Sacrifice of Love

Sacrifice of Love
Masa Lalu



Pagi ini Joanna sudah merasa lebih baik. Dia sudah bisa kembali beraktivitas setelah sejak semalam hanya beristirahat di mansion William. Siang ini, orang suruhan jenderal Frederick sudah menjemputnya untuk kembali bertugas mengawal Audrey.


Yah, Joanna sudah harus kembali bertanggung jawab untuk menjaga gadis itu. Semoga saja kesalahan yang lalu tidak akan terulang lagi. Sungguh, William benar benar tidak ada rasa iba dalam memperlakukan Joanna sekarang.


Sejak sore dia menerima hukuman itu Joanna tidak ada lagi bertemu dengan William, Mungkin saja dia masih berada di Newyork seperti yang di katakan oleh Gresham kemarin.


Saat ini, Joanna sudah berada di ruang tengah. Berdiri dan memandangi Audrey beserta letnan Jorge, kakaknya. Mereka terlihat saling menyapa karena letnan Jorge akan pergi bertugas untuk beberapa hari kedepan.


"Anna." Panggil letnan Jorge.


"Ya, letnan." Sahut Joanna. Dia menundukkan sedikit kepalanya saat letnan Jorge memandang kearahnya.


"Aku titip adikku. Jangan biarkan dia bermain senjata api lagi." Ujar letnan Jorge.


"Siap, letnan." Jawab Joanna dengan patuh. Dia memang sudah melarang, namun Audrey sendiri yang keras kepala. Lalu dia harus bagaimana???


"Baiklah, aku percaya padamu. Dua hari lagi jika kau bisa menjaga adikku dengan baik, aku akan membawakan mu hadiah." Kata Letnan Jorge.


Joanna sedikit mengernyit mendengar itu.


"Kakak, kau benar benar keterlaluan. Anna kau tawari, sedangkan aku tidak." Sahut Audrey. Wajahnya terlihat cemberut, sepertinya dia cemburu.


Letnan Jorge terkekeh pelan, dia mengusap kepala Audrey dengan lembut. Sepertinya mereka memang cukup dekat. Terbukti dengan rasa sayang dan perhatian yang di berikan oleh letnan Jorge pada Audrey setiap mereka bertemu. Rasanya Joanna benar benar iri.


"Kau sudah mendapatkan yang kau mau, Audrey. Lalu apa lagi yang kau inginkan dariku?" Tanya Jorge.


Audrey tersenyum malu dan langsung mendekat kearah kakaknya itu.


"Rayu William untuk segera menikahi ku." Ucap Audrey terdengar sedikit berbisik, namun masih terdengar di telinga Joanna yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka.


Joanna menelan salivanya dan tertunduk getir.


"Hei... kau ini kenapa tidak sabaran sekali. Setelah William meraih gelar barunya, dia pasti akan menikahi mu. Bersabar lah terlebih dahulu." Ujar letnan Jorge.


Audrey menghela nafas lesu dan mencebikkan bibirnya.


"Iya iya baiklah, aku hanya bercanda." Sahut Audrey.


"Bercanda mu adalah hal yang serius baby. Sudahlah aku harus pergi. Jangan kemanapun untuk beberapa hari ini. Kau harus banyak beristirahat." Ujar letnan Jorge.


"Yea, aku tahu." Jawab Audrey dengan malas.


Letnan Jorge hanya tersenyum dan mengusap wajah Audrey dengan lembut. Setelah itu, tanpa mengucapkan apapun lagi dia langsung pergi meninggalkan Audrey bersama Joanna. Namun dia masih sempat melirik Joanna sekilas sebelum pergi keluar.


"Huh... dasar menyebalkan." Gerutu Audrey seraya memandang kakaknya yang sudah menghilang di balik pintu.


"Kalian begitu dekat nona." Ucap Joanna berbasa basi.


"Yea, dia sudah seperti saudara dan sahabat untukku. Dan dia juga yang membantuku untuk dekat dengan letnan William." Jawab Audrey.


"Mereka satu angkatan?" Tanya Joanna, seraya dia yang berjalan mengikuti Audrey menuju belakang rumah. Sepertinya ke taman belakang lagi.


"Ya, mereka satu angkatan. Bahkan kakakku adalah satu satunya teman yang di miliki oleh William dulu." Ungkap Audrey dengan tawa kecilnya.


Joanna hanya diam dan terus mengikuti Audrey. Tanpa di minta, pasti gadis ini akan bercerita lagi tentang pria itu.


"Sejak masuk angkatan, kakak bilang jika William adalah orang yang pendiam. Namun dia begitu gigih dan kuat. Dia sama sekali tidak takut mati. Maka dari itu dia bisa cepat mendapatkan bintang tiga di usia semuda ini." Ungkap Audrey lagi.


Joanna tersenyum tipis mendengar itu. Dia tahu, perjuangan William pasti tidak mudah. Semua itu pasti karena tujuan untuk mendapatkan kekuasaan yang hebat seperti impian nya dahulu.


"Tapi sayang, dia anak yatim piatu."


deg


Perkataan Audrey selanjutnya membuat Joanna tertegun. Dia memandang Audrey yang kini sedang memetik bunga lily yang tertanam di belakang rumah.


