SHE

SHE
8| Ada Apa Dengan Aga??? #2



"Gue... Putus dari Monik, Ra."


Itu kata-kata Aga sebelum dia menceritakan semua hubungannya dengan Monik yang awalnya baik-baik aja.


"Gue sama Monik baik-baik aja Ra, gue menerima kekurangan Monik dan dia berusaha ngelengkapin kekurangan gue, kita sama-sama saling melengkapi dan mencintai. Sampai suatu hari gue nganterin Monik kerumah kakaknya yang ada di Surakarta, dan abangnya tau kalau ternyata gue sama Monik tu beda. Awalnya abangnya tidak mempermasalahkan itu, tapi keluarga bibinya yang mempermasalahkannya. Hubungan kami di cegah, dan akhirnya Monik bilang ke gue kalau dia udah nggak bisa ngelanjutin hubungan ini lagi kalau salah satu dari kita nggak ada yang mau ngalah. Kami berdua masih sadar akan kepercayaan dan keyakinan kami yang beda, dan gue nggak bisa ninggalin ajaran agama gue Ra. Akhirnya, gue memilih berhenti dan berusaha melepaskannya. Menurut Lo keputusan gue udah bener? Apa gue seorang pengecut yang merelakan kekasihnya?" Tanya Aga ke gue.


Gue menghela nafas pelan, masalah Aga itu masalah hati. Keyakinan berasal dari hati dan cinta juga berasal dari hati.


"Gue nggak berhak menentukan kalau keputusan Lo bener Ga, karena mungkin orang lain juga akan berpendapat berbeda dengan gue. Semua keputusan itu ada di tangan Lo, hanya Lo yang tau seberapa benar  dan nggaknya keputusan Lo itu. Kalau Lo mau nasihat dari gue, Lo dengerin baik-baik. Tuhan yang menciptakan dan menghidupkan Lo, dan Tuhan juga yang akan mematikan Lo, dia ada dan menemani dari awal Lo hidup sampek Lo mati. Tapi manusia yang meskipun Lo cintai, dia belum tentu ada saat Lo lahir didunia ini dan saat Lo mati nanti." Ucap gue. Sumpah, gue juga pengen nangis dan terharu. Rasanya gue baru aja ngucapin kata-kata mutiara yang keluar langsung dari hati.


"Dan Lo bukan pengecut Ga. Seorang pengecut itu adalah orang yang meninggalkan masalahnya dipersimpangan, dan membuat seseorang menunggu tanpa kepastian. Tapi Lo nggak, Lo berani mempertaruhkan apa yang Lo punya dan membuat keputusan, sehingga orang yang menunggu Lo memiliki kepastian untuk memilih. Lo bisnissman sejati Ga!!" Ucap gue lagi sambil memandang raut wajah Aga yang sendu, lebih sendu daripada biasanya.


"Udah jam 2, Lo tidur gih sana gue mau balik tidur lagi. Besok, Lo yang tugas nge-print sama fotocopy tuh laporan. Jangan lupa!!! Awas Lo nggak berangkat!!!" Ancam gue, sebelum kembali keruang santai dan kembali tidur di karpet.


Happy nice dream, Ara.


©©©


Apa kabar dunia gue yang aman dan tentram sebelum kekacauan dari pak Reon ini terjadi??? Sekarang kehidupan kampus gue berubah 180°, gue yang sekarang sering di godain sama adek-adek angkatan, di cibirin sama kakak-kakak angkatan, dan sering di keluhin sama anak-anak seangkatan. Belum lagi setiap hari gue harus bertatap muka sama pak Reon di ruangannya yang angker ~dalam tanda kutip~, dan juga kultumnya yang lebih dari tujuh menit.


Sepagi ini aja, gue udah lari-lari di koridor kampus untuk menuju ke ruangannya pak Reon untuk menaruh setumpuk kertas kuis dan flashdisk hasil rekap nilai mahasiswanya.


Saat gue membuka pintu ruangannya, gue bernafas lega bahwa pak Reon belum dateng. Gue cepat-cepat menaruh setumpuk kertas tersebut beserta flashdisk di meja kerjanya. Dan... Gue termangu sebentar menatap sebingkai foto yang menghiasi meja kerja pak Reon. Itu foto wanita yang berpakaian minim, hanya gaun putih tanpa lengan sebatas paha. Menurut gue, wanita itu cantik dan kelihatan anggun cocok banget dengan pakaian yang ia gunakan. Pikiran gue udah meraba kemana-mana, apakah dia wanita yang selalu nelphon pak Reon kemarin? Batin gue.


Tanpa gue sadari, ternyata pak Reon udah berdiri diambang pintu sambil memperhatikan gue yang sedang memegang foto berbingkai itu.


"EHM..." Batuk sialan pak Reon mengagetkan gue, refleks gue menaruh kembali foto itu dengan tergesa-gesa. Gila udah gue!!!


