SHE

SHE
14| Pulang #2



Awan hitam menggantung dilangit-langit kota Malang, menutupi keindahan mentari pagi. Suaran cuitan burung-burung emprit tergantikan dengan suara rintikan hujan.


Hari ini, hari pertama gue berada di kampung halaman. Setelah kemarin berusaha menaklukkan gunung Arjuna dan menantang nyali di alas Lali Jiwo sampai ke puncak Ogal Agil. Huft, sekarang akhirnya gue bisa bernafas lega banget.


"Ra, bangun ndok! Shubuh!!"


Kali ini bukan suara mbak Eri ataupun alarm HP yang membangunkan gue, tapi suara Mimi. Gue lekas mandi pagi dan berwudlu untuk menunaikan sholat shubuh.


"Tiara?"


Suara seseorang membuat gue kaget ketika gue baru aja akan takbir untuk sholat shubuh. Dengan malas, gue akhirnya membuka pintu kamar dan melihat mbak Anjani selaku kakak ipar gue berdiri didepan pintu sambil menenteng sajadah.


"Kenapa mbak?" tanya gue.


"Ayo sholat di masjid!" Ajak mbak Anjani yang gue sambut dengan gelengan kepala.


"Nggak mau ah mbak. Sholat dikamar aja." Pinta gue. Gue terlalu males jika harus wiridan lama dimasjid, belum lagi dicampur dengan para jamaah yang masih bau-bau iler.


"Umi yang minta, sekalian nanti kamu gantiin umi nyemak arek-arek."


Kata-kata yang terucap dari mbak Anjani refleks membuat mulut gue menganga lebar.


Apa yang dikatakan barusan? Gue nyemak arek-arek?


"Nggak ah mbak. Emang Mimi mau kemana? kok nggak nyemak?" tanya gue. Berusaha mencari alasan agar tidak dilimpahi wewenang itu.


"Ada pokoknya." Jawab mbak Anjani membuat gue manyun. Harus cari alesan lagi nih buat nolak.


"Nggak mau mbak. Aku lagi haidl." Alasan selanjutnya.


Raut wajah mbak Anjani berubah seiring waktu berlalu. Raut wajahnya menunjukkan tanda tanya besar. Tanpa aba-aba mbak Anjani menarik sesuatu yang gue pakai dan menunjukkannya didepan mukaku.


"Alesan. Ini apa yang kamu pakai? Mukena kan???" ujarnya.


Gue menepuk jidat gue dengan keras.


Ya Allah, kenapa gue bisa lupa kalau gue tadi udah pakai mukena??? Ketahuan donk!!


Akhirnya gue hanya bisa menampilkan senyum Pepsodent kayak iklan-iklan di televisi. Mbak Anjani pun menarik tangan gue untuk dibawanya ke masjid tanpa menunggu persetujuan dari gue. Yah gini, kehidupan gue sama kakak ipar satu-satunya, seperti saudara sendiri. Tanpa ada rasa jaim atau apapun itu.


Tepat kaki gue menginjakkan lantai masjid, Iqamah terdengar. Gue dan mbak Anjani segera naik kelantai dua, dan berbaris dishof nomer dua dari belakang. Berjejeran dengan para ukhti-ukhti yang umurnya sekitaran sama gue atau lebih tua dari gue.


Sholat jamaah Shubuh yang diimami langsung oleh Abi akhirnya berakhir dengan khidmat, dilanjutkan dengan wirid dan rotibul Haddad, meminta kepada Allah semoga dilindungi dan diberi keselamatan dari segala macam fitnah dunia dan akhirat. Terakhir ditutup dengan bacaan surat al-muthoffifin yang dilantunkan oleh salah satu santri Abi.


Oke, pasti sekarang kalian bertanya-tanya, apakah gue seorang neng???


Jawabannya yes, gue seorang neng tapi kelakuannya masih jauh dari neng-neng yang kalian imajinasi kan. So, nggak usah mirip-miripin gue sama neng-neng yang kalian kenal, because I'm different.


"Mbak, ganti murid ya?" pintaku dengan melas kepada mbak Anjani. Gue nggak mau aja harus nyemak santri-santri Tahfidzul Qur'an yang notabenenya teman gue sendiri. Malu aja, secara gue aja belum Khatam 30 juz.


"Mbak juga santrinya tahfidz Ra!!" Ucap mbak Anjani.


"Kan nggak pasca juga mbak. Mbak kan pegang yang MA." Ucap gue, yang dibalas helaan nafas oleh mbak Anjani.


Tapi tak selang lama kemudian, mbak Anjani mengabulkan keluhan gue. Gue nggak jadi menggantikan Mimi tapi gue dapet santrinya mbak Anjani. Horeee...


Dan berakhirlah gue duduk disini dihadapan beberapa santriwati yang nggak kalah cantik dari gue. Bau mereka udah harum kayak mandi kembang tujuh rupa, beda sama zaman gue dulu pas mondok, bau-baunya kayak habis makan gulai kambing. Ampek,,,


"Metodenya masih sama neng?" tanya santri didepan gue.


Yaelah, metode apaan juga gue nggak ngerti!! Apa maksudnya cara ngajarnya ya???


