
Langit malam yang cerah bertabur bintang, bulan berbentuk sabit gendut ikut menghiasi langit malam ini. Nyanyian suara jangkrik saling bersautan diantara rerumputan. Malam ini tidak akan sesunyi biasanya, dikala gue harus bergadang untuk mengerjakan makalah dari dosen.
Malam ini, seharusnya datang dengan hati yang berdebar nan berbunga-bunga. Namun sayangnya, malam ini hati gue tidak merasakan bunga apapun yang bermekaran. Lebih ke sedih yang dipaksakan untuk menerima dengan lapang dada. Tanpa bisa memilih, untuk mengelak dan menghindar.
Lalu lalang dihadapan gue membuat gue mengerti arti diri gue bagi mereka. Dan membuat gue sadar, bahwa hidup itu tak selamanya berporos pada diri gue sendiri. Namun, kehidupan gue berputar mengelilingi yang lain juga.
Gue melihat Mimi yang sibuk mengatur makanan yang akan di sajikan kepada para tamu yang datang, begitu juga mbak Anjani yang ikut membantu Mimi. Sedangkan gue tidak di perbolehkan menyentuh apapun, gue hanya di suruh duduk dan merias diri untuk bertemu calon mertua gue nanti. Mereka nggak ngerti aja, kalau sebenarnya gue hanya pengen bicara dan curhat kepada mereka. Mengatakan kalau gue belum siap, dan apa yang harus gue lakukan nanti saat keluarga calon gue datang???
"Ayo tak temani di kamar! Dandananmu uolo!!" Ucap Lastri yang tiba-tiba sudah berdiri di samping gue.
Mungkin jika keadaannya nggak seperti ini, pastinya gue akan menabok Lastri dengan sesuatu yang ada didekat gue. Tapi apa daya, hati ini sedang merana. Akhirnya gue mengangguk, mengiyakan ajakan Lastri untuk pergi kekamar gue yang ada dilantai dua.
"Mbok Yo perawan iku seng ayu saktik" kata Lastri lagi. Kali ini gue hanya mencibir pelan mendengar gerutuannya.
Sampai dikamar, gue akhirnya menangis di pelukan Lastri. Menumpahkan segala unek-unek yang mengganjal di hati gue sejak tadi pagi. Menceritakan segalanya, tentang belum kesiapan gue, tentang Abi, dan tentang rasa yang terpendam di kedalaman hati gue.
Lastri syok ketika mendengar gue menceritakan tentang rasa yang gue rasakan untuk seorang kaum Adam di kota Jogja sana. Rasa yang sama-sama kami pupuk dengan balutan cinta dalam ikatan pertemanan.
"Berarti kamu suka sama dia?" Tanyanya memastikan kalau pendengarannya nggak salah.
Gue mengangguk, masih terisak pelan.
"Terus?" tanyanya lagi.
"Dia bilang, kalau dia ngajakin serius Las. Tapi gue nolak, gue bilang kalau gue mau lulus kuliah dulu baru siap nikah." ucap gue menjelaskan.
"Dia setuju??" tanya Lastri lagi yang langsung gue jawab dengan anggukan.
Lastri hanya menghela nafas berat, lalu kembali memeluk gue. Sedih banget rasanya,,, dari dulu gue emang nggak suka jika harus menikah di umur yang masih jagung, masih muda, masa-masa dimana seorang pemuda membanggakan dan meneruskan perjuangan bangsanya.
"Jodoh iku di tangan Allah Ra. Meskipun kamu mengharapkan orang itu sampai setengah mati, kalau nggak jodohnya ya nggak akan di persatukan dalam ikatan janji suci nan sakral ini. Percaya!! Bahwa Allah memberikan jodoh yang terbaik buat kamu, untuk melengkapi kekuranganmu. Abi dan ummimu nggak pernah salah Ra!! Aku sebagai santrinya percaya itu!!!"
Gue masih menangis tergugu mendengar petuah dari Lastri. Petuah yang mencerminkan nurut dan manut pada Kyai ala santri. Ya Allah Las, apik tenan atimu dibalik sikap bar-barmu iku,,,
Acara peluk-pelukan dan tangis-tangisan gue terhenti, ketika Ja'far mengetuk pintu kamar gue.
"Loh belum dirias tho?" Tanyanya pada Lastri.
"Dereng Gus. Woh, kembarane njenengan masih mewek." jawab Lastri pada Ja'far.
Ja'far tersenyum miring.
"Njar no ae Las, ancen sek cilik!!" ejek Ja'far.
Lastri tersenyum mendengar gurauan dari kembaran laknat gue.
"Cepet yho. Tamunya udah sholat isya dimasjid." ucap Ja'far kepada Lastri sebelum menutup pintu kamar gue.
