Santi Simiskin

Santi Simiskin
bab 10 Santi sudah hilang kepercayaan dirinya dan Santi sangat putus asa



Santi berpamitan pada Bu Maryam untuk pulang kampung, Santi berangkat dengan menaiki bus kota, kepulangan Santi kali ini dia tidak memberi kabar orang tuanya, karena kepulangan Santi sangat mendadak ditambah lagi dengan suasana hati Santi yang lagi galau jadi tidak terpikirkan oleh Santi untuk memberikan kabar ke orang rumah.


sudah satu jam Santi menempuh perjalanan pulang kini Santi sudah sampai di terminal bus, lalu Santi pun mencari ojek untuk sampai ke depan rumahnya, cuma setengah jam Santi menaiki ojek kini dia sudah sampai rumah, dia pun turun dan berjalan menuju rumahnya dia pun mengetok pintu rumah memanggil ibunya tapi tak ada sautan sedikit pun, ya seperti biasa ibu dan bapaknya pasti kesawah, tapi Santi ingat biasa ibu menaruh kunci rumah, ya..Santi pun menemukan kunci rumahnya lalu dia buka pintu dan masuk, dia langsung kekamarnya untuk istirahat.


waktu sudah sore, ibu dan bapak Santi pulang, mereka terkejut melihat rumah sudah tidak berkunci lagi, ibu langsung memeriksa kedalam rumah, ibu menemukan Santi yang ada dikamar yang lagi istirahat, ibu terkejut lalu membangunkan Santi,


"Santi.....Santi bangun, kenapa kamu kok udah pulang, kan kamu kerja belum sampai satu bulan, ada apa Santi" ibu bertanya ke Santi dengan penuh kekhawatiran


Santi pun terbangun, "gak ada apa-apa Bu, Santi pingin pulang aja" jawab Santi.


hari demi hari sudah berlalu tapi kali ini sangat berbeda, Santi lebih tertutup, Santi tak pernah keluar rumah dia lebih sering murung di kamarnya, Santi yang biasanya ceria kini jadi pendiam, ya....kali ini Santi benar-benar sudah putus asa dia hilang kepercayaan dirinya, dia benar-benar sakit hati, dia sudah tidak bisa percaya lagi dengan cowok mana pun, dia menganggap semua cowok itu sama saja suka menyakiti kaum putri, ya...dia sudah menutup pintu hatinya untuk pria mana pun.


Santi seperti ini sudah berlangsung selama satu tahun, melihat perubahan Santi yang bisa di bilang 100% itu ibunya Santi merasa sangat khawatir, ibunya Santi berusaha memberikan kesibukan untuk Santi dengan maksud biar Santi tidak terlalu murung dan bisa melupakan yang sudah terjadi sama Santi setahun yang lalu bisa dibilang Mufon dari si Romi.


hingga suatu hari ibunya Santi berfikir dengan mencarikan pekerjaan untuk Santi mungkin bisa membantu Santi untuk melupakan masalah yang sedang dialami Santi saat ini, ya.....suatu hari ibu Santi menjumpai paman Santi yang tinggal di kota, ibunya Santi pun menceritakan apa yang sedang terjadi pada Santi saat itu, pada waktu itu paman Santi pun setuju dengan ide ibunya Santi yaitu mencarikan pekerjaan.


sekitar satu minggu kemudian paman Santi berkunjung kerumah santi dengan membawa berita bahwa ada pekerjaan untuk Santi tapi jauh, kerjaan itu ada di Jakarta sebagai pengasuh, ya....apa boleh buat Santi cuma lulusan SMP, paling-paling kalau dapat pekerjaan ya cuman sebagai pengasuh atau bisa di bilang asisten rumah tangga.


mendengar itu, Santi tanpa berfikir panjang, Santi langsung mau, karena Santi pikir kalau Santi pergi jauh mungkin Santi bisa melupakan cinta monyetnya itu (si Romi). kata paman kalau Santi mau, Santi harus nemuin orang tua dari calon bosnya Santi tersebut, ya....Santi menyanggupinya, Santi mau bertemu orang tua dari calon bos Santi.


