
Sudah hampir seminggu Joanna tidak ada bertemu dengan William, sebab pria itu yang memang belum kembali dari misi yang tengah di jalaninya saat ini. Joanna sedikit tenang, meski terkadang hatinya tetap saja tidak bisa dijauhkan dari pria itu.
Dia memang tidak merasakan rasa sakit ketika William tidak ada, namun Joanna selalu berharap William dapat kembali dengan selamat.
Ya, melihat pria itu baik baik saja adalah impian Joanna, meski cintanya semakin hari semakin menyiksa. Apalagi semakin kesini hubungan William dan Audrey sudah pasti akan semakin dekat. Joanna tidak bisa membayangkan jika William dan Audrey menikah nantinya, entah dia sanggup atau tidak melihat kedua orang itu mengikat janji suci di hadapan pendeta.
Semoga saja ketika hari itu terjadi, Joanna sudah tidak ada lagi di sini. Ya, semoga.
"Anna," tiba tiba panggilan dari Audrey membuat Joanna sedikit terkesiap. Dia yang sedang melamun dan memperhatikan pelayan menyirami bunga langsung menoleh kearah Audrey.
"Ayo kita pergi." Ajak Audrey
Joanna mengangguk pelan dan langsung berjalan mendekat kearah gadis itu.
"Aku ingin ke lapas dan menjenguk bibimu." Ucap Audrey.
Joanna langsung tertegun mendengar itu.
"Menjenguk nyonya Grace?" Tanya Joanna seakan tidak percaya mendengar perkataan Audrey.
"Ya, ayo. Aku tidak tega melihat mu melamun seperti ini terus. Jadi lebih baik kita pergi berjalan jalan sekaligus melakukan kegiatan yang bermanfaat." Ungkap Audrey.
"Baiklah nona. Terimakasih." Jawab Joanna terlihat senang. Ini lebih baik dari pada harus berdiam diri dirumah sepanjang waktu.
Bertemu nyonya Grace dan melihat keadaan nya. Joanna iba dengan ibu mertuanya itu, sudah tua tapi harus mendekam di penjara. Dia bersyukur karena Audrey cukup baik dan sangat perhatian, meski harus menutupi tentang status antara dia dan bibi Grace sebagai menantu dan mertua. Audrey hanya tahu jika nyonya Grace hanyalah bibi Joanna yang mengurus Joanna setelah orang tuanya meninggal.
Drama sedikit, dari pada harus menjelaskan panjang lebar hal yang sesungguhnya. Joanna tidak ingin Audrey semakin bertambah curiga.
Akhirnya, siang itu mereka pergi menuju lapas dimana bibi Grace berada. Hari ini Joanna yang membawa mobil, dan mereka hanya berada berdua di dalam mobil itu. Sedangkan para pengawal yang lain mengikuti mereka dari belakang.
Joanna fokus pada kemudinya, namun sesekali ekor matanya melirik Audrey yang terlihat memandangi kalung yang dia kenakan sembari tersenyum tipis.
Kalung pemberian William. Entah kenapa dia hobi sekali memandangi kalung itu. Apa dia begitu bahagia mendapatkan hadiah itu dari William? Sepertinya begitu.
"Anna,"
Joanna sedikit terkesiap saat tiba tiba Audrey memanggil namanya.
"Ya,nona." Sahut Joanna dari depan kemudi. Dia melirik Audrey dari kaca depan mobil.
"Apa kau pernah jatuh cinta?" Tanya Audrey.
Joanna terdiam, dia memandang Audrey dengan bingung.
"Kenapa malah memandangi ku, aku bertanya," ucap Audrey dengan tawa kecilnya.
Joanna langsung mendengus senyum kecil dan mengangguk pelan.
"Ya, pernah, nona." Jawab Joanna.
"Wow, bagaimana rasanya? Apa kau juga sangat bahagia seperti aku. Meskipun hanya dengan mendapatkan benda kecil ini?" Tanya Audrey lagi.
Joanna mengangguk kembali sembari matanya yang fokus pada jalanan di depan sana.
"Jangankan di beri hadiah, ketika melihat senyum dan wajahnya saja sudah sangat bahagia, nona." Ucap Joanna. Binar matanya terlihat berkilau karena sedikit berair, mengenangkan kembali bagaimana saat saat pertama dia jatuh cinta dulunya.
"Kau benar, meski dia jarang tersenyum, namun hanya ketika melihat wajahnya aku sudah sangat bahagia. Ah, aku jadi penasaran bagaimana wanita kaku seperti mu jatuh cinta, Anna. Pasti pria itu adalah pria yang luar biasa bukan?" Tebak Audrey dengan tawa kecilnya. Membuat Joanna lagi lagi tersenyum tipis dan mengangguk.
