SHE

SHE
12| Si Merah



Yogyakarta.


Adalah kota budaya sekaligus kota pendidikan. Beda dengan Jakarta, disini orang-orang berbondong-bondong datang kemari untuk belajar, berusaha memahami dan melestarikan budayanya agar tetap terjaga.


Itu semua salah satu motivasi gue untuk belajar disini. Karena gue cinta budaya. Secinta apapun gue dengan namanya sains, robotik, penemuan, dan lain sebagainya. Dalam hati gue hanya ada budaya yang terpatri lekat tanpa tergoyahkan. Entahlah, kadang gue juga bingung, kenapa otak dan hati gue nggak pernah sejalan?


"Tiara?"


"Tiara?"


"Eh iya pak, ada apa?" tanya gue pada pak Reon, setelah mendengar panggilannya. Kayaknya dari tadi gue ngelamun sambil lihat jalanan deh.


"HP kamu itu bunyi!!" ucapnya lagi.


Gue pun baru tersadar kalau dari tadi HP yang ada di tas gue berbunyi.


JELITA is calling...


"Hallo? Kenapa Jel?" tanya gue dengan mimik heran. Jarang-jarang aja dia nelphon, biasanya juga cuma WhatsApp.


"LO YANG KENAPA TIA???"


Eh buset!!! Anak ini edan kali ya???


"Nggak usah teriak-teriak kali, gue juga denger!!" ucap gue sarkastik, mulai terpancing emosi.


"Lo kemana aja semalem nggak pulang? WA nggak di bales? Lo tau nggak, gue udah kayak biniknya bang Thoyib yang nungguin suaminya nggak pulang-pulang!!"


Aduh, ******!! Gue lupa bilang ke dia lagi.


"Gue nginep dirumah temen semalem, soalnya hujannya deras. Sorry nggak bilang ke Lo!!" ucap gue akhirnya.


"Ok deh. Tapi Lo nggak apa-apa kan?"


Aduh temen gue sweet banget, perhatian sama gue. Bikin terharu.


"Iya, gue nggak apa-apa kok. Habis ini juga gue udah sampai kampus."


"Ya udah. Gue tunggu di gerbang belakang ya?"


"Siap!!!" ucap gue sebelum panggilan diakhiri oleh Jeli.


Gue melirik ke pak Reon yang masih stay cool dengan penampilannya saat menjadi sopir sementara gue. Yah, atas bujuk rayu mbak Eva so pasti.


"Pak, nanti dari gerbang belakang aja!!" Ucap gue.


"Nggak bisa. Saya ada urusan sebentar di gedung rektorat. Kita lewat depan aja." Ucapnya.


Yaudah deh. Gue hanya bisa menghela nafas tipis, mendengar penolakan pak Reon. Oke, apasih yang gue harapin dari dosen gue satu ini. Numpang kekampus sama dia aja udah Alhamdulillah, apa lagi yang gue inginin.


Mobil pak Reon akhirnya benar-benar merapat diparkiran depan gedung rektorat. Gue buru-buru turun tanpa melihat pak Reon lagi, hati gue masih dongkol dengan penolakannya . Untung, Lo dosen gue.


"Tiara, kamu nggak mau gitu ngucapin sesuatu ke saya?" tanyanya. Kening gue berkerut, ngucapin apa maksud dia? Salam perpisahan gitu, besok juga masih ketemu.


"Ngucapin apa pak?" tanya gue.


Pak Reon terlihat berfikir sebentar, lalu menghadap ke gue. Dia menghela nafas kasar, tatapannya menyiratkan arti kekecewaan.


"Ucapan terima kasih lah!! Kamu kira saya tukang driver online?"


Aduh, ternyata dosen gue minta ucapan terima kasih? Gue kira apa?


"Hehehe... Maaf pak lupa, saya kebiasaan ngasih duit ke driver pak. Bukan ngasih ucapan terima kasih. Kalau begitu..."


Gue menjeda ucapan gue, menarik nafas perlahan lalu membungkukkan punggung gue 45° menghadap pak Reon.


