
Chat story antara Tiara dengan pak Reon sebelum mereka nikah.
©©©™™™
Bapak Buthek
Tiara!!! Angkat telphon dari saya!
Tiara!!!
Ini penting Tiara!! Angkat telphon saya!
Lima hari kemudian...
Tiara
Aduh, maaf pak!! HP-nya saya matikan sejak naik gunung. Maaf banget pak!!
Bapak Buthek
Ya udah. Sudah terlanjur juga
Tiara
Pak. Bapak bisa nggak batalin nikah sama saya??? Saya belum siap pak!!
Bapak Buthek
Kalau belum siap. Kamu saja yang batalin!!
Tiara
Nggak bisa pak. Saya udah bilang ke Abi, nggak di bolehin.
Bapak Buthek
Ya sudah. Trima saja garis takdir kamu!!
Tiara
Ya Allah pak,,, selama janur kuning belum melengkung, saya nggak akan putus asa pak!!
Bapak Buthek
Ya udah
Tiara
Kok cuma gitu sih responnya pak??? Emangnya bapak nggak malu, nikah sama mahasiswi sendiri? Nanti apa kata temen-temen saya pak???
Bapak Buthek
Itu kan kata teman kamu, bukan teman-teman saya
Tiara
Aduh pak, please deh!! Saya mau wujudin cita-cita dan keinginan masa muda saya dulu, sebagai seorang gadis yang belum bersuami.
Bapak Buthek
Silahkan kamu wujudin keinginan dan cita-cita masa muda kamu! Saya nggak akan melarang!!
Tiara
Sama aja pak, saya nggak mungkin kan anggap bapak nggak ada di rotasi kehidupan saya. Ayolah pak!! Batalin pernikahannya!! Lagi pula, nanti mbak Eva gimana???
Bapak Buthek
Maaf Tiara. Saya nggak bisa batalin peenikahan kita. Soal Eva, biarkan saya yang memikirkannya.
Tiara
Loh pak? Kok gitu???
Pak???
Bapak Buthek is blocked you...
Pak???
Kok di block sih pak???
©©©™™™
Mengulang kembali keramaian pada saat malam hari seminggu yang lalu, bedanya keramaian saat ini terjadi pada pagi hari setelah matahari terbit. Para tamu-tamu undangan mulai berdatangan dan memenuhi halaman utama pondok. Ibu-ibu serta santri yang di ajak Mimi untuk membantu memasak alias plandang juga ikut meramaikan isi dapur. Dan gue???
Gue hanya duduk manis di kamar, memperhatikan mbak Sari yang pandai melukis hena ditangan, fokus melukis tangan gue. Nggak terlalu banyak-banyak juga, karena nggak boleh sama Abi. Sedangkan Lastri dan kang Kafi, sibuk membantu bang Jidan dan mbak Anjani menyambut tamu didepan.
"Assalamu'alaikum" salam Ja'far sambil memasuki kekamar gue yang terbuka lebar.
"Ngapain Lo?" tanya gue sewot.
"Hehehe... Kembaran ane masih sewot aja mau nikah. Ini hari terakhir ente jomblo.Ane mau ucapin selamat" ucapnya sambil cengengesan disamping gue.
Ja'far terlihat geram dan menarik kerudung gue yang udah rapi.
"Aduduh sakit tau par!!" Jerit gue sambil memegangi kerudung gue yang di tarik Ja'far.
"Ente tau nggak"
"Nggak" jawab gue langsung.
"Ane nggak tanya!!"
"Yah Lo, nada bicaranya kek gitu. Kan gue mikirnya Lo tanya!!" ucap gue tak mau kalah dari Ja'far.
Ja'far menghela nafas tipis, dan memalingkan mukanya ke cermin rias gue. Menatap pantulan dirinya yang memakai beskap warna hijau, dan gue yang memakai kebaya warna putih.
"Abi sama Umi keliahatan seneng banget atas pernikahan Ente mbar, ngalahin kesenangannya saat ane memberikan mereka sepasang mahkota surga atas hafalan Al-Qur'an ane. Jujur, ane iri sama ente mbar. Ane yang rela keluar akhir dari rahim Umi demi ente. Kenapa Umi sama Abi nikahin ente duluan lagi? Kenapa nggak ane???"
Hah??? Pertanyaan macam apa itu???
"Ya Allah Par!! Lo tau nggak, gue itu udah mau terharu sama kata-kata awal Lo?? Tapi kenapa Lo malah curhat kenapa Lo nggak nikah duluan???" ucap gue sarkatis sambil memukul tangan Ja'far yang nangkring di pundak gue.
Ja'far tertawa melihat ekspresi gue, sambil membenarkan blangkonnya yang miring.
"Ente ingat nggak, terakhir kali kita duduk berdua pakai baju kayak gini?" tanyanya.
Gue menggeleng pelan. Perasaan gue udah lama banget nggak duduk berdua pakai baju kayak gini sama Ja'far.
"Inget? Pas dulu karnaval TK? Kita pakek baju kayak gini" ucapnya kemudian.
