SHE

SHE
15| Nikah



Setelah mendengar penjelasan Lastri yang membuat gue syok, gue langsung pamit pulang kepada Lastri. Meninggalkannya sendirian mengurusi santriwati. Karena jarak rumah gue dengan kantin dekat, gue memutuskan untuk lewat pintu dapur saja.


Di dapur, gue menemukan sosok mbak Anjani dengan Mimi serta beberapa mbak-mbak santriwati yang mengabdi di ndalemnya Mimi.


"Assalamu'alaikum Mi" salam gue yang langsung dijawab oleh semua orang dengan serempak.


Gue mendekati Mimi dan berbisik di telinganya.


"Mi, Ara mau dinikahin ya?" Tanya gue, membuat Mimi terkejut.


"Tau darimana?" ucap Mimi balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan gue.


"Mi... Ara nggak mau nikah muda!!" ucap gue memelas sambil memegang tangan Mimi yang sibuk menggoreng tempe mendoan.


"Wes sana! Kecripatan minyak goreng nanti kamu!!" ucap Mimi. Tapi gue masih bertahan dengan bergelantungan dipundak Mimi.


No wonder kalau cuma kecripatan minyak goreng, yang penting gue nggak menikah muda!!!


"Mi???" rengek gue lagi sambil menampilkan wajah ingin menangis.


"Sana, temui Abimu! Bicara baik-baik!!"


Mendengar ucapan Mimi membuat kepala gue berdiri dengan tegak, bicara sama Abi??? Bisa mati muda sebelum nikah gue!!!


"Mi???" rengek gue lagi tanpa menghiraukan usiran Mimi, juga tatapan aneh dari mbak-mbak khodam yang lainnya.


"Wes sana!! Mimi sibuk mau masak!!!"


Akhirnya dengan langkah lesu, gue berjalan menuju ruang baca untuk menemui Abi. Abi duduk sambil membaca sebuah kitab yang gue nggak tau sambil ditemani Fajar, adik paling bontot gue. Gue duduk disamping Fajar yang juga fokus pada kitab Abi.


"Jar, nggak pergi sekolah kamu?" Tanya gue basa-basi.


"Nggak. Aku-nya ngelibur" jawabnya membuat gue kaget.


Kok dibolehin sih sama Abi???


"Sana main! Mbak mau ngomong sama Abi." Ucap gue akhirnya, setelah rencana mengusir yang tadi batal.


"Males. Hujan. Mau nemenin Abi aja dirumah." Tolaknya membuat gue geram.


Ih, bocil satu ini nggak bisa diajak kompromi!!!


"Dipanggil Umi itu loh. Sana!" Ucap gue lagi, mencoba merayunya. Tapi hanya di jawab dengan gelengan kepala.


Ya Allah bocah satu ini!!!


Akhirnya setelah mendengar perdebatan gue dengan Fajar, Abi yang merasakannya pun menyuruh Fajar ke pondok Putra untuk menemui kang Kafi. Menyuruhnya untuk mengambil pesanan Mimi di Bu Kasiyem.


Setelah kepergian Fajar, gue pun akhirnya mendekati Abi dengan wajah tertunduk. Yah,,, gue sama Abi emang nggak terlalu dekat, dan juga karena jarak yang gue ciptain terlalu lebar untuk gue dan Abi bisa saling mendekat. Gue nggak tau apakah Abi masih marah dengan pilihan gue 3 tahun lalu, saat gue memilih untuk menghentikan hafalan al-Quran gue dan memilih fokus untuk menekuni bidang sains dengan kuliah di Jogja. Tapi yang pasti, hari ini gue akan mengulangi kisah 3 tahun lalu itu.


"Bi, Ara mau dinikahin ya?" Tanya gue hati-hati. Abi mengangguk tanpa menoleh kearah gue.


Ya Allah, kembalikan hamba ke alam kandungan aja, please!!!


"Kok nggak bilang Ara dulu?" Tanya gue lagi.


Abi menutup kitabnya lalu menghadap kearah gue. Tatapan Abi menghunus langsung ke jantung gue. Rasanya, kayak dingin banget.


"Kalau Abi bilang, emang kamu mau?" tanya Abi yang langsung gue sambut dengan gelengan.


"Tapi setidaknya Abi kan bilang dulu ke Ara, biar Ara nyiapin hati." Ucap gue masih berusaha mengelak.


"Abi nggak mau di tolak kamu lagi. Cukup 3 tahun lalu, kamu menolak pilihan Abi. Sekarang kamu harus mengikuti keinginan Abi!!" Titah Abi membuat gue syok tingkat dewa sekaligus takut.


"Bi, masak nggak bisa di undur sih? Ara baru semester 6 loh? Masak mau LDR-an sama suami?" gue mencoba merayu Abi lagi untuk mengundur pernikahin ini sampai gue lulus kuliah.


