
..._______PART 3_______...
Mataku terbuka saat sinar matahari menembus dalam celah jendela.
Aku mengerjapkannya beberapa kali untuk memfokuskan penglihatan ku.
Kepalaku amat pusing dan ada perban disana, Ah! aku lupa, tadi malam aku pingsan karena kecelakaan itu.
Aku mendudukkan diri diranjang dan bersandar pada kepala ranjang.
Aku mengedarkan pandangan ku mengelilingi kamar ini. Bukan kamarku, sepertinya kamar seseorang yang membawaku tadi malam.
Kulihat pakaian ku yang sudah berganti. aku cukup terkejut! apakah terjadi sesuatu tadi malam? siapa yang membawa ku kemari? lebih tepatnya apakah ia pria atau wanita? karena kejadian kemarin malam aku jadi takut pada laki-laki.
Kulihat pintu dibuka perlahan, dan muncul lah sosok mungil dan ia menghampiri ku.
"Eoh! Eonni? Kau sudah sadar?" Tanya anak perempuan itu padaku. matanya bulat seperti purnama dan bibirnya yang mungil terbuka sedikit dan itu sangat menggemaskan dimataku.
Aku hanya mengangguk perlahan lalu membelai rambut anak itu.
"Eonni, kau tidak boleh banyak bergerak. Ayah telah menitipkan mu padaku, maka aku akan menjagamu dengan baik" Katanya lagi lalu menggenggam tanganku yang tadi berada dikepala nya.
"Eonni kumohon jangan marah pada ayahku karena menabrakmu mungkin ia tak sengaja dan kau tenang saja aku telah memarahinya saat kau pingsan tadi malam dan sebelum aku tertidur" Anak itu terus mengoceh didepan ku, aku tersenyum lembut padanya. Aku sama sekali tak mempermasalahkan jika ayah nya menabrak ku. setidaknya aku terbebas dari tempat sialan dan para iblis disana.
Dan ah! ternyata yang menabrak ku seorang ahjussi?
"Tak apa. Akupun tak terluka parah" ucapku lirih dan serak.
"Eonni ayah telah berangkat ke kantor dan bibi pergi kepasar jadi aku akan menemani mu disini" Katanya lagi dan duduk diranjang dekat tanganku.
"Namamu?" tanyaku padanya. ia memandang ku dengan mata bulatnya lalu tersenyum.
"Namaku Kim Yoori, Eonni!" Jawabnya penuh semangat. "Lalu nama Eonni apa?" Tanyanya balik padaku.
"Namaku Moon Haejin, kau bisa memanggilku Haejin eonni" kataku dengan intonasi yang ku buat seimut mungkin diakhir nya.
Yoori tertawa saat aku berkata seperti itu.
"Yoori-ah jika ayahmu kekantor... lalu dimana ibumu?" Kulihat Yoori yang tadinya bersemangat kini mulai raut wajahnya mulai suram.
"Hey... kau kenapa?" tanyaku padanya saatYoori nampak sedih.
"Kata ayah, ibu pergi bekerja dan akan kembali jika Yoori telah dewasa nanti dan Yoori harus menjadi anak baik agar ibu Yoori cepat kembali" Katanya bercerita padaku. Aku tak mengerti! apa ibunya bekerja diluar negeri hingga harus meninggalkan Yoori saat masih se belia ini?
"Nona Yoori?" Kulihat wanita paruh baya masuk ke kamar ini tangannya sibuk membawa nampan.
"Nona Yoori, apa Nona menjaga gadis itu dengan baik?" tanya Bibi itu pada Yoori.
"Tentu Bibi! Bibi namanya bukan gadis tapi Haejin Eonni" kata gadis kecil itu, aku dan bibi itu hampir menyemburkan tawa kami jika saja Yoori tak merengek ingin dibuat kan susu.
"Bibi ayo buatkan aku susu" rengek nya lagi.
"Iya iya! tunggu dulu Bibi akan menaruh nampan ini dinakas dulu" Bibi itupun berjalan menuju kemari.
"Nona Makanlah buburnya dan minumlah obatmu" Katanya.
Saat mereka akan keluar seorang pria masuk kekamar ini dengan setelan jas yang begitu rapi dan juga tas kerja yang ia tenteng.
"Ayah!" Yoori berseru dan melepas genggaman tangan Bibi lalu berlari dan masuk kedalam gendongan pria itu.
Ayah?! Ayah katanya?! Heol! kupikir ayahnya sudah tua berkumis lebat dan berbadan gemuk. Tapi yang kulihat kini. apa ia pangeran atau dewa mungkin. Ya tuhan dia sungguh tampan, tubuhnya yang terbalut kemaja dan jas itu sangat pantas.
"Tuan apa anda meninggalkan sesuatu?" Tanya Bibi pada pria itu.
"Tidak Bibi, aku hanya khawatir pada gadis itu" Kata pria itu menunjukku dengan dagunya.
"Ohh begitu! baiklah ayah aku dan Bibi akan keluar. Aku ingin susu" Yoori pun turun dari gendongan sang Ayah lalu keluar dari kamar bersama Bibi.
Pria itu berjalan kearah ku. Lalu duduk ditepi ranjang.
"Kau tak apa?" Tanya padaku. Aku mengangguk kikuk.
"Mengapa belum memakan buburmu? dan apa ini? kau juga belum meminum obat mu" Pria itu berdecak sambil menunjuk nampan yang masih terdapat semangkuk bubur yang belum ku sentuh dan beberapa pil yang belum kuminum juga.
Kesan pertama yang kutangkap pada pria ini adalah ia pria yang hangat dan baik hati.
"Hey aku bertanya padamu. Ah ya! siapa namamu?" tanya lagi padaku.
"Aku Moon Haejin. Aku belum makan dan minum obat karena ini baru saja diantar" jawabku.
"Baiklah! Aku datang kemari karena khawatir padamu dan aku juga berhutang maaf padamu" katanya menatapku. Kulihat matanya memancarkan kekhawatiran yang kentara.
"Aku tak apa, dan soal memaafkan mu... bisa kita bicarakan nanti" kataku bergurau padanya.
"Ah masih perlu dibicarakan ya... baiklah, mari bicarakan nanti" katanya lalu mengambil mangkuk bubur yang ada dinakas dan menyendoknya lalu diarahkan kemulut ku. "Dan ayo makan buburmu" timpalnya
Aku memakannya dengan lahap sambil terus memandang wajah rupawan nya.