
Butuh beberapa menit untuk menyadarkan diri bahwa saat ini gue berada di rumah pak Reon, bukan di kos-kosan tercinta gue.
Jarum jam masih menunjukkan pukul 01.00 dini hari ketika tangisan Anggi memecah keheningan malam. Tangan gue menggapai-gapai bantal untuk menutup telinga dan kepala gue.
Please gue butuh istirahat!!
"Ooeeee.. "
Hampir setengah jam Anggi menangis tanpa henti.
"Kemana aja sih pak Reon?? Anak nangis nggak di diemin. Jangan-jangan di tinggal molor lagi!!"
Dengan langkah berat, gue akhirnya mengetuk kamar pak Reon.
"Pak?"
Terdengar suara kunci diputar dari dalam. Pak Reon terlihat di ambang pintu sambil menggendong Anggi yang masih menangis.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Nggak bisa tidur"
"Terus? Kamu mau tidur sama saya??"
Lah!!! Apa-apaan dia, seenak jidat ngomong kayak gitu. Gue nggk bisa tidur juga gara-gara anak Lo!!!
"Ih... Siapa yang mau tidur sama bapak??? Itu si Anggi kenapa? Ganggu tetangga tau nggak??!"
"Rumah saya kedap suara kok"
Iiihh... Kok lama-lama gue kesel ya!!
"Emang yang namanya tetangga itu harus beda rumah? Satu rumah juga ada, namanya tetangga kamar!!" Ucap gue sewot.
"Oooh... Kamu terganggu?" Ucap pak Reon santai.
"Iya om, baru sadar??!"
"Saya kira tidur kamu kayak kebo, jadi saya tidak merasa kamu terganggu."
Hah. Demi apa!! Orang kayak gini minta di rendem sama air cucian!!!
"Udah deh pak. Itu si Anggi kenapa? Kok nangisnya keras banget?" Tanyaku sambil memperhatikan bayi mungil itu.
"Nggak tau. Saya nggak pernah ngerawat bayi."
"Haus mungkin. Coba di kasih susu!"
"Udah saya buatin susu. Tapi dia nggak mau" ucap pak Reon sambil menatap Anggi.
Melihat pemandangan itu. Naluri rasa kasihan dari dalam diri gue muncul kembali. Wajah pak Reon kelihatan lelah dan sedikit frustasi.
"Coba saya lihat susunya?" Ucap gue.
Pak Reon masuk kedalam kamarnya dan mengambil botol susu di nakas.
"Ini" Dia menyerahkan botol susu yang masih penuh itu ke gue.
"Aduh... Panas banget!!"
Gue menjerit ketika botol itu menempel di telapak tangan gue. Dengan cepat, gue menaruh kembali botol itu ke nakas.
"Pak Reon yang terhormat. Indra peraba bapak nggak mati rasa kan? Susu ini panas banget pak!! Bener aja kalau Anggi nggak mau minum."
Pak Reon mengambil kembali botol susu tersebut.
"Menurut saya ini nggak panas kok"
Lah... Menurut situ nggak panas!! Emangnya situ yang mau minum susunya??? Sensi gue.
"Bapak buatin lagi deh! Saya disini, jaga Anggi." Ucap gue sambil mengambil Anggi dari gendongan pak Reon.
"Kamu aja! Saya nggak bisa buat susu" tolaknya.
"Nggak mau. Udah malem, saya malas turun." Ucap gue, menolak perintah pak Reon.
"Hemm... Ok . Saya turun. Kamu jaga Anggi baik-baik disini!!"
Akhirnya pak Reon mengalah dan turun kebawah untuk membuatkan susu Anggi.
Anggi masih tetap menangis ketika gue gendong. Kepalanya yang masih kecil mendusel-dusel di payudara kiri gue.
Hah. Jangan-jangan ini bayi mau susu gue??!
Untuk mencoba hipotesis awal gue. Gue memilih duduk di ranjang pak Reon dan membuka sebagian atas kancing baju tidur yang gue pakai. Lalu menyodorkan payudara gue yang nggak berisi ini ke mulutnya.
Satu detik
Dua detik
What??! Si Anggi diem.
Dia nggak nangis lagi dan menikmati menghisap payudara gue yang nggak ada asi-nya.
"Ya ampun. Anggi rindu sama maminya ya??" Ucap gue sambil menimang-nimang Anggi dalam dekapan gue.
Sumpah. Ini pertama kali buat gue. Gue kayak seorang ibu beneran!!
"Tiara? Apa yang kamu lakukan???"
Hah!!!
Pak Reon berdiri diseberang gue sambil membawa sebotol susu. Gue langsung membalikkan badan untuk memunggungi pak Reon.
Ya ampyuuun!! Gue malu bingits.
"Bapak ngapain sih langsung masuk aja? Nggak ngetok pintu atau salam dulu??!" Ucap gue sedikit teriak untuk menutupi kegugupan gue.
"Ini kan kamar saya. Ngapain saya ngetok pintu dulu, lagian dari tadi juga pintunya kebuka." Jawabnya.
