SHE

SHE
3| Martabak Mang Pew



Dua Minggu sejak kejadian Jeli nyembur Aga di kantin fakultas, hubungan kami baik-baik aja. Besoknya Jeli minta maaf ke Aga sambil membawakan udang crispy makanan kesukaan Aga. Tapi sejak saat itu, di kos-kosan Monik sering diem dan ngelamun. Sebenarnya gue mau tanya Monik sih apa dia punya masalah, tapi kalau dipikir-pikir nanti gue terkesan maksa dia. Jadi gue berencana tanya sama temen kampusnya Monik yang juga sekos-kosan sama gue, namanya May.


"Laper nggak May?" Tanya gue basa-basi sama dia yang sedang duduk didepan rumah.


"Kenapa? Mau traktir gue?" Tanyanya balik. Wadoh, dia tau aja gue lagi punya uang. Yah, demi rasa kemanusiaan gue sesama anak rantau, gue ngangguk aja menyetujuinya.


"Tapi Lo ikut gue beli martabak!" Ucap gue. Eh, si May langsung berdiri sambil ngegeret tangan gue.


"Bersemangat banget Lo?" Tanya gue pada May.


"Gue lagi pengiritan Ra, praktik gue butuh donasi banyak" katanya. Gue ngangguk aja percaya sama omongannya. Yah emang sih, di ibaratin sama gue yang jurusan kimia gini aja masih kalah sama jurusan teknik yang butuh pengeluaran banyak untuk beli bahan praktikum.


"Eh Lo kok tumben baik gini Ra, ada maunya ya Lo?" Tebaknya, gue nyengir aja, emang gue ada maunya. Kalau nggak ada ngapain gue susah-susah keluar uang.


"Mang, martabak telornya 2 ya!" Ucap gue pada mang Pew si penjual martabak.


"Yes neng, monggo lenggah rumiyen!!" jawabnya mempersilahkan gue sama May duduk disalah satu kursi plastiknya yang masih kosong. Yah, martabak dagangan mang Pew emang paling rame sedaerah ini, bisa dibilang ini jualan martabak satu-satunya di daerah sini.


"Lo belom jawab pertanyaan gue Ra" paksa si May. Emangya anak teknik tuh keras banget lor.


"Santai, gue cuma mau tanya keadaannya Monik, kan dia sobat karib Lo" ucapku akhirnya.


Wajah May kelihatan sendu, mungkin dia juga khawatir sama perubahan Monik minggu-minggu ini.


"Yah, yang kayak Lo tau. Dia suka ngelamun, sampek kemarin aja hampir ada kecelakaan di lab gara-gara Monik." Waits... Gue kaget dengan ucapan May, segitu parahnya kah Monik? Gue aja yang biasanya patah hati gara-gara mas Erik masih sadar diri kalau waktunya praktikum. Nah ini sampek mau mencelakakan dirinya sendiri. Gue cuma bisa geleng-geleng kepala nih.


"Yah gitulah dia Ra, saat gue tanya apa ada masalah? Dianya cuma bilang gue khawatir sama kuliah gue May gitu. Gue tanya lagi kenapa, dia bilangnya nggak apa-apa." Curhat May sama gue. Okelah kalau gitu gue bisa ambil kesimpulan kalau Monik sedang tidak baik-baik aja, dan mungkin aja dia punya masalah keluarga dan juga masalah cinta.


Pembicaraan gue sama May tentang Monik berhenti sampai situ aja, gue nggak mau buat May malah khawatir dan sedih mengingat sobat karibnya itu. Akhirnya gue cerita-cerita aja ke dia tentang mas Erik ~kembarannya mbak Eri~ yang gue dambakan, sambil nunggu pesenan martabak gue yang sampai entah kapan jadinya.


