
"Kita sudah sampai."
Ucapan pak Reon mulai menyadarkan gue dari dunia imajinasi. Didepan gue, berdiri kokoh rumah joglo, tak lupa disampingnya juga berdiri pendopo yang lumayan besar untuk menampung para santri yang akan mengaji di Abah.
"Rumah bapak WOW juga" ucap gue, masih dengan tatapan terpana.
"Bukan rumah saya, rumah Abah." Jawabnya.
Gue mendesis kecil.
"Yah kan, rumah bapak juga!"
"Saya nggak ikut membangun, cuma ikut menempati."
Gue menghela napas sebal. Heran deh sama nih dosen, nggak pernah kalah kalau ngomong.
"Kamu ngomong apa?"
HAH. Gue melihat pak Reon dengan mata melotot tajam.
"Pak Reon denger suara hati saya?"
Pak Reon nggak menjawab apapun. Dia hanya menepuk dadanya pelan, sambil tersenyum. Maksudnya apa coba? Kemudian dia berjalan masuk kedalam, meninggalkan gue yang masih terheran-heran dengan kejadian barusan.
"Assalamu'alaikum!!!"
"Wa'alaikummussalam warohmatullahi wabarokatuh!!"
Rumah pak Reon ramai sekali. Kemungkinan, hampir semua saudara-saudara pak Reon berkumpul di rumah Abah. Gue dan pak Reon mulai menyalami setiap orang yang ada didalam rumah ini. Dan memberikan sedikit uang jajan kepada keponakan-keponakan pak Reon yang ternyata banyak sekali.
"Loh... loh... Kemanten anyare wes teko iki loh, kapan sampek?" Mbakyu merangkul gue dengan erat. Gue hanya tersenyum, sambil membalas pelukannya.
"Nembe kok mbakyu" jawab gue.
Mbakyu melepaskan pelukannya dari gue dan beralih kepada pak Reon.
"Wes... Wes... Engko bae ngomong-ngomonge. Saiki... Bal ajak bojomu nang kamar. Resik-resik disek!" Ucap mbakyu kepada pak Reon.
Pak Reon pun mengajak gue kekamarnya yang letaknya dekatan dengan ruangan belajar Abah. Sebenarnya gue juga penasaran banget, gimana sih kamar dosen killer gue?
"Ini kamar bapak?"
Hah. Sumpah gue hampir aja teriak! Kamar pak Reon penuh dengan buku dan kertas yang terpajang rapi di dinding kayu. Tak lupa poster sepak bola juga terpajang dengan ukuran super besar.
"Kamar bapak kayak museum, banyak pajangannya."
Pak Reon melirik gue sinis, kemudian kembali mengeluarkan baju-bajunya dari dalam koper.
"Terserah saya, kamar-kamar saya."
Gue menghela napas pelan mendengar jawaban dari pak Reon. Ngerti jawabannya kayak gitu, dari awal gue nggak akan koment kamarnya. Gue pun mengambil handuk dari dalam koper gue, kemudian ngacir ke kamar mandi.
"Pak... Pak Reon!!"
Nggak ada jawaban apapun saat gue memanggil pak Reon dari dalam kamar mandi.
Aduh! Gawat nih, gue lupa bawa baju lagi!!
Gue akhirnya memutuskan keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk untuk melilit tubuh gue yang tanpa noda dan cela ini. Berharap semoga pak Reon nggak ada didalam kamar. Gue berjalan pelan-pelan menuju koper gue yang masih berantakan diatas kasur, mengambil setelan jubah biru.
"Huft... Selamat!!"
"Selamat apanya?"
HAH. Gue langsung berbalik, menghadap kearah pak Reon yang bersandar di pintu kamar. Aduh! Pipi gue rasanya panas, malu banget. Bayangkan! Posisi gue sekarang sedang memakai jubah yang baru masuk tangan kanannya aja belum tangan kiri, nggak pakai kerudung lagi. Terus gue harus bersikap kayak gimana dong???
"Nggak ada yang selamat kok pak." Jawab gue ambigu. Gue pun akhirnya melanjutkan kegiatan gue yang sempat tertunda. Yah, mau gimana lagi? Udah terekspos juga tubuh gue.
Pak Reon mendekati gue yang sedang kesulitan menarik resleting jubah yang berada di belakang.
"Hah... Apanya yang putar?" Tanya gue, waspada.
"Kamu yang putar!"
"Emangnya mau ngapain?"
Pak Reon menarik lengan gue dan memutarnya kasar. Gue mau memberontak aslinya, tapi setelah gue rasakan tangan pak Reon yang nggak sengaja menyentuh punggung gue saat mau menarik resleting jubah gue, gue pun akhirnya batal memberontak dan tertunduk malu. Gue memutar tubuh gue kembali, dan mengucapkan terima kasih pada pak Reon. Dan pak Reon nggak pernah susah-susah untuk menjawab ucapan terima kasih gue, dia langsung mengambil handuk dan masuk kekamar mandi. DASAR, DOSEN ABABIL!!!
