Santi Simiskin

Santi Simiskin
bab 19 cinta Santi yang diuji



mengingat kisah Santi yang menikah tanpa dasar cinta karena pernikahan mereka yang terpaksa, namun semenjak hadirnya si buah hati cinta Santi tumbuh sendiri dan bahkan semakin besar terhadap suaminya, namun cinta mereka kini diuji.


suami Santi bekerja cuman sebagai petani, otomatis penghasilannya sangat minim sedangkan kebutuhan semakin banyak, Santi harus membeli susu untuk anaknya. jangankan untuk beli susu untuk makan sehari-hari saja kurang, terkadang Santi tidak memasak karena gak ada bahan masakan sedikit pun.


namun semua itu tak menyurutkan rasa cinta Santi terhadap suaminya, Santi selalu mendukung apa yang suaminya lakukan.


suami Santi bekerja sebagai petani karet dan penghasilannya sehari paling besar lima puluh ribu itu pun kalau hari baik tidak ada hujan tapi kalau musim hujan bisa saja satu hari tak dapat apa-apa, karena kalau hujan tak bisa ambil getah karetnya, dengan keadaan ini Santi pun tak bisa berdiam diri Santi juga harus mencari penghasilan tambahan, Santi mulai jualan kripik, dan hasilnya lumayan juga untuk beli bahan dapur.


ternyata usaha Santi kurang maju, Santi harus memutar otak, mencari cara agar perekonomian keluarganya membaik begitu juga suaminya juga tak bisa terus-terusan seperti ini.


waktu pun terus berjalan, kehidupan Santi masih belum ada perubahan, hingga anak Santi berusia delapan bulan masih saja seperti itu.


"ah.....!!! rasanya sudah bosan hidup seperti ini saja tak ada perubahan" kata Jon


"terus mau gimana lagi, mau usaha?, usaha apa?, aku gak ngerti hidup di tengah dusun seperti ini?" jawab Santi


"aku coba lamar ke PT sawit saja ya?" kata Jon


"terserah ayah sajalah, aku ikut" kata Santi


tak tunggu lama keesokan harinya Jon mencoba melamar ke sebuah PT sawit yang tak jauh dari rumahnya. usahanya memang tak sia-sia, Jon di terima kerja namun dari orang tua Jon tidak mengijinkan dengan alasan gak ada yang ngurus kebun karetnya.


Jon pun terpengaruh dengan omongan orang tuanya itu, Jon gak pergi ke PT mrlainkan pergi bersama orang tuanya ke kebun karetnya.


melihat itu, Santi sangat kesal terhadap suaminya itu.


"hai, ayah.....! kenapa kamu tidak pergi ke PT, apa alasanmu?" kata santi dengan sedikit membentak


"maaf kan aku mam, aku bingung" kata suami


"bingung???, bingung kenapa?, jelaskan padaku!!!" kata Santi


"bapak dan ibu tidak menginginkannya" kata Jon suami Santi


"ayah!!


kenapa harus bapak ibu yang tentukan?


apa masa depan dirimu, anak dan istrimu ditentukan bapak ibu juga?


ayah, ada saatnya menuruti kehendak bapak ibu dan ada saatnya tidak.


sekarang ayah pikir jika kalau kamu tetap jadi petani karet apakah cukup hasilnya untuk kebutuhan sehai-hari untuk masa depan anakmu mungkin dengan penghasilan lima puluh ribu perhari? apakah cukup ayah?, jadi semua keputusan tentang dirimu ada di tanganmu sendiri bukan orang lain". kata Santi yang sangat kesal


Santi pun berangkat pergi tinggalkan jon yang sedang duduk diruang tengah rumahnya.


kalau itu memang sedang terjadi perdebatan antara Jon dengan orang tuanya.


orang tua Jon ingin Jon selalu mengikutinya mengurus kebun karetnya namun penghasilan dari situ sangat tidak cukup jadi Jon menolak sehingga terjadi cek cok mulut diantara mereka.


karena itu Jon tak jadi kerja di PT, dia tetap ikut orang tua ngurus kebun karet.


setelah beberapa bulan kemudian Santi mengandung anak kedua waktu itu anak pertamanya masih berumur satu tahun, dengan keadaan ini Jon mulai berfikir kalau tambah anak otomatis akan tambah pula kebutuhannya, Jon mulai melamar ke PT dan kali ini Jon tak mau menuruti keinginan orang tuanya.


pagi itu Jon berangkat ke sebuah perusaan sawit yang cukup besar dan sudah menjamur di Indonesia. waktu itu Jon tidak langsung diterima karena setelah melamar dia harus menunggu panggilan untuk wawancara.


setelah menunggu selama satu bulan lamanya Jon mendapatkan panggilan itu. dipagi-pagi hari Jon menerima telepon.


