SHE

SHE
6| Pak Brotho, Please!



Satu kata dari sejuta nama di dunia ini yang bisa menciptakan berbagai ekspresi aneh di wajah orang-orang, satu kata itu adalah berita. Disadari atau tidak, hidup kita itu penuh dengan berita, bukan derita ya. Berita itu seperti warna di hidup kita, dia membuat kita mengekspresikan apa yang sudah Tuhan ciptakan untuk kita. Bayangkan saja kalau orang nggak pernah dapat berita, maka hidupnya akan monoton. Dia nggak akan pernah bahagia, karena nggak pernah dapet berita suka. Dan dia nggak akan pernah sedih, karena nggak pernah dapet berita duka.


Gue juga baru dapet berita yang membuat gue khawatir dan resah. Kalian pasti tau kan mimik apa yang akan muncul di muka gue sekarang? Yang pasti sekarang gue keringetan nggak jelas. Btw, berita itu datang dari dosen gue yang tercinta, bukan dari pak Reon ya. Ini datang dari pak Brotho, dosen PA gue. Jadi kalian sekarang tau kan, kenapa gue deg-degan nggak jelas?


Gue sekarang udah duduk didepan pak Brotho yang masih setia makan siomay yang gue beliin di kantin fakultas sebelum keruangannya.


"Aem... Ini uenak banget. Kamu masih inget aja porsi siomay kesukaan saya. Padahal udah lama loh saya nggak nyuruh kamu beli siomay kayak sekarang. Kamu mau? Kalau kamu mau nih uang, kamu beli lagi nanti saya nitip." Ucap pak Brotho yang langsung gue jawab dengan gelengan. Mana mau gue disuruh turun lagi kekantin fakultas, alasannya aja nawarin pada akhirnya juga cuma modus.


"Oke... Oke... Ya udah kalau kamu nggak mau. Langsung intinya saja kenapa saya manggil kamu ke ruangan saya, sedangkan nilai kamu juga masih aman di semester lalu dan minggu-minggu ini. Kamu tau?" Tanya pak Brotho. Yaelah pak, kalau saya tau mah saya nggak akan bela-belain nemuin bapak kesini, batin gue dalam hati. Tapi demi menjaga kesantunan gue sebagai mahasiswa, gue menggeleng pelan.


"Ya sudah kalau kamu nggak tau, tak kasih tau. Ini surat dari atasan yang menyatakan kalau saya bukan lagi dosen PA kamu." Ucap pak Brotho bagaikan petir ditelinga gue. WHAT??? Pak Brotho bukan lagi dosen PA gue? Nah terus siapa dong?


"Kalau bukan bapak, terus dosen PA saya siapa pak?" Tanya gue dengan mimik haru-biru. Pasalnya pak Brotho itu dosen paling baik yang pernah gue kenal di kampus ini, gue juga udah nyaman di bimbing sama pak Brotho. Nah kenapa sekarang bisa di pindah se enak jidat gini.


"Menurut surat ini, dosen PA kamu sekarang adalah pak Reon." Petir dan gemuruh bersama hujan menyambar telinga, kepala, dan mata gue. Tanpa sadar gue berdiri lalu bersujud memegang kaki pak Brotho.


"Ya Allah pak, tolong jangan pindahin saya pak! Saya udah nyaman dan seneng banget sama bapak, saya nggak mau di bimbing sama pak Reon pak. Tolong saya pak!" Ucap gue tanpa sadar sambil nangis memohon dilutut pak Brotho.


Kalian tau ekspresi pak Brotho kayak gimana? Dia syok gais ngelihat kelakuan gue yang nggak punya urat malu ini. Tapi seharu-harunya gue mohon sama pak Brotho, beliau udah nggak bisa ngerubah keputusan dari atasan. Kecuali gue yang minta dan itu pun dengan sejuta pertanyaan yang harus dijawab secara logis.


"Di coba dulu aja!" Ucap pak Brotho setelah menenangkan gue yang masih sedih atas berpindahnya hak kebimbingan gue. Akhirnya dengan masih bersedih gue memutuskan untuk menerima berita ini dengan lapang dada dan keluar dari ruangannya pak Brotho untuk menemui om gue selanjutnya.


PAK REON.


©©©


Ruangan pak Reon masih sama saja dengan hawa keangkerannya, itu penilaian menurut gue sangat jauh berbeda sama penilaian anak arsitektur. Kalau anak arsitektur menilai bahwa ruangannya pak Reon itu maskulin, punya nilai seni tinggi dan berjiwa muda. Ya lah, tapi ini nggak membahas tentang seni apalagi ekonomi. Ini membahas hawa yang diciptakan oleh si empunya ruangan yang tanpa ekspresi.


