Sacrifice of Love

Sacrifice of Love
PART 2



...________PART 2________...


Aku kembali dituntun oleh kedua wanita itu memasuki Ruangan madam.


Saat aku masuk kulihat madam dan Sera berdecak kagum.


"Haejin-ah kau cantik sekali sungguh!" Kata Sera lalu menghampiri ku dengan tatapan kagum. Aku malu sungguh, pakaian ini sangat minim dan ketat aku tak nyaman memakainya. Namun inilah pekerjaan ku yang sekarang, Aku jelas harus menerima dengan lapang dada.


"Wow! Kau memang sangat mengejutkan ku dengan wajah cantikmu" Ujar madam.


'Berhenti memuji ku, aku tak nyaman sungguh!' Batinku



...Profil Moon Haejin!...


"Baiklah Haejin-ssi, mari kita temui tamumu malam ini" kata madam lalu bangkit dari kursi kebesarannya.


"Haejin-ah semangat! awalnya memang akan sakit tapi kupastikan setelahnya kau akan menikmatinya" Kata Sera, Aku membulatkan mataku. Apa katanya tadi? Dasar Sera!


Sera yang melihat raut wajah ku terkekeh geli.


Aku pun berjalan mengikuti madam dan kedua antek-antek nya.


Kami menuju salah satu kamar VIP, aku sangat gugup dan sedikit takut tangan ku bergetar dan beberapa butir peluh mulai mengisi kening ku.


Kulihat madam mengetuk pintu dan lalu meminta izin untuk masuk tak butuh waktu lama kami dipersilahkan masuk dan kedua antek-antek madam dibiarkan berjaga diluar.


Setelah kami masuk kulihat seorang pria bertubuh gembul dengan kumis tebal Diantara hidung dan bibir atas nya. Aku bergidik ngeri saat pria yang lebih tepatnya kupanggil paman itu menatap lapar kearah ku.


"Selamat malam Tuan, ini pesanan anda. Seperti yang anda inginkan ia masih tersegel" kata madam berbisik kepada paman itu namun masih dapat tertangkap oleh telingaku.


"Kau tak pernah mengecewakan ku, sudah ku transfer seperti jumlah yang kau tetapkan" Paman itu benar-benar mengerikan! apa apaan! matanya itu sebenarnya melihat kemana?! dasar mesum! pedofil gila! Aku hanya sanggup membatin dan menyembunyikan raut wajah ingin muntah ku.


"Baiklah kalau begitu kutinggal kalian berdua, nikmati malamnya" kata madam lalu melangkah pergi melewati ku yang mematung seperti idiot disini bersama pedofil gila itu.


Kulihat paman itu bangkit dari sopa yang ia duduki tadi dan kini melangkah kearah ku.


jaraknya dengan ku kini sangat dekat hingga ujung sepatu fantofel nya menyentuh ujung heels ku.


tangannya mulai bergerak membelai lengan ku.


ini menjijikkan sungguh! aku benci caranya menatapku, aku merasa rendah ditatap seperti itu.


Aku menerima belaian pada lengan ku namun kini si tua mesum ini malah menarik ku kesopa dan menyodorkan minuman padaku. Aku tak akan tertipu, ada obat perangsang didalam sini aku yakin karena Sera yang memberitahukan padaku.


"Ayo manis, minumlah" menjijikkan!


Tak ingin terjebak aku mengambil gelas itu lalu ku sodorkan lagi pada bibir si tua ini. Ia meminumnya dan kini mendekat kan wajahnya pada wajahku, tolong aku benar-benar ingin muntah. Namun belum sempat menjamah bibir ku aku segera berdiri. Dan si tua ini terlihat terkejut.


Seperti nya ia ingin protes.


namun kini kubelai dadanya dan ia tersenyum miring ke arahku.


lalu ia menarik pinggang ku kini kami duduk diatas ranjang dengan aku yang berada diatas pangkuannya.


Tangan si tua ini merambat kebawah dan meremas bokongku, ******** sekali!


Aku tak tahan sungguh!


Tanganku meraba-raba nakas yang ada disamping ranjang tadi kulihat ada pas bunga disana.


Dan tangan ku menggapainya lalu kupukulkan pada kepala tua bangka ini.


"Arrrggghhh! ****** sialan!" ia mengerang kesakitan, namun aku tak peduli.


Tangannya memegang kepalanya yang penuh darah dan tangan ku sendiri sibuk mengobrak-abrik jasnya mencari dompet atau apa saja yang bisa menguntungkan ku.


Dapat! Aku mendapat kan dompetnya.


"Yak! Gadis sialan!" Teriak tua bangka itu namun aku mengabaikannya.


Aku pun mulai bangkit dari pangkuannya lalu berlari menuju pintu. Untung saja tidak ada yang berjaga.


Aku segera berlari menuruni anak tangga dan aku mengedarkan pandangan ku takut madam atau anak buahnya melihat ku.


Kini aku sampai dilantai bawah tempat orang-orang menari dan minum dengan senangnya.


Kulihat pintu utama didepan sana. Saat aku akan berlari seseorang berteriak memanggil namaku.


"Haejin-ah jangan lari!" Itu Sera ia nampak marah dan mengejarku diikuti dengan antek-antek Madam dibelakang nya.


Apa yang terjadi pada Sera. Oh Tuhan! ingatkan aku untuk menarik kata-kata terpuji ku untuk medusa itu. Ia ternyata tak sebaik yang kukira.


Aku terus berlari meski Sera berulang kali meneriaki ku.


Aku keluar dari club itu.


Namun aku masih berlari hingga jalan raya.


Dan saat aku akan menyebrang-


ckiiiittzzz!


"Arrrggghhh!" Semua terjadi dengan tiba-tiba aku merasa seperti tengah sekarat sekarang. Mataku terasa berat.


Jika ini sudah ajalku tolong sampai kan permintaan maaf ku pada ayah dan kedua adikku karena aku yang tak bisa membahagiakan mereka.


Sebelum mata ku tertutup kulihat sekelebat bayangan menuju kearah ku dan menepuk-nepuk pipiku halus. Namun aku sudah tak tahan lagi darahku bercucuran dimana-mana lalu setelah nya kerasa kan tubuh ku diangkat lalu semuanya gelap aku tak ingat apa apa lagi!