mengalihkan pandangan agar tak terpancar apa yang sedang ia rasakan.


"Kenapa? Kamu bilang kamu tidak bisa apa-apa tanpa aku kan? Lalu kenapa sekarang kita berpisah disini? Ini bukan tujuan kita"


Hani diam sejenak, mengatur emosinya. Lalu melanjutkan pernyataannya.


"I'm sorry Jacob, tapi aku merasa aku lebih bahagia disini, di tempat yang tenang, sunyi, tempat dimana aku bisa jadi diriku sendiri. Aku tidak bisa meminta kamu tinggal karena kamu punya tujuan yang lebih jelas. Aku tidak ingin menjadi penghalang lagi, jadi aku akan disini lebih lama, kamu bisa pergi lebih dulu"


Jacob terdiam menatap gadis itu, sorot matanya menunjukkan kekecewaan, dan juga sedikit amarah karena gadis itu akan meninggalkannya. Ia berjalan menjauh, namun sesaat kemudian emosinya mereda dan membuatnya memilih keputusan yang ia pikir akan lebih baik daripada berjalan sendirian.


"I'll stay with you"


Hani terkejut dan menatap Jacob yang berada beberapa meter dari hadapannya. Memastikan bahwa apa yang ia dengar bukanlah keputusan bodoh.


"What? Why?"


Jacob mendekat, jarak mereka menjadi sangat dekat saat ini, membuat tatapan keduanya menyiratkan makna yang lebih kompleks.


"Aku tau ini terdengar konyol, tapi aku tidak bisa membiarkan kamu sendirian disini, aku yakin dalam waktu beberapa hari kamu tidak akan bisa bertahan. Kalau memang kamu butuh waktu lebih lama disini, aku ikut. Karena kita teman kan? Teman seharusnya saling mendukung satu sama lain."


Hani tersenyum lebar, merasa bahagia dengan apa yang baru saja ia dengar. Kemudian ia memeluk Jacob dengan erat. Jacob pun membalasnya dan mencium rambut Hani perlahan.