
Gue duduk termenung dikantin fakultas dengan mata sedikit terpejam. Kepala gue pening dan otak gue butuh di restart ulang. Sumpah!!! Mata gue nggak bisa dibuat untuk melek barang secenti pun setelah kemarin gue ngintilin dosen gue kemana aja dia pergi, termasuk gue nggak boleh tidur saat acara seminar berlangsung. Dan kemarin malam jam 2 dini hari baru bisa terbang kembali ke Jogja setelah transit di Jakarta. Sayangnya hari ini gue harus kuliah dan beasiswa gue dipertaruhkan nantinya kalau gue nggak masuk. Oh my God, air ada air?
"Woy, napa Lo gitu banget?" Tanya sesosok makhluk kasat mata yang tiba-tiba nongol dan duduk didepan gue.
"Hmhmmm..." Jawab gue sekedar gumaman yang entah dia faham apa nggak, gue nggak ingin tau.
"Nestapa banget hidup Lo Ra" ucap satu lagi makhluk kasat mata disamping gue.
"Hallo... Tukang gali kubur? Ini pak, ada orang minta di kubur hidup-hidup. Bapak bisa kesini sekarang? Ok pak, saya tu-"
PLAK. Suara pletakan keras terdengar di telinga gue. Yaelah ni demit berdua rame banget sih.
"Lo kira Tia udah mati? Urus aja tuh pacar Lo yang merana!" Ucap Jeli tak kalah nyaring. Anjay lah mereka berdua bikin gue geregetan.
BRAK
"Kalian berdua bisa diem nggak sih? Pusing nih kepala gue" maki gue kepada mereka berdua, sambil mijat-mijat pelipis gue yang udah gue pakein koyok. Sedetik kemudian mereka diam tanpa ada suara satupun, kok gue malah ngerasa canggung gini yah kalau mereka diam. Serba salah dah gue.
Akhirnya untuk memecah keheningan diantara kita bertiga, gue pun memilih bertanya masalah Aga sama Monik.
"Ada masalah apa Lo sama Monik?" Tanya gue pada Aga yang duduk didepan gue.
"Nggak ada apa-apa" jawabnya nggantung, antara iya dan tidak.
"Bohong Lo. Sebenarnya hubungan si Aga sama Monik ada apa-apanya Ra" ucap Jeli nyolot ke gue. Bocah ni ngapa yak dari tadi. PMS kali ya?
"Santai Jel, Lo kayak orang PMS aja" ucap gue mewakili perasaan jengkel gue sekaligus Aga.
"Ok kalau Lo nggak mau ngomong, gue nggak akan maksa. Cuma, gue mau pesen sama Lo. Jangan fahami suatu masalah itu dari sudut pandang Lo aja, tapi fahami masalah dari sudut pandang berdua antara Lo sama Monik. Dengan begitu, kalian berdua akan menemukan penyelesaian yang pas dan terbaik untuk kalian berdua." Ucap gue akhirnya. Emang sedikit bijak menurut gue, tapi mau gimana lagi, nggak semua orang mau permasalahannya diketahui semua orang. Sebagian orang memilih bungkam dan menyelesaikannya sendiri, tapi sebungkam-bungkamnya orang, sebenarnya mereka perlu pencerahan untuk masalah mereka. Yah, karena gue nggak tau akar permasalahannya, jadinya gue kasih petuah itu aja. Setidaknya Aga tau apa yang harus ia lakukan kedepannya.
Aga diam sebentar memahami ucapan gue sebelum ngomong
"Sok bijak Lo" dan berjalan pergi ninggalin gue dan Jeli yang melongo karena perilakunya.
Sedetik kemudian, si Jeli mengeluarkan laptopnya dan memberikannya ke gue.
"Tugas Lo presentasi jam 10" ucapnya, lalu berjalan pergi ninggalin gue yang termenung melihat layar laptop yang menampilkan Microsoft power point. Oh tuhan, ujian apa lagi ini!!!
©©©
Pukul sepuluh kurang sepuluh menit, gue udah siap didalam kelas, memahami materi yang akan gue presentasikan nanti. Jangan berfikir kalau presentasi anak kuliahan tuh sama kayak presentasinya anak SMA, kalau SMA masih mending pertanyaannya masih sekitar materi yang senyata-nyatanya udah tertulis di kertas yang udah dibagikan. Tapi kalau presentasinya anak kuliahan itu lebih dari itu, mahasiswa-mahasiswanya akan memberikan pertanyaan yang lebih pada tujuan menjatuhkan orang yang presentasi, yah itu semua di lakukan demi nilai. Semakin aneh pertanyaan yang diajukan semakin tinggi pula nilai yang didapatkan.
