SHE

SHE
10| Kunjungan Pertama



Habis dari mall, pak Reon benar-benar membawa gue kerumahnya. Rumah pak Reon biasa aja, tidak termasuk istana mewah khas kerajaan kayak rumahnya Aga. Rumah pak Reon lebih terkesan minimalis, namun elegan. Pak Reon mempersilahkan gue masuk dan duduk diruang tamunya yang cukup nyaman. Tidak ada foto atau hiasan apapun disana, hanya ada satu lukisan kaligrafi Arab yang menempel di dindingnya.


"Udah lama ya?" Tanya seorang wanita hamil yang tiba-tiba keluar dari dalam rumah sambil membawa segelas jus jambu. Gue terpana melihat sosok wanita ini, ingatan gue melayang pada foto wanita yang ada dimeja kerjanya pak Reon.


"Gak usah ngelihatin saya sampek begitu!! Ayo diminum dulu!" Ucap wanita itu mempersilahkan gue. Gue pun mengangguk dan minum jus jambu itu.


"Kamu mahasiswanya Reon ya?"


Gue mengangguk lagi, mengiyakan ucapan wanita ini.


"Kenalin, aku Eva." Ucapnya sambil mengangsurkan tangannya ke gue.


"Tiara mbak." Jawab gue sambil menjabat tangannya mbak Eva.


"Mbak, istrinya pak Reon?" Tanya gue lagi, mencoba menghilangkan hawa absurd yang mengelilingi gue.


"Nggak, belum kesampek-an." Jawab mbak Eva yang membuat otak gue memunculkan seribu pertanyaan untuk dia, muncul deh jiwa reporter gue.


"Ke dapur yuk! Temani saya makan!!" Ajak mbak Eva sambil menarik tangan gue agar mengikutinya ke dapur. Dapur pak Reon terletak dibelakang setelah ruang keluarga, dari kaca dapur gue bisa melihat pemandangan kolam dan taman belakang juga gazebo kecil.


"Sejak saya hamil, saya doyan banget makan, kata Reon ini memang bawaan ibu hamil. Tapi saya nggak percaya tuh, ada temen saya yang juga hamil, dia malah males makan dan bawaannya pengen muntah terus." Cerita mbak Eva ke gue.


Gue bingung harus nanggepin kayak gimana, secara gue kan nggak ngerti bahasan ibu hamil dan lain sebagainya. Gue aja nggak pernah tau cara buatnya. Ups... Otak gue mulai porno!!


"Kamu tenang aja, aku bukan istrinya Reon kok dan ini juga bukan anaknya Reon. Reon masih single dan perjaka kok." Terang mbak Eva sambil mengelus perutnya yang buncit. Yaelah mbak, apa hubungannya sama gue??? Mau pak Reon masih single atau udah nikah pun gue masa bodo.


"Udah berapa bulan mbak?" Tanya gue berusaha menghilangkan rasa canggung setelah ucapan mbak Eva tadi.


"Oh... Udah tujuh bulan. Dia sering gerak-gerak gitu, dan itu jadi hiburan sendiri bagi aku. Apalagi kalau Reon udah terlibat tiba-tiba godain, pasti perut aku langsung gerak-gerak." Ucap mbak Eva lagi. Kayaknya mbak Eva ini tipe-tipe orang yang friendly abis.


"Emangnya pak Reon bisa gitu mbak?" Tanya gue heran.


"Maksud kamu, dia sering godain gitu?" Tanyanya, yang langsung gue jawab dengan anggukan.


"Reon itu orangnya humoris, nggak suka marah, dan baik hati banget. Emang dia nggak bisa romantis sih menurut aku, tapi dia punya kharisma tersendiri untuk menarik wanita." Wuihhh... Mbak Eva kayaknya kenal banget sama pak Reon, dan apa yang dia katakan berbanding terbalik dengan sifat pak Reon dikampus dan didepan mahasiswanya.


"Kenapa?? Kok kayaknya kamu punya persepsi beda gitu sama Reon?" Tanya mbak Eva.


"Nggak papa sih mbak. Saya cuma kaget aja denger cerita dari mbak Eva" jawab gue berusaha terlihat normal didepan mbak Eva.


"Biasa aja, emang Reon kalau didepan mahasiswanya sering jaim, biar terkesan dingin. Dia merinding katanya kalau terlalu dideketin sama mahasiswanya" gue manggut-manggut ketika mbak Eva selesai berbicara. Ternyata itu asal muasal pak Reon bersikap dingin sama mahasiswanya.


"Kamu mahasiswa pertama yang diajak Reon ke rumah!!"


