
Setiap harinya Santi disibukkan dengan dua balitanya, keadaan ini sangat membuat Santi sangat kerepotan apa lagi Santi belum begitu paham yang namanya mengurus bayi.
pernah suatu hari, anak pertamanya demam dan anak keduanya juga demam dan keduanya rewel, Santi sangat bingung, mau gendong adiknya kakaknya juga mau gendong, saat Santi mau kasih ASI adiknya yang kakaknya juga rewel minta di perhatikan dengan cara membuat apa saja yang bisa membuat jadi memperhatikan dirinya......begitu terus. dengan keadaan inilah membuat Santi sangat setres sehingga ingin rasanya Santi berteriak sekuat-kuatnya karena tak sanggup lagi menahan gundah gulana di dalam hatinya.
demam atau pun tidak demam kedua anak Santi selalu saja rewel apa lagi yang kakaknya karena dia cemburu terhadap adiknya jadi si kakak selalu saja caper, keadaan ini berlangsung hingga lama.
tak terasa si kakak sudah mau sekolah TK saja dan si adik juga sudah besar, Santi pun juga sudah mulai jenuh dan Santi mulai mencari-cari obat jenuh nya itu, dia berusaha melamar kerja jadi guru namun usahanya itu tak membuahkan hasil karena dia cuma lulusan paket c atau sederajat dengan SMA dan kuliah pun tak selesai, tapi semua itu tak membuat Santi putus asa, Santi terus berusaha dia pun mencoba untuk berjualan jajanan kecil di sekolah namun itu pun tak berlangsung lama karena penghasilannya sangat minim dan tak cukup untuk keperluan sehari-hari.
gak cuman sampai situ Santi pun juga mencoba untuk melamar kerja di PT tempat suaminya bekerja, disana Santi di terima kerja sebagai cleaning Serpis di mes PT tersebut.
Santi pun mulai bekerja disana dan anaknya diasuh oleh mertuanya dan adik iparnya. semenjak itu kehidupan Santi dan keluarga mulai membaik. sebagian hasil kerja Santi dan suami di tabung, mereka ada rencana untuk membangun rumah dan usahanya itu memang tak sia-sia, setelah lima tahun ke depan impian mereka berdua benar-benar kesampaian meskipun rumah mereka belum seratus persen selesai tapi ya.....jadilah untuk berteduh agar tak ke panaskan dan juga tak kehujananš¤.
setelah rumah mereka selesai di bangun mereka pun pindah rumah, ketika itu anak-anaknya sudah besar-besar, si kakak sudah masuk sekolah kelas dua SD dan sedangkan adiknya sudah masuk TK.
hari demi hari berjalan sesuai dengan keinginan mereka berdua, hari demi hari cinta mereka pun tumbuh dan semakin kuat, dan kebahagian mereka pun terpancarkan.
namun kebahagiaan itu seolah pecah disaat ibu mertua Santi jatuh sakit yang sangat parah, sudah berobat ke dokter dan gak cuma satu dokter sakit ibu mertua Santi tak kunjung sembuh dan bahkan juga sudah ke para normal juga tapi juga tetap gak ada perubahan bahkan semakin parah dan akhirnya ibu mertua Santi pergi untuk selamanya. semenjak itu seolah kebahagian mereka berkurang.
namun mereka tak boleh larut dalam kesedihan terus menerus, yang sudah meninggal tak mungkin untuk kembali ke bumi tapi mereka yang masih hidup harus bangkit dan terus berjuang.
Santi dan Jon masih bekerja di PT dan terasa mereka berdua sudah bekerja di perusahaan itu sudah begitu sangat lama.
dan setelah kejadian meninggalnya ibu mertua Santi itu kira-kira sekitar enam tahun dan tak disangka Santi dikaruniai anak yang ketiga, ya.....Santi waktu itu lagi hamil muda. meskipun hamil Santi tetap bekerja.
semakin hari kehamilan Santi semakin besar namun semua itu tak menjadi penghalang Santi untuk tetap bekerja.
melihat keadaan Santi yang hamil besar atasan Santi memberikan keringanan
"hai Santi, dengan keadaan kamu seperti ini, aku selaku atasan mu tak tega jika harus melihatmu bekerja" kata atasannya
"maksud bapak saya di pecat ya pak, jangan dong pak, Santi tak papa kok pak, Santi masih sanggup untuk bekerja pak" kata Santi
"santiiii.......tenang dulu, siapa yang memberhentikan mu ?" kata atasan
"jadi, apa maksud bapak?" kata Santi dengan wajah yang penuh khawatir
"begini Santi, mulai besok kamu tetap pergi tapi tidak usah kerja, jadi maksudnya kamu apsen saja biar orang lain yang ngerjain" kata atasan
"orang lain yang ngerjain pak, mana ada yang mana ada yang mau?" kata Santi
"ya coba kamu cari orang disusun kamu untuk gantiin kamu untuk sementara sampai kamu dapat izin cuti" kata atasan
"mana ada yang mau pak, udalah pak aku gak papa, aku masih kuat kok pak, biar aku sendiri saja yang kerja sampai waktunya cuti" kata Santi meyakinkan atasannya tersebut
"baiklah kalau kamu memang merasa masih sanggup, aku tak memaksa tapi Santi, hati-hati ya dalam bekerja, jangan terlalu capek, kalau capek istirahat ya jangan di paksakan" kata atasan
"baik pak terima kasih banyak" kata Santi.
kehamilan Santi sudah menginjak umur sembilan bulan, badan Santi mulai bengkak-bengkak dari kepala sampai kaki, dan rasanya Santi tak sanggup lagi untuk bekerja, Santi mulai mengajukan cuti, pengajuan Santi di penuhi oleh atasan.
sudah satu bulan Santi cuti, waktu itu Santi merasa sakit perut, sepertinya tak lama lagi Santi akan melahirkan.
kerena keadaan Santi yang sangat membengkak itu sehingga bidan desa pun tak sanggup untuk merawatnya akhirnya Santi dilarika ke rumah sakit besar yang ada dikota yang mempunyai alat yang lebih lengkap, disana Santi bertemu dengan dokter kandungan lalu di periksa ya seperti biasa.
"baik buk, lakukan yang terbaik untuk istriku ya buk" kata Jon
"ya pak, bapak gak usah khawatir, doakan saja semua akan baik-baik saja" kata dokter.
setelah beberapa menit menunggu, akhirnya ada panggilan untuk oprasi persalinannya.
"selanjutnya, ibu Santi di persilahkan keruangan oprasi" kata resepsionis rumah sakit
"ayu Bu kita keruangan, bapak tunggu diluar ya" kata perawat
"ya Bu" kata Jon
Jon pun menunggu diluar ruangan dengan penuh kekhawatiran.
oprasi berjalan kurang lebih dua jam. setelah dua jam Santi pun keluar dan di pindahkan keruang rawat. Santi dan anaknya sehat, Santi dikaruniai anak perempuan lagi.
Santi dirawat selama tiga hari, dihari ketiga Santi di perbolehkan pulang. Santi pulang dengan mengendarai mobil pribadi milik tetangga sesampai dirumah, seperti biasa Santi disambut oleh keluarga dengan menggunakan ritual-ritual adat seperti yang pernah Santi jalani waktu lahiran anak pertama dan keduanya tapi kali ini Santi tidak jalani ritual mandinya karena luka bekas operasinya masih basah jadi tidak dianjurkan untuk mandi oleh dokternya.
kali ini Santi merasa sangat tersiksa di bandingkan kelahiran anak pertama dan keduanya, karena jika di bandingkan dengan lahiran normal lebih enak lahir normal, kenapa?, karena kalau lahiran normal dalam waktu satu hari kita bisa beraktifitas seperti biasa sedangkan lahiran dengan cara operasi sesar untuk bisa beraktifitas seperti biasa Santi memerlukan waktu satu Minggu baru bisa, itu pun masih terasa nyeri dan belum bisa kerjakan pekerjaan yang mungkin sedikit berat.
jadi yang kata orang melahirkan dengan oprasi itu ibu yang tak sempurna itu bohong karena sesungguhnya melahirkan dengan cara normal atau pun dengan cara oprasi itu sama-sama sakitnya bahkan lahiran dengan oprasi itulah yang lebih sakit dan beresiko.
waktu tak terasa berjalan begitu cepat, tak terasa Santi cuti sudah tiga bulan lamanya kini waktunya Santi kembali bekerja, namun Santi bingung gimana caranya bekerja sedangkan gak ada orang yang mengasuh bayinya, jadi tak ada jalan lain selain dibawa.
Santi pun meminta izin kepada atasannya untuk membawa bayinya kerja dan beruntungnya atasan Santi memberikan izin, jadi Santi membawa bayinya setiap hari.
Hari demi hari masih sama seperti itu bekerja sambil bawa bayi dan tak terasa Santi lakukan kegiatan ini sudah satu tahun tiga bulan lamanya dan tak disangka-sangka tak diduga-duga ternyata Santi telah mengandung tiga bulan.
Santi mengandung anak yang keempat ini benar-benar tidak tahu, tahu-tahu sudah besar saja, kenapa seperti itu karena dari habis melahirkan Santi tidak haid sama sekali jadi kehamilannya benar-benar tidak disadari oleh Santi, dia tahu kalau dia hamil, dia merasa aneh dengan badannya, dia merasakan perutnya buncit dan merasa ada sesuatu didalamnya.
untuk meyakinkan dirinya sendiri, Santi pergi kepukesmas untuk memeriksakan kandungannya itu, dan ternyata memang benar Santi hamil lagi. dengan keadaan riwayat Santi yang baru satu tahun oprasi dokter menyarankan untuk tidak persalinannya nanti oprasi lagi dan selain itu bidan juga meminta jangan mengerjakan pekerjaan yang terlalu berat karena sangat beresiko.
dengan keadaan ini Jon sangat takut terjadi sesuatu pada Santi jadi Jon meminta agar Santi tidak usah bekerja lagi, Jon meminta agar Santi ada dirumah saja, tapi Santi tidak mau, Santi pun meyakinkan Jon bahwa dirinya baik-baik saja.
"mama gak usah kerja lagi aja ya, papa itu takut kalau terjadi sesuatu padamu mam" kata Jon
"apa?????...... berhenti pa????......nggak......nggak.....aku gak mau, tenang saja pap, aku pasti baik-baik saja" kata Santi meyakinkan suaminya itu.
"baiklah kalau gitu tapi kamu hati-hati ya?" kata Jon
"siap pak bosss!" kata Santi dengan sedikit bercanda
jadi Santi tetap bekerja sampai usia kandungannya berusia sembilan bulan.
usia kandungan Santi kini belum genap sembilan bulan namun bidan menyarankan untuk segera operasi sesar, Santi pun menuruti bidan tersebut.
sama seperti waktu Santi melahirkan anak ketiganya itu, dan pulang dari rumah sakit sama seperti yang sdah-sudah.
dan tak di sangka suami Santi sudah mengurus pengunduran diri Santi dan kali ini Santi tak bisa menolaknya.