
"Bapak beneran ngajakin saya pulang ke Pasuruan?" tanya gue pada pak Reon.
Pak Reon menatap gue dengan mata elangnya yang baru gue sadari akhir-akhir ini.
"Kenapa? Kamu nggak mau?" tanyanya.
Gue terdiam, mau jawab apa coba???
"Eee... bukannya nggak mau pak, tapi saya masih rindu Mimi." ucap gue mencari alasan, agar gue nggak usah ikut dia pulang ke Pasuruan sebelum balik ke Jogja.
"Saya sudah minta izin Umi sama Abi kemarin"
WHAT? Demi apa???
"Terus di bolehin???" tanya gue lagi. Berani sekali Anda pak,,,
Pak Reon mengangguk tanpa melihat gue, dia masih sibuk memasukkan bajunya yang akan dibawa pulang ke Pasuruan. Gue menghela nafas tipis, hancur sudah usaha gue untuk menolak ajakannya. Jujur, gue belum siap untuk bersosialisasi dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Meskipun, lingkungannya sama aja kayak rumah gue.
"Ngapain bengong?? Cepetan! Nanti malam saya ada isi pengajin!!" perintah pak Reon.
Gue mencibir, kembali memasukkan baju gue yang akan gue bawa balik ke Jogja sekalian. Kemudian gue meninggalkan pak Reon yang sedang berbicara dengan seseorang di seberang telephon setelah gue selesai merapikan baju dan barang bawaan gue.
Suasana pondok terlihat sepi, tak ada lagi aktifitas mengaji, mengantri makan yang seperti kereta api, dan celotehan para santri. Hanya beberapa santri saja yang masih setia dan enggan untuk meninggalkan pondok pesantren. Seperti Lastri, sahabat karib gue sejak duduk di bangku MTs.
Gue dan Lastri bukan santri Abi zaman remaja dulu. Gue mondok di Lamongan bersama dengan Lastri, besar bersama dan sama-sama merasakan hembusan angin laut, bukan angin gunung seperti di Malang. Yah, karena itu apa. Lastri bersikap biasa aja sama gue, karena dia tau seluk beluk kehidupan gue tanpa embel-embel neng. Baru setelah lulus MA, Lastri diterima kuliah di Malang, dan dia mencari pondok pesantren yang juga menampung mahasiswa. Akhirnya gue saranin untuk mondok di pondok Abi.
"ASSALAMUALAIKUM, LASTRI!!!" Teriak gue, memanggil namanya didepan kamarnya.
Lastri tergopoh-gopoh keluar kamar, dengan sarung yang Ia kerudungkan di kepalanya.
"Ono opo???" tanyanya panik.
Gue menggeleng sambil tersenyum penuh kemenangan, berhasil mengerjainya. Lastri mencibir lalu kembali ke dalam.
Gue duduk diteras kamarnya, menikmati semilir angin pagi beranjak siang.
"Mbok Yo ojo bar-bar tho neng!!" ucapnya melarang gue untuk bersikap bar-bar.
Emang Lo nggak bar-bar kayak gue???
"Ono opo?" tanyanya lagi, menyadari raut muka gue yang berubah masam.
"Gue mau balik hari ini Las" jawab gue.
"ke Jogja?"
"Nggak. Ke Pasuruan, ikut pak Reon." jawab gue lagi.
"Yo wes, ndak papa. Aku juga mau pulang ke Lamongan lusa, ada acara keluarga. Masku mau kawin." ucap Lastri sambil menepuk punggung gue pelan.
"Mas Labib mau nikah?" tanyaku kaget.
Lastri mengangguk, lalu mengangkat kedua jempolnya. Tandanya, istri mas Labib sesuai dengan kriteria yang di inginkan keluarganya Lastri. Gue ikut tersenyum, bahagia.
Ngomong-ngomong tentang mas Labib. Dia pemuda pertama yang nembak gue, bukan karena status gue yang neng. Tapi murni karena kekagumannya pada gue. Uluh,,, tapi sayangnya gue tolak, karena Lastri nyuruh gue untuk nolak. Dia bilang, "nggak mau aku punya mbak ipar kayak kamu".
"Bakal punya ponakan dong kamu??" tanya gue.
"Aku udah punya ponakan kali Ra, udah tiga dari mbak Lasmi, mau empat malahan." ucapnya dengan semangat.
Gue terkejut, masalahnya pernikahan mbak Lasmi baru berjalan sekitar empat tahun. Cepet banget???
"Yo wes. Nanti kalau lahiran, aku di bilangin. Biar tak belikan hadiah buat de-bay."
"Uang darimana?? Woh Siro kere!!" ucapnya mengejek gue.
Lastri tertawa dengan kata-kata gue. Mungkin dia baru ingat kalau gue udah ganti status menjadi istri. Percakapan gue terputus, ketika melihat adik bontot gue berjalan masuk kedalam pondok putri.
