
TIARA💃
Cerita ini bermula ketika gue bermasalah dengan dosen ababil zaman ini, yaitu pak Reon. arus kehidupan gue semakin tak terkendali ketika disuatu pagi tiba-tiba gue dipaksa menikah dengan seorang laki-laki yang udah punya bayi tapi nggak punya istri. Dan gue... Harus menjadi istri sekaligus ibu pengganti bagi bayi itu??? It's BIG NO.
OREON🕺
Gue dosen muda yang dituntut untuk profesional di kampus. Mau mahasiswanya sedekat apapun dengan gue, gue tetep dosen yang harus dihormatinya. Gue nggak suka wanita, bukan berarti gue gay. Tapi lebih karena hati gue udah ada yang punya, meskipun gue nggak bisa menyentuhnya. Tapi, gue laki-laki bebas yang nggak suka terkekang sama aturan. Satu-satunya orang yang bisa ngerubah gue hanya dia, asdos gue.
©©©®®®©©©
Embun pagi menetes dari dedaunan, suara cuitan burung-burung gereja yang nongkrong didahan pohon mangga meramaikan pagi yang indah ini, sinar mentari bersinar terang tanpa tertutup awan, menyerobot masuk melalui kisi-kisi jendela yang terbuka.
Hari ini gue bangun terlalu pagi, habis sholat shubuh tadi gue paksain mata ini melek untuk mengerjakan tugas kuliah yang udah harus dikumpulkan jam 8 nanti. Mau gimana lagi, kemarin gue ketiduran gara-gara cuacanya gerimis-gerimis dingin gitu, jadinya sekali kepala gue nempel bantal langsung ilang deh nyawanya.
"TIA, MAU MAKAN DISINI APA DI KAMPUS?" Teriak Jeli, salah satu temen ngekos gue yang udah kalet banget sama gue, di lem kali ya.
"DI KAMPUS AJA, GUE SIBUK NGERJAIN TUGAS" Jawab gue nggak kalah nyaring sama teriakan dia. Yah bagi gue dan temen-temen gue, teriak-teriak gini di kos-kosan udah jadi pendengaran sehari-hari, nggak ada yang sungkan tuh. Pernah sih sekali diomelin sama yang punya kos, tapi itupun hanya bertahan sehari, hari selanjutnya rutinitas teriak-teriak masih berlanjut.
"Lo nggak ngampus pagi hari ini?" Tanya Veve yang juga salah satu penghuni kos ini.
"Ngampus, nanti jam 8" Jawab gue tanpa melihat wajah dia yang duduk di sofa samping meja gue.
"Titip salam dong sama temen Lo yang pernah kesini" Ucapnya sok manis sambil megang-megang tangan gue.
"***** lebay Lo, nggak usah pegang-pegang gue. Emangnya siapa sih yang Lo maksud?" Tanya gue ke dia, setelah menyingkirkan tangannya dari tangan suci gue.
"Aga. Sekelas sama Lo kan dia?" Tanyanya masih dalam mode merayu.
Gue kaget, secara si Aga kan udah milik Monik selama setahun ini.
"Yakin Lo?" Tanya gue memastikan pendengaran gue nggak terganggu.
"Yakin lah, gue tau kok Aga udah milik si Monik. But, selama janur kuning belum melengkung gue masih punya kesempatan untuk miliki dia" Jawab Veve sambil tersenyum sinis, ngeri gue lihatnya. Tapi apa mau dikata, gue iyain aja kemauannya.
Satu jam berkutat sama huruf-huruf alphabet dan juga nama-nama zat kimia ~yang gue aja nggak tau bentuknya~ akhirnya tugas gue selesai. Tepat waktu sama perkiraan gue, pukul 6.30 masih ada waktu buat gue mandi, dandan, dan sarapan dikantin kampus.
"Loh Lo kok belum siap-siap sih Ra?" Tanya Jeli dengan muka kagetnya.
Gue mengangkat bahu gue pura-pura bodoh dan berlalu menuju kamar mandi yang terletak di pinggir dapur. Didapur, bau semerbak nasi kuning mewarnai indra penciuman gue.
"Mau nyobain nggak Ra? Gue lagi masak nasi kuning buat Aga" Tawaran Monik tentu saja nggak bisa gue tolak. Secara masakan Monik tuh nggak ada yang namanya nggak enak, semuanya enak. Gue langsung ngambil piring dan nasi yang udah dia siapkan.
"Enak nggak Ra?" Tanya Monik. Gue mengangguk menyetujui ucapannya.
"JELI GUE NGGAK JADI MAKAN DI KAMPUS, MAKAN DIRUMAH AJA" Ucap gue disela-sela kunyahan gue.
"Ditelan dulu, jangan ngomong sambil makan!" Ucap mbak Eri, salah satu tetua di kos-kosan gue. Gue mengangguk lagi, tersenyum malu.
"Mbak mau?" Tawar Monik pada mbak Eri.
"Nggak usah Nik, nanti mbak makan di kantor aja sama Erik" Jawab mbak Eri membuat mata gue melotot.
"Mbak mau ketemuan sama mas Erik? Titip salam dong mbak?" Pinta ku pada mbak Eri yang dibalas senyum miring sama mbak Eri.
