
Hawa dingin menusuk kulit gue, ketika gue merasakan tepukan dipundak samping kiri gue. Dalam bayangan gue, gue baru aja di tepuk oleh malaikat kembar Munkar-Nankir yang sukanya kepo tentang amal perbuatan.
"Apa sih kir? Gue nggak pernah nyium Iqbal CJR. Sumpah!! Nggak bohong!!" ucap gue, sambil menangkupkan kedua tangan gue didepan dada dan berlutut didepan malaikat Nankir.
Tepukan malaikat Nankir makin keras, membuat sebelah badan kiri gue melorot ke tanah. Di iringi dengan sebuah suara,
"Tiara, kamu ngomong apa?"
TUNGGU!!!
Kenapa suara malaikat Nankir kayak cewek gini ya? Apa malaikat Nankir njelma jadi cewek???
"Tiara, bangun!!!"
Loh!!! Tuh kan malaikat Nankir, beneran njelma jadi cewek. Ucap gue dalam hati setelah melihat penampakan wanita cantik yang berdiri didepan gue. Tapi, kok perutnya gede ya???
"Malaikat Nankir hamil 7 bulan ya?" tanya gue refleks.
"TIARA!!!"
Wuah... Teriakan maha dahsyat dari toa depan gue membuat gue sadar kalau gue udah bermimpi dan berimajinasi tentang amal perbuatan gue yang berat sebelah. Gue mengucek mata dan melihat mbak Eva berdiri didepan gue sambil berkacak pinggang.
"Loh... mbak Eva" ucap gue pura-pura bodoh, meskipun gue sangat ingat kejadian yang baru aja gue lakukan didepannya.
"Huft... Kamu ngigo bikin aku darah tinggi aja!! Ayo masuk! Jangan tidur disini, tidur di kamar tamu aja!" ucapnya membuat gue malu. Tapi gue menggeleng pelan, gue nggak mau nginep di rumah dosen gue. Bisa mati kutu gue kalau dosen gue tau tingkah laku gue kalau tidur dan bangun tidur.
"Terus... kamu mau pulang?" tanya mbak Eva.
Gue mengangguk dan bersiap-siap untuk pulang.
"Diluar hujan deras, Reon juga udah tidur dari satu jam yang lalu. Kalau kamu mau pulang, kamu mau naik apa?" Tanyanya.
WAIT!!! Pak Reon udah tepar dari satu jam yang lalu? Dan biarin gue ketiduran sambil duduk disini? Manusia macam apa itu???
"Gojek mbak" ucap gue sambil mengeluarkan HP yang sinyalnya aja nggak tersentuh sama sekali karena hujan.
"Emang ada gojek tengah malam gini?" Tanya mbak Eva lagi. Sontak, gue melihat jam tangan yang melingkar manis dipergelangan tangan gue. Jam 23.45.
Badan gue kayak mau lemes tanpa tulang, nggak bisa disangga. Akhirnya gue memutuskan untuk menerima penawaran mbak Eva untuk menginap di rumahnya pak Reon. Mbak Eva menunjukkan gue ke kamar tamu, dan meninggalkan gue setelah memberikan segelas susu coklat hangat ke gue.
Huft... Gue langsung menjatuhkan diri gue keatas kasur yang super empuk. Lebih empuk daripada kasur gue dirumah. Ini pengalaman pertama gue menginap di rumah dosen gue. Apa yang harus gue lakukan esok hari? Apa gue harus bertingkah seperti seorang remaja yang anggun? Bagaimana kalau jiwa ke absurd-an gue muncul esok hari?
Hu-hu-hu... Gue pengen nangis!!
©©©
Hari menjelang pagi, kehidupan di rumah ini mulai berangsur-angsur hidup sejak habis shubuh tadi. Akhirnya, gue bisa menjelma menjadi gadis remaja yang penuh dengan keanggunan setelah gue memasang alarm sebanyak 5 kali di HP gue tanpa berhenti.
Pak Reon menjadi imam sholat jamaah shubuh yang hanya terisi dua orang ma'mum, yaitu gue dan mbak Eva. Gue nggak akan bilang kalau suara pak Reon itu luar biasa merdu saat melantunkan bacaan al-Qur'an seperti pada cerita novel-novel, dimana dia akan menjadi imam gue dimasa depan. Karena emang suaranya biasa-biasa aja menurut gue, masih enakan suara qori dirumah gue.