"Jika orang tuanya masih hidup, mereka pasti bangga melihat pencapaian William sekarang." Ungkap Audrey seraya mencium bunga lily putih itu di tangan nya.


"Mereka pasti melihat dari atas sana, nona." Sahut Joanna, meski rasanya tenggorokannya terasa tercekat sekarang.


"Yea, itu pasti. Hanya saja, aku mengira jika William pasti bersedih karena itu. Apalagi kepergian orang tuanya adalah karena bertugas." Ucap Audrey.


"Anda tahu itu?" Tanya Joanna.


Audrey mengangguk pelan.


Joanna semakin tertunduk.


Hatinya benar benar terluka jika mengingat hal itu.


Dia yang paling tahu tentang kejadian yang sesungguhnya. Sialnya, karena kejadian di masa lalu itu yang harus membuat Joanna merelakan perasaan nya sendiri. Pertikaian antara orang tua Charles dan orang tua William, semua melibatkan orang tuanya.


Sekarang, Joanna yang harus menanggung luka akibat kesalahan dari orang tuanya sendiri.


Kesalahan mereka karena telah menjadi pengkhianat dan mengakibatkan ibu William tewas.


Kisah yang rumit. Jika William tahu, mungkin sampai mati pun dia tidak akan pernah memaafkan Joanna. Sekarang, William hanya sakit hati dan benci karena merasa cintanya di khianati oleh musuhnya sendiri. Bagaimana jika William tahu yang sebenarnya jika ibunya tewas karena ulah orang tua Joanna???


...


Sementara di tempat lain...


New york, waktu setempat.


William dan Gresham bersama anggota nya yang lain kini baru tiba di kantor agensi yang di pimpin oleh kapten Stone. Baru hari ini mereka bisa bertemu dengan pria tua yang masih nampak gagah dan berwibawa ini.


Pria yang memimpin seluruh agen di wilayah Amerika Serikat.


"Selamat siang kapten." Sapa William sembari memberikan sikap hormat pada kapten Stone.


"Selamat siang, letnan. Silahkan duduk." Jawab kapten Stone.


William mengangguk dan langsung duduk di hadapan kapten Stone. Mereka berada di dalam ruangan yang cukup mewah dan tentunya besar.


Gresham hanya berdiri di belakang William bagai patung yang tidak bergerak sama sekali.


"Letnan William Daniel Davidson." Kapten Stone terlihat membaca profil William yang ada di atas mejanya. Dia baru sempat datang hari ini, dan baru kali ini membaca bio pemimpin tentara yang akan bekerja sama dengan para agen untuk menangkap musuh negara kali ini.


"Yes, kapten." Jawab William


Alis kapten Stone terlihat mengernyit sekilas. Lalu kembali memandang pada William.


"Kau putra Harley Davidson?" Tanya kapten Stone.


"Yea, anda masih mengingat ayah saya?" Tanya William.


Kapten Stone tersenyum tipis dan mengangguk pelan.


"Tentu saja. Meski aku sudah tua, aku masih mengingat tentang agen agen terbaik yang gugur dalam medan perang dulu." Ungkap kapten Stone.


William hanya tersenyum tipis mendengar itu.


"Aku tidak menyangka jika anaknya sudah menjadi seorang letnan jenderal sekarang. Tidak lama lagi kau pasti akan di angkat menjadi jenderal perang oleh Jenderal Frederick." Puji kapten Stone.


"Anda terlalu berlebihan kapten." Sahut William.


"No, ini tidak berlebihan. Aku bangga padamu karena dengan keberhasilan mu ini, kau tidak menyia nyiakan perjuangan orang orang yang sudah memperjuangkan kau sampai ke titik ini." Ungkap kapten Stone.


"Ya, ini berkat usaha ayah saya." Jawab William dengan cepat.


"Benar, tapi seingat ku dulu. Aku menerima dua surat untuk menjamin kau masuk kedalam militer. Selain dari jaminan ayahmu, aku juga menerima dari agen yang lain." Ungkap kapten Stone.


"Dari agen yang lain?" Gumam William yang masih tidak mengerti.


"Ya, karena ayahmu sudah meninggal saat kau masuk sekolah militer, jadi semua masih di pertimbangkan. Namun jaminan lain datang dari rekan ayahmu. Tapi aku lupa siapa orangnya, yang jelas, surat jaminan itu mengatas namakan agen dari agensi yang sama dengan ayahmu." Ungkap kapten Stone.


"Apa karena itu saya di mudahkan untuk mengikuti setiap pelatihan dan persyaratan nya?" Tanya William.


Kapten Stone mengangguk.


"Ya, terlepas dari kemampuan mu yang memang sudah cukup hebat maka kau bisa sampai berada di titik ini." Jawab kapten Stone.


William terdiam, dia masih mengingat bagaimana dia yang masuk ke dalam sekolah militer dulu. Semua persyaratan internal memang mudah. William hanya cukup berjuang serta berlatih dengan baik saat itu tanpa memikirkan apapun.


Lantas, siapa agen yang membantu nya itu???


Ini sudah sangat lama sekali. Tapi William memang harus mencari tahu. Menemui kapten Stone, bukan hanya untuk melaksanakan misi negara, namun juga untuk mencari tahu sesuatu tentang kejadian yang masih janggal waktu itu. Sekarang, William malah mendapatkan