
Orang bilang hidup itu seperti roda kadang diatas kadang di bawah, kadang kita merasakan nikmatnya kehidupan dan terkadang kita merasakan tantangan kehidupan. I know, it has become a human destiny.
Hari ini cuacanya mendung, angin semilir datang dari Utara ke Selatan. Mumpung cuacanya kayak gini, gue memilih duduk ditaman kampus yang di kelilingi bunga-bunga indah. Cukup telinga gue panas dengar dengungan-dengungan manusia yang sok ngejudge sesuatu tanpa mereka tahu kejadian aslinya ataupun bukti kebenarannya, lebih baik gue dengar dengungan lebah, setidaknya gue nggak tau apa yang diomongin sama tuh lebah.
"Ngapain kamu disini sendirian?" Tanya seseorang yang tiba-tiba berdiri didepan gue, menghalangi sinar matahari pagi setengah siang yang menyinari muka gue.
Gue sempet kaget siapa yang bicara ke gue pakek bahasa baku banget kayak gitu, tapi setelah gue lihat dalam hati gue ngomong, no wonder.
"Bapak juga ngapain disini?" Tanya gue balik tanpa menjawab pertanyaannya.
"Saya mau memperhatikan apa yang kamu perhatikan" jawab pak Reon sambil duduk disamping gue. ***** gue kaget, secara ngapain dia jawab sok lemah lembut gitu. Gosip apa lagi yang akan menyebar kalau tau pak Reon duduk disamping gue.
"Bapak ngapain duduk disini?" Tanya gue kaget atas perilakunya.
"Memangnya kenapa kalau saya duduk disini? Ini tempat umum kan?" Jawabnya. OMG, bapak ini nggak tau apa rumor yang sedang beredar di kalangan mahasiswanya? Lagi pula dia nggak sibuk apa dengan pekerjaannya?
"Silahkan bapak duduk disini, saya mau pulang dulu" ucap gue mempersilahkan sekaligus pamit pada bapak dosen gue yang terhormat ini.
"Saya belum nyuruh kamu pergi" ucap pak Reon membuat darah gue mendidih.
Gue menarik nafas pelan. Memberikan peringatan pada emosi gue yang udah mendidih bahwa dia dosen gue dan nilai gue dipertaruhkan. Akhirnya gue berbalik menghadap dia yang masih setia duduk sambil menghadap gue.
"Maaf pak sebelumnya, tapi ini ditempat umum. Saya nggak mau ada gosip-gosip miring yang menyebar tentang bapak dan saya, kalau ada yang mau diomongin, silahkan bapak WhatsApp saya." Ucap gue langsung berbalik dan meninggalkan pak Reon sendirian ditaman.
Gue nggak segila itu untuk berduaan sama dosen single yang hampir semua mahasiswa 3 fakultas ngefans sekaligus ngeri sama dia. Kata Jeli ~sahabat gue yang terimut~ pak Reon itu sempurna, udah pinter, kaya, muda, ngganteng pula. Cuma satu kekurangannya, dia nggak pernah nunjukin rasa baik hatinya ke mahasiswanya.
Saat itu gue percaya aja sama omongan Jeli, secara saat itu gue baru semester 1, masih ABG labil yang ketemu cowok ngganteng sedikit udah klepek-klepek. But sekarang, setelah 2 tahun disini dan 2 Minggu mengenal baik pak Reon semua sanjungan itu hilang dan kandas digantikan rasa enggan dan emosi. Cuma satu yang gue benerin dari omongannya Jeli, pak Reon itu nggak pernah baik hati sama mahasiswanya. Camkan itu!
©©©
Bapak Buthek is calling...
WHAT??? Gue 100% kaget setelah sumpah serapah yang gue lontarin sebelumnya. Ngapain juga pak dosen gue nelpon tengah malem gini, ini jam 2 dini hari gais. Panggilan pertama nggak gue angkat, bayangan gue mungkin aja dia ngelindur dan nelpon gue. Tapi setelah 3 kali panggilan, gue angkat telpon dari dia.
"Hallo, ada apa pak?" Tanya gue setengah mengantuk.
"Kamu dimana?"
"Dirumah lah pak"
"Kamu siap-siap nanti jam 4 saya jemput"
"Mau ngapain pak? Saya nggak mau diculik"
"Hahahaha siapa yang mau nyulik kamu? Besok saya ada seminar penelitian di Singapura, kita terbang kesana"
"Tapi pak-"
"Saya tidak menerima penolakan Tiara"
Diiit... Diiit...
"Pak- hallo... Hallo" *****, maki gue spontan. Nih bapak semena-mena banget, emang bener besok libur tapi gue kan punya acara sendiri sama temen-temen gue. Terus gue sekarang harus ngapain, masak gue packing-packing tengah malem? Gue aja nggak tau berapa hari disana? Gue harus bawa apa? ***** lah tuh Bapak Buthek!!!
Akhirnya setelah maki-maki nggak jelas, gue kembali tepar dilantai karena kasur gue udah penuh barang-barang yang akan gue bawa ke Singapura.
Gue setengah sadar ketika pintu gue digedor-gedor dari luar, sambil ngucek mata yang entah kenapa nggak bisa kebuka, gue membuka pintu kamar gue.