"Jangan bilang ya!" ucap gue pada Lastri sebelum naik kedalam kamarnya dan bersembunyi di balik dinding.
Fajar berjalan ke arah Lastri.
"Mbak, ngertos mbak Tia?" tanyanya pada Lastri.
"Tadi disini Gus, tapi sekarang nggak ada" jawabnya.
Fajar kembali menyisir rambutnya.
"Nanti kalau ketemu sama mbak Tia, bilangan ya mbak, di tunggu sama bang O" ucap Fajar sebelum kembali berjalan, menelusuri keberadaan gue.
Setelah tidak terlihat Fajar, gue kembali keluar untuk berpamitan dengan Lastri. Memeluknya erat, sambil menangis. Kebiasaan kami sejak mondok dulu, yang tak pernah berubah sampai sekarang. Setelah itu, gue kembali ke rumah lewat pintu belakang dan bertemu dengan Ja'far yang sedang asyik makan. Dia memberikan isyarat ke gue melalui matanya, kalau gue di tunggu di ruang tamu. Gue akhirnya pergi menuju ke ruang tamu.
Abi, Mimi, dan pak Reon sedang duduk dan berbicara serius. Gue akhirnya kekamar dulu, memastikan kalau barang gue nggak ada yang ketinggalan. Baru setelah itu menuju keruang tamu. Aura di ruang tamu tidak semencekam tadi saat gue baru masuk, sekarang Abi, Mimi dan pak Reon sudah mulai tertawa. Gue memilih duduk disamping Mimi dan memeluknya erat, enggan berpisah.
"Wes gede kok ngene kalakuane, manja!!" ucap Mimi sewot, tapi tangannya tetap membalas pelukan gue dan mengusapnya pelan.
Abi dan pak Reon tertawa dengan sikap gue yang kekanakan. Tapi gue enjoy aja, tanpa malu sedikitpun.
"Wes sana! Bojomu wes ngenteni ket mau!!" ucap Abi.
Gue langsung beranjak dan menyalimi mereka berdua. Abi dan Mimi mengantar gue dan pak Reon sampai ke mobil, sebelum masuk ke mobil, Mimi mengucapkan kata-kata yang sedikit aneh di telinga gue.
"Ikhlas kui kunci sukses nduk. Ojo lali Karo ajarane Abi lan Mimi!!!"
Gue hanya mengangguk, kemudian masuk ke mobil pak Reon.
Hu-hu-hu... Gue pengen nangis sampai gulung-gulung di tengah lapangan. Rasanya itu ambyar!!!
Didalam mobil, pak Reon masih diam aja seperti dulu. Bedanya dulu, gue bingung harus bersikap bagaimana didepannya, tapi sekarang gue enjoy-enjoy aja. Selama satu Minggu ini juga begitu, gue melakukan peran gue ketika di depan keluarga aja, selain itu gue bersikap biasa aja sama dia malah terkesan cuek. Pak Reon juga gitu, dia terlalu mandiri untuk melakukan semuanya sendiri.
Jadi selama ini, gue nggak ada drama harus nyiapin baju yang akan di pakai suami gue dan lain-lainnya, paling cuma cucian gue bertambah banyak, gitu aja. Gue dan pak Reon tidur bareng satu ranjang dan terpisah oleh bantal guling, tapi nggak ada tuh yang namanya kebangun sambil peluk-pelukan.
Kembali ke kondisi didalam mobil, gue memilih tidur dan membiarkan pak Reon menyetir sendirian. Tapi gue juga menyiapkan permen di daskbor, siapa tau dia ngantuk???
®®®™™™
Gue terbangun setelah merasakan tepukan lembut di bahu gue. Gue melihat ke arah pak Reon, tapi orang nya udah turun duluan. Akhirnya gue pun memilih turun dan mengedarkan pandangan gue ke tempat baru ini.
Masjid yang megah menjadi latar utama pemandangan di sekitar gue. Orang-orang berbondong-bondong menuju ke sumber suara adzan Maghrib ini. Gue terpaku sesaat melihat keramaian yang di luar kebiasaan ini hanya untuk sholat Maghrib saja.
Bruk,,,
Tas gue terjatuh ketika seorang laki-laki tegap menabrak pundak gue. Saat gue akan mengambil tas gue kembali, laki-laki itu lebih cepat mengambilnya dan menyerahkannya ke gue.
"Maaf ya mbak!!" ucapnya sambil tersenyum.
Uluuh... Manisnya uncle!!
"Mbak???"
"Eh, iya mas. Nggak apa-apa." Jawab gue.
Laki-laki itu berjalan menjauh dari gue menuju ke masjid. Pipi gue tiba-tiba terasa panas.
Aduh!!! Inget Ra, udah punya suami Lo!!!
Bersambung...