"TERIMA KASIH ATAS KEBAIKAN BAPAK YANG TELAH MEMBERIKAN TUMPANGAN BAGI ANAK RANTAU YANG KRISIS BIAYA INI PAK. SEMOGA BAPAK DIBERIKAN PANJANG UMUR DAN SEHAT SELALU. SAYA PAMIT PAK! SEKALI LAGI TERIMA KASIH BANYAK." Teriak gue, sebelum lari menjauh dari mobil pak Reon.


Huft, bahagia gue pagi ini setelah ngerjain pak Reon. Kesempatan langka yang jarang banget merapat di kehidupan gue.


©©©


Gue berjalan dengan menghentakkan kaki dengan keras, sambil menyumpah serampah para mata-mata ****** yang dari tadi ngikutin kemana pun gue pergi.


BRAK


Gue memukul meja jualan Mpok Ning dengan keras. Jika bisa di realisasikan, disekitar tubuh gue udah muncul api yang menjilat-jilat.


"Aduh neng. Hancur nanti meja jualan saya!!" ucap Mpok Ning dengan suara centilnya.


"Tau Mpok?? Kesambet kali!!" Ucap Jeli disamping gue sambil makan batagor.


"Batagor Mpok seporsi!" ucap gue pada Mpok Ning yang udah melayani pembeli lainnya.


"Ngapain Lo?" Tanya gue pada Jeli. Mood friendly gue udah hilang sejak tadi.


"Makan." jawabnya. Dasar nih anak, otaknya pendek banget!!!


"Au ah. Seret gue" ucap gue akhirnya berusaha menetralisir rasa dongkol gue.


Jeli mengangsurkan minumannya ke gue. Menatap gue sebentar lalu kembali menghabiskan batagornya.


"Gue males makan dikantin fakultas, menunya itu-itu aja. Kali-kali sarapan batagor" ucap Jeli berusaha menjelaskan ke gue alasan dia nggak sarapan di kantin fakultas, dan lebih memilih jajan batagor di warung Mpok Ning.


"Nggak masak?" Tanya gue.


"Emangnya gue pernah masak pagi?" ucap Jeli balik bertanya ke gue.


'Nggak juga sih' ucap gue dalam hati, sambil menggelengkan kepala gue.


"Lo nginep dimana semalem?" tanyanya.


"Pak Reon"


Gue masih diem sampai Mpok Ning mengantarkan semangkok batagor ke meja gue.


"Batagor cinta untuk yang lagi kasmaran." ucap Mpok Ning. Yaelah Mpok!! Kasmaran dari mananya???


"Jawab pertanyaan gue, Ra!" paksa Jeli.


"Gue ketiduran dirumahnya pak Reon. Jadi deh gue nginep disana" ucap gue sambil menyuapkan sesendok batagor


"Kok bisa? Berdua gitu?" tanya Jeli lagi sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Halu Lo kejauhan. Nggak mungkin lah gue berdua sama pak Reon, bisa langsung dikawinin gue sama ketua RT"


"Yaelah kali aja, ada setan ganggu." Ucapnya lagi.


Ah, nih anak emang pikirannya dikit slebor. Kemarin aja pas gue ke kantor redaksi kampus berdua sama bang Maman, dia bisa berfikir kalau gue udah jadian sama abangnya.


"Cabut yuk Ra!" Ajaknya, sambil membersihkan sisa-sisa makanan disekelilingnya.


"Nanti, gue baru makan!!"


"Nanti temenin gue ke perpustakaan ya!!" pintanya.


"Emang mau apa?" tanya gue.


"Belajarlah. Cari referensi buat makalah" jawabnya.


Selanjutnya gue masih sibuk menghabiskan batagor gue, sedangkan Jeli sibuk dengan HP nya. Kebiasaan anak muda zaman sekarang, kalau mandengin HP pasti mereka bisa senyum-senyum sendiri, greget-greget sendiri, sampai nangis-nangis tanpa alasan.


"Ra, apa pendapat Lo tentang dunia hijab?" tanyanya, membuat gue tersedak dan batuk-batuk.


"Lo bilang apa barusan?" tanya gue memastikan pendengaran gue nggak bermasalah.


