SHE

SHE
7| Tuan Muda



Menunggu adalah salah satu hal yang sangat gue nggak sukai, cukup kehidupan gue yang penuh dengan penungguan, menunggu dilahirkan dari rahim Mimi, menunggu qobul dari calon suami, dan menunggu lain-lainnya. Dan saat ini, gue harus menunggu satu temen gue yang udah lebih dari dua jam gue tunggu tapi dia nggak datang-datang.


"Aga kemana sih Jel? Coba Lo telephone!" Suruh gue pada Jeli. Dengan sigap Jeli langsung menekan kontak Aga dan menelphonnya.


"Nggak di angkat, coba Lo yang telephone!" Ucap Jeli menyerah setelah berkali-kali mencoba menelphon Aga. Dengan terpaksa akhirnya gue menelphone Aga, meskipun baterai gue yang tinggal 10%. Telephon gue di angkat setelah 3 kali panggilan.


"Ga, Lo kemana aja sih? Lo nggak lupa kan kita ada janji ngerjain laporan!" Semprot gue langsung setelah dia mengangkat telephon gue.


"Sorry Ra, gue nggak bisa!" Ucap Aga sedikit serak dan langsung memutuskannya


"Ga... Aga!" Panggil gue yang masih mengira telphonnya nyambung.


"Kenapa? diputusin?" Tanya Jeli membuat muka gue kebas dengan kata diputusin.


"Iya diputusin, diputusin pacar." Kata gue sangsi.


"Gue beneran Ra! Si Aga diputusin Monik?" Tanyanya masih dengan ekspresi syok dicampur dengan bertanya-tanya.


"Gue nggak tau Jel, tapi... Tadi suara si Aga terdengar serak habis nangis gitu. Apa kita ke rumahnya aja ya Jel?" Tanya gue menimang-nimang ide yang tercetus di mulut gue.


Jeli mengangguk setuju, dia langsung membereskan laptop dan kertas yang berserakan di atas meja. Lalu memanggil pelayan dan membayar. Kalian pasti bertanya-tanya kenapa gue dan Jeli seneng banget kalau main ke rumah Aga? Jawabannya karena rumah Aga itu fasilitasnya full, disana gue bisa makan gratis, mandi gratis, nyuci gratis, dan renang gratis tapi gue nggak pernah renang, dan yang paling penting orang tua Aga itu jarang dirumah, so kita nggak sungkan untuk kemana-mana.


Nggak sampai setengah jam gue sama Jeli udah sampai didepan rumah Aga. Lo tau pertama kali gue kesini ekspresi gue kayak gimana? Cengo gais, gue kira gue ada di alam mimpi. Dari depan aja rumah Aga udah kelihatan kayak Istana Merdeka, dalamnya lebih dari itu.


Pak satpam yang melihat kedatangan kami langsung membukakan gerbang dan mempersilahkan gue dan Jeli masuk.


"Abang Justine, Jeli bawa sesuatu Lo buat Abang!" Goda Jeli pada bang satpam, yang sering kita panggil Abang Justine meskipun nama aslinya adalah Sujono.


"Bawa apa neng?" Ucap bang Justine. Lah... Si Abang juga kebaperen sama tingkah laku Jeli. Geli deh lihat mereka berdua.


"Cinta bang" Aduduh... Si Jeli malah nggombal, dan lebih parahnya pipi bang Justine malah bersemu merah. Ya Allah drama apa lagi ini???


"Alah... Si eneng bisa aja." Ucap bang Justine malu-malu. Sumpah, gue pengen muntah di tempat!!!


"Udah ah. Nih bang martabak manis untuk Abang, dimakan ya bang!" Ucap gue akhirnya sambil menyerahkan sebungkus martabak manis pada bang Justine, lalu menggeret Jeli untuk masuk kedalam.


Diruang tamu gue dan Jeli disambut oleh mbok Yem selaku asisten rumah tangga keluarga Aga.


"Silahkan neng masuk! Mau saya buatkan apa neng?" Tanya mbok Yem sopan. Sungguh gue sebenarnya merasa kikuk diperlakukan kayak gini, tapi gue mau gimana lagi?


"Teh tarik dua singgik!" Jawab kami kompak pakek bahasa Malaysia. Mbok Yem mengangguk dan tersenyum.


"Aden Aga dimana mbok?" Tanya gue yang sibuk celingak-celinguk melihat ke segala penjuru rumah.


"Aden ngurung diri di basecamp-nya neng." Ucap mbok Yem dengan raut muka sendu. Gue ngelihatnya aja udah berfikir pasti si Aga sedang ada masalah batin sekarang ini. Jadi gue sama Jeli memutuskan untuk menemui si Aga di basecamp tercintanya itu, bahkan siapapun nggak boleh masuk kesana kecuali gue sama Jeli.