"Kamu ngapain megang-megang barang saya tanpa seizin saya?" Tanya pak Reon mengintimidasi. Gue menampilkan senyuman gue yang paling menawan menurut gue, berdoa supaya pak Reon nggak tanya macam-macam dan tidak menghukum gue.


"Nggak kok pak. Tadi saya lihat fotonya kena *** cicak, jadinya saya bersihin." Ucap gue ngeless, masak iya gue ngomong jujur. Bisa mati muda gue!!


"Duduk! Saya mau bicara sama kamu!" Perintahnya, membuat bulu kuduk gue merinding. Tanpa punya pilihan untuk menolak, gue akhirnya duduk didepan meja kerja pak Reon dan menunduk dalam. Yah... Gue cukup tau kesalahan gue saat ini, pasti masalah itu.


"Kamu sadar, apa kesalahan kamu?" Tanya pak Reon lagi tanpa mengalihkan tatapan mengintimidasinya. Gue mangangguk tanpa berani berkata 'iya'.


"Kamu kemarin mengajari saya untuk menjadi orang bertanggungjawab. Sekarang kamu saja tidak bertanggungjawab atas amanah yang saya berikan kepada kamu. Kemarin kenapa kamu tidak datang ke rumah saya?" Ucap pak Reon. Sumpah gue rasanya pengen nimpuk nih bapak, gue pengen ngomong ke dia kalau gue juga punya kehidupan sendiri selain jadi asistennya. Tapi apa mau dikata, dengan puncak emosi kayak gini kalau gue ngomong kayak gitu, nggak cuma mengancam kedudukan gue sebagai asistennya tapi juga mengancam karir akademik gue.


"Maaf pak. Bukan saya tidak memenuhi amanah bapak, tapi saya kemarin mengerjakan tugas laporan dari pak Tejo yang harus dikumpulkan hari ini. Amanah dari bapak juga udah saya kerjakan, bapak bisa lihat sendiri tumpukan kertas dan rekapan nilai yang ada didalam flashdisk itu." Ucap gue hati-hati. Pak Reon memandang gue sebentar dan mulai memeriksa tugas-tugas gue.


"Bagus" ucap pak Reon sambil manggut-manggut. Hufh... gue bernafas lega banget, akhirnya gue nggak kena mulut nyinyirnya itu.


"Kalau begitu saya pamit dulu pak, ada kelas." Ucapku meminta izin untuk meninggalkan ruangannya.


"Memangnya bapak butuh apa lagi?" Tanya gue. Hawa-hawa pemerintahan yang tak berperi kemahasiswaan mulai gue rasakan.


"Kamu belum jawab pertanyaan saya tadi" Aduh pertanyaan yang mana pula? Gue kan udah lupa dia bicara apa aja.


"Kamu kenapa tidak kerumah saya kemarin?"


Aduh, gue harus jawab apa? Masak iya gue harus jujur???


"Kan saya udah jawab pak, kalau saya ngerjain laporan dari pak Tejo" jawab gue mengulangi jawaban gue sebelumnya. Pak Reon melihat kearah gue dengan tatapan membunuhnya. Oh Gusti, salah gue apa???


"Saya tau. Tapi dimana?"


Dimana apanya sih maksud bapak? Emangnya pentingya gue mau ngerjain tugas dimana? Rasanya gue pengen tanya kayak gitu ke pak Reon. Huh... Sebel banget!!!


"Di cafe pak" Jawab gue akhirnya.


"Kenapa di cafe? Dirumah kan bisa?"


Aduduh... Ujian lisan macam apa ini? Kenapa merembet ke masalah pribadi gue.


"Cari WiFi gratis pak. Anak rantau, akhir bulan seperti ini tipis pak dompetnya. Bapak habis ini nggak tanya saya sama siapa kan ngerjainnya?" Tanya gue sebelum pak Reon bertanya lagi.


Pak Reon memandang gue dengan tatapan membunuhnya lagi. Dalam sekejap gue langsung menundukkan pandangan sekaligus kepala gue.


"Saya nggak tanya" jawabnya membuat gue malu tingkat dewa. Kenapa gue bisa kegeeran kayak gitu?


"Kalau begitu, saya pamit dulu pak." Ucap gue meminta izin.


Pak Reon hanya mengangguk tanpa melihat kearah gue, tatapannya masih terpaku pada lembar jawaban kuis yang sudah gue koreksi.


Gue pun beranjak keluar, baru saja tangan gue menarik gagang pintu, suara pak Reon menginterupsi gue untuk berhenti


"Nanti habis kuliah, ikut saya sebentar!"


Ya Allah, salahkah hamba bila mengeluh terus karena punya dosen seperti ini???


Tanpa bisa menolak, gue hanya bisa ngomong


"Baik, pak."


Bersambung...