"Kelompok selanjutnya, monggo dilanjutkan!" Ucap Bu Ningsih mempersilahkan kelompok gue untuk presentasi kedepan dengan logat Jawanya yang khas Surabaya.
Gue dan kelompok gue yang terdiri dari gue, Aga, dan Jeli pun maju kedepan. Wajah mereka sih santai aja, beda sama wajah gue yang kacau dan amburadul nggak karuan. Secara gue nanti yang akan presentasi, sedangkan gue aja masih dalam proses memahami materi yang akan gue sampaikan.
"Ayo nang di mulai! Ngenteni opo?" Ucap Bu Ningsih kepada gue yang berdiri dari tadi tanpa bicara sepatah kata pun. Akhirnya dengan keberanian yang gue paksa-paksain keluar, gue mulai presentasi gue dengan ucapan bismillah. Allah, lancarkan lah bicara hamba! Doa gue dalam hati.
Nggak perlu waktu lama buat gue untuk mempresentasikan materi ini dan menjawab pertanyaan teman-teman gue yang njelimet minta ampun. Bukan karena gue yang terlalu jenius, but karena materi ini yang dibahas kemarin saat seminar penilitian di Singapura. Rasanya gue ingin berterima kasih banget sama pak Reon yang udah ngajakin gue kesana. Apa mungkin, ini berkah gara-gara gue nggak tidur kali ya???
"Koe ndelek artikel nang ndi kok iso njawabi?" Tanya Bu Ningsih.
"Kulo maos bukunya pak Reon Bu" jawab gue bohong. Nggak mungkin kan gue jawab jujur kalau gue dapat dari seminar di Singapura, bisa-bisa habis ini gue dimakan sama anak-anak sekelas.
"Oh yo wes, pinter pan ngono. Balek!" Ucap Bu Ningsih memerintahkan gue, Jeli dan juga Aga untuk kembali duduk di bangku masing-masing.
Setelah ceramah sedikit untuk mahasiswanya, Bu Ningsih mengakhiri kelas gue dengan paribasan-nya yang langsung jleb di hati. Kayak gini paribasan-nya.
"Yitna yuwana mati lena. Sing ati-ati bakal slamet, sing sembrono bakal ciloko."
PERHATIAN. Bu Ningsih emang selalu pakek bahasa Jawa di kelas, mau mahasiswanya ngerti atau nggak, dia nggak mau tau. Pernah gue tanya kenapa Bu Ningsih selalu beri wejangan itu dan nggak pernah dijelasin maksudnya. Beliau jawab
"Wong sadar kui gak mergo diulangi kongkon manut lan nurut, nanging wong sadar kui mergo tertarik karo seng dikandani. Koe kudu ngerti boso daerah kui warisan leluhur, sakpinter-pintermu nggawe teknologi pan gak ono njamane leluhur ora ngarah ono njaman sakiki." Itu jawaban Bu Ningsih yang nggak pernah bisa gue bantah.
"Tia Lo kenapa? Kok ngelamun aja dari tadi?" Ucap Jeli, menyadarkan gue dari lamunan gue. Gue tersenyum, masih sambil melihat papan tulis yang penuh dengan tulisan paribasan-nya Bu Ningsih yang ditulis super besar.
"Gue heran aja sama Bu Ningsih, kenapa dia selalu nulis paribasan itu segede gaban?" Ucap gue ngeless. Masak iya gue ngomong kalau gue terharu sama paribasan-nya Bu Ningsih.
"Allay Lo, kayak nggak tau aja kalau tingkah laku seseorang itu mencerminkan dirinya yang sebenarnya." Jawab Aga, yang membuat gue bingung setengah mati. Dari kata-katanya sih baik, tapi kok ngerasa kalau nadanya nyindir gitu ya?
"Maksud Lo apa?" Tanya gue dengan nada bingung.
"Ya kan Lo tau sendiri kalau tulisan dipapan itu super gede, berarti itu mencerminkan Bu Ningsih sendiri yang badannya super gede." Jawabnya yang di ikuti dengan tawa membahana. Gila ternyata ni anak.
"Jawaban Lo halu" ucap gue sarkatis, sambil berdiri dan berlalu meninggalkan dua orang makhluk tak astral itu.
"Mau kemana Ra?" Tanya Jeli.
"BISNIS SAMA OM-OM GUE"
Bersambung...