keesokan harinya Santi dengan ditemani bapaknya pergi kerumah orang tersebut tapi sebelum kerumah orang tua calon bos Santi, Santi bersama bapaknya pergi kerumah paman, karena cuma paman yang tau rumah orang tersebut jadi bapak minta ditunjukin oleh paman, rumah paman dan orang itu ada di kota dan jarak dari rumah Santi sekitar 10 km, karena Santi dan juga bapak tak punya kendaraan jadi mereka berjalan kaki, lumayan lama sekitar satu jam lah waktu yang mereka tempuh untuk berjalan.


setelah kurang lebih satu jam Santi dan juga bapak berjalan sampailah mereka di rumah paman, setelah sampai dirumah paman mereka beristirahat sejenak sambil menikmati kopi yang sudah disuguhkan oleh paman, kira-kira setengah jam mereka istirahat, lalu paman mengantarkan mereka kerumah orang tua calon bos Santi, mereka diantar paman dengan menaiki motor, ya...satu motor bertiga, kita-kira seperempat jam mereka menempuh perjalan itu.


mereka sudah sampai lalu turun dari motor, dan paman berjalan duluan, paman mulai mengetok pintu,


"permisi bapak/ibu" kata paman memanggil sambil mengetok pintu, Lalu terdengar suara jawaban dari dalam dengan suara yang sangat lembut


"ya....sebentar" suara ibu-ibu paruh baya dengan suara yang sangat lembut,


"OOO bapak, ayo pak silahkan masuk" ibu ini mempersilahkan masuk dengan sangat ramah,


"bapak......bapak......mari sini kita kedatangan tamu", ibunya memanggil bapak suaminya, lalu keluarlah bapak sebut saja nama bapak itu adalah bapak Slamet,


"oooo bapak, apa kabar pak?" kata pak Slamet sambil menjabat tangan Santi, bapak dan juga paman, gak lama ibu Slamet keluar dengan membawa empat cangkir kopi,


bapak Slamet dan ibu Slamet , mereka non muslim yang sangat baik mereka sangat menghormati orang muslim seperti Santi. bapak mempertanyakan maksud dan tujuan Santi, bapak dan juga paman berkunjung kerumah pak Slamet, lalu paman menjelaskan maksud dan tujuannya lalu bapak Slamet menerimanya dan kemudian bapak Slamet mengeluarkan sebuah album yang lumayan besar dan tebal, pak Slamet menunjuk sebuah foto pengantin yang katanya itu foto anaknya yang tak lain orang tersebut adalah calon bos Santi, bapak Slamet menjelaskan bahwa anaknya itu pengantin baru beranak satu, dan profesi anak nya sebagai tentara dan menantunya sebagai pengacara jadi cucunya gak ada yang nemenin cucunya kalau ditinggal kerja cuma sama omnya dan omnya kan cowok, kalau cowok biasanya kurang telaten ngurusin sikecil jadi mereka bermaksud untuk mencari pengasuh untuk cucunya tersebut.


mendengar penjelasan bapak Slamet, Santi langsung mau untuk bekerja sebagai pengasuh cucunya tersebut, dan pak Slamet pun menentukan kapan mereka bisa berangkat ke Jakarta, kata pak Slamet Santi bisa berangkat tiga hari lagi, Santi setuju, setelah sudah jelas mereka pun permisi pulang. Santi dan juga bapak pulang dengan berjalan kaki lagi karena paman gak mungkin mengantarkan mereka dengan boncengan tiga takut ada razia.


tiga hari sudah berlalu Santi dengan di temani bapak mereka pergi kerumah pak Slamet dan seperti biasa mereka berjalan kaki setelah berjalan selama satu jam mereka pun sampai dirumah pak Slamet, tak menunggu waktu lama Santi bersama pak Slamet dan juga Bu Slamet pergi ke stasiun kereta dengan menaiki mobil pribadinya pak Slamet dengan diantarkan oleh anak bungsunya, perjalan menuju stasiun kurang lebih setengah jam, mereka pun sudah sampai stasiun dan gak lama menunggu kereta yang akan mereka naikin pun sudah datang, bergegaslah mereka menaikinya, mereka pun berangkat meninggalkan stasiun.


mungkin perjalan mereka kejakarta sekitar satu hari satu malam, dan selama di perjalanan Santi hanya bisa terdiam, memikirkan nasipnya yang menurutnya sangat menyedihkan kenapa tidak, Santi punya cita-cita yang sangat tinggi tapi nyatanya orang tuanya tak mampu menyekolahkan Santi sampai kuliah, jangankan untuk kuliah sekolah SMA aja tak mampu, ditambah kisah citanya yang di hianati dana ditambah pekerjaan yang dia jalani selama ini bukan lah pekerjaan yang Santi inginkan tapi apa bole buat Santi cuma lulusan SMP kerja apa yang pantas untu seorang Santi selain berkerja sebagai asisten rumah tangga, ya....mungkin ini nasip yang harus di terima Santi.


