
Oweee... Oweee...
Suara tangisan bayi terdengar ketika gue sampai di ambang pintu kamar pak Reon yang terbuka. Gue melihat pak Reon sedang kesusahan mengurus bayi kecil tersebut sambil membereskan baju-bajunya. Melihat pemandangan itu, gue sedikit terharu sama pak Reon. Akhirnya gue masuk setelah mengetuk pintu kamarnya dan menaruh minuman yang di buatkan si mbok ke atas meja.
"Butuh bantuan pak?" Tanya gue langsung.
Pak Reon sedikit kaget melihat gue yang tiba-tiba masuk ke kamarnya.
"Oh... Kamu bisa tolong jaga Anggi sebentar? Saya mau beres-beres dulu." Ucap pak Reon. Gue langsung mendekat dan duduk di samping Anggi yang sengaja di tidurkan di ranjang pak Reon yang super gede. Gue menimang-nimang Anggi sambil melihat pak Reon yang mondar-mandir membereskan barang-barangnya.
"Terima kasih Ra!! Kamu sudah menolong saya menjaga Anggi sebentar." Ucap pak Reon yang sekarang sedang duduk di samping gue. Gue hanya tersenyum simpul sambil sesekali melirik pak Reon yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu ke gue.
"Bapak, nggak ada yang pengen di jelasin ke saya?" Tanya gue hati-hati. Gue nggak mau memicu konflik pada rumah tangga yang baru seumur jagung ini.
Pak Reon menghela nafas dengan sedikit berat. Yah mungkin aja, dia belum siap untuk jelasin ini ke gue.
"Huh... Memang udah saatnya saya bilang ke kamu keadaan saya saat ini."
Gue terdiam. Begitu juga pak Reon, yang sedang mempersiapkan hatinya.
"Eva... Eva meninggal satu bulan lalu saat melahirkan Anggi."
WHAT??? Mbak Eva udah meninggal? Dan de-bay yang sedang gue gendong ini anaknya mbak Eva? Ini kehidupan nyata, apa kehidupan di novel-novel sih? Drama banget!!
"Eva meninggalkan Anggi ke saya, agar saya merawatnya seperti anak sendiri. Saya memang menganggap Anggi anak sendiri. Awalnya... Saya tidak mempermasalahkan kehidupan saya bersama Anggi. Hanya kami berdua dan tidak akan ada orang ketiga yang masuk didalam kehidupan saya. Tapi tiba-tiba, mbak Khodijah telpon dan mengatakan bahwa Abah telah menjodohkan saya dengan salah satu anak perempuan santrinya dulu."
Gue tercengang, kaget, speechless. Entahlah apa kata yang mampu mendefinisikan mimik muka gue sekarang. Hati gue entah kenapa seperti tertusuk satu jarum yang tumpul dan berkarat, nggak bisa keluar meskipun gue tarik dengan sekuat tenaga. Apa ini rasanya pernikahan yang tidak diharapkan???
Sakit juga ya!!!
"Saya tidak bisa menolak Ra. Hanya ini jalan penghubung antara saya dengan Abah. Sudah banyak hal yang selalu saya tentang dari Abah. Dari dulu Abah hanya ingin satu dari saya, yaitu tentang pernikahan ini. Dan mau tidak mau, pilihan saya cuma satu yaitu kamu. Saya tau, keegoisan saya akan menyakiti banyak orang, terutama kamu."
Pak Reon berhenti sebentar. Melihat ke arah wajah gue yang juga sedang menatapnya tajam. Gue nggak menangis, dari dulu gue nggak pernah menangis saat ada masalah yang menyakitkan. Gue lebih ke sikap dingin dan cuek saat menghadapi situasi kayak gini. Tapi, di kedalaman hati gue. Gue tetep wanita pada umumnya, yang pasti merasakan perih dan pengen ngajar tuh wajah songong dan tidak bersalahnya pak Reon.
Dasar dosen songong Lo!!!
"Saya mungkin belum bisa menerima kamu sekarang Ra. Oleh karena itu, saya akan memberikan kebebasan ke kamu. Sebagaimana kamu sebelum menjadi istri saya." Ucapnya lagi.
Hening. Hening yang cukup lama terjadi diantara kita berdua. Sepertinya pak Reon nunggu reaksi dan keputusan dari gue.
"Huh... Udah pak?" Tanya gue ke pak Reon yang sebenarnya nggak membutuhkan jawaban dari dia.
"Boleh saya tanya suatu hal ke bapak?" Tanya gue ke pak Reon. Pak Reon mengangguk dan mempersilahkan gue untuk bertanya.
"Pak Reon ada hubungan apa dengan mbak Eva? Dan... Kenapa bapak belum bisa menerima saya sebagai istri bapak?" Tanya gue langsung to the point. Jawaban dari pak Reon ini akan menentukan keputusan gue selanjutnya untuk kehidupan gue dan pernikahan ini. Pak Reon terdiam cukup lama, mungkin dia tidak akan mengira kalau gue akan menanyakan pertanyaan yang kemungkinan cukup sulit untuk di jawab.