"Emang, neng Anjani ngajarnya gimana?" tanya gue akhirnya, daripada gue sok tau.


"Ustadzah Anjani nyuruh baca dulu ayatnya baru nanti setoran." Ucap gadis itu takut-takut.


"Yaudah, kayak gitu aja." Ucapku akhirnya.


Setelah santri tadi setoran dan dilanjut santri-santri lainnya, tugas menggantikan mbak Anjani akhirnya selesai. Gue langsung meninggalkan tempat dan melipir keasrama putri lewat gerbang belakang masjid, jalan pintas menuju wilayah santri putri. Masih dengan menggunakan mukena, gue menuju kesalah satu kamar santri putri.


"Assalamu'alaikum??"


Ucapan salam gue yang lebih pada pertanyaan itu dijawab serempak oleh penghuni kamar A5 ini.


"Mau cari Lastri mbak, ada nggak?" Tanya gue yang dijawab gelengan oleh si mbak.


"Kayaknya tadi bantu-bantu dikantin neng" jawab mbak-mbak tersebut.


Gue manggut-manggut mendengar jawaban dari mbak-mbak tadi. Setelah mengucapkan terima kasih dan salam, gue langsung melipir lagi ke kantin. Tepat diantara santriwati yang berjejer mengantri sarapan seperti kereta api, ada sahabat lama gue, Lastri.


"LASTRI!!!" Teriak gue, tanpa menghiraukan tatapan kaget dari santri-santri lainnya.


Lastri yang mendengar teriakan gue, terlihat celingak-celinguk mencari keberadaan gue. Setelah menemukan gue, dia tersenyum simpul, lalu kembali melayani santriwati yang akan mengambil sarapan.


"Las!!" Sapa gue setelah berada dekat dengan dia.


Lastri melirik kearah gue dengan tatapan parnonya.


"Woh neng kok kelakuane bar-bar!!" Ucap Lastri.


Langsung deh tanpa aba-aba gue tabok tangannya pakai entong nasi yang belum kepakai.


"Santri kok nggak punya sopan santun sama neng!!" ucap gue nggak kalah sengit.


Tanpa mau mengalah, Lastri membalas tabokan gue dengan entong yang dipegangnya.


"Emang kamu ngerasa jadi neng?" tanyanya, yang langsung ku jawab dengan gelengan kepala dan kita tertawa bersama.


Yah, beginilah kehidupan gue dirumah. Masih sama aja kayak di Jogja, masih bar-bar. Kalau di Jogja gue punya Jeli yang bawaannya kalem, tapi kalau disini gue punya Lastri yang bawaannya konyol abisss.


"Kapan pulang?" Tanyanya.


"Udah lama, tapi mampir dulu." Ucap gue sambil membantu Lastri melayani para santri yang mengambil jatah sarapan mereka.


"Pasti naik gunung kan?" tebaknya tepat sasaran. Gue hanya menjawab dengan senyuman Pepsodent seperti yang gue tunjukkan tadi pagi ke mbak Anjani.


"Gimana kisah CDD kamu Las?" tanya gue yang di jawab sendu sama Lastri.


"Udah nikah orangnya" jawabnya membuat gue kaget seribu kali lipat.


Demi apa si doi udah nikah? Dia kan senior satu tingkat diatas gue?


"Nikah muda orangnya" jawabnya lagi, masih dengan tatapan sendu.


"Kok bisa?" tanya gue, masih dengan raut penasaran.


"Dijodohin sama Abah." jawabnya lagi.


Gue kaget seratus persen. Ternyata Abi ikut berkontribusi dalam kepatah hatian Lastri. Gue jadi ikut mewek lihat wajah sendu Lastri.


"Yang sabar ya Las!" Ucap gue, tanpa bisa berkata-kata lagi.


Lastri menganggukkan kepalanya. Bincang-bincang gue terjeda setelah kedatangan seorang kang-kang yang mengantarkan nasi kekantin putri lewat pintu belakang.


"Las, lawoh e kantin putra kurang!" ucap salah seorang kang-kang yang berperawakan tinggi.


"Njikik ae kang! Ojo akeh-akeh, seng wedok gak kedoman!!" Ucap Lastri dengan nada tinggi, tanpa melihat kang-kang tersebut. Mungkin Lastri terlalu hafal dengan kang-kang yang mengantarkan nasi ini.


"Sewot banget Las?" tanya gue setelah kang-kang tersebut mengambil lauk untuk santri putra.


"Ngeselin kang Kafi itu Ra. Pengennya tak ulek campur tomat, biar jadi sambel tomat!!" Ucapnya lagi.


Gue tertawa ngakak mendengar ucapannya tadi, segitu keselnya anak ini sama itu kang-kang.


"Hati-hati kesemsem loh!!" Ejek gue setelah melihat wajah cemberutnya.


"Wes tho, nggak akan aku kesemsem sama kang-kang yang sukanya nggodain santri putri, senyam-senyum sambil tebar pesona." Ucapnya tak kalah garang dengan tadi.


"Sopo seng ngerti???" ucapku acuh tak acuh.


"Yo wes lah, terserah yang mau nikah!!"


"NIKAH???"


Bersambung...