Ngomong-ngomong tentang basecamp-nya si Aga. Biasanya kalau basecamp itu kebanyakan di tempat yang tersembunyi alias nggak kelihatan orang. Nah... Kalau basecamp-nya si Aga itu beda, ruangan khusus basecamp di desain sendiri oleh Aga dan letaknya ini akan membuat seseorang tercengang yaitu di lantai paling atas rumahnya si Aga. Gue nggak bisa mendeskripsikan deh kayak gimana, kira-kira aja kayak gini...



Sepuluh menit berlalu dan ruangan ini udah kembali ke asalnya yang rapi, bukan seperti kapal pecah lagi. Gue dan Jeli duduk-duduk di sofa sambil nonton drama Korea.


"Kok kalian berdua ada disini?" Ucap Aga serak. Refleks, gue dan Jeli menoleh kebelakang kearah sumber suara. Disitu Aga sedang berdiri dengan jubah mandinya yang sedikit terbuka. WHAT???


"AGAAA... LO MENCEMARI MATA GUE!!! PAKEK BAJU LO SEKARANG!!!" Teriak Jeli pas di telinga gue. ***** lah nih anak! Mana tangan gue, gue buat nutup mata lagi.


"Allay Lo! Kayak nggak pernah lihat yang kayak gini." Ucapnya santai dan berlalu duduk di sofa sebelah.


"Aga... Pakek baju Lo! Nggak kedinginan apa?" Suruh gue yang nggak tahan dengan kelakuan Aga. Akhirnya dia berlalu ke kamarnya dan mengambil baju santai. Gue dan Jeli tertawa cekikikan, yaelah aslinya gue dan Jeli sih biasa aja sama kelakuan Aga, cuma kasihan aja nanti dia kedinginan, apalagi tuh jubah mandinya kan basah.


"Puas Lo?" Katanya sambil duduk lagi dilantai karpet antara gue dan Jeli.


"Wah... Udah ngganteng nih anak bunda" ucap Jeli sok keibu-ibuan.


"Ngapain sih lihat drama kayak ginian? Ganti!" Suruhnya ke Jeli untuk mengganti channel tv. Tapi si Jeli malah menyembunyikan remote controlnya dan membuat si Aga mencak-mencak nggak jelas.


"Ga, Lo habis nangis ya?" Tanya gue tiba-tiba, membuat kedua orang di hadapan gue melongo. Aga diam sebentar seperti sedang berfikir, sedangkan Jeli mengkode gue untuk berhenti bertanya tentang itu.


"Kalian mau apa kesini?" Tanya Aga dingin.


"Yaelah ini semua gara-gara Lo tau nggak sih. Kalau Lo dateng tadi di cafe, kita udah selesai ngerjain laporannya, PINTERR!" Ucap Jeli sambil menoyor kepala Aga. Aga berdecak sebal dengan kelakuan Jeli.


"Nggak usah mood booster gitu dong Ga. Nih... Gue bawain terang bulan dan martabak  telor mang Pew khusus untuk Lo!" Ucap gue sambil mengeluarkan terang bulan dan martabak telur didepan Aga, tak lupa gue dan Jeli mengibas-ngibaskannya didepan Aga biar dia ngiler. Wkwkwk...


Akhirnya setelah gue dan Jeli acting makan super lebay didepan Aga, kecintaannya pada terang bulan dan martabak telor mang Pew membuat hatinya luluh. Gue, Jeli, dan Aga pun kemudian mengerjakan laporan kami sambil makan terang bulan dan martabak telornya mang Pew ditemani dengan segelas teh tarik dua singgik ala mbok Yem.


©©©


Gue tertidur dikarpet ruang santai Aga, sedangkan Jeli tertidur nyenyak di sofa. Tapi gue nggak melihat Aga sama sekali, sampai gue mendengar suara isak tangis dari kamar Aga. Gue berani-beraniin untuk membuka kamar Aga yang terbuka sedikit, dan pemandangan yang gue lihat disana adalah foto wajah Monik yang terpampang besar seukuran setengah kamar ini. WOW... Gue baru tau kalau Aga cinta mati banget sama Monik.


Aga duduk dibalkon kamarnya sambil membekap mulutnya pakek tangan, mungkin dia takut nanti akan membangunkan teman-temannya.


Tanpa permisi gue langsung duduk disebelah Aga sambil menatap langit yang terlihat indah diatas sana. Aga kaget dan langsung mengusap matanya.


"Ngapain Lo disini?" Katanya.


"Gue penasaran sama suara isakan seseorang, terus gue lihat Lo duduk disini. Jadinya gue pengen tau apa sih yang Lo lihat?" Jawab gue, tanpa mengalihkan perhatian gue ke bintang-bintang yang ada dilangit.


Aga terdiam, ikut melihat kearah yang gue lihat. Kemudian kata-kata itu meluncur dari mulut Aga, kata-kata yang udah gue duga dari pertama kali gue lihat Monik murung di kos-kosan.


"Gue... Putus dari Monik, Ra!!"


Bersambung...