
setelah beberapa bulan ini Santi hanya merasakan sakit karena penghianatan cintanya kini mulai hari ini Santi harus melepaskan semuanya, rasa sakit, rasa pahit yang dibuat oleh mantan kekasihnya, ya... Santi harus memulai hidup barunya.
Jakarta, tempat baru Santi, tempat dimana Santi memulai dan menata hidupnya untuk kedepan, disini Santi menemukan sosok bos yang sangat luar biasa, sangat keibuan dan sangat mengayomi dan yang bikin Santi kagum dia tidak membedakan ras, tahta atau pun kedudukan, ya dia menyambut Santi yang begitu hangat dan penuh kasih sayang sehingga Santi begitu nyaman tinggal dan hidup bersamanya, Santi tidak merasakan perbedaan antara boss dan asisten karena mereka begitu sayang kepada Santi seperti mereka menyayangi anaknya sendiri.
Santi tinggal bersama mereka sudah sekitar tiga tahunan, ya.....Santi sangat nyaman bersama mereka sehingga Santi bisa melupakan kepedihannya yang dia rasakan selama ini, hingga suatu hari bunda dan ayah memanggil Santi untuk berbincang-bincang. (panggilan bunda dan ayah ini panggilan bosnya Santi, ya.... sedekat inilah hubungan Santi dengan bossnya).
Santi pun sangat terkejut, didalam hati Santi pun bertanya-tanya
"ada apa, apakah Santi sudah berbuat salah?", gumam Santi didalam hati
"Santi..….. Santi.....", Kata bunda memanggil
"ya bunda ada apa", jawab Santi
"begini Santi kami sudah buat keputusan, gimana kalau saumpama Santi sekolah, apakah Santi mau?” kata bunda
"apa....sekolah Bun?, di usiaku yang sekarang, apakah ada sekolah yang nerimanya, gak usahlah Bun takut ngrepotin bunda". kata Santi yang menolak
"gak papa nak, itu kan cita-cita mu, wujudkanlah" kata bunda
"baik pikirkan dulu nak, tar kalau sudah ada keputusan kasih tau ayah dan bundanya nak", saut ayah
"ya ayah", jawab Santi sambil meninggalkan mereka.
Santi pergi ke kamarnya dan memikirkan apa yang ayah bunda katakan padanya, bisa sekolah tinggi memang impian Santi, tapi Santi gak mau merepotkan mereka, mereka sudah cukup baik pada Santi, untuk sekolah lagi itu perlu biaya besar apa lagi ini Jakarta, sedangkan gaji Santi cuman Rp 300.000/bulannya ini sangat minim sekali mana cukup untuk biaya sekolah, ah....sudahlah Santi tidak ambil pusing untuk masalah ini, Santi memilih untuk diam tak beri jawaban.
hari demi hari sudah di lalui Santi dan selama itu bunda atau pun ayah tidak mempertanyakan itu, Santi anggap sudah aman, tapi disuatu hari tepatnya hari itu pas di pertengahan tahun dimana sekolah-sekolah telah membuka penerimaan siswa baru, ayah dan bunda mempertanyakan kembali apa jawaban Santi mau sekolah atau tidak.
"Santi", ayah memmanggil dengan lembutnya
"ya ayah, ada apa?", jawab Santi
"sini duduk Deket ayah dan bunda", kata ayah dengan begitu lembut
"ya yah", jawab Santi
"Santi sekolah ya?", tanya bunda
"tapi Bun sekolah itu biayanya gak dikit, Santi gak ada biaya untuk sekolah lagi Bun", jawab Santi
"Santi kalau bunda suruh sekolah ya sekolah aja masalah biaya kan Santi kerja ada duit kalau duit Santi kurang bunda yang tambah jadi apa susahnya", kata bunda meyakinkan Santi
"gak usah Bun nanti merepotkan bunda", jawab Santi
"kalau bunda yang suruh itu artinya bunda gak merasa direpotkan", jawab bunda
"tapi Bun kalau Santi sekolah gimana dengan pekerjaan Santi, terus adik siapa yang ajak?, gak usahlah Bun", jawab Santi
"Santi gak usah pikirkan itu, masalah kerjaan rumah kan bisa dikerjakan nanti pulang sekolah dan masalah adik kan ada om yang jaga selama Santi sekolah", bunda menjelaskan dengan sangat lembut dengan penuh harapan
"tapi Bun", kata Santi
"sudah tak ada kata tapi, jalanin aja ini perintah bunda", kata bunda
Santi hanya merunduk terdiam, Santi tak mampu lagi untuk menolak permintaan bunda
"besok bunda cari sekolah dekat sini saja, ya?", Kata bunda
"tapi Bun", kata Santi
"gak boleh nolak", Kata bunda
"baik bunda, saya permisi kebelakang ya Bun", Santi pun berangkat dari tempat duduknya
keesokan paginya kegiatan Santi masih seperti biasa disaat pagi Santi beres-beres rumah tiba-tiba suara orang ketok pintu dan mengucapkan salam.