"Kamu segitu ngefansnya sama Erik, dia udah ada yang punya loh." Ucapnya membuat aku kecewa.
"Kok cepet mbak, katanya kemarin baru putus dari pacarnya?" Tanya Monik. Wait, gue kok nggak pernah denger kalau mas Erik putus dari pacarnya yang model itu.
"Nggak tau juga Nik, biasa kan Erik pesonanya gede." Jawab mbak Eri acuh. Gue masih menatap kedua orang yang ada dihadapan gue bergantian, kok mereka kompak banget tau rahasianya mas Erik. Nah gue yang ngefans aja nggak tau apa-apa.
"YA ALLAH TIA, LO MAU NGAMPUS JAM BERAPA? JAM SEGINI BELOM MANDI?" Teriak Jeli didekat telinga gue. Gue yang nggak punya persiapan akan menerima teriakan dari dia akhirnya kaget dan terjatuh dari kursi. 'Bullshit nih orang!!!' umpatku dalam hati. Tanpa menunggu amukan dari Jeli lagi gue lari masuk kedalam kamar mandi.
©©©
Pukul 8 kurang 10 menit, gue dan Jeli udah standby didalam kelas menunggu bapak dosen yang terhormat datang. Suasana kelas udah mulai ramai, tawa-tawa ceriwis dari biang gosip kampus udah mulai pembukaan acara. Gue sama Jeli menjadi pendengar setia mereka, meskipun nanti hanya masuk telinga kanan dan keluar di telinga kiri. Yah prinsip gue sama Jeli tuh sama, nggak mau ngegosip juga nggak mau jadi bahan gosip. BIG NO kata Jeli.
"Ra, Lo nggak mau nyobain isi tapperware ini?" Tanyanya dengan nada sombong.
"Gue udah makan isi tapperware itu tadi pagi" Ucap gue tak kalah sombong. Wajah Aga pias, 'syukurin' siapa suruh sombong sama gue.
"Eh Ra, nanti main kerumah Aga yok?" Ajak Jeli tanpa melihat si empunya rumah yang pengen banget nolak.
"Sorry gue sibuk kalau Lo berdua punya tujuan laen kerumah gue" Sungut si empu rumah.
"Yaelah Ga, rumah Lo kan gede, adem, banyak makanannya, masak Lo nggak mau baik-baik sama anak rantau kayak kita sih?" Rayu Jeli dengan kedipan mautnya.
"Sorry rumah gue nggak menampung sampah kos-kosan kayak Lo" Ucap Aga sarkatis, gue yang ngerasa tersinggung dengan ucapannya langsung deh nimpuk dia pakek tas.
"***** nggak usah lebay ya Lo" Maki gue pada Aga.
Peperangan gue terhenti ketika gue merasakan suasana menjadi hening dan mencekam.
"EHM..." Deheman keras itu membuat jantung gue yang terpompa habis-habisan langsung berhenti berdetak. Secara ternyata dari tadi pak dosen gue yang paling terhormat berdiri disana dan merhatiin gue dan Aga perang. Sontak gue dan Aga duduk rapi dan menunduk dalam.
"Udah pacarannya?" Tanya pak dosen sarkatis.
"Maaf pak" Ucap gue sama Aga barengan. Yaelah masak gue mau bilang udah, kan nanti dikiranya gue sama Aga pacaran beneran.
Setelah jantung dan otak gue di pompa habis-habisan ketika pelajarannya pak Rion, akhirnya gue sekarang bisa bernafas lega setelah pak Rion membubarkan kelas gue.
"Gila kalian, baru masuk pertama udah buat masalah sama pak Rion." Ucap ketua kelas gue, Farel.
"Emangnya kenapa Rel?" Tanya gue penasaran
"Lo pura-pura nggak tau atau bener-bener nggak tau nih?" Jawab Farel balik bertanya ke gue. Gue yang merasa nggak tau apa-apa tentang gosip yang menyebar pun hanya bisa menggeleng pelan.
"Tanya aja yang lebih berpengalaman, noh disamping Lo" Tunjuknya pada Aga.
Gue melihat ekspresi Aga yang cenderung santai.
"Kenapa Ga?" Tanya gue.
"Habis ini juga Lo ngerti, hitung mundur aja mulai dari 5" Ucapnya santai sambil bersiap-siap memasukkan alat tulisnya kedalam tas.
Meskipun gue masih bingung dengan sikap kedua temen gue ini, tapi gue masih tetep ngitung mundur seperti yang Aga perintahkan.
LIMA
EMPAT
TIGA
DUA
SATU
"Aga sama Tiara dipanggil pak Rion disuruh ke ruangannya!" Ucap salah satu temen gue.
Gue kaget, jantung yang awalnya normal mulai berdetak tak karuan lagi. Sorry dah gue nggak mau punya masalah sama dosen manapun.
"Ayo, pak Reon nggak menerima penolakan" Ucap Aga sambil menarik tangan gue untuk berdiri.
Disisi lain, Jeli yang dari tadi nge-game bingung dengan perilaku gue sama Aga.
"Mau kemana?" Tanyanya sebelum gue pergi.
"Bisnis" Jawab Aga simple.
Bersambung...