"Eva... Karena saya belum bisa melupakannya."
Deg. Sumpil, hati gue langsung berbunyi kek gitu. Bullshit lah nih orang, pengen gue maki sampek dia ngerasain rasanya neraka tingkat paling bawah.
"Oke... Saya berterima kasih karena bapak sudah mau jujur dengan keadaan hati bapak saat ini. Jujur, saya juga belum siap menerima status baru saya sebagai istri bapak. So, saya setuju dengan usulan bapak untuk menjalani kehidupan kita masing-masing sebelum pernikahan ini terjadi. Kita akan menyembunyikannya sampai kita benar-benar siap menerima." Ucap gue.
Yah... Akhirnya ini keputusan final gue.
Menjalani kehidupan masing-masing.
Yah, meskipun sedikit kekanak-kanakan sih. Tapi mau gimana lagi? Daripada saling memaksakan dan berujung huru-hara? Lebih baik diam sambil menjalani.
Setelah perbincangan itu, gue kembali ke kamar gue dan meninggalkan Anggi dengan pak Reon. Lagi pula, bayi kecil itu bukan tanggung jawab gue, dia tanggung jawabnya pak Reon. Biarkan saja pak Reon menanggung berbagai kesulitannya. Biar gue ngerasain oase di tengah gurun pasir ini. Hahaha... Huh, jiwa iblis gue muncul!!
Gue termenung di balkon kamar, menatap jalanan komplek yang lengang. Dari situ, gue bisa melihat balkon kamar pak Reon yang lampu kamarnya masih menyala. Mungkin dia juga belum bisa tidur, sama kayak gue. Bedanya, mungkin sekarang dia sedang menangisi mbak Eva sambil memperhatikan wajah Anggi. Sedangkan, gue sekarang sedang memperhatikan ponsel gue yang menampilkan wajah dan nomer whatsapp seseorang. Siapa lagi, kalau bukan Althof.
"Hallo? Assalamu'alaikum Ra?"
Suara di seberang telpon sana membuat gue ingin menangis kencang di tengah malam ini.
"Ra?"
"Eh... Iya Al. Aku masih disini kok."
"Kamu kemana aja sih Ra? Aku telpon kamu, kamu nggak angkat. Kalau Aga yang telpon, kamu angkat!!"
Ucapnya terdengar bersungut-sungut.
"Hehehe... Sorry! Kamu cemburu ya Al?"
"Huh... Ini nggak sekedar cemburu Ra. Aku udah khawatir banget sama kamu, rasanya aku pengen cepet-cepet nikahin kamu, biar bisa mantau setiap waktu."
"Ih... Posesifnya muncul lagi."
"Ini nggak posesif sayang. Ini bukti perhatian aku sama kamu. Aku nggak mau kamu kenapa-napa."
Uuuhhh... Althof si raja gombal!! Rasanya pengen gue silent mulutnya.
"Al... Kamu tau nggak, kalau aku suka baper sama kata-katamu itu?"
"Emang kamu suka baper? Gimana wajah bapernya?"
"Iiihh... Al. Pasti kamu mau ngatain aku, kalau wajah aku dingin kayak kulkas eskrim di rumah kamu!!"
"Ih... Tau aja. Itu buktinya kalau kita emang sehati sayang."
Gue lagi-lagi tersenyum mendengar gombalan dari Althof. Yah meskipun hanya gombalan receh yang kata Jeli nggak laku buat di jual, tapi kan sensasinya beda dari gombalan cowok manapun. Menurut gue, Althof itu beda dari kebanyakan cowok.
"Ra? Kok diam?"
"Iya, lagi mikir aja. Emangnya kamu nggak tidur jam segini? Kok masih semangat nrima telpon dari aku?"
"Oh... Aku lagi di studio kampus, lagi buat market."
"Hah... Jam segini? Emang ada temennya?"
"Ada kok, banyak."
"Kamu udah makan?" Tanya gue. Dulu, gue selalu menambahkan kata sayang diakhir kalimat, tapi sekarang mau ngucapin itu rasanya berat, kayak ada yang ngawasin kalau gue nulis kata itu diakhir kalimat.
"Udah. Tadi temen aku pesan nasi pecel samping kampus. Sekalian aku nitip. Kamu udah makan? Pasti belom, ujung-ujungnya pasti buat mie instan lagi kan?"
Uuuhhh... Althof tau aja kalau gue belom makan. Dan kebiasaan gue yang selalu buat mie saat malam hari.
"Tuh udah ketahuan gara-gara diamnya lama. Kamu jangan kebanyakan makan mie, nanti kalau sakit gimana?"
"Ih... Mulai ceramah deh. Siapa juga yang mau buat mie? Aku mau tidur ngantuk. "
"Ya udah. Met tidur mahkotaku!!"
"Met tidur juga rajaku!!"
Bersambung...