Santi Simiskin

Santi Simiskin
bab 9 Santi patah hati



Santi merasa sangat kecapekan, hari ini dia bangun sangat siang, dia bangun jam sepuluh, dia langsung bersih-bersih badan dan seperti biasa membantu ibunya beres-beres rumah seperti yang biasa dia lakukan selama ini. Santi anak yang sangat berbakti pada orang tua, Santi anaknya sangat pendiam tapi tegas, ya.....sifatnya itu gak pernah berubah sampai sekarang.


sudah satu bulan Santi menganggur, setiap hari kegiatan Santi dirumah hanya itu-itu saja, Santi sudah mulai bosan, Santi pun mulai mengrengek kepada bapaknya.


"bapak, Santi mau sekolah aja ya pak? kalau Santi sekolah, Santi bisa cari kerja yang bagus, kalau gak sekolah ya pasti kayak kemarin pak, boleh ya pak??" kata Santi merayu bapaknya


"Santi, bapak tau maksudmu, tapi apalah daya bapak, bapak cuma buruh tani, upah yang bapak terima sebagai buruh cuma cukup untuk makan saja" kata bapak,


mendengar jawabnya bapak, Santi hanya terdiam, dan Santi pun kembali kekamar, dia pun menangis sejadi-jadinya, kayaknya Santi harus ikhlas, Santi harus bisa mengubur dalam-dalam mimpinya itu dan menerima kenyataan bahwa dia memang anak yang putus sekolah, ya.....cuma tamatan SMP, itu yang akan dia ingat selamanya dan akan menjadi setatusnya.


keesokan harinya ada teman Santi yang bernama Bela datang kerumah. Bela dan Santi memang sahabat yang sangat dekat mereka selalu bercerita tentang kisah mereka berdua atau bisa dibilang saling curhat. waktu itu Bela bercerita tentang cinta monyetnya Santi yaitu Romi, kata Bela, Romi melanjutkan sekolah di kabupaten dia menginap di asrama dan dengar-dengar Romi sudah punya kekasih baru dan banyak orang bilang Romi sekarang jadi playboy, mendengar itu Santi seakan tersambar petir disiang hari, dia sangat merasa kecewa, patah hati. gimana tidak kecewa dan patah hati karena sampai saat ini meskipun cuman cinta monyet dia sudah setia, benar-benar Santi sedikitpun tidak ada niat untuk menghianati cinta mereka, Santi sangat sedih, Santi sangat sakit hati, wajahnya sudah mulai memerah tapi dia berusaha untuk tenang.


"Santi, jangan kamu tahan tangismu, menangislah, keluarkan semua biar hatimu merasa lega" kata bela. gak tunggu berapa lama, Santi pun menangis di pelukannya Bela


"keluarkan semua dukamu Santi, kamu tidak pantas untuk bersedih" kata bela sambil membelai rambut Santi.


"aku gak percaya, Romi hianati cinta kita, aku harus bertemu Romi, tapi terlalu jauh untuk ke kabupaten" kata Santi sambil sesedanan.


"benar Santi, kamu harus pastikan sendiri, tapi gimana caranya kamu kesana kabupaten itu sangat jauh?" kata Bela.


"tar aku pikirkan caranya untuk kesana" kata Santi sambil menghapus air matanya.


"udalah Santi jangan bersedih lagi, aku mau pamit pulang dulu ya sudah sore" kata Bela


"ya bela hati-hati di jalan" kata Santi, mereka pun keluar dari kamar menuju luar rumah, bela pun pergi meninggalkan rumah Santi, mereka melambaikan tangan.


hingga suatu hari ada seseorang datang kerumah,


"assalamualaikum" kata seseorang dari luar pintu


"wa'alaikum salam" jawab ibu sambil membukakan pintu


"O, bapak, ayo silahkan masuk pak, silahkan duduk, ada apa pak" kata ibu


"begini Bu, ini ada saudara saya yang tinggal di kabupaten lagi cari asisten rumah tangga, anak ibu kira-kira mau gak kerja disana, tugasnya ngasuh anak umur dua tahun" kata tamu tadi


"gimana ya pak, saya tanya dulu ya sama anaknya?" kata ibu


"ya Bu bentar" jawab Santi, kemudian Santi pun keluar sambil membawa cangkir kopi untuk tamu tersebut,


kemudian ibu menceritakan maksud dari bapak yang bertamu tadi, dan tak tunggu lama Santi mengiyakannya, Santi pikir dengan dia bekerja disana jadi dia bisa dekat dengan sekolah Romi cinta monyet Santi, jadi mungkin dia bisa memastikan benar atau tidaknya kalau Romi ada yang Bela katakan. mendengar jawabnya Santi orang itu langsung menelpon saudaranya tersebut dan saudaranya pun katanya langsung suka sama Santi dan katanya disuruh secepatnya untuk bekerja. dianggap semuanya sudah selesai bapak itu pun berpamitan.


tiga hari kemudian Santi pun pergi ke kabupaten ketempat bos barunya, dia diantar sama bapak yang kerumah kemarin, mereka berangkat menggunakan sepeda motor. kurang lebih dua jam dijalan akhirnya mereka sampai juga.


"permisi kak......kakak" kata bapak itu sambil ketuk pintu


"ya bentar" jawab seorang ibu setengah baya dari dalam rumah.