Hah... Pujian seperti apa itu. Gue kaget ****!!! Sampek refleks kaki gue nendang meja dan badan gue kedorong kebelakang hingga gue terjatuh dari kursi.


'Aduh.... Sakit banget pinggang gue!!'


"Kamu nggak papa?"


"Kamu ngapain disana?"


Dua kalimat beda tujuan itu serempak mendarat ke gue yang bersimpuh di lantai, tanpa ada yang berniat mau membantu gue untuk berdiri.


"Reon!!! Kamu gimana sih? Bantuin Tiara berdiri!! Kasihan dia kesakitan itu!!" Ucap mbak Eva memberi perintah pada pak Reon yang tanpa berdosa malah senyum-senyum nggak jelas, seperti mengejek gue.


"Dia masih bisa berdiri sendiri kok Ev" ucapnya.


Akhirnya mbak Eva lah yang membantu gue berdiri, dan menanyakan bagian mana yang sakit. Gue geleng-geleng kepala aja, menandakan kalau nggak ada bagian tubuh gue yang terluka parah.


"Sorry ya... Tadi nggak bisa bantuin kamu berdiri. Perut aku susah kalau dibuat jongkok" ucapnya. Aduh kasihan banget bumil satu ini. Pengen gue peluk dan elus-elus perutnya.


"Nggak papa kok mbak" ucap gue akhirnya.


Pak Reon masih ngelihatin gue dan mbak Eva bicara sambil menyesap kopinya diujung dapur. Dari matanya, dia mengisyaratkan kalau gue harus mengikutinya setelah ini.


Oke deh, basa-basi gue sebagai tamu dirumah ini selesai. Saatnya gue menjadi poinnya kali ini!!!


©©©


Dan akhirnya gue berakhir di tempat yang penuh dengan tumpukan buku ini. Diruangan ini, nggak ada yang namanya tembok dibiarkan kosong tanpa hiasan buku ataupun peta dan lain sebagainya. Tempat ini udah mirip perpustakaan keliling, bedanya tempat ini nggak bergerak.


Pak Reon menyodorkan sebuah peta konsep beserta tumpukan buku-buku tebal didepan gue.


"Apa ini pak?" Tanya gue, sambil mata gue jelalatan menerawang gambar apa dibalik gulungan kertas putih ini.


"Kamu bisa buka sendiri kan?" ucapnya.


Yah, tanpa basa-basi lagi gue langsung membuka gulungan kertas itu.


Kalian tau, apa dibalik kertas ini?


Kosong???


NO.


Ini sebuah konsep penemuan!!!


Gue cengo, ngapain pak Reon nunjukin konsep penemuannya ke gue? Apa yang dia mau gue lakuin dengan ini? Apa gue harus membuat seperti yang dia rencanakan?


"Ini, maksud bapak apa?" tanya gue mewakili sejuta pertanyaan yang tiba-tiba muncul dan bersarang di otak gue.


"Seperti yang kamu lihat, itu konsep penemuan saya. Saya nggak punya waktu untuk membuat penelitian seperti itu. Itu kesempatan buat kamu, kembangkan konsep saya dan wujudkan hasilnya. Saya akan bantu kamu kalau butuh sesuatu." Jawaban pak Reon malah membuat gue syok tingkat dewa.


"Are you serious, sir?" Tanya gue memastikan kalau pendengaran gue memang benar-benar tidak bersalah.


"Yes. I'm serious. Untuk apa saya berbohong?" Ucapnya, malah balik bertanya ke gue. Gue masih nggak ngerti, ini terlalu absurd buat gue yang udah absurd.


"Kamu mau tidak?" Tanyanya. Gue masih berfikir, naluri bisnisman gue muncul. Perasaan untung dan rugi mulai terbayang di otak gue.


"Saya tidak menerima penolakan Tiara." Ucapnya lagi.


Yaelah pak, kalau nggak menerima penolakan? ngapain nanya kek gitu ke saya? Jadinya saya kan mikir untung dan rugi.


"Kamu tenang saja. Kamu nggak akan kerja sendirian, nanti saya akan carikan kamu teman anak teknik untuk menjadi rekan kerja kamu. 3 bulan itu kurang lebih cukup untuk kalian mengerjakannya kan?" tanya pak Reon yang gue jawab dengan kebisuan.


Gue masih bingung. Ini namanya pemaksaan tanpa berperi kemahasiswaan.


"Ingat Tia. Saya tidak menerima penolakan dalam bentuk apapun."


DAMN IT!!!


Bersambung...