
Pulang sekolah, Gleice mengucapkan salam saat memasuki rumahnya dan mengganti pakaian dikamarnya. Mengeluarkan dan mengatur buku-buku dan alat-alat tulisnya yang berada di dalam tas.
Setelah itu, ia duduk di meja belajarnya, mengambil dan membuka buku catatannya ( diary ). Di dalam buku itu tepatnya di halaman 1, ia menemukan catatannya yang berjudul "4 Juni 2016".
Dia membaca catatan itu yang berisikan "4 Juni 2016, bertepatan pada hari ulang tahunku yang menginjak 6 tahun. Suatu tragedi terjadi. Ayahku mengajakku pergi jalan-jalan di malam itu. Ibuku tak bisa ikut karena ada urusan mendadak. Terpaksa, aku dan ayahku jalan-jalan berdua. Kami pergi ke mall bersama, membeli beberapa mainan dan barang-barang lainnya termasuk buku ini.
Sungguh penuh canda tawa dan keceriaan. Dan akhirnya, waktunya kami untuk pulang. Hujan cukup deras. Ayah membelikanku gulali. Dengan bodohnya, aku menyebrangi jalan raya sendirian. Jalan itu sangat padat akan kendaraan. "Pip, pip" bunyi klakson truk yang jaraknya sudah dekat denganku. Ayah yang melihat itu langsung menolakku ke pinggir jalan yang membuatnya harus mengorbankan dirinya. Bunyi petir yang sangat keras membuatku langsung menutup telinga sambil berteriak. Aku mendekati ayah yang sudah berlumuran dengan darah. Aku memegang tangannya dengan erat sambil menangis sangat kencang. Ayah dilarikan di RS dan dinyatakan telah meninggal dunia. Aku tak kuasa menahan tangisan. Ibuku yang mendengar itu, ikut menangis. Dan ya, urusan mendadak yang diurus ibuku adalah rencana perceraian. Ibuku dan ayahku memiliki rencana untuk bercerai di tanggal 5 Juni 2016, tepat setelah aku berulang tahun. Aku membenci tanggal 4 Juni, aku membenci hujan deras dan aku sangat membenci diriku sendiri".
Gleice tak bisa menahan tangisnya saat membaca catatannya.
Dalam hati Gleice : Jika aku bisa mengulang waktu kembali, aku tak ingin lahir dan hidup di dunia ini. Semuanya sia-sia. Mungkin saja, kehidupan orang lain akan berjalan lebih lancar saat tak ada diriku.
Gleice melihat cutter di meja belajarnya. Dia mengambil cutter itu, seperti ingin menyayat nadinya. Namun, dia tak berani melakukannya. "Maaf, kalau aku menjadi alasan yang utama" ucap Gleice.
Hp Gleice berbunyi. Sepertinya ada yang mengiriminya pesan. Dan benar saja, pesan itu dari Lea.
CHAT LEA DAN GLEICE :
Lea : Gleice, kamu mau gak main dirumahku?
Gleice : Boleh aja, ada banyak orang?
Lea : Gak kok, kamu dan Aylen aja
Gleice : Hmmm, OK deh. Tapi aku minta izin mamaku dulu ya
Lea : OK
Lea : Alhamdulillah, ditunggu yaa
Gleice bersiap-siap pergi ke rumah Lea. Mengambil tas dan membawa camilan-camilan. Yang utama, dia tak lupa membawa hpnya. Dan buku catatannya ( diary ).
"Mah, aku pergi dulu ya. Assalamualaikum" pamit Gleice. "Iya, Gleice hati-hati ya. Waalaikummussalam" jawab Gleice.
Gleice pergi ke rumah Lea menggunakan sepedanya. 5 menit kemudian, Gleice sudah sampai di tempat tujuan. Ternyata Aylen dan Lea sudah menunggunya di ruang tamu. "Assalamualaikum" salam Gleice. "Waalaikummusslam" jawab Lea dan Aylen. "Akhirnya, yok ke kamarku" ajak Lea. Mereka pun masuk ke dalam kamar Lea.
"Karena aku bingung mau ngapain jadi aku ngajak kalian kesini" ucap Lea. "Yeyyyyyyyy" balas Gleice dan Lea. "Eh iya, Gleice maaf ya bukan mau bikin kamu ngerasa sedih ataupun gak nyaman. Tapi, kamu ada phobia petir atau gimana?" tanya Lea. "Iya, aku juga mau nanya itu" lanjut Aylen. Gleice membuka tasnya, mengambil buku catatannya dan memberikannya ke Lea dan Aylen. "Nih, baca halaman 1 ya" kata Gleice. Lea dan Aylen mulai membaca catatan itu.
"Maaf Gleice, kami gak tau" ucap Lea dan Aylen meminta maaf ke Gleice. "Gapapa, lagipula kalian kan awalnya gak tau" jawab Gleice sambil tersenyum. Lea dan Aylen menangis sambil memeluk Gleice. "Kalian jangan nangis dong" kata Gleice.
Akhirnya mereka berhenti menangis dan sudah tenang. Mereka mulai berghibah dan berbincang-bincang. "Ehh, kalian dah bisa bunyiin tangan yang *huwuwww jheysenn huwuww* itu gak?" tanya Aylen Udah dong!" seru Gleice dan Lea. "Aku juga dah bisa" ucap Aylen.
All : Jheysenn huwuwww / bunyiin tangan
"Gila, gila, gila kita dah pro banget yak" canda Gleice.
"Aku ada snack nih buat kalian" ucap Lea sambil mengambil beberapa camilan. "Ehh iya, aku juga bawa" lanjut Gleice, mengeluarkan camilan dari dalam tasnya.
Mereka pun melahap camilan-camilan itu sambil mengobrol. Ludas, tak ada yang tersisa.
"Kok cepet banget sih, udah jam setengah 4 aja" kata Aylen. "Hah?? Kok cepet banget" ucap Gleice sambil melihat jam di hpnya. "Udah 2 jam ya ternyata kita ngobrol" lanjut Lea. "Aku pulang dulu ya Lea, Aylen. Assalamualaikum" pamit Gleice. "OK, hati-hati Gleice. Waalaikummussalam" jawab Aylen dan Lea.
Lanjut eps 23 yaaaaaaaaaaaaa