"Apa pendapat Lo tentang dunia hijab?" tanyanya lagi.


"Emang kenapa?" tanya gue.


"Ya udahlah, jawab aja!" ucap Jeli sensi karena gue nggak jawab-jawab pertanyaannya.


"I am comfortable with the world of hijab and that is my need. Gue nggak pernah memandang hijab sebagai sebuah kewajiban, meskipun dijelaskan dalam Islam seorang muslimah harus menutup aurotnya." Jawab gue membuat Jeli manggut-manggut.


Jeli emang seorang muslim tapi dia tak berhijab, dia bilang kenapa harus berhijab? Kalau hanya sekedar untuk menjaga diri, gue bisa pencak silat untuk menjaga diri gue.


"So apa yang Lo dapat dari berhijab?" tanyanya lagi.


"Apa ya... Maybe the hijab makes me calm."


"Tenang gimana maksud Lo?" tanya Jeli heran.


"Yah, karena gue nggak usah bayar mahal-mahal untuk perawatan rambut." jawab gue sambil tertawa.


"Ah Lo mah nggak bisa diajak beneran!!!" ucap Jeli jengkel.


"Enjoy lah Jel. Menurut gue hijab itu melindungi diri gue dari perbuatan-perbuatan yang menimbulkan dosa transparan."


"Maksud Lo? Emang ada dosa transparan?" tanyanya.


"Ada lah. Contohnya ya Lo ngelihat orang sampai Lo terkagum-kagum, sampai Lo lupa kalau sebenarnya mereka juga makhluk ciptaan Tuhan. Itu namanya dosa transparan, Lo nggak ngerasa, orang nggak tau, tapi hati Lo melakukannya. Oleh karena itu, dengan kita memakai hijab, kita akan membantu saudara kita agar tidak melakukan dosa transparan itu." jelas gue.


Jeli terlihat berfikir dan menimbang-nimbang ucapan gue.


"Emang kenapa? Kan yang dosa yang lihat bukan yang dilihat?" tanyanya lagi.


Aduh, susah deh kalau njelasin sama orang yang kebanyakan pendapat dan pertanyaan.


"Lo tau kan semua struktur alam didunia ini punya pola, mereka saling berhubungan. Kita belajar kimia untuk mengenal itu. Tuhan menciptakan itu semua, memberikan gambaran yang lebih kecil agar manusia bisa melihat, bahwa mereka itu hidup seperti atom-atom kecil yang berkumpul membentuk suatu benda. Karena Tuhan tau, manusia nggak akan bisa melihat dunia yang seluas ini, jarak pandang kita terbatas Jel. Setiap langkah yang Lo ambil dalam kehidupan Lo, bukan aja mempengaruhi kehidupan Lo, tapi juga berimbas pada lainnya. Satu aja atom yang rusak, mereka akan berimbas pada atom lainnya. Itu semua sama dengan kehidupan kita." ucap gue panjang dan lebar sampai berbusa-busa.


Jeli terlihat berfikir lagi.


"Ah elah Lo. Ucapan Lo sama aja kayak Ketua Rohis, berbelit-belit. Bingung gue!!" ucapnya sambil memegang kepalanya.


Terserah Lo deh Jel, Lo mah emang butuh hidayah. Ucap gue dalam hati.


"Ayo deh cabut!" ajak gue, sambil berdiri dan membayar batagor ke mpok Ning.


"Kemana?" tanyanya.


"Ngampus lah." ucap gue tanpa melihat wajah Jeli.


"Tia!!" panggilnya.


"Tia!!"


Gue menoleh, dan melihat wajahnya yang pucat pasi.


"Apa?" tanya gue.


"Lo... " Jeli menjeda ucapannya sambil menunjuk kebelakang gue.


"Kenapa?" Tany gue sambil menoleh kebelakang, kearah yang ditunjuk Jeli.


"Lo... pendarahan???"


WHAT??? Pikiran gue blank. Satu-satunya yang gue pikirkan adalah rok bagian belakang gue.


OH NO. BERCAK MERAH!!!


'*Jangan-jangan yang dilihatin sama anak-anak tadi bercak merah di rok belakang gue???'


Bersambung*...