"Diluar ada orang nyariin kamu, laki-laki" ucap mbak Eri memberitahu gue.
"Siapa sih mbak? Nggak orang kali, dedemit." Ucap gue setengah sadar.
"Dosen kamu katanya" ucap mbak Eri yang juga menahan kantuk.
WHAT, DOSEN GUE???
Langsung deh gue nyambar handuk yang tergantung dibalik pintu kamar gue, lalu berlari kekamar mandi.
"BILANGIN MBAK, SURUH NUNGGU SEBENTAR!" Teriak gue dari kamar mandi.
Oh my God, gue lupa punya janji sama tuh dosen. Setelah mandi super cepat, pakaian super cepat, kerudungan super cepat tanpa make up, dan masukin barang-barang gue super cepat. Gue akhirnya keluar dari rumah kontrakan gue, pak Reon duduk dimobilnya sambil melihat smartphone canggihnya.
"Pak" ucap gue sambil tersenyum semanis-manisnya yang gue buat-buat.
"Telat 20 menit, masuk!" Perintahnya pada gue. Dengan sigap gue membuka pintu mobil lalu duduk disamping pak Reon.
Awkward. Itu yang gue rasain didalam mobil, antara canggung dan ngantuk. Masalahnya pak Reon juga diam aja tanpa ngomong sepatah kata pun. Nih orang marah kali ya sama gue, pikir gue. Akhirnya dengan keberanian yang gue paksa-paksain keluar.
"Maaf pak" ucap gue akhirnya. Dan Lo tau reaksi pak Reon apa? Cuma diam, tanpa mau membalas omongan gue. Akhirnya karena dia nggak mau jawab dan gue ngantuk berat, gue memilih tidur didalam mobil pak Reon. Masa bodoh dianggep nggak punya sopan santun, gue kan masih gadis belia bang!!!
Sayup-sayup gue denger adzan shubuh dari kejauhan, kali ini gue nggak lupa kalau gue lagi dimobilnya pak Reon. Pak Reon membelokkan mobilnya setelah melihat ada masjid di kiri jalan. Gue syok gais, secara selama ini gue kira pak Reon itu beda dari gue. Lo tau kan maksudnya beda? Yah beda keyakinan lah sama gue, mana gue tau kalau dia ternyata sefaham sama gue, masalahnya wajah pak Reon itu memiliki aksen British not Indo.
"Kamu mau turun tidak? Mobilnya mau saya kunci" ucap pak Reon setelah memarkir mobilnya di halaman masjid. Gue cepet-cepet ambil tas gue yang ada disamping kaki gue dan turun, gue nggak mau kali mati muda didalam mobil karena kehabisan oksigen.
Pak Reon meninggalkan gue gitu aja disamping mobilnya tanpa mau menunjukkan dimana letak wudlu khusus wanita, emang parah ya ni dosen, nggak peka banget. Ok, I am fine, gue bisa kok cari sendiri, batin gue.
Setelah melakukan sholat jamaah shubuh, gue misah dari barisan shaf perempuan yang hanya terdiri dari 7 orang wanita yang udah kebanyakan makan asam manisnya kehidupan, sampek-sampek wajah mereka keriput banget. Sambil nunggu pak Reon, gue prepare dulu. Biasa prepare perempuan itu nggak akan jauh-jauh dari bedak dan lipstik. Setelah 7 menit menunggu pak Reon, akhirnya dosen gue yang terhormat ini keluar juga dari masjid. Mungkin kalau temen-temen gue berada diposisi gue saat ini, mereka pasti akan meneteskan liur sambil memandang wajah dan body pak Reon tanpa berkedip. Kenapa gue bilang gitu? Because saat ini pak Reon kelihatan berkharisma banget dan so cool.
"Kamu ngapain lihatin saya sampek gitu?" Tanya pak Reon pada gue, sontak gue berdehem kecil untuk menghilangkan kegerogian gue. Kayaknya mata dan otak gue butuh diserfishin deh kalau pulang dari Singapura.
Keadaan didalam mobil masih aja kayak tadi. Awkward tanpa dicegah. Gue bingung mau apa dan bagaimana, secara kalau gue mau tidur lagi, malu dong gue ini kan habis shubuh. Kalau bangun, gue mau ngapain?
Akhirnya keheningan dan kecanggungan itu terpecahkan oleh suara rington dari HP dosen gue.
"Tolong angkat!" Pinta pak Reon pada gue. Tanpa basa-basi gue angkat tuh HP-nya pak Reon, dan gue loundspeker.
"Hallo Reon, kamu dimana?"
Suara manja diseberang, membuat bulu kuduk gue berdiri tanpa gue perintah.
"Aku dijalan, mau ke Singapura. Kenapa?" Tanya pak Reon.
Aku, kamu. Nggak salah nih gue denger?
"Kamu kapan pulang? Baby aku kangen"
WAIT. ***** lah, jadi selama ini pak Reon udah nikah dan punya anak???
Terus, hot news kalau pak Reon belum nikah itu, bohong dong???
TERTIPU LAHH GUE!!!
Bersambung...