Habis sholat shubuh, mbak Eva mengajak gue masak didapur. Dia bilang mau makan wafel keju pagi-pagi, tapi yang bikin syok mbak Eva nggak bisa bikinnya dan dia nyuruh pak Reon untuk membuatnya. Hahaha... Gue tertawa ngakak ketika melihat pak Reon kikuk dengan peralatan dapur.
"Ev, kamu usil banget nyuruh aku bikin wafel keju?" sungutnya sambil memasukkan adonan tepung yang gue rasa itu rasanya campur aduk, nggak jelas.
"Ayolah Re, demi baby aku" ucap mbak Eva manja. Gue masih dalam tipe diam-diam ngakak dibelakangnya.
Andai HP gue nggak lowbat, pasti gue Vidio in!! batin gue.
"Tiara!! Tolong, kamu bantu Reon dong! Tadi kan kamu bilang bisa buat wafel" katanya, membuat gue kaget. Gue masak sama pak Reon? Hello, apa kabar jantung dan telinga gue?
"Harus ya mbak?" tanya gue, berusaha untuk menolak secara halus.
"Iya. Kan aku minta tolong!!" Katanya sambil menatap gue dengan tatapan penuh penekanan. Gue jadi ingat kata-kata pak Reon,
'Saya tidak menerima penolakan, Tiara'
Akhirnya, tanpa punya pilihan untuk menolak, gue pun berdiri dan berjalan kearah pak Reon yang sibuk dengan adonan tepungnya yang nggak jadi-jadi. Gue lihatnya gemess!!
"Tiara? Apa yang kamu lakukan? Itu tidak steril!!" Bentak pak Reon setelah melihat gue yang seenak jidat mencelupkan jari gue ke adonan dan merasakannya.
"Aduh... Bapak mau meracuni saya ya? Ini adonan asinnya nggak ketulungan" semprot gue langsung ke pak Reon, tanpa sadar kalau yang gue semprot itu dosen gue.
"Siapa yang nyuruh kamu celupin tangan kamu ke adonan dan merasakannya? Kalau ini praktikum kimia, itu bisa melukai kamu!!"
Wadaw... Bahasannya kok sampek praktikum kimia? Yaelah, gue juga sadar lah kalau praktikum kimia itu bahannya belum tentu aman. Nah, inikan praktikum dapur, bahannya sudah pasti aman lah.
"Pak, ini didapur bukan di lab. Udah ah, bapak buang aja adonan itu! Kita buat lagi!" Ucap gue akhirnya. Daripada nanti mulut gue nggak bisa di kondisikan dan mengancam status kemahasiswaan gue.
Dengan pandangan masih mengintimidasi, pak Reon akhirnya memilih menuruti kemauan gue untuk membang adonan yang udah di buatnya dengan susah payah. Setelah mencampur semua adonan, naluri iseng gue muncul untuk mengerjai pak Reon.
"Pak, ambilin spatula dong!" Pinta gue tanpa melihat ke mukanya. Tapi pada akhirnya pak Reon menuruti permintaan gue dan berbalik arah.
Hahaha... Pada saat itu gue langsung deh arahin sendok yang penuh dengan adonan tepat dibelakang kepalanya. Dan sekali pak Reon berbalik,
CPAK...
Gue tahan tawa, masih pura-pura bodoh.
"HAHAHA..."
Suara tawa membahana datang dari arah belakang gue, tepatnya suara itu berasal dari mbak Eva yang sedang duduk manis sambil merekam gue dan pak Reon masak. Oh shit!! Mbak Eva ngerekam gue.
Suara geraman seseorang mengalihkan perhatian gue dari HP mbak Eva.
"Kamu niat ngerjain saya?" tanyanya dengan tatapan menghunus tepat dikedua mata gue.
"Loh... Bapak kenapa?" tanya gue pura-pura bodoh.
"Ini!! Selesaikan sendiri!" ucap pak Reon. Lalu berlalu dari hadapan gue dan mbak Eva.
Mbak Eva masih tertawa ngakak, sedangkan gue udah tersenyum dengan keberhasilan otak gue untuk mengerjai pak Reon.
"Kamu berani banget sih ngerjai Reon?" ucap pak mbak Eva yang gue jawab dengan senyuman.
Yaelah mbak, kesempatan langka lah gue bisa dapat momen untuk ngerjain pak Reon.
"Hati-hati!! Reon orangnya dikit pendendam loh!!" ucap mbak Eva membuat bulu kuduk gue berdiri.
Apa gue udah keterlaluan ya??? batin gue.
Bersambung...