
"Akhirnya gue bisa makan dengan lahap" ucap Jeli setelah sampai dikantin fakultas. Dia segera memesan sepiring nasi goreng dan segelas jus wortel.
"Emangnya Lo nggak pernah makan lahap selama ini?" Tanya Aga menimpali ucapan Jeli.
"Nggak"
"Nah tadi pagi Lo sarapan di rumah gue nggak lahap itu namanya?" "Akhirnya gue bisa makan lahap" ucap Jeli setelah sampai dikantin fakultas. Dia segera memesan sepiring nasi goreng dan segelas jus wortel.
"Emangnya Lo nggak pernah makan lahap selama ini?" Tanya Aga menimpali ucapan Jeli.
"Nggak"
"Nah tadi pagi Lo sarapan di rumah gue nggak lahap itu namanya?"
"Nggak"
"Lah na terus???"
"Selama ini gue nggak pernah makan lahap karena didalam perut gue ada bayi-bayi cacing yang manja. Sekarang bayi cacing-cacing itu udah mati kena semprotannya pak Tejo tadi." Jawab Jeli menjelaskan imajinasinya yang terlalu halu.
Gue dan Aga menghela nafas kasar sedangkan Jeli hanya cengar-cengir nggak jelas.
"Habis ini nge-mall yuk Ra! Gue pengen cuci mata bentar" ajak Jeli. Gue mengangguk aja, gue juga butuh cuci mata sebentar meskipun gue harus menahan tangan gue agar nggak membawa pulang tuh barang-barang.
"Tralala... Tralala..."
"HP Lo bunyi tuh Ra!!" Gue tergeragap dengan ucapan Aga, lalu mencari-cari HP gue yang terselip di pojokan tas.
Bapak Buthek is calling...
WHAT??? Demi apa pak Reon nelphon gue??? Jangan-jangan, JANJI GUE!!!
Dengan gerakan cepat, gue meneguk es Milo yang masih tersisa setengah dan berlari meninggalkan kantin fakultas menuju tempat parkir dosen tanpa pamit pada Jeli dan Aga. Telephone dari pak Reon juga belum gue angkat, gue nggak mau kena semprot dia lagi. Dari kejauhan gue dapat melihat pak Reon yang berdiri disamping mobilnya sambil menelphone gue. Oh my God!! Gue berhenti berlari dan berusaha menetralkan detak jantung gue, lalu menjawab panggilan dari pak Reon.
"Hallo pak?"
"Kamu kemana saja? Nggak di angkat dari tadi?"
"Saya ke toilet tadi pak. Sekarang saya sudah menuju ke parkiran kampus."
"Loh kamu udah disini? Dimana?"
Tanya pak Reon, gue bisa melihat dia celingak-celinguk mencari gue. Tanpa sadar gue melambaikan tangan ke pak Reon.
"DISINI PAK"
"Nggak usah teriak-teriak, saya sudah dengar. Kamu kira telinga saya bermasalah?"
"Hahaha... Maaf pak. Saya nggak sadar kalau masih telphonan sama bapak." Ucap gue setelah sampai didepan pak Reon.
"Ya sudah nggak apa-apa. Kamu mau nolong saya?" Tanya pak Reon. Yaelah pak tumben nanya, biasanya juga main perintah aja.
"Minta tolong apa pak?"
"Tolong ambilkan tas kerja saya di meja kerja!" Kata-kata pak Reon membuat gue termangu.
Gue harus naik lagi kelantai dua hanya untuk ngambil tasnya pak Reon yang ketinggalan??? Halu macam apa ini???
"Kamu mau tidak?" Tanya pak Reon lagi.
"Mau pak"
"Ya udah ambil sekarang! Saya nggak mau nanti kita telat."
©©©
"Nggak pak, mana mungkin saya berani marahin dosen" ucap gue sambil menggeleng pelan tanpa melihat wajah pak Reon yang sedang menyetir mobil.
"Kok diam aja?"
"Saya lagi ngirit ngomong pak" jawab gue asal.
"Kenapa?"
"Yang ngomong di denda pak." Ucap gue kesal. Pak Reon cerewet juga kalau mood-nya friendly gini.
