Santi Simiskin

Santi Simiskin
bab 5 Santi sangat sedih



tak terasa sekolah sudah berlangsung tiga tahun lamanya. selama tiga tahun ini cinta monyet Santi pun masih setia sampai saat ini dan Santi pun masih menjadi murid yang berprestasi selama tiga tahun ini, dan kini saatnya menjalankan UAN. UAN ini diselenggarakan disekolah induk dan sekolah tersebut jauh dari rumah, jadi Santi dan teman-temannya harus menginap di salah satu rumah yang dekat sekolah tersebut selama satu minggu.


UAN tersebut sudah terlaksana dengan lancar kini saatnya menunggu hasilnya (lulus atau tidak lulus), waktu itu waktu yang sangat menegangkan. tapi para guru sekolah tidak ingin mengambil resiko yang mungkin kan terjadi, jadi mereka memutuskan untuk mengundang wali muridnya dan menyerahkan surat kelulusannya pada orang tua masing-masing murid dan pak kepala sekolah menegaskan bahwa pengumuman tersebut dilarang dibuka dirumah sekolah jadi harus di buka dirumah masing-masing, aturan ini dilakukan untuk antisipasi agar tidak terjadi sesuatu hal yang mungkin terjadi, ya kenapa tidak karena waktu itu nilai kelulusan yang dianjurkan pemerintah lumayan besar jadi para murid waktu ini sangat memeras otak untuk mendapatkan nilai kelulusan tersebut jadi bukan tidak mungkin bagi para murid yang tidak lulus akan prustrasi dan mengamuk dan ini benar terjadi banyak berita yang membincangkan kejadian semacam ini jadi disekolahkan Santi tidak mau ambil resiko.


waktu itu para orang tua benar patuh dengan apa yang anjurkan kepala sekolah tersebut, ya mereka benar tidak membukanya disekolah mereka benar membukanya dirumah masing-masing termasuk milik Santi. sesampai dirumah Santi dan ditemani ibunya membuka surat itu, bersyukur Santi lulus dengan nilai yang lumayan tinggi waktu itu dia mendapat peringkat ketiga dengan jumlah nilai 33,37. waktu itu Santi begitu girangnya diberteriak seketika


"hore!!!!!! Santi lulus ibu" teriak Santi dengan kencangnya.


keesokan harinya Santi pergi kesekolah menanyakan hal ini pada teman-temannya ternyata teman-temannya semuanya lulus, dan mereka pun merayakan kelulusan mereka. mereka mencoret-coret baju seragam sekolah dengan berbagai warna dari cat semprot tak lupa mereka pun berencana memberikan cindera mata untuk para guru-guru.


hari demi hari berlangsung dan mereka pun menerima ijazah, mereka pun saling bertanya mau lanjut sekolah mana?, pertanyaan ini pun juga dilontarkan teman Santi kepada Santi


"hai Santi kamu mau lanjut ke sekolah mana?" kata salah satu temannya,


Santi hanya menunduk dan terdiam,


"hai Santi aku bertanya padamu kamu mau sekolah dimana?" kata temannya mengulang pertanyaannya,


"eeeee, ya ada apa?" kata santi,


"Santi ada apa kamu sebenernya?, aku bertanya dari tadi tapi kamu hanya melamun saja, aku tanya kamu mau sekolah mana?", kata temannya bertanya,


"aku gak tau lah tar mau kemana?" kata Santi dengan lirihnya,


"hai Santi ada apa denganmu?" kata temannya dengan sangat penasaran,


"aku.....aku....mungkin gak bisa lanjut sekolah, orang tua ku gak ada biaya untuk itu" kata Santi dengan suara serak karena menahan tangisnya, teman-teman terkejut mendengar itu mereka memeluk Santi dan menghiburnya.


Santi saat itu sangat sedih sekali dia punya cita-cita yang besar tapi kalau dia putus sekolah apa bisa terwujud? ya pertanyaan ini yang memenuhi otaknya. apa boleh buat Santi cuma anak seorang buruh tani, penghasilan orang tuanya hanya cukup untuk makan apa lagi dengan anak lima.


hari ke hari, Minggu ke Minggu Santi hanya melamun mengurung diri di kamar makan pun tidak teratur dia tidak seceria dulu, dia jadi sangat pendiam dan sudah hampir satu bulan lebih Santi seperti itu, ibu Santi sangat khawatir, ibu manghampiri Santi untuk menghiburnya namun itu tidak berpengaruh apa-apa buat Santi. ibu Santi semakin khawatir, ibu Santi berniat mencarikan pekerjaan untuk Santi, ibunya pikir dengan ada kegiatan mungkin Santi akan ceria lagi, waktu itu ibu Santi mendapatkannya dari salah satu teman Santi yang kebetulan juga putus sekolah, jadi ibunya pikir kalau dia bertemu temannya lagi dia tidak kesepian. ibunya Santi pun mendekati Santi dan membicarakan niatnya itu pada Santi, dan Santi yang sudah putus asa itu hanya bisa mengiyakan saja walaupun sangat terpaksa, kalau pun dia bilang tidak mau pun tak ada gunanya, Santi tidak akan sekolah itulah yang terjadi, jadi gak ada pilihan lain selain harus terima kenyataan.