
Setelah satu Minggu di rumahnya pak Reon di Pasuruan. Pak Reon akhirnya ngajak gue balik ke Jogja, selain karena semester baru yang akan di mulai dalam lima hari ini, juga karena banyak pekerjaan pak Reon yang harus cepat-cepat di selesaikan. Gue nurut aja. Kata Mimi sih, belajar jadi istri Sholihah.
Gue hanya bisa geleng-geleng kepala saat Mimi mengatakan itu. Nggak ngebayangin aja kehidupan gue kedepannya kayak gimana???
Didalam mobil gue habiskan untuk tidur. Bukan karena suasana yang awkward, tapi karena gue nggak bisa lama-lama melek didalam mobil. Biasa mabuk darat.
"Kamu mau makan dulu?" Tanya pak Reon ketika kita sudah sampai di Jogja.
Gue hanya menggeleng, gue udah males buat turun makan. Gue cuma pengen tidur di atas kasur kesayangan gue secepatnya.
"Kita turun makan dulu! Saya nggak menerima penolakan Tiara!!" Kata pak Reon lagi, sambil turun dari mobil.
Ya kali kalau ujung-ujungnya mau nyuruh, nggak usah pakek nanya!! Kesel gue jadinya sama nih orang.
Gue pun ikut turun dari mobil. Melihat suasana yang ramai, gue malah merasa males dan mager. Akhirnya gue hanya duduk di kursi yang nggak jauh dari parkiran mobil, sambil ngangkat telpon dari Aga.
"Hallo Ga. Ada apa? Tumben Lo nelpon?" Tanya gue langsung to the point.
"Emang gue nggak boleh nelpon Lo?"
Tanyanya.
"Nggak gitu juga. Ngapain sih?"
"Itu... Althof nelpon gue, katanya Lo nggak ngangkat telpon dari dia. Kenapa Lo? Ada masalah? Berantem?"
Tanya Aga beruntun.
Bullshit nih Althof! Langsung nelpon Aga segala. Gue kan bingung mau jelasin kek gimana? Masa gue bilang jujur, kalau gue udah nikah? Sama pak Reon? Nggak deh kayaknya.
"Tia? Lo kok diem. Ada masalah beneran ya sama Althof?"
"Nggak kok Ga."
"Terus ngapain Lo nggak jawab telponnya? Lo tau nggak, dia itu ngerecokin kehidupan tentram gue tanpa ada Lo sama Jeli!!"
Omelnya.
"Iya... Iya... Sorry!!! Bilangin aja sama Althof kalau gue lagi banyak urusan. So, nggak bisa ngangkat telpon dari dia." Ucap gue. Aga terdiam beberapa detik sebelum menutup telpon dan mengatakan akan menyampaikannya ke Althof.
Gue menghembuskan nafas berat. Memandang layar Hp yang menunjukkan banyak notifikasi panggilan dari Althof sejak malam dimana gue dilamar secara resmi oleh pak Reon.
"Ra, kamu ngapain disini? Saya kan suruh kamu masuk, makan dulu!!" Ucap pak Reon yang tiba-tiba nongol di samping gue. Gue pun langsung menutup telpon gue, dan memandang pak Reon.
"Saya nggak makan deh pak. Males, ramai soalnya." Ucap gue, sambil tersenyum.
Pak Reon menghela nafas, kayaknya dia frustasi deh ngajakin gue makan dari tadi, tapi gue malah nggak mau makan. Yah... Mau gimana lagi? Gue kan males kalau suasana ramai gini.
"Ya udah. Saya nggak jadi makan. Ayo kita lanjut perjalanan!" Ucap pak Reon.
Hah... Sumpil gue kaget atas kata-kata pak Reon tadi. Apa dia bilang? Nggak jadi makan? Gara-gara gue nggak mau makan?
"Lah... Jangan gitu dong pak! Nanti kalau bapak nyalahin saya, terus saya harus gimana?" Tanya gue, sambil ngintilin kaki pak Reon yang melangkah menuju mobil.
Tapi tanpa gue duga, ternyata pak Reon nggak mengantarkan gue ke kos-kosan gue. Tapi malah membawa mobilnya kerumahnya yang di tempati bersama mbak Eva.