Gue pun memilih keluar dari dalam kamar setelah beres-beres baju. Di ruang tamu dan hampir di seluruh ruangan didalam rumah ini penuh dengan orang. Gue pun mendekati mbakyu Khadijah yang sedang menggoreng tempe di dapur.
"Loh, kok disini? Sana loh ngumpul sama yang lain! Biar urusan dapur, mbakyu yang ngurus sama santri." Ucap mbakyu setelah melihat gue ikut memotong tempe bersama mbak-mbak santri yang lain.
"Eh... Mboten nopo-nopo kok mbakyu. Saya bisa, biar tak bantu. Kasihan mbakyu nanti capek sendiri!!" Jawab gue. Aslinya karena gue masih malu aja sih, tiba-tiba nongol dan duduk diantara keluarga besar pak Reon.
"Loh...Loh... Woh kemanten anyar kui gak elok nang Pawon. Ayo! Ayo! Tak terno nang kono menisan mbek nggowo suguhan." Ucap mbakyu sambil membersihkan tangannya dari adonan tempe.
Gue pun akhirnya berdiri, lalu mengambil dua piring yang penuh dengan tempe mendoan dan membawanya ke ruang tamu. Terlihat pak Reon sudah duduk disamping Abah sambil memijatnya pelan.
"Monggo di unjuk Bah!!" ucap gue sambil menyuguhi sepiring tempe mendoan dimeja kayu yang berada didepan Abah.
"Yo-yo-yo... Wes mangan tho nduk?" tanya Abah ketika gue akan bangkit berdiri untuk menyuguhkan sepiring mendoan lainnya diluar. Gue tersenyum, lalu menggeleng pelan.
"Dereng Bah." Jawab gue.
"Wes-wes... Nang rono mangan dipek karo bojomu Bal. Dilanjut nko wae Iki!!" Perintah Abah kepada pak Reon membuat gue sedikit lega. Pasalnya memang dari tadi gue menahan lapar, sayangnya gue malu lah kalau tiba-tiba duduk makan sendirian, ditengah keramaian lagi.
Pak Reon pun bangkit berdiri dan berjalan menuju ke dapur. Gue disini, hanya ngikutin kemana aja kaki pak Reon melangkah. Sebelum sampai di dapur, gue menarik kaos yang digunakan pak Reon dari belakang.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Kita mau makan dimana pak?" Tanya gue, sambil nyengir.
"Dibelakang. Atau kamu mau makan diluar?" Tanyanya lagi, setelah menjawabi pertanyaan gue. Gue menggeleng, meskipun gue lebih tertarik sih makan diluar, tapi lihat kondisi yang sedang kumpul keluarga besar kok rasanya aneh aja, pengantin baru makan diluar.
Dibelakang hanya ada santriwati yang membantu mbakyu Khodijah tadi. Mereka semua sibuk membuat jajanan untuk dimakan oleh keluarga besar pak Reon. Seorang santriwati berkerudung moca mendekati pak Reon yang berdiri diambang pintu dapur, sambil menunduk dalam. Wih... Sosok santriwati yang tawadlu' banget.
"Wonten ingkang saget kulo rewangi Gus?" Tanyanya dengan nada halus. Wih... Sumpah, gue berdecak keheranan dibalik punggung pak Reon.
"Ada makanan mbak?" Tanya pak Reon terkesan cuek dan dingin.
"Wonten. Monggo pinarak Gus!! Saya persiapkan dulu." Ucapnya, yang langsung di angguki oleh pak Reon.
Nggak mau kehilangan kesempatan, gue akhirnya mengikuti mbak santri tadi dan menyenggol pelan bahu pak Reon pelan ketika gue lewat disampingnya sambil terkikik geli.
"Tak bantu mbak!!" Ucap gue, setelah sampai disampingnya.
"Eh mboten-mboten neng." Ucap mbak santri itu sambil menyingkirkan tangan gue dari makanan yang akan dia sajikan.
"Halah, nggak apa-apa kok mbak. Aku mau belajar dari mbaknya cara melayani seorang Gus Reon." Ucap gue meyakinkan mbak santri tersebut.
Mbak santri itu terlihat berpikir sebentar.
"Gus Reon sinten nggeh neng?" Tanyanya. Gue yang saat itu sedang menuang air hangat dari panci pun terkejut dan sedikit menumpahkannya ke tangan.
"Aduh..."
"Duh... Nengnya mboten nopo-nopo ta?" Tanyanya panik. Gue menggeleng pelan, lalu beranjak menuju wastafel dan mengalirkan air ke jari telunjuk gue yang terkena air panas.
"Biar saya saja yang menyuguhkan ke gus Iqbal, neng." Ucapnya.
Kali ini gue yang dibuat terkejut.
*Iqbal. Haduh... Siapa lagi itu???
Bersambung*...