"halo selamat pagi bisa bicara dengan pak Jon?" kata orang didalam telepon tersebut


"ya.....halo......selamat pagi.......ya ini dengan saya sendiri, ini siapa dan dari mana?" jawab Jon


"saya pihak HRD perusaan sawit yang bapak lamar kemarin, apakah bapak benar melamar kesini?" kata orang HRD tersebut


"ya benar pak" kata Jon


"bisa kah bapak untuk hadir di keperluan wawancara?" kata HRD.


"bisa pak.......bisa.......saya akan datang, terima kasih pak" kata Jon dengan sangat senang


"oke, cepat ya jangan sampai terlambat" kata HRD.


"siap pak!!" kata Jon


"baiklah sekian saja, sampai ketemu dan selamat pagi" kata HRD


Jon pun tutup telponnya dan mulai bersiap-siap untuk pergi, lalu Jon pun pergi dengan mengendarai motor butut milik waknya


sekitar setengah jam Jon pun sampai di perusaan tersebut. disana Jon menemui resepsionis.


"selamat pagi Bu, bisa bertemu dengan pak HRD?" kata Jon


"maaf dengan bapak siapa dan ada perlu apa?" kata resepsionis


"saya Jon, dan saya mendapat panggilan untuk wawancara" kata Jon


"baik sebentar ya pak" kata resepsionis


"halo pak ini ada bapak Jon, katanya mau ketemu bapak" kata resepsionis yang sedang menelpon pak HRD


"oke persilahkan masuk" kata HRD


"baik pak" kata resepsionis sambil menutup teleponnya


"pak Jon anda di tunggu di ruangan HRD, silahkan pak ruangannya ada disana" kata resepsionis sambil menunjuk ruangan yang ada di pojok kanan


"baik buk, terima kasih, saya permisi" kata Jon sambil berjalan menuju ruangan tersebut.


"tok......tok......tok.......permisi" kata Jon sambil mengetuk pintu HRD


"ya silahkan masuk" kata pak HRD dari dalam ruangan.


gak perlu waktu lama Jon wawancara cuman lima belas menit


"oke bapak wawancara hari ini selesai, dan selamat bergabung di perusaan kami, semoga bisa jadi rekan kerja yang baik ya pak, oke besok sudah bisa kerja ya pak" kata HRD


"baik pak, terima kasih banyak pak, dan saya permisi ya pak" kata Jon dengan muka yang berseri-seri karena amat sangat senang, Jon mendapatkan pekerjaan yang dia inginkan sebagai scurity kantor.


kemudian Jon pulang dan ingin menyampaikan kabar gembira ini ke istrinya. Jon pulang dengan menaiki motor dengan kecepatan tinggi karena tak sabar untuk menyampaikan kabar ini.


hanya kurang dari setengah jam Jon sampai rumah.


"mam.....mam.......mam......" suara Jon memanggil istrinya dari luar rumah


"ya....ayah, ada apa kok teriak-teriak?" kata istrinya


"aku keterima kerja mam" kata Jon


"benarkah?.......Alhamdulillah......." kata Santi.


keesokan harinya Jon berangkat kerja yang pertama kalinya.


semenjak itu perekonomian keluarga Santi menjadi membaik, paling tidak sekarang Santi bisa beli susu untuk anaknya.


waktu terus berjalan kehamilan Santi juga semakin membesar. hamil Santi yang kedua ini tidak seperti hamil yang pertama, yang kedua ini Santi tidak pernah merasakan yang namanya ngidam dan masala-masalah kehamilan jadi hamil dan tak terasa hamilnya Santi sudah menginjak umur sembilan bulan.


Malam itu Santi merasakan sakit perut yang amat sangat sakit dan sepertinya Santi akan melahirkan, kemudian Jon langsung saja membawa Santi kerumah sakit karena kebetulan bidan desanya lagi gak bertugas.


Jon pergi degan menggunakan mobil tak perlu waktu lama Jon sudah sampai kerumah sakit. jon merangkul Santi menuju resepsionis rumah sakit.


"permisi pak, istri saya mau melahirkan, bisa saya bertemu dengan dokter kandungannya?" kata Jon


"baik pak bentar ya" kata resepsionis


dan tak lama kemudian ada dua orang perawat yang menghampiri Santi dan mulai membawa keruang rawat dan tak lama kemudian dokter pun datang.


"bapak tunggu diluar ya" kata dokter


"dok kalau di ijinkan biarkan aku temenin istriku" kata Jon


"baiklah pak gak apa-apa, silahkan" kata dokter


Jon pun mulai menemani Santi di ruan salin. sekitar dua jam proses persalinan akhirnya Santi melahirkan anak perempuan yang cantik dengan selamat.


dan keesokan harinya Santi di perbolehkan pulang.


mulai saat itu Santi sangat sibuk mengurus dua balita, anak pertamanya yang masih super aktif yang masih butuh perhatian lebih ditambah anak keduanya yang masih bayi dan masih membutuhkan asi eksklusif itu semua membuat Santi sangat setres.