
Andra tertawa melihat sunny yang cemberut, begitupun dengan ayah dan kak dina,," kamu lucu kalau lagi marah " kata andra, " iya dia memang mirip anak kecil kalau lagi bete dan ngambek " timpal kak dina... semua pun tertawa, tanpa memperdulikan sunny yang sudah begitu marah,terlihat dari sorot matanya yang tajam melihat ke arah andra juga kak dina.
" kalian kenapa sih harus kerja sama bikin aku masuk perangkap dr. andra? " sunny memprotes pada ayah dan dina setelah kepergian andra. " lho maksud kamu apa sih sunny? emang siapa yang bikin perangkap? " tanya ayah pada anaknya yang sedari tadi ngambeuk. " dek kamu gak boleh buruk sangka sama andra, dia kelihatan sangat tulus pengen dekatin kamu, terlihat dari usahanya itu lho " timpal kak dina. sunny masih tidak menjawab, dia diam dengan kedua tangan bersidekap, dan bibir yang masih cemberut. " iya nak, ayah juga sudah bisa melihat keseriusan andra sama kamu, coba kamu pikirin baik\-baik ya, kalian pendekatan aja dulu, soal gimana kedepanya kamu lihat saja nanti " ayah memberi saran pada sunny,, " aku belum mau punya temen deket ayah, aku masih pengen fokus kerja dan urus rara,gak mau mikirin apapun selain itu" tegas sunny. "udah ahh aku mau ke kamar dulu nemenin rara belajar " sunny pun pergi meninggalkan ayah dan kakanya dan masuk ke kamarnya.
"Ayah bingung din, harus gimana cara ngasih tau adikmu" ucap ayah lirih. " ayah tenang saja, kita serahkan sama dr. andra, kita dukung saja usaha andra buat deketin sunny, lagian kelihatanya rara suka sama calon ayah barunya, hihi" kak dina mencoba menenangkan ayah nya yang khawatir pada adiknya yang keras kepala.
Andra baru selesai mendi, dia menatap cermin besar di ruang ganti pakaianya. senyum terlukis di bibirnya yang tipis, dia kini sedang membayangkan sunny yang begitu lucu saat sedang marah, dia tidak terlihat seperti seorang wanita dewasa yang memiliki anak, malahan dia terlihat seperti anak kecil yang merajuk karena gak dibelikan mainan.
" aku benar-benar semakin ingin terus dekat kamu sunny, kamu kapan bisa terima aku? aku pasti akan sangat bahagia jika waktunya tiba" andra berbicara dengan lukisan sunny yang terpajang juga di ruang ganti pakaianya.
di villa ini setiap ruangan terdapat lukisan sunny, dia sengaja memasang di setiap ruangan agar dia bisa selalu melihat wajah wanita dambaanya ketika berada di dalam villa. "sepertinya aku sudah kangen lagi sama kamu, aku harus apel nih kerumah kamu, haahaa" andra pun bergegas bersiap untuk segera pergi ke rumah sunny. sebelum menuju rumah sunny andra mampir dulu ke toko mainan, ke toko buah juga toko bunga.
andra tidak mau kalau sampai datang dengan tangan kosong.
" gak bisa dong sayang, om dokter itu sibuk. pasienya banyak di rumah sakit.. kalau om dokter nemenin kita,terus siapa yang ngobatin pasienya? " sunny mencoba menjelaskan agar rara bisa mengerti dan gak minta buat mengajak dokter andra lagi, bisa-bisa nanti dr.andra jadi punya alasan,pikir sunny.
"ting... tong... " suara bell berbunyi memecah obrolan ibu dan anak yang sedari tadi berdebat soal jadwal untuk pergi menonton film. " bunda ada tamu ya? " tanya rara.. " kayanya sih iya dek, kita lihat siapa yang datang yu? " ajak sunny. sunny dan rara pun keluar kamar, saat menuju ke ruang tamu mereka melihat ayah sudah duduk dengan seseorang." lho kamu? " sunny refleks berteriak saat melihat sosok yang datang bertamu,sunny terlihat sangat terkejut.
" aku cuma mau main, soalnya bosan juga di villa sendirian" jawab andra ramah." kamu gak sopan sama tamu kok berteriak gitu sih" protes ayah. " maaf ayah aku cuma kaget " jawab sunny pelan. " kamu bikinin nak andra minim gih " suruh ayah pada sunny.. " baik ayah " sunny pun segera pergi ke dapur.
aku butuh refreshing nih, butuh ide buat nulis, karena sakit jadinya stay dirumah sampei suntuk nih otak, heehee
tks udah baca karya aku yg masih jauh dari sempurna.