"Bapak nggak salah nganterin saya kesini? Ini bukan kos-kosan saya pak!!" Ucap gue. Ketika mobil berhenti tepat didepan rumah.
"Nggak, saya nggak salah. Mulai detik kamu menjadi istri saya, kamu akan tinggal, dimana saya tinggal." Ucapnya dengan penuh ketegasan.
Oh My God. Posesif pakek banget pak Reon. Demi apa dia Sampek ngucapin kata-kata yang bikin gue merinding?
"Oh... Dan satu lagi. Kalau di rumah, kamu harus panggil saya 'mas'." Ucapnya sebelum turun dari mobil dan mulai menurunkan kopernya dan juga koper gue dari mobil.
Ya elah. Kalau cuma panggilan 'mas' juga dari kemarin gue udah panggil dia mas. Kayak mas-mas tukang bakso dekat terminal. Wkwkwk.
"Kamu ngapain berdiri di situ? Ini... Bawa sendiri koper kamu!" Kata pak Reon sambil memberikan koper ke tangan gue. Gue hanya mendengus kesal. Kek di bawain gitu!!!
Tepat gue menginjakkan kaki di teras rumah. Pintu berwarna putih itu terbuka, dan menampilkan sosok mbok-mbok yang sedikit tambun menyapa pak Reon dan mempersilahkan kami masuk.
"Anggi udah tidur mbok?" Tanya pak Reon pada si mbok itu. Si mbok hanya mengangguk dan berlalu ke belakang.
"Kamu mau tidur dimana?" Tanya pak Reon ke gue, yang emang sedari tadi hanya berdiri memperhatikan obrolan pak Reon sama si mbok.
"Dimana aja boleh" jawab gue.
"Tidur sama saya?"
Hah, yang bener aja. Gue tidur sama Lo pak? BIG NO!!!
Gue menggeleng sambil menatap pak Reon waspada. Pak Reon pun hanya terkekeh melihat wajah ketakutan gue. Dia akhirnya menunjukkan gue suatu kamar dilantai atas, di samping kamarnya.
Kamar itu lumayan sedikit lebih besar daripada kamar tamu yang ada dibawah. Paduan warna merah, hitam, dan putih menyapu di setiap furnitur yang ada dikamar ini. Kamar ini juga terlihat bersih, seperti habis dipakai seseorang untuk jangka waktu yang lama.
Gue cepet-cepet mandi dan membereskan barang-barang yang gue bawa dari Jogja dan Pasuruan. Saat gue keluar kamar akan ke dapur untuk menaruh oleh-oleh yang di bawakan oleh mbak yu Khodijah dan Shofiyah, gue berpapasan dengan pak Reon yang sedang menggendong bayi kecil yang umurnya kurang lebih sekitar satu bulanan. Gue langsung mematung di tempat, menatap pak Reon dan bayi yang sedang di gendongnya.
"Ehm" pak Reon berdehem yang langsung membuat gue tersadar dan memberikan jalan untuknya lewat.
Gue masih menerka-nerka kejadian yang barusan gue lihat. Sumpil! Gue bingung sendiri dengan apa yang sedang terjadi. Ini antara halu dan nyata!!
Sampai di dapur, gue melihat si mbok yang tadi membukakan pintu sedang memanaskan air.
"Mbok. Lagi buat apa mbok?" Tanya gue basa-basi.
"Eh si neng tiba-tiba nongol, bikin kaget mbok aja." Kata si mbok, sambil mengelus dada. Gue hanya tersenyum tengil.
"Ini mbok lagi buatin susu buat neng Anggi sama susu coklat buat mas Reon. Nengnya nggak mau sekalian di buatin minuman?" Tanya mbok. Gue hanya menggeleng. Gue pun akhirnya memutuskan untuk bertanya-tanya tentang si mbok dan tentang pak Reon sebelum nikah sama gue, sambil nunggu minuman yang dibuat oleh si mbok selesai. Rencananya gue mau nganterin tuh minuman anget ke kamar pak Reon. Lagi-lagi demi belajar menjadi istri yang Sholihah.
Si mbok tidak banyak menceritakan tentang pak Reon ke gue. Beliau bilang, lebih baik gue tanya langsung ke pak Reon.
Ya udah deh. Apa daya? Lebih baik gue tanya langsung aja tentang pertanyaan seambrek yang muncul di otak gue.
Bersambung...