
"Ternyata tidak ada banyak hal yang bisa dilakukan disini." ujar Jacob yang kini tengah berbaring di samping Hani yang masih duduk merapikan earphone dan mp3 miliknya. Setelah makan malam dan membersihkan peralatan, mereka memiliki waktu senggang. Mereka berdua hendak beristirahat lebih awal malam ini.
"Apa kamu mulai merindukan keluarga dan teman-temanmu?" tanya Hani
"Umm bukan itu maksudku, aku hanya merasa tempat ini terlalu tenang."
"Kita bisa pulang jika kamu mau"
Jacob menoleh, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Benarkah? Kamu yakin dengan keputusan itu?"
Hani menoleh ke arah Jacob, mereka saling bertatapan. "Ya aku yakin, lagipula aku merasa kita sudah cukup berdamai dengan masalah kita sebelumnya. Bukan begitu?"
"Tapi bagaimana dengan hubungn kita? Kamu yakin akan tetap bersama denganku?"
Hani mengangguk pasti, "iya, aku akan tetap bersamamu"
"Kalau begitu kita perlu mengarang cerita tentang pelarian ini. Bagaimana dengan aku menemukanmu tersesat dan berusaha membawamu kembali?"
"Bukankah awal mula hubungan kita memang dari ketidaksengajaan, karena aku yang tersesat"
"Ah benar juga, itu bukan karangan tapi fakta"
Jacob kembali menghadap ke langit-langit tenda. Sedang Hani terlihat cukup gelisah karena gaun yng ia kenakan basah akibat air yang digunakannya untuk mencuci peralatan. Ia hendak meminjam baju pada Jacob.
"Umm kalau aku boleh bertanya, apa kamu masih ada baju cadangan? Bajuku basah dan hanya celana olahraga yang bisa kupakai"
"Tentu, aku membawa satu baju, sebenarnya ini baju panitia. Ada sablon namaku di bagian belakang."
"Tak apa selama bisa dipakai, aku tak masalah"
Dengan cepat Jacob mengeluarkan baju yang ia maksud dari dalam tas ransel miliknya dan menyerahkan ada Hani. Setelah menerimanya, Hani segera berbalik badan dan meminta tolong pada Jacob untuk membantunya menarik resleting gaunnya ke bawah. Jacob tak bisa menolak, ketika gadis itu mulai mengangkat rambutnya keatas menunjukkan lehernya, ia mulai menarik resleting kebawah, perlahan. Ia berhenti ketika tali pakaian dalam yang dikenakan gadis itu mulai terlihat.
"Oh sudah ya, terimakasih. Kamu bisa berputar sebentar? Aku akan berganti pakaian"
"Sure" Jacob segera membalikkan tubuhnya. Suasana di dalam tenda menjadi sangat tenang dan ia hanya mendengar suara Hani yang berkutat dengan pakaiannya. Entah mengapa ia mulai merasakan gejolak tak biasa, jantungnya berdegup semakin kencang. Ia hanya bisa menelan ludah dan berharap keheningan segera sirna. Ia membebaskan pikirannya ke tempat yang lain, ia tak ingin terjebak kedalam ekspetasinya sendiri, karena ia tahu hal itu melewati batas.
Segera setelah Hani selesai berganti pakaian, ia menepuk pundak Jacob dan mengatakan telah selesai memakai baju. Jacob melihat Hani mengenakan baju miliknya. Gejolak yang ia rasakan sebelumnya perlahan menghilang. Ia menghargai gadis di depannya saat ini.
"Yah aku mendapatkannya dari rekomendasi online"
"Satu-satunya parfum yang kupunya beraroma mawar. Benar-benar sangat mirip dengan bunga aslinya."
"Aku lebih suka dengan aroma alamimu. Sangat lembut dan menenangkan"
"Umm? Maksudmu aroma tubuhku?"
"Iya, ah aku bukan bermaksud memikirkan hal aneh. Aku hanya teringat saat kamu memelukku ketika aku sedang demam." Jacob bersikap tak biasa, dan Hani bisa merasakan hal itu. Ia seperti sedang berusaha mengatasi dirinya sendiri di hadapan Hani.
Tiba-tiba Jacob mendekat pada Hani, jarak mereka kini sangat dekat hingga mampu merasakan hembusan nafas masing-masing. Jacob meraih kedua pipi gadis itu dan perlahan mencium bibirnya. Hani cukup terkejut. Ia tidak menyangka Jacob sungguh berani melewati batasnya sendiri. Dengan perlahan ia melepas ikatan yang baru saja terjalin itu, dan menatap Jacob. Sedangkan sosok yang ditatapnya hanya menunduk seolah merasa bersalah.
"Aku merasa ini bukan sesuatu hal yang benar-benar kamu inginkan. Kamu hanya mengikuti instingmu. "
"Aku minta maaf, aku tidak bermaksud melakukan hal buruk padamu"
"Aku tahu, kamu berusaha menahan diri. Tapi apa yang kamu pikir akan kita lakukan, kurasa itu terlalu cepat."
Masih tertunduk lesu, Jacob hanya mendengar ucapan Hani. Gadis itu melihat Jacob lebih tenang kemudian memegang kedua tangannya. "Aku hanya tidak ingin menyesal. Dan aku tidak ingin kamu melewati batas."
"Aku mengerti, maaf membuatmu khawatir" Jacob perlahan mengangkat kepala, tatapan keduanya saling bertemu. Hani memeluk Jacob dan membiarkannya tetap seperti itu untuk beberapa saat sambil mengelus punggungnya dengan lembut.
"Terimakasih atas pengertianmu, aku menghormatimu sebagai pria"
Jacob masih disana, mencium aroma lembut dan menenangkan itu sekali lagi. Air matanya menetes, emosinya hampir tak terkendali.
"Izinkan aku menikmati aroma ini untuk sesaat, karena ku tidak ingin melupakannya" ucapnya perlahan sambil terus berusaha menahan tangis.
Hani merasakan emosi yang sedang Jacob alami, ia memindahkan tangannya ke tengkuk kepala Jacob dan memberikan sentuhan pada rambut lelaki itu. "It's okay, tidak apa untuk meluapkan emosimu sesekali. Aku berada disini, aku bersamamu disini"
Jacob menenggelamkan kepalanya di leher gadis itu dan menangis disana.