
setelah semua yang terjadi, sepertinya tak ada solusi lain selain menikah, sebenarnya Santi dan jon/Acong bukanlah sepasang kekasih yang saling mencintai melainkan mereka berdua hanyalah sahabat dekat saja namun kedekatan mereka dijadikan sebuah alasan oleh orang yang mungkin iri atau mungkin punya dendam dengan mereka berdua untuk menghancurkan mereka berdua.
hari ini tanggal 1 April 2009 Jon melamar Santi di desa Santi ya.....Santi pulang kampung bersama jon. dalam lamaran ini Jon tidak bawa apa-apa karena tak ada persiapan sama sekali dan kebetulan orang tua Santi sudah mengetahui cerita mereka berdua jadi orang tua Santi memakluminya dan mengerti, hari itu pun juga menentukan hari baik untuk menikah, ada sesepuh desa yang meramalkannya dan hari baik itu di tentukan pada tanggal 19 April 2009.
sambil menunggu tanggal yang sudah ditetapkan Santi meminta Jon untuk pulang kedesanya untuk meminta ijin keluarganya dan kalau bisa ada salah satu keluarganya untuk ikut menghadiri pernikahan ini dan sekalian mengurus surat-surat yang dibutuhkan untuk menikah dan jon pun menuruti apa yang Santi pinta, keesokan harinya Jon pun berangkat pulang kampung.
tak terasa Jon sudah satu Minggu pulang, Santi pun sedikit cemas karena selama satu Minggu tak ada kabar dari Jon sama sekali, Santi pun mulai menelpon Jon namun nomer telpon Jon sangat sulit untuk dihubungi karena mungkin sinyal di kampung Jon susah dengan keadaan itu Santi semakin was-was gimana tidak tanggal pernikahan sudah dekat dan undangan pun sudah di bagikan kalau sampai Jon tidak kembali ke Santi otomatis Santi dan keluarganya malu.
ternyata Jon orangnya bertanggung jawab, Jon datang di desa Santi tiga hari sebelum hari H namun Jon datang sendiri tanpa ada saudara atau mungkin orang tua yang menemaninya, Jon hanya bawa surat-surat yang diperlukan namun tak bawa mas kawin atau mungkin uang untuk keperluan acara tersebut, dengan keadaan Jon seperti itu Santi pun bertanya.
"kenapa kamu gak bawa orang dari sana untuk jadi saksi?" kata Santi
"orang di sana lagi sibuk dan kebetulan mereka gak ada ongkos untuk pergi kesini, gak papa aku sendiri saja" kata Jon
"terus bagaimana dengan maskawin nya, terus biaya semuanya?" kata Santi
"maaf aku gak ada untuk itu" kata Jon
"jadi bagaimana?, atau gak begini aku ada sedikit tabungan yang kebetulan tabungan ini rencananya untuk aku kuliah kita pakai duit itu dulu gimana apa kamu bisa ganti nanti?" kata Santi berikan solusi
hari itu di rumah Santi sudah mulai sibuk mempersiapkan acara pernikahan tersebut hingga sampai dihari yang sudah ditetapkan yaitu tanggal 19 April 2009 mereka menikah dengan acara yang sangat sederhana karena minimnya biaya yang penting mereka sudah resmi menikah.
setelah menikah Santi tak tahu harus merasa senang arau sedih, mulai saat itu juga Santi sangat membenci dirinya, Santi tidak lagi merawat badannya, Santi tidak pernah berhias, mulai sat itu juga Santi tak pernah mempunyai kemauan untuk hidupnya kedepan, Santi hanya mengikuti alur saja, Santi hidup mengalir seperti air terserah arus akan bawa Santi kemana Santi hanya mengikutinya bahkan Santi pun meninggalkan kewajibannya sebagai umat muslim, Santi merasa sangat marah dengan Tuhan, Santi merasa bahwa Tuhan tak adil.
setelah menikah mereka berpisah untuk sementara, Jon kembali ke Jakarta sementara Santi bekerja di Surabaya bersama temannya, ini terjadi hanya selama satu bulan.
setelah satu bulan mereka berpisah, Jon menjemput Santi untuk dibawa ke Jakarta, disana ternyata Jon belum bekerja, mereka berdua mencari pekerjaan bersama namun modal yang mereka bawa dari rumah tak cukup untuk hidup selama masih cari kerja, akhirnya mereka terima pekerjaan apa saja yang penting bisa bayar kontrakan dan makan saja.
akhirnya mereka bekerja di sebuah rumah makan kecil dengan gaji yang lumayan kecil sehingga hanya cukup untuk bayar kontrakan saja dan untuk makan untungnya sudah ditanggung ditempat mereka bekerja, semua ini terjadi hanya selama enam bulan.
setelah enam bulan dijakarta, orang tua Jon menelpon meminta Jon untuk pulang dikarenakan ibunya sakit dan bapaknya sibuk mengurus ibunya jadi tak ada yang urus adiknya yang masih kecil-kecil karena adiknya masih perlu biaya untuk sekolah dan waktu itu bapaknya benar-benar gak bisa kerja jadi gak ada masukan sama sekali.
akhirnya Jon pun penuhi permintaan orang tuanya, Santi hanya bisa iya kan saja. tak perlu lama-lama, keesokan harinya Jon pun membeli tiket bus untuk pulang kampung. kampung Jon sangat jauh dia tinggal di pedalaman Palembang, kalau dari Jakarta kedesa Jon memakan waktu sekitar dua hari satu malam.
setelah melakukan perjalan yang amat jauh akhirnya Santi dan jon tiba di kampungnya dan kebetulan waktu itu lagi musim hujan, kalau musim hujan desa Jon selalu banjir dan kebetulan waktu itu lagi banjir jadi disaat turun dari bus langsung disambut pakai perahu kecil untuk menuju rumah karena kebetulan rumah-rumah di kampung Jon panggung jadi kalau banjir mereka masih tetap bertahan dirumah masing-masing tak ada yang mengisi.
mereka disambut dengan sangat ramah oleh masyarakat situ, dengan menggunakan ritual adat setempat, maklum lah namanya juga di pedalaman jadi ritual adat suku itu masih kental sekali.