"tok....tok.....tok...... assalamualaikum, permisi bapak ibu, koran", kata seseorang dari luar pintu
"ya.....waalaikum salam", jawab Santi dari dalam rumah kemudian Santi pun bukakan pintu
"ya pak, ada apa?" kata Santi
" oh, ya pak terima kasih", kata Santi
Santi pun menerima koran tersebut dan membawa masuk kerumah, didalam koran tersebut Santi tak sengaja melihat dikolom sebelah kiri disitu tertulis "penerimaan siswa baru untuk sekolah nonvormal setara dengan vormal SMA sekolahnya cuman satu tahun dan jam sekolahnya mulai jam 14.00 untuk masalah biaya sekolah sangat cukup murah", melihat ini Santi pun mulai berpikir bahwa ini solusi untuk masalah Santi tentang sekolahnya, Santi pikir kalau saumpama Santi sekolah disini Santi tetap bisa kerja dengan baik, biaya juga cukup murah gaji Santi cukup untuk biayanya jadi tidak akan merepotkan orang lain,
" is oke, ini solusi", kata Santi dengan girangnya
hingga sore pun tiba, bos Santi (ayah dan bunda) sudah pulang, Santi tak sabar rasanya ingin menyampaikan apa yang dia dapat pagi tadi, hingga sampai abis magrib dimana mereka lagi bersantai di depan tv bersama keluarga, Santi pun duduk di dekat mereka, Santi merasa berdebar-debar ingin membicarakan masalah yang dia dapat pagi tadi, dengan rasa gugup Santi Santi harus bercerita.
"bunda......ayah....", kata Santi dengan sangat gugup mulutnya gemetaran sampai keseluruh badan dan rasanya mulut Santi sangat berat untuk terbuka
"ya Santi ada apa, katakanlah, jangan sungkan", kata bunda
"i.....i....ya.....Bu....Bu...Bun", kata Santi dengan sangat gugup.
"kenapa ngomonglah jangan takut, tarik napas pelan-pelan, ayo ngomonglah, ada apa?", kata bunda dengan menenangkan Santi
"ya Bun, Santi ngomong", kata Santi.
Santi pun menceritakan masalah tadi pagi dan dia pun menyampaikan apa yang jadi unek-uneknya, ternyata bunda pun menyetujui apa yang Santi ceritakan, kata bunda,
"gak papa Santi, yang penting Santi harus sekolah", mendengar jawab bunda itu Santi pun berencana besok akan datang ke sekolahan tersebut. hari pun sudah malam Santi berpamitan untuk istirahat.
keesokan harinya, pagi-pagi itu Santi bangun lebih awal, Santi harus selesaikan pekerjaannya sebelum duhur, karena setelah duhur Santi harus pergi ke sekolahan tersebut untuk mengurus sekolahnya. Santi saat itu sangat sibuk dia beres-beres rumah dengan tanpa istirahat hingga takterasa hari itu sudah duhur dia pun bergegas untuk segera menyelesaikan pekerjaannya yang masih tersisa sedikit lagi, dan akhirnya perkerjaan Santi pun selesai Santi pun mulai bersiap-siap untuk pergi karena waktu itu dirumah cuman ada adik bunda dan sikecil yang bisa disebut anak asuhnya Santi jadi Santi hanya berpamitan dengan adiknya bunda saja
"om, Santi mau pergi dulu, titip adik ya", kata Santi berpamitan
"ya Santi, hati-hati di jalan ya", kata omnya atau adiknya bunda.
Santi pun bergegas pergi meninggalkan rumah dan menuju halte bus, gak selang berapa lama bus yang Santi tunggu pun tiba, Santi mulai menaikinya.
kira-kira sudah sekitar satu jam perjalanan akhirnya Santi pun tiba di halte yang berikutnya atau halte yang dituju, disana Santi bertemu pedagang kaki lima dan Santi menanyakan alamat sekolah tersebut.
"permisi ibu, numpang tanya, apa ibu tau alamat ini Bu?", kata Santi
"oh, ya nak, tau nak dari halte ini, kamu nyebrang dan masuk gang yang ada disana ya, gedungnya ada dikiri jalan", kata pedagang itu dengan menunjukkan jalan atau lokasinya
"ya Bu, terima kasih banyak, saya permisi ya Bu", kata Santi dengan meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju tempat yang pedagang itu tunjukkan.
Santi pun menemukan gedung tersebut, dan dua pun bergegas untuk masuk gedung dan didalam gedung tersebut Santi di sambut oleh scurity gedung tersebut
"selamat siang mbak, bisa di bantu", kata scurity tersebut
"pak apa benar ini sekolahan nonvormal tersebut", kata Santi sambil menunjukkan guntingan koran yang dia bawa dari rumah
"benar mbak", kata scurity
"pak saya mau daftar sekolah sini, gimana caranya ya pak", kata Santi
"baik mbak ikutin saya mbak", kata scurity
"baik pak, terima kasih", kata Santi dengan mengikuti pak scurity tersebut, Santi diantar keruangan resepsionis.
"disini mbak bisa melakukan transaksi pendaftaran tersebut.
"selamat siang mbak, ada yang bisa saya bantu?", kata resepsionis cantik tersebut
"begini buk aku mau daftar sekolah sini gimana caranya dan apa saja syaratnya?", kata Santi,
"baik mbak ini syaratnya, bisa kamu pelajari", kata resepsionis dengan menyodorkan selembar kertas dan menjelaskan isi dari kertas tersebut.
rasanya Santi sudah paham dengan isi dari perayaan tersebut, Santi pun mulai berpamitan.
"oke, ibu terima kasih atas penjelasannya dan waktunya besok saya datang lagi dengan membawa persyaratan tersebut, saya permisi dulu dan sekali lagi terima kasih", kata Santi dengan menjabat tangan resepsionis tersebut dan meninggalkan tempat itu.
Santi pun keluar gedung dan menuju halte untuk bus tujuan pulang kerumah, sekitar satu jam menunggu bus itu pun datang dan dia naik, waktu itu jalan sangat macet Santi tiba dirumah sudah malam.
sesampai dirumah santi menceritakan semuanya ke ayah dan bundanya.