Lastri akhirnya bangkit dan menuntun gue ke meja rias, menyapukan bedak tipis kemuka gue, dan juga memberikan eyeliner, celak, dan sedikit maskara kemata gue agar nggak kelihatan habis nangis. Terakhir Lastri memberikan liptin ke bibir gue, dan merapikan kerudung gue agar terlihat rapi dan cantik.
"Wes ayu mantene" ucap Lastri, membuat gue dengan refleks memukul lengannya pelan.
"Nggak suka aku!!"
Lastri hanya tersenyum menghadapi tingkah laku gue. Setengah jam kemudian mbak Anjani datang, lalu mengajak gue untuk turun kebawah, menemui keluarga dari calon suami gue.
Malu. Itu yang gue rasakan pertama kali berada diantara mereka. Rasa gerogi yang jarang muncul ini, tiba-tiba muncul disaat penting seperti ini.
Seorang wanita yang lebih muda sedikit dari Mimi, menggeser duduknya agar dekat dengan gue. Gue pun mencium tangannya, sebagai penghormatan.
"Ini Tiara, mbak?" Tanya perempuan tersebut pada Mimi.
"Nggeh neng. Yugo kulo seng ayu dewe." Jawab Mimi membuat pipi gue sedikit merona.
Yaiyalah Mi, cantik sendiri. Kan aku anak perempuan satu-satunya!!!
"Kuliah dimana?" Tanya perempuan itu lagi kepada gue.
"Di Jogja neng." Jawab gue malu-malu.
Perempuan itu sedikit kaget dengan jawaban gue, namun sedetik kemudian ekspresinya kembali normal seperti sedia kala.
"Nggak usah panggil neng, panggil mbak aja. Aku ini mbakyu-nya calon suamimu."
WHAT??? MBAKYU-NYA??? Apa gue akan menikah dengan om-om bangkotan gitu???
"Hehehe... Iya mbakyu" ucap gue sambil cengengesan, berusaha menyembunyikan tanda tanya besar yang muncul di otak gue.
Acara demi acara pun berlanjut, gue mendengarkan dengan seksama pembicaraan antara Abi gue dengan gurunya alias calon mertua gue. Gue juga mendengar suara calon suami gue yang terdengar serak, namun masih terdengar tegas. Sampai pada puncak acara, yaitu memperlihatkan wajah dari masing-masing manten untuk lebih meyakinkan keputusan.
Gue di dorong Mimi untuk bergeser sedikit kedepan. Saat ini, gue hanya bisa pasrah pada takdir Allah, semoga disaat-saat terakhir Allah memberikan gue jalan untuk menghindar. Gue pun memejamkan mata sampai satir benar-benar terbuka dihadapan gue.
Ya Allah, jikalau dia benar-benar jodoh hamba, berikan hamba jodoh yang tampan dan tajir agar hambamu ini selalu bersyukur atas nikmatmu!!! Doa gue.
"Ndok, nang di buka mripate!" perintah Abi.
Dengan pelan-pelan gue membuka mata, dan melihat sosok pria dihadapan gue. Loh... DIA???
"ASTAGHFIRULLAHAL 'ADZIM. PAK REON??"
Ucap gue lantang, sambil menunjuk sosok pria yang ada dihadapan gue. Bisik-bisik tetangga mulai merebak disekitar gue. Pak Reon hanya tersenyum tipis melihat tingkah laku gue yang nggak punya urat malu ini.
"Loh, wes kenal tho ndok?" Tanya sosok sepuh yang duduk disamping Abi.
"Sampun Bah. Tiara niki mahasiswi Kulo." Jawab pak Reon dengan sopan mewakili sikap terkejut gue.
Di tengah kerusuhan itu. Akhirnya otak gue bisa menyimpulkan dua penjelasan. Pertama, bahwa pak Reon adalah seorang Gus. Dan kedua, gue akan menikah dengan dosen sendiri. Halu macam apakah ini!!!
"Alhamdulillah kalau gitu Bah, nggak usah ta'aruf-ta'arufan. Langsung dipingit aja, Minggu depan nikah!" Ucap Mbakyu-nya pak Reon tadi.
Hah!!! Keputusan macam apa itu???
Semua orang yang hadir setuju dengan keputusan sepihak yang dibuat Mbakyu-nya pak Reon. Semuanya mengucapkan Alhamdulillah dengan serempak, hanya gue yang masih bertampang blo'on disini. Satir pun kembali ditutup, dan acara makan-makan pun menjadi penutup malam hari ini.
Setelah acara selesai, dan tamu sudah pulang. Gue kembali kekamar, dan buru-buru mengaktifkan HP yang sejak naik gunung gue matikan. Miscall dan pesan beruntun datang dari satu nama.
Bapak Buthek.
Bersambung...