"Nanti suamimu ikut tinggal di Jogja."


Jawaban Abi membuat gue frustasi. Ya Allah, gue punya calon suami kok legowo banget gini sih???


"Abi, Ara belum siap membina bahtera rumah tangga dengan seorang laki-laki. Ara masih pengen hidup bebas, menikmati masa remaja menginjak dewasa bersama temen-temen Ara. Ara belum siap kalau harus diam di rumah untuk melayani suami, mengabdikan diri untuk menggapai Jannah dengan cara seperti ini Abi. Please, Ara mohon jangan nikahin Ara sekarang!! Nikahin Ja'far aja dulu bi, dia udah siap!!"


Ucap gue panjang dan lebar, sambil bersujud di kaki Abi. Abi masih bergeming tanpa berniat membangunkan gue atau berbicara sepatah katapun ke gue, sampai kembaran gue masuk kedalam ruang baca beserta kang Kafi, selaku khadam setianya Abi.


"Assalamu'alaikum bi" ucap Ja'far lalu menyalimi tangan Abi. Gue melihat sekilas lalu kembali bersujud di kaki Abi.


"Wa'alaikummussalam, ono opo?" tanya Abi setelah menjawab salam Ja'far. Ja'far melirik kearah gue, lalu tersenyum miring sebelum mengatakan tujuannya datang bersama kang Kafi.


Setelah mendengar ucapan Ja'far Abi langsung berdiri tanpa memperdulikan gue yang masih bersujud di kakinya.


Ya Allah, teganya njenengan sama anak sendiri bi???


Sekarang gantian Ja'far yang duduk didepan gue. Gue mencebik pelan, lalu duduk disampingnya.


"Wes gede kok kelakuane koyok arek cilik." Kata-kata Ja'far membuat darah gue naik pitam.


"Kembaran laknat ya Lo!! Nggak malah ngebelain, malah ngeledekin!!!" ucap gue bersungut-sungut.


"Astaghfirullah. Istighfar neng, gini-gini ane anak manusia. Insan paling mulia yang diciptakan oleh Allah. Seharusnya ente bersyukur punya wajah mirip kayak ane!!"


Huft,,, mulai deh ceramahnya ustadz Ja'far Qomaruddin.


"Iya, tau situ lulusan luar negri. Apalah arti gue yang nggak lulus-lulus ini!!" Ucap gue sambil berlalu masuk kedapur untuk menemui Mimi. Meninggalkan Ja'far yang tertawa cekikikan di belakang gue.


Masuk kedapur, gue melihat suasana sudah mulai sepi. Mbak Anjani masih menyiapkan makanan di atas meja, sedangkan mbak-mbak khodam lainnya mencuci peralatan masak di belakang dekat kamar mandi. Gue menghampiri mbak Anjani dan membantu menata makanan diatas meja makan.


"Mimi dimana mbak?" Tanya gue setelah berada dekat dengan mbak Anjani.


"Ke pasar bentar sama Laila, mau beli suguhan untuk nanti malam." jawab mbak Anjani.


Gue menghela nafas pelan.


"Emang nanti malam acaranya jadi?" tanya gue, memastikan kalau ini semua bukanlah mimpi. Mbak Anjani mengangguk, mengiyakan.


Yah, nanti malam adalah acara perkenalan antar dua keluarga. Lebih mudahnya sih disebut lamaran resmi. Tapi pernikahan gue udah dipastikan akan dilaksanakan satu Minggu kemudian. Ya Allah cepet banget???


Abi sama Mimi memutuskan untuk tidak mengundang temen-temen kuliah gue, karena mereka juga pasti terlalu jauh untuk datang ke Malang. Mereka hanya mengundang keluarga besar dan warga sekitar pondok, selebihnya adalah tamu undangan dari mempelai pria.


Ngomong-ngomong tentang mempelai pria. Gue belum pernah ketemu sama dia, namanya aja gue nggak tau. Yang pasti dari cerita Lastri tadi, gue bisa tau kalau calon gue seorang Gus alias anak guru dari Abah gue, yang otomatis pastinya seorang Kyai. Oleh karena itu, saat lamaran datang, Abi segan sekali untuk menolaknya dan lebih memilih untuk menerimanya, meskipun Abi tau kalau gue yang akan menjadi korbannya.


Huh,,, kenapa cerita hidup gue kayak novel-novel remaja yang terpaksa menikah???


"Mbak, boleh tanya nggak?" ucap gue berbisik disamping mbak Anjani yang sedang membuat teh susu.


"Tanya apa?"


"Eee... calonku namanya siapa?"


Mbak Anjani terlihat mengingat-ngingat salah satu nama yang pastinya baru-baru ini ia dengar. Masih sambil mengaduk teh susu, mbak Anjani mengucapkan sebuah nama yang membuat gue syok.


"Kalau mbak nggak salah, panggilannya Gus Reon"


Bersambung...