Gue mengingat-ngingat masa lima belas tahun lalu, saat gue dan Ja'far masih sama-sama suka ngompol dan tidur bareng sekamar.
"Oh yang waktu itu Lo aslinya pakek seragam polisi, terus gara-gara ngompol, Lo pakek baju adat Jawa kayak gue???"
Ja'far memalingkan mukanya, malu. Gue tertawa ngakak. Hahaha... ternyata kembaran gue nggak banyak berubah dari dulu.
Tok-tok-tok
Ketukan pintu kamar membuat gue dan Ja'far melihat kearah pintu. Satu lagi adik gue yang baru pulang dari pondok, berdiri di ambang pintu.
"Mbak Ara sama mas Ja'far disuruh turun kebawah. Acara udah mau dimulai." ucap Fatih.
Mbak Sari pun memperbaiki kerudung gue dan menuntun gue untuk turun ke ruang tamu.
Ya Allah, sumpah. Jariknya terlalu sempit untuk gue turun dari tangga!!!
Sound system yang nyambung dengan mikrofon dari masjid pesantren sudah terpasang di ruang tamu beserta layar LCD yang akan menampilkan wajah pak Reon nanti. Gue duduk dengan khidmat di samping mbak Shofiyah dan Mimi. Tangan gue terasa dingin ketika Abi memulai khotbah sebelum akad nikah. Dan selanjutnya... sampai... lafadz itu terucapkan dalam satu tarikan nafas pak Reon.
"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur."
Dunia gue terasa runtuh saat itu juga. Entah karena gue belum ikhlas atas pernikahan ini atau bagaimana? Yang pasti, detik ini gue udah berubah status menjadi seorang istri. Kedua orang disamping gue menangis, begitu juga dengan gue. Perbedaannya, mungkin mereka menangis bahagia, sedangkan gue menangis meratapi nasib.
Mimi dan mbak Shofiyah menuntun gue untuk berjalan menuju singgasana gue dan pak Reon hari ini.
Ya Allah, gue masih berharap kalau ini hanya sekedar mimpi!!! Tolong bangunin gue!
Pak Reon berdiri di hadapan gue, mungkin dia melihat wajah gue yang sedikit aneh hari ini dengan riasan yang nggak pernah dia lihat nemplok di wajah gue. Mimi menyuruh gue untuk mencium tangan pak Reon. Dengan sedikit gugup dan gerogi, gue akhirnya mencium tangan pak Reon, dan dia mendoakan gue serta mencium kening gue. Setelah itu kami saling memakaikan cincin kawin, dan acara pun di lanjut dengan tausiah dari Abah alias mertua gue sampai selesai.
"Pak???" bisik gue di tengah-tengah acara foto-foto.
"Apa? Kamu nggak nyuruh saya berubah pikiran lagi kan?" tanyanya.
"Ya Allah pak, su'udzon mulu. Lagi pula, ini juga udah terlanjur sah." Jawab gue.
Pembicaraan gue dan pak Reon terputus oleh kehebohan Ja'far yang minta foto prifat dengan gue dan pak Reon.
"Barokallah, kemanten anyar. Kalet Mulu dari tadi???" ucap Ja'far sambil menarik turunkan alisnya, menyuruh gue agar sedikit bergeser karena dia mau foto diantara kami.
"Muka Lo kalet!!! Kebaya gue nyantol di beskapnya, makanya kalet!!" ucap gue.
Ja'far tertawa, lalu membenarkan kebaya gue dan beskap pak Reon. Kemudian dia berfoto diantara kami dengan pose-posenya yang kocak abis sampai nular ke gue.
®®®™™™
Acara pernikahan gue dan pak Reon selesai dengan lancar tanpa hambatan. Dan gue bisa berpura-pura bahagia dengan pernikahan ini di pelaminan tadi, di hadapan para tamu undangan dan keluarga besar. Tapi saat ini, gue bener-bener bingung harus bersikap bagaimana dan seperti apa?
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Dan gue masih setia tidur-tiduran dikamarnya Lastri yang hanya beralaskan karpet tipis. Mungkin santri-santri lainnya akan heran melihat gue,
Kemanten anyar kok nginep di pondok???
"Nggak pulang Ra?" tanya Lastri. Selimutnya sudah menutupi sekujur tubuhnya dan hanya memperlihatkan kepalanya.
Gue menggeleng pelan, "takut" ucap gue.
"Takut kenapa? Gus Reon nggak akan makan kamu?" ucap Lastri lagi.
Gue hanya diam. Bukan takut karena gue mau dimakan atau nggak oleh pak Reon. Tapi, lebih tepatnya gue bingung harus bersikap didepannya kayak gimana? Apa harus lemah lembut kayak mbak Anjani dengan bang Jidan? Atau gue bersikap kayak mahasiswanya aja, yang penuh dengan ketakutan akan ancaman nilai?
Huft... Gue menghela nafas kasar dan beranjak tidur membelakangi Lastri.
Sorry pak!! Malam pertama kita harus gagal hari ini!!!
Bersambung...