Sambil melihat-melihat keramaian pinggir jalanan kota Jogja yang semakin ramai. Gue nggak sengaja memerhatikan anak kecil lari-lari pinggir jalan lalu tiba-tiba nyebrang, sedangkan dalam jarak kurang dari sepuluh meter ada mobil yang melaju lumayan cepat. Yaelah sumpah gue dag-dig-dug, naluri kemanusiaan gue berpacu cepat dengan otak gue yang lagi menghitung jarak dan kecepatan. Tanpa basa-basi gue nyelonong aja lari lalu narik tuh tangan bocah dan entah gimana kejadiannya, gue akhirnya nyungsep di pinggir jualannnya mang Pew. Tuh anak nangis didalam dekapan gue, kasihan juga gue meskipun yang sakit lutut sama siku gue.


Dalam keadaan bingung, genting, dan juga tatapan parno dari warga sekitar, seseorang datang tergesa-gesa kearah gue dan bocah itu.


"Kamu nggak apa-apa kan Ca?" Tanya suara tersebut kelihatan khawatir.


Gue yang udah kebakaran jenggot pun langsung nyembur tanpa melihat orang tersebut.


"Kalau punya anak itu dijaga dong pak, jangan dibiarin sendirian, apalagi ini lagi rame-ramenya jalanan. Kalau nggak bisa jaga anak, sekalian nggak usah buat anak. Belajar tanggung jawab dulu lah pak!" Omel gue pada orang yang sekarang sedang berdiri didepan gue tanpa melihat wajahnya, gue masih sibuk membersihkan celana gue yang kotor kena aspal dan baju gue yang sikunya sobek.


May yang berdiri dibelakang gue membantu gue berdiri, masih dalam mode bersungut-sungut gue ceramahin lagi tuh bapak-bapak nggak bertanggung jawab.


"Habis ini tolong beliin es krim atau coklat buat adek itu! Mana tau dianya syok sama kejadian tadi." Saran gue ke bapak-bapak itu. Yah menurut gue sih eskrim dan coklat bisa menetralisir perasaan nggak nyaman, so gue kasih deh saran yang berteori itu.


Setelah bersungut-sungut itu gue melihat seseorang yang ada didepan gue adalah orang yang selama dua minggu ini selalu gue temuin diruangannya, dan juga orang yang udah membuat jatah istirahat kekantin gue habis. Siapa lagi kalau bukan dosen gue, ya Allah apes banget alur kehidupan gue. Jadi dari tadi yang gue omelin adalah dosen gue sendiri. Anjaaaayyy.


"Udah marah-marahnya?" Tanya dia santai, tapi tatapannya menghunus ke mata dan jantung gue. Ya Allah cobaan apalagi ini?


"Maaf pak" ucap gue akhirnya. Yah mau gimana lagi, daripada nilai gue dipertaruhkan.


"Nggak apa-apa, terima kasih ya udah nyelametin keponakan saya!" Ucapnya sambil tersenyum. Fine, nilai gue terselamatkan.


Pak Reon berbalik ninggalin gue yang masih menetralkan detak jantung gue yang nggak normal.


"Tiara..." Panggil pak Reon lagi ketika gue udah siap berbalik ke mang Pew.


"Saya akan pertimbangkan saran kamu" ucapnya. Gue ngeweh coy, cuma gitu aja ngomongnya. Gue kira, pak Reon masih nggak terima gue marahin tadi. Secara gue marahnya kan allay bin lebay.


Habis kejadian heroik itu, gue sama May ngambil martabak gue di mang Pew dan kembali pulang ke kos-kosan. Malam itu gue tidur tenang, karena nilai gue udah di jamin aman kalau pak Reon senyum kayak gitu. Tapi nggak taunya, kejadian malam itu menjadi berita yang udah dibumbu-bumbui sama mulut receh dan jadilah berita hoax yang menyebar sampai 3 fakultas di kampus gue, yaitu fakultas Sains, teknik, dan kedokteran. Hancur nama baik gue bok!!!


Bersambung...