"Jhahahaha... Kamu lucu juga" lah, dia malah ngakak, di kira gue badut Ancol apa lucu???
"Saya mau ajak kamu kerumah saya, ada hal yang harus saya beritahukan kepada kamu." Ucap pak Reon membuat gue mengernyit heran.
"Ngapain harus dirumah pak? Di kampus kan juga bisa?" Tanya gue keheranan.
"Ini proyek rahasia. Kamu tau kan maksud saya?" Ucapnya.
Gue mengangguk. Selama gue jadi asdos pak Reon, gue selalu dibuatnya terkejut. Banyak hal-hal besar yang dilakukan pak Reon tanpa diketahui oleh mahasiswa ataupun sesama dosen sendiri. Tapi pak Reon sangat terbuka sama gue, itu yang membuat gue sungkan untuk berhenti jadi asistennya pak Reon. Sepertinya pak Reon terlalu menaruh harapan pada gue agar bisa menjadi salah satu poinnya. Poin yang bisa berguna bagi pak Reon.
"Kita mampir di mall dulu ya!" Ucap pak Reon yang sudah membelokkan mobilnya kearah mall dan mencari tempat parkir untuk mobilnya.
"Kamu nggak turun?" Tanya pak Reon setelah memarkir mobilnya dan melihat gue yang malah enak-enakan main hp didalam mobilnya tanpa berniat untuk turun.
"Enggak pak, saya nunggu disini saja." Kata gue menolak dengan sopan.
Pak Reon menyeringai, lalu berkata
"Ya sudah kalau nggak mau turun, mobilnya mau saya kunci!!" Ucapnya menakut-nakuti gue, dengan siap sedia gue akhirnya turun dari mobilnya dan duduk dibelakang mobilnya. Yah daripada gue mati muda didalam mobil, lebih baik gue ngemper dipinggir mobil.
"Kamu nggak ikut saya kedalam?" Tanya pak Reon lagi dengan nada seperti keheranan dengan sikap gue. Seolah-olah dalam pikirannya berkata kalau gue wanita paling aneh sedunia, biasanya kalau wanita bersangkutan sama mall itu langsung happy, tapi kok gue nggak???
"Nggak pak, saya nunggu disini saja" tolak gue lagi.
"Kamu ikut saya kedalam! Saya tidak menerima penolakan!!!"
WOW!!! Nih dosen gue mode angry-nya on. Gue langsung berdiri dan membuntuti pak Reon yang jalannya ceper banget kayak kereta api.
Pak Reon berhenti dan masuk ke toko perhiasan, dia melihat-lihat kalung yang terpajang indah disana. Sumpah, mata gue bling-bling ngelihatnya, disini semua berkilau kayak kaca kena sinar matahari.
"Menurut kamu kalung yang paling bagus untuk wanita hamil itu yang mana?" Tanya pak Reon ke gue. Langsung deh gue tunjuk dua kalung yang menyita perhatian gue dari tadi.

"Kalau menurut saya ya pak, yang love itu cocok untuk bumil yang punya sifat lemah lembut dan feminim, kalau yang itu cocok untuk bumil yang punya sifat simple dan tomboy." Ucap gue sambil menunjuk kalung yang gue maksud.
Pak Reon mengamati kedua kalung itu sebentar dan langsung membelinya gais, dua-duanya. Oh my God! Andai gue punya suami royal kayak pak Reon.
"Kamu nggak beli?" Tanya pak Reon ke gue. Gue langsung tampang muka polos sepolos-polosnya.
"Bapak mau beliin?" Tanya gue yang sok kepede-an. Tapi nggak apa-apa sih, bila aja dia mau beliin gue yang notabenenya hanya sekedar mahasiswanya.
"Saya beliin..." Kata pak Reon, langsung membuat gue berjingkrak senang. Gue langsung melihat-lihat perhiasan mana yang gue mau. Saat gue udah memilih dan menunjukkannya ke pak Reon, dosen gue yang terhormat itu bilang ke gue.
"Saya beliinnya pakek uang kamu!!"
SALAM ANJAY!!!
Bersambung...