Santi sangat lelah Santi pun tertidur di kereta, tak terasa hari pun sudah pagi dan mungkin sekitar satu jam sampai dua jam lagi Santi dan juga pak Slamet dan Bu Slamet sampai di stasiun Jakarta dan akhirnya mereka pun sampai, mereka pun turun dari kereta ternyata sudah ada om Irwan (adik dari calon bos Santi yang cewek), om Irwan menjemput mereka dan om Irwan juga sudah memesan taxi untuk dinaiki mereka untuk menuju rumah anak mereka tersebut, mungkin kira-kira kurang lebih sekitar satu setengah jam mereka sampai rumah, mereka pun naik kedalam taxi tersebut dan selama didalam Santi hanya memejamkan mata, selain Santi yang suka mabuk kalau naik kendaraan tapi Santi juga mencoba untuk menahan lukanya yang dibuat oleh Romi, Santi berusaha melupakan semua kenangan bersama Romi. setelah melakukan perjalan yang memakan waktu kurang lebih dua jam akhirnya mereka pun sampai ketempat tujuan dengan selamat.


tampak seorang wanita yang cukup besar dan cukup tinggi untuk ukuran tubuh wanita pada umumnya menyambut kedatangan mereka ternyata itu anak menantu dari pak Slamet yang tak lain dialah calon bos Santi, dia menyambut mereka dengan sangat ramah dan sopan santun, dia pun berjabat tangan dengan Santi,


"halo, panggil aku bunda aja ya, siapa namamu?" kata ibu itu menanyakan nama Santi dan memperkenalkan dirinya.


"ya bunda, nama saya Santi" jawab Santi dengan sedikit gugup


"yuk kita kerumah, kalian pasti capek setelah jalan jauh" kata bunda. mereka pun berjalan menuju rumah sederhana yang ada di gang kecil yang tak jauh dari jalan raya, setelah sampai para tetangga bunda ini menyambut mereka dengan sapaan yang begitu ramah, Santi sangat senang melihat keadaan ini.


"Santi, bersihkan badanmu dan istirahatlah besok baru kerja" kata bunda


"baik Bun, terima kasih" jawab Santi dengan bergegas dia pergi menuju kamar yang ditunjuk bunda tersebut lalu dia buka pintu kamar dia pun sangat terkejut ternyata didalam kamar tersebut ada anak laki-lak yang sangat manisi kira-kira berumur dua tahun yang lagi asik bermain, dan sianak tersebut juga terkejut melihat kedatangan Santi lalu anak itu lari dengan memanggil


"bundaaaaa ada kakak" kata anak tersebut menghampiri bunda dan minta peluk.


Santi pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu Santi pun langsung berkemas-kemas membereskan barang bawaan yang dia bawa dari kampung meskipun bunda menyuruh dia untuk istirahat namun Santi tidak enak jika harus beristirahat sedangkan pekerjaan ada didepan mata.


"Santi, sudahlah biarkan aja dulu, kan bisa dikerjakan nanti sekarang istirahatlah dulu" kata bunda menyuruh Santi menghentikan pekerjaannya untuk beristirahat dulu.


"ya Bun, gak papa, cuman beresin ini doang Bun biar gak berantakan" jawab Santi.


setelah Santi menyelesaikan pekerjaannya Santi pun istirahat sebentar dikamarnya untuk melepas letihnya selama perjalanan jauhnya, sangking capeknya tak terasa Santi tertidur selama dua jam, tau tau sudah habis duhur, Santi sangat merasa malu, dia terbangun langsung mengambil air wudhu dan sembahyang duhur, setelah selesai sembahyang bunda memanggil Santi untuk ikut makan siang bersama mereka, hari ini bunda katanya gak masak jadi makannya diluar saja, jadi bunda mengajak Santi dan semuanya termasuk pak Slamet dan Bu Slamet untuk makan diluar, mereka pun pergi dengan menggunakan taxi menuju sebuah restauran KFC yang tak jauh dari rumah.