"Ngapain kamu kesini? Saya nggak manggil kamu" ucap pak Reon yang langsung jleb di hati gue. Ngomongnya itu loh, sinis banget.


"Saya mau tanya pak, apakah benar bapak dosen pembimbing saya sekarang menggantikan pak Brotho?" Tanya gue dengan sangat hati-hati. Cukup sudah, gue nggak mau dijawabi sinis lagi oleh dia.


"Menurut surat ini seperti itu." Jawabnya yang berarti emang bener dia dosen PA gue selanjutnya.


"Apakah ada masalah dengan nilai saya pak?" Tanya gue lagi, meskipun gue udah tau kalau nilai gue nggak bermasalah untuk saat ini.


"Nilai kamu cukup bagus dan saya yakin kamu bisa mempertahankannya, asalkan kamu tidak sibuk pacaran dengan Aga." Jawab pak Reon yang membuat gue mengeluh tertahan. Baru aja gue mau girang karena pujiannya yang jarang banget terdengar di telinga gue, tapi sedetik kemudian dia udah memfitnah gue yang nggak-nggak. Kayaknya pak Reon sudah salah faham atas hubungan gue sama Aga. Tapi mau bagaimana lagi, pak Reon itu tipe-tipe orang yang tidak menerima penjelasan yang menurutnya nggak penting.


"Mumpung kamu disini tolong bantu saya koreksi kuis milik adek angkatan kamu!" Suruhnya sambil menyodorkan setumpuk kertas ke arah gue. Gue lagi-lagi mengeluh tertahan, niat awal gue yang mau refreshing otak di kantin fakultas setelah dari ruangannya pak Reon malah sekarang tertahan disini.


Baru semenit gue duduk di sofa sambil membuka lembar pertama, telephon yang ada di tas gue berbunyi. Dengan gerak cepat gue mengambil handphone dan melihat siapa yang nelphon gue di saat jam-jam segini.


Mimi gue nelphon? Tanpa basa-basi gue langsung minta izin pak Reon untuk mengangkat telphone di luar ruangannya. Yah malu lah gue kalau sampai-sampai pak Reon nguping pembicaraan gue sama Mimi.


"Hallo Mi?"


"Assalamu'alaikum" ucap Mimi di seberang telephone.


"Wa'alakummussalam warohmatullah, Mimi"


"Gimana kabar kamu di Jogja?" Tanya Mimi.


"Ara baik kok Mi. Mimi juga gimana kabarnya dirumah?"


"Alhamdulillah, semua keluarga disini baik-baik saja. Kamu kapan pulang, ndok?" Tanya Mimi


"Ya Allah Mi, Ara loh baru disini sekitar tiga bulan masak iya udah di tanyain kapan pulang?" Jawabku sedikit sewot.


"Maksud Mimi itu kamu pulang nggak liburan semester depan?"


"Pulang. Ara pasti pulang kok Mi, malahan temen-temen Ara ada yang mau nginep disana." Ucap gue sekedar memberikan informasi.


"Yo wes kalau gitu. Jangan lupa sholatnya di jaga, wiridnya juga, belajar, jangan kluyuran kemana-mana, makan makanan yang bergizi jangan yang siap saji setiap hari, dan jangan lupa berbagi sama teman-temannya."


"Nggeh Mi, pasti Ara inget kok. Udah dulu ya? Ara di panggil pak dosen Mi."


"Ya udah, assalamu'alaikum." Salam Mimi mengakhiri pembicaraan.


"Wa'alakummussalam warohmatullah." Ucap gue menjawab salam Mimi.


Gue menghela nafas, selalu gini rasanya kalau habis telphonan sama Mimi. Campur aduk antara lega dan sedih. Rasanya pengen nangis, pengen pulang dan tidur di pangkuan Mimi.


Masih dalam keadaan campur aduk, pintu disamping gue terbuka dan menampilkan sosok pak Reon yang rapi dengan jas keagungannya.


"Saya ada urusan. Nanti jam 1 gantikan saya mengawasi adek-adek kamu presentasi, dan tugas yang tadi kamu koreksi. Saya nggak mau tau pokoknya nanti malam udah ada dirumah saya." Ucap pak Reon.


WHAT??? Kata-kata tegas macam apa ini? Ini namanya pemaksaan yang tidak berperi kemahasiswaan!!!


Bersambung...