
Kalian pernah nggak, ngerasain pengen beli sesuatu tapi nggak kesampaian?
Kalau pernah, itu yang lagi gue rasain sekarang. Kalau ada seseorang bilang, wanita itu penikmat belanja. Jawabanku, itu benar versi gue dan Jeli.
Hari ini setelah prepare sebelum ujian akhir, gue dan Jeli minus Aga memutuskan untuk belanja di mall. Sebenarnya nggak belanja sih, lebih kepada cuci mata. Soalnya dari tadi gue dan Jeli nggak beli sesuatu pun, hanya beli jajanan ringan dilantai 3.
"Oh my God, ambyar gue Jel. Sneakers keluaran terbaru, pengen beli gue" ucap gue, ketika melihat sneakers yang terpajang dikaca depan.
"Wih, emang baru tuh belum terjamah tangan-tangan laknat. Tapi yang seperti ini, gue jamin dompet Lo meronta-ronta" ejek Jeli dengan senyum tengilnya.
Gue mencebik dalam diam. Ya elah, tanpa dikasih tau juga gue udah sadar diri lah kalau uang gue belum cukup untuk membeli sepatu sultan itu.
"Au ah Lo, kalau ngomong suka bener!!" ucap gue yang langsung disambut tawa ngakak dari Jeli.
"Eh Lo udah siap-siap buat muncak kan?" tanyanya. Gue mengangguk mengiyakan dengan semangat.
Yap. Gue, Jeli dan Aga plus beberapa anak dari Mapala berencana untuk muncak di gunung Arjuna. Salah satu gunung yang memiliki puncak tertinggi di Indonesia, juga segala mitos yang beredar disana, membuat gue semakin penasaran.
"Gue bingung Ra mau bawa apaan, Lo tau sendiri kan ini pertama kalinya gue muncak?" ucap Jeli dengan gelisah.
Aduh kasihannya temen gue satu ini kebawa bingung. Gue menepuk-nepuk pundaknya pelan.
"Nggak usah bingung Jel. Bawa aja yang sekiranya Lo butuh banget saat disana, and ingat, jangan pakai pakaian warna merah."
"Emang pantangan banget ya Ra?" tanya Jeli dengan mimik takut.
Wkwkwk,,, sumpah gue pengen ketawa lihat ekspresinya.
"Yah, gue juga nggak tau Jel, tapi menghormati adat istiadat boleh kan?" jawab gue.
Jeli manggut-manggut mendengar penjelasan gue. Memang selain menyiapkan fisik, gue dan Jeli juga mempersiapkan hati untuk pendakian kali ini. Berdoa semoga Allah memberikan keselamatan pada kita semua dari awal berangkat sampai kegiatan selesai, sekaligus meminta agar dijauhkan dari sifat sombong saat mendaki gunung.
Last, ngomong hal-hal mistis tentang gunung Arjuna. Gue dan Jeli memutuskan nongkrong disalah satu cafe yang menyediakan berbagai macam fariasi donat di mall ini.Yah kali-kali, jadi anak sultan,,,
"Jel, gue denger-denger Abang Lo mau nikah ya?" tanya gue sambil menyuapkan sepotong donat rasa green tea dengan toping kacang almond.
Jeli mencebik pelan. Raut wajahnya menyiratkan kekecewaan dan keengganan untuk membahas masalah ini.
"Huft. Udah nyebar ya ternyata" ucapnya. Gue mengangguk, masih menatap wajahnya.
"Iya. Abang gue mau nikah sama janda." ucapnya sewot.
"Terus???" Tanya gue lagi.
"Yah gue nggak suka gitu Ra. Kasihan kan Abang gue, masak perjaka dapetnya janda." Jawabnya dengan emosi.
"Kan Abang Lo cinta"
"Cinta sih cinta, tapi nggak nikah juga kali. Gue nggak sudi punya kakak ipar janda." ucapnya.
JHAHAHA,,, dalam hati gue tertawa ngakak melihat sikap Jeli yang kayak anak kecil nggak dibeliin es krim.
"Di syukurin aja Jel. Masih untung Lo punya kakak ipar yang umurnya diatas Lo. Nah, kalau Lo punya kakak ipar yang dibawah Lo gimana? Bisa adu mulut terus Lo sama dia!!" ucap gue membuat muka Jeli semakin merengut kesal.
Popilopi... Popilop... Rararararara
Suara ringtone dari HP gue membuat gue dan Jeli kaget.
Mimi is calling...
Mami gue nelphone gais, nggak tepat banget sama situasi sekarang.
"Hallo Mi?"
"Assalamu'alaikum sayang"
"Wa'alakummussalam mi, tumben nelphon?" tanya gue. Soalnya jarang-jarang aja Mimi nelphon saat jam-jam segini, biasanya Mimi lebih sibuk sama anak didiknya.
"Mimi mau mastiin kalau kamu pulang Minggu depan!!"