"O adik, musuk dik" kata ibu itu mempersilahkan kami masuk, ternyata bapak itu atau sebut saja bapak Yohan dan ibu itu bernama Maryam mereka kakak adik mereka non muslim dan sangat baik.


"ini Lo kak Santi, yang aku ceritain kemarin" kata bapak Yohan memperkenalkan Santi ke ibu Maryam.


"ya, cantik kali kamu nak, kalau disini biasa saja ya nak gak usah sungkan, anggap rumah sendiri" kata ibu Maryam


"ya Bu, terima kasih" jawab Santi.


mereka sudah lama mengobrol, kemudian bapak Yohan pun berpamitan pulang dan kemudian ibu Maryam mulai menunjukkan pekerjaan Santi dan memperkenalkan Santi kekaryawan lainnya juga. ibu Maryam ini ternyata seorang jagal, jagal itu sebutan orang yang jual daging segar, usahanya ibu Maryam lumayan besar, orang disekitar situ nyebutnya dia itu janda kaya.


Santi dirumah ini mendapat tugas sebagai pengasuh anak umur dua tahun, yang ternyata anak ini bukan anak ibu Maryam tapi anak ini anak yang sangat malang, anak ini bisa di bilang dibuang orang tuanya, anak ini ditemukan didepan rumah ibu Maryam dan kemudian dirawat ibu Maryam dan anggapnya sebagai cucunya, meskipun anak ini bukan cucunya sendiri tapi ibu Maryam merawatnya dengan penuh kasih.


gak terasa Santi sudah bekerja selama dua Minggu disana, Santi sangat nyaman bekerja dirumah ibu Maryam, karena kebaikannya ibu Maryam membuat suasana rumah itu sangat nyaman dan karyawan lain pun juga sangat betah kerja disana.


dan suatu hari Santi meminta ijin untuk pergi, dia mau berkunjung ke asramanya Romi dan kebetulan sekolah Romi itu lumayan dekat dari tempat Santi kerja, sekitar setengah jam lah kalau berjalan kaki dari tempat kerja Santi, bersyukur ibu Maryam mengijinkan Santi, Santi pun pergi dengan berjalan kaki, sesampai disana Santi dihadapkannya pemandangan yang tidak mengenakkan, baru sada mendapatkan ijin masuk oleh penjaga pintu masuk sekolah asrama tersebut baru berjalan sekitar sepuluh langkah dari pintu gerbang nampak sepasang muda mudi dengan mengenakan seragam putih abu-abu duduk di kursi taman bersanding dengan mesranya, nampak disana seorang gadis menyandarkan kepalanya di bahu seorang perjaka dan perjaka itu pun membelai rambut gadis tersebut dengan mesrah, Santi Santi datang dari belangkang mereka berdua, Santi pun menyempatkan diri mendengarkan dialok mereka berdua, setelah mendengar suara perjaka tersebut, Santi merasa tidak asing, sepertinya Santi kenal suara ini, tak tunggu lama Santi langsung berjalan kearah depan mereka berdua untuk tau siapa perjaka tersebut.


begitu sampai didepan mereka berdua, Santi sangat terkejut ternyata dia adalah cinta monyetnya yaitu Romi, melihat itu Santi sangat patah hati, kecewa karena cintanya selama ini sudah dihianati Romi, Santi sangat marah kepada Romi waktu itu, Santi memukul Romi sambil menangis, Santi minta penjelasan Romi siapa gadis yang bersamanya itu, sementara Romi hanya bisa terdiam, saat itu juga Santi meminta putus dan semenjak itulah Santi menutup pintu hatinya untuk pria manapun, Santi menganggap semua pria itu sama saja hanya bisa buat luka saja. setelah satu jam santi tidak mendapat jawaban dari Romi lalu Santi berlari keluar taman sambil menangis dia berlari kearah jembatan dekat sekolah tersebut, dia menangis sejadi-jadinya, dia teriak untuk melepaskan laranya. hari pun sudah sore Santi pun kembali ketempat kerjanya.


semenjak ketemu Romi, Santi tidak fokus kerja dia sering melamun, dia pun jadi sering kena tegur oleh ibu Maryam, Santi pun mulai merasa tidak enak dengan ibu Maryam, Santi rasa Santi perlu menenangkan diri dulu, dia merasa dia tidak bisa melanjutkan pekerjaan dengan suasana hati yang sangat kacau. kemudian Santi pun memutuskan untuk mengundurkan diri, dia pun meminta ijin pulang pada ibu Maryam, ibu maryam pun mengijinkan, dan ibu Maryam pun berpesan pada Santi


"Santi, jangan terus bursedih, serahkan semua pada Tuhan, berdoa minta sama Tuhan sembuhkan lukamu, ada salah satu ayat didalam kitap yang ibu pelajari dan yang ibu yakini, begini bunyinya: Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan akan membalut luka mereka" kata ibu Maryam menghibur Santi,


karena selama ini ibu Maryam sering memperhatikan Santi sedang melamun dan juga sering melihat Santi menangis tanpa alasan. Santi pun berangkat pergi untuk pulang kampung. dia kerja di rumah ibu Maryam belum sampai satu bulan tapi sudah menerima gaji satu bulan dan dapat bonus juga. Santi sangat berterima kasih pada ibu maryam.