"Anggi udah diem?"
Gue mengangguk tanpa suara. Duh, gue masih malu buat ngomong.
"Ini susunya. Biar payudara kamu bisa di lepas."
"Ih bapak ngomongnya vulgar banget!!"
Pak Reon bisa-bisanya ngomong dengan nada biasa seperti itu. Nggak sadar apa? Yang di ajak ngomong ini masih perawan ting-ting!!!
"Yah terus. Saya harus menyebutnya apa? Kan emang gitu kan namanya??"
"Iya. Tapi nggak usah disebut juga, kan bisa di samarin!!" Ucap gue kesal.
Terdengar helaan nafas pak Reon. Gue tau, dia pastinya kesel banget berbicara panjang lebar seperti itu ke gue. Apa daya dan upaya, kalau dia juga orangnya nggak peka-peka. Terpaksa dong, mulut gue harus lebih julid.
"Eh bapak mau ngapain?" Tanya gue.
Gue nggak sadra kalau pak Reon sudah berada di samping gue sambil membawa sebotol susu. Dia duduk tepat disamping gue.
Aduhh... Rasanya gue mau pingsan. Anjayyy!!!
"Saya nggak akan ngapa-ngapain. Ini botol susunya!"
Pak Reon menyerahkan botol susu itu ke gue.
"Bapak ngapain masih disini? Sana!"
"Hah... Saya nggak akan melihat kamu!! Saya mau lihat Anggi." Ucapnya dengan nada kesal.
Iyaaa!!! Lo mau lihat Anggi, tapi gue yang malu, bapak Reon yang terhormat!!!
Gue cepat-cepat mengganti ****** payudara gue dengan dot susu ke mulut Anggi. Dan se segera mungkin menutup aset gue dengan baju piyama gue.
"Oooeee..."
"Loh... Anggi kok nangis lagi??" Tanya pak Reon keheranan.
"Iya. Kok nangis lagi sih pak? Padahal susunya udah pas loh tadi" ucap gue juga keheranan.
Gue dan pak Reon terdiam sebentar, berfikir cara menenangkan Anggi.
"Mungkin..."
Perkataan pak Reon menggantung. Sepertinya pak Reon sedikit ragu dengan sesuatu yang akan dia ucapkan.
"Mungkin kenapa pak?" Tanya gue penasaran.
"Mungkin Anggi pengen punya kamu."
Hah!!
Gue melihat Anggi dan payudara gue bergantian. Mencoba untuk mencerna ucapan pak Reon.
"Anggi... Punya onti nggak ada susunya. Anggi minum ini aja lebih enak." Ucap gue. Mencoba untuk merayu bayi kecil yang pintar memilih ini.
Tapi, respon yang gue dapat dari Anggi malah sebaliknya. Dia menggeleng-nggelengkan kepalanya ketika gue sodori botol susu, dan tangannya menggapai-nggapai payudara gue.
Ya ampun, bocil!!!
"Udah. Kamu beri aja!"
Lah... Si bapaknya juga maksa gue!!
"Saya nggak akan ganggu kamu. Kamu disini aja, saya mau kerja." Katanya sambil melenggang pergi, meninggalkan gue dan Anggi berdua di kamarnya.
"Alhamdulillah sadar..." Ucap gue sambil bernafas lega.
Lagi-lagi gue mengeluarkan payudara gue dan memberikannya ke Anggi. Bayi itu langsung diam.
Gue menyenderkan punggung gue ke kepala ranjang pak Reon. Gue nggak berani tidur, takut jika payudara gue malah mengganggu Anggi. Baru semenit gue lehay-lehay.
Pak Reon masuk kekamar sambil membawa segelas kopi dan tas laptop. Refleks, gue menutupi payudara gue dengan tangan kanan gue.
"Bapak mau ngapain disini? Katanya mau kerja?"
"Iya. Saya mau kerja disini. Nih, saya udah bawa laptop." Katanya sambil duduk bersandar di samping gue.
"Kalau gitu, saya yang keluar aja deh pak. Saya tidur di kamar saya aja." Ucap gue sambil bangkit berdiri.
Pak Reon hanya diam ketika melihat gue berjalan ke arah pintu.
Tiit
Gue menggapai handle pintu dan berusaha membukanya, tapi nggak bisa kebuka. Gue berusaha lagi, tapi tetap nggak bisa.
Jangan-jangan di kunci!!
Gue melihat pak Reon yang terlihat santai menatap layar laptopnya.
"Bapak, kunci pintu kamarnya ya???"
Pak Reon menatap gue.
"Nggak. Saya nggak kunci. Emang gitu pintunya, suka error."
Error apaan??? Emang dia sengaja kunci kok. Tadi juga gue denger!!!
"Bapak nggak usah bohong deh. Tadi saya denger kok!! Buka pak! Saya mau tidur, ngantuk."
"Tidur disini aja! Di samping saya."
Iiiihhh... Sumpah!! Gue geregeten!!!
"Pak Reon!!!"
Bersambung...