"Iya Mi, Ara pulang kok. Tapi nggak Minggu depan juga, masih sekitar dua Minggu lagi" jawab gue. Terdengar helaan nafas dari seberang handphone.
"Yaudah nggak pa-pa, yang penting kamu pulang dengan selamat. Keluarga besar mau ngadain hajatan di rumah, awas kamu nggak pulang!!"
Hajatan? Hajatan apaan nih??? Bikin gue syok aja.
"Emang mau ada acara apa mi?" tanya gue penasaran.
Yah, mulai deh sifat mellow Mimi.
"Iya Mi tenang aja, aku pulang kok, pulang. Doain ya mi, ujian aku lancar" ucap gue meminta doa restu sama Mimi.
"Iya, Mimi doain ujian kamu lancar dan diberikan kemudahan oleh Allah SWT. Udah dulu ya Ra? Abi manggil Mimi."
Ucap Mimi, setelah terdengar suara panggilan dari Abi. Aku mengakhiri telephone Mimi dengan salam dan juga dijawab salam oleh Mimi, tidak lupa dengan kiss-kiss jarak jauh ala Mimi.
Gue memasukkan kembali HP gue kedalam tas, lalu beralih ke donat saos stoberry dengan toping keju parut yang belum gue makan.
"Mimi yang telephone?" tanya Jeli.
Gue mengangguk mengiyakan. Jeli emang udah biasa manggil nyokab gue Mimi kayak gue. Itu semua atas perintah Mimi saat pertama kali berkunjung ke kos-kosan gue dan bertemu dengan Jeli yang gue kenalin sebagai partner sejati gue. Sejak saat itu, hubungan Mimi dan Jeli berjalan dengan baik.
"Kenapa?" tanyanya lagi.
"Gue disuruh pulang liburan depan, mau ada hajatan katanya." Jawab gue atas pertanyaan Jeli.
"Lo mau dinikahin kali"
Ucapan Jeli membuat tanda tanya besar dikepala gue. Bisa-bisanya nih anak berpikiran kayak gitu pada kehidupan gue.
"Nikah dari Hongkong? Calon aja nggak ada, gue mau nikah sama siapa?"
Jeli tersenyum centil.
"Ya kali Lo diam-diam dilamar anak orang. Kan Lo udah gede" katanya membuat gue semakin kesal.
"Badan aja yang gede. Pada hakikatnya gue kan masih pengen seneng-seneng kayak anak kecil." Ucap gue yang membuat Jeli tertawa terpingkal-pingkal.
"Udah ah makin absurd nanti bahasan kita." Ucap gue menyudahi omongan yang pastinya nanti akan berakhir kehal-hal yang berbau dewasa.
Jeli hanya berdehem berusaha menyembunyikan senyuman tengilnya, sebelum menyuapkan sepotong donat kemulutnya.
"Ra, Lo punya saudara hamil disini?" tanya Jeli tiba-tiba setelah kebisuan sesaat tadi.
Gue menggeleng. "Nggak" jawab gue pendek, masih meneruskan acara makan-memakan gue.
"Beneran?" tanya Jeli memastikan.
Gue mengangguk. Apaan juga nih bocah? Udah tau gue anak rantau sendirian dari Malang, masih aja tanya!!
"Lah, nah mbak-mbak itu siapa Ra? Kenapa manggil-manggil nama Lo?" Tanya Jeli sambil menunjuk kearah belakang gue dengan sendok eskrimnya.
Gue menoleh kebelakang, mengikuti arah yang ditunjuk oleh Jeli. Tepat dua meja dibelakang gue, gue melihat sosok mbak Eva yang sedang menyapa gue dengan kedua tangannya. Didepannya duduk seorang laki-laki yang gue tebak pasti pak Reon. Gue membalas sapaan mbak Eva juga dengan tangan gue, menunjukkan sepiring donat yang hampir habis. Dan dibalas acungan jempol oleh mbak Eva.
"Lo kenal? Siapa?" tanya Jeli penasaran.
"Nggak tau" jawab gue ringan tanpa beban.
"Masak? Kok Lo bales sapaan dia?" tanya Jeli lagi.
Hiiih,,, gemess gue kalau Jeli udah banyak tanya kayak gini.
"Gue kenal, tapi nggak tau dia siapa?" jawab gue.
"Kok bisa? Namanya siapa? Masak Lo nggak tau juga?"
PERTANYAAN BERUNTUN APA INI??? Udah kayak mau wawancara kerja aja gue?
"Namanya Eva" jawab gue akhirnya.
"Ohhh... Kok Lo bisa kenal? Kenal dimana?" tanyanya lagi.
"Dirumah pak Reon." Jawab gue.
Selang dua detik kemudian...
"APA??? DIA ISTRINYA PAK REON?"
Gue cengo, sambil menutup telinga. *Siapa juga yang bilang dia istrinya pak Reon???
Bersambung*...