
setiap hari Santi dan temannya itu pergi ketempat itu kebetulan mereka mendapat sip siang, setiap hari menyaksikan pemandangan yang tidak mengenakkan, setiap pagi mereka sudah disambut aroma alkohol yang menyengat dari dalam ruangan yang bisa kita sebut dixotik tersebut, laki-laki hidung belang, wanita penghibur, perjudian sampai kumpul kebo cukup ada semua di dalam ruangan tersebut. Santi dan Bela temannya itu harus membiasakan melihat semua itu.
pada suatu hari ada tamu yang cukup berduit berniat untuk menyewa gedung tersebut untuk mengadakan sebuah party oleh karena itu Santi dan juga bela diminta untuk lembur. pada malam itu Santi dan juga Bela (temennya) menyaksikan pemandangan yang sangat tak mengenakkan, ya malam itu banyak sekali orang yang terlalu banyak minum jadi banyak orang yang mabuk dan seperti itulah, menurut Santi ini sangat gila,
"gak kusangka aku bisa sampai ketempat seperti ini" gumamnya Santi yang begitu heran melihat semuanya.
pada malam itu ada salah satu tamu yang sudah begitu banyak meminum dan dia mabuk berat berusaha untuk mendekati Santi dan merayu Santi dengan badan yang sempoyongan, mulut bau alkohol
"hai manis mau kemana yuk temenin Abang, kita senang-senang bersama" kata pria tersebut sambil merangkul Santi,
Santi sangat ketakutan, Santi berusaha untuk melepaskan diri dari laki-laki tersebut, dia dorongnya sampai jatuh kelantai, laki-laki tersebut tidak terima karena sudah didorong oleh Santi lalu dia mengamuk sehingga suasana malam itu sangat kacau, beruntung ditempat itu ada scurity, lalu Santi memanggil dan meminta tolong scurity untuk mengamankan orang tersebut.
"tolong pak amankan orang ini" kata Santi
"baik mbak" kata scurity tersebut
"ahhhh......!!! akhirnya malam ini terselesaikan" gumam Santi.
gak terasa hari pun sudah pagi, mereka pun pulang kerumah bosnya, sesampai dirumah bisanya menemui mereka dan mengatakan bahwa mereka hari ini diliburkan karena sudah bekerja sehari semalam jadi mereka disuruh istirahat. mereka pun masuk kamar, mereka membersihkan diri lalu mereka benar-benar istirahat, karena kecapean kerja mereka tidur sangat pulas, gak terasa mereka bangun sudah azan magrib, mereka terbangun dan merasa sangat lapar mereka pergi kedapur untuk mencari makanan tapi ternyata asisten dirumah itu lagi libur juga jadi terpaksa mereka membuat makanan sendiri, waktu itu sangat sunyi sekali ya gak ada orang dirumah waktu itu hanya ada mereka berdua. setelah menyantap makanan mereka pergi kekamar, didalam kamar mereka saling ngobrol,
"Bela, kita harus putuskan sesuatu, tak mungkin kita ada disini seterusnya, ini tidak bagus untuk kita" kata Santi,
"kamu benar Santi, tapi kita harus apa" kata bela,
mereka masih sangat muda masih belum banyak pengalaman jadi masih sangat belum mengerti untuk hal semacam ini.
tak lama mereka saling mengobrol, terdengar suara telepon dari ruang tamu, kemudian Santi pun pergi untuk mengangkat telepon tersebut, karena memang benar-benar gak ada orang jadi apa boleh buat harus dia yang mengangkat telepon tersebut.
"halo selamat malam" kata Santi
"halo malam buk" kata seorang laki-laki dari dalam telepon
"ada yang bisa saya bantu pak" kata Santi
"ibu aku mau memesan barang, aku mau yang masih perawan ya, berapalah satu malam ya Bu?" kata lelaki tersebut
mendengar itu Santi sangat terkejut,
"maaf pak aku gak tau, ibunya sedang gak ada dirumah, tinggalkan nomer telpon bapak saja dan dengan bapak siapa ini, tar kalau ibunya pulang biar nelpon balik ya pak?" kata Santi dengan sedikit gugup.
"O ya mbak, baik mbak" kata lelaki tersebut sambil memberikan nama dan nomer telepon yang Santi minta, lalu Santi pun menyiapkan alat tulisnya dan mencatat nama dan nomer telepon lelaki tersebut kemudian dia menutup telepon tersebut kemudian lari ke kamarnya dan menyampaikan perihal yang dialami barusan kepada Bela,
"bela, ini sudah tidak wajar lagi, bos kita kemungkinan germo bel" kata Santi
"benarkah katamu itu Santi" kata bela
"nggak" kata bela sambil menggelengkan kepalanya.
"wanita yang masih perawan, untuk dijadikan teman tidurnya semalam, kamu mengerti bela" kata Santi meyakinkan si Bela
"ini gila Santi, kita harus berbuat sesuatu" kata bela
"itu yang aku pikirkan dari tadi bela, aku takut kalau kita terlalu lama disini" kata santi
"udalah kita tidur dulu, kita pikirkan besok lagi, aku ngantuk banget San" kata bela sambil menguap dan membaringkan badannya, tapi Santi tak bisa tidur memikirkan hal itu.
hari-hari terus mereka lalui dengan cerita yang beragam ditempat yang sama, dan hari itu mereka sudah bekerja selama hampir tiga bulan lamanya. pada hari itu tiba-tiba ada suara tembakan dari pintu masuk dan diiringi suara teriakan,
"berhenti-berhenti, matikan musiknya dan jangan ada yang bergerak" kata salah satu anggota polisi,
ya.....ternyata kafe itu kena razia. Santi dan juga bela sangat ketakutan mereka saling berpegangan tangan.
"apa pun yang terjadi kita gak boleh berpisah" kata Santi dan Bela cuma bisa menganggukkan kepalanya saja.
waktu itu Santi dan Bela pun juga diperiksa beruntung polisi tak menemukan apa pun dari mereka, tapi ada salah satu polisi berpesan untuk mereka berdua,
"kalian harus keluar dari tempat ini, tempat ini tidak bagus untuk anak seusia kalian" kata salah satu polisi tersebut.
razia sudah berjalan selama tiga puluh menit dan hampir semua orang dalam kafe tersebut dibawa polisi.
setelah kejadian itu untuk sementara kafe ditutup dan mereka berdua pun pergi untuk kali ini mereka tidak langsung pulang, mereka mampir untuk sekedar ngopi di warung pinggir jalan sambil menenangkan pikiran mereka. Santi pun mengingat apa yang sudah dipesan oleh salah satu polisi tadi.
"bela, mungkin kata pak polisi tadi benar, kita harus pergi dari sini, kita gak bisa lanjutkan pekerjaan ini, aku takut bela, gimana kalau sampai bos kita gelap mata terus kita dijual?" kata Santi
"ah gila kamu, mana mungkin bos mau jual kita?" kata bela
"bukan tidak mungkin bos kita kan germo, dan kita masih perawan, harga kita masih mahal, apa pedulinya bos tentang kita, yang dia pikirkan yang penting dapat duit" kata Santi
"ya sih, tapi apa yang bisa kita lakukan?" kata Bela
"kita temui bos, kita minta ajukan pengunduran diri" kata Santi
"kalau bos tidak mengizinkan gimana?" kata bela
"ya apa boleh buat, kita pergi diam-diam" kata Santi dengan begitu yakin
"baiklah kita pulang sekarang dan kita bicarakan ini ke bos" kata Bela.
mereka pun berangkat pulang kerumah bosnya yang germo tersebut.