"Dia memang luar biasa, nona. Apalagi cintanya, sungguh bisa membuat saya bahagia." Jawab Joanna
"Lalu, bagaimana sekarang? Kalian pasti masih berhubungan?" Tanya Audrey, sepertinya dia benar benar penasaran. Bahkan tubuhnya sudah condong kedepan untuk lebih dekat dengan Joanna.
"Tidak, kami tidak di takdirkan untuk bersama." Jawab Joanna.
"What, kenapa?" Tanya Audrey.
"Orang tua saya tidak merestui hubungan kami, lagi pula sekarang dia juga sudah memiliki kekasih lain." Jawab Joanna, dia tersenyum getir memandang Audrey dari kaca depan.
"Ah, berarti dia tidak benar benar mencintainmu, Anna. Seharusnya dia bisa memperjuangkan cinta kalian." Audrey terlihat kesal.
"Dia tidak bersalah nona, waktu itu sayalah yang mengkhianati cintanya dan membuat dia pergi." Kata Joanna.
Audrey memandang Joanna dengan aneh.
"Kau bisa juga selingkuh? Kenapa? kau bilang kau mencintainya?" Tanya Audrey dengan bingung.
Joanna menghela nafasnya yang terasa berat. Kenapa sekarang malah menjadi sesi saling mencurahkan isi hati??? Bagaimana jika Audrey tahu kalau pria itu adalah tunangannya?? Mereka mencintai orang yang sama.
"Hei, kenapa kau diam saja. Aku benar benar penasaran, Anna!" Desak Audrey.
Joanna kembali tersenyum, meski matanya tetap saja fokus ke jalanan di depan mereka.
"Tidak semua cinta harus memiliki, bukan?" Tanya Joanna.
Audrey mengernyit,
"Jika cinta, kenapa kau mengkhianatinya? Seharusnya kalian bisa berpisah baik baik jika memang tidak bisa saling bersama." Protes Audrey.
"Ya, seharusnya memang begitu. Tapi keadaan waktu itu benar benar di luar kendali. Bukan keinginan saya mengkhianati orang yang saya cintai, tapi keadaan yang membuat saya harus melakukan hal itu. Demi keselamatannya." Jawab Joanna.
"Keselematannya???" gumam Audrey,
Joanna mengangguk pelan.
"Cinta itu bukan sekedar untuk saling memiliki dan hidup bersama nona. Melainkan juga untuk berkorban demi orang yang di cintai." Ungkap Joanna lagi.
"Ah... kenapa terdengar begitu menyedihkan." Kata Audrey.
"Lalu, apa dia tahu alasan mu mengkhianati cinta kalian?" Tanya Audrey lagi.
"Tidak, dia tidak perlu tahu." Jawab Joanna
"Bukankah dengan begitu dia akan membencimu?" Tanya Audrey.
"Tidak apa apa nona, saya sudah menerima itu. Melihat dia bahagia saja, itu sudah cukup untuk saya." Jawab Joanna sembari melirik Audrey di belakang.
Gadis itu menghela nafas dan mengangguk pelan.
"Terdengar miris sekali kisah cintamu, Anna. Semoga saja kisah cintaku tidak seperti itu. Meski aku tahu belum ada perasaan cinta di hati William untukku." Ucap Audrey, terdengar begitu lirih.
"Seiring waktu, letnan pasti mencintai anda, nona." Sahut Joanna.
"Ya, mudah mudahan saja. Aku ingin membuat dia jatuh cinta padaku. Jadi, besok kau harus membantuku untuk menyiapkan kejutan. Lusa mereka pasti sudah pulang." Pinta Audrey.
"Kejutan apa?" Tanya Joanna.
"Aku ingin membuat pesta kecil, makan malam romantis dengan hiasan lilin dan bunga mawar." Jawab Audrey.
"Sebaiknya jangan, nona. Letnan alergi dengan bunga mawar." Sahut Joanna tanpa sadar.
Audrey langsung mengernyit mendengar itu.
"Alergi mawar? Kau tahu dari mana?" Tanya Audrey, memandang Joanna dengan sedikit curiga.
Joanna nampak salah tingkah dan menarik nafasnya sejenak.
"Sewaktu menjadi pelayan di mansion. Jesslyn pernah memberi tahu saya tentang hal yang tidak di sukai letnan, nona." Jawab Joanna sebisa mungkin.
"Benarkah begitu? Kenapa aku tidak tahu ya." Gumam Audrey masih tidak percaya.
Joanna terdiam, dia menyesali kebodohannya, kenapa dia malah bisa kelepasan berbicara seperti itu?
Mereka terdiam beberapa saat dengan fikiran masing masing, hingga tiba tiba...
dor dor dor
"Aaahh" Audrey berteriak kencang dan menutup telinganya dengan cepat saat tiba tiba saja beberapa peluru melesat kearah mobil mereka, bahkan mobil itu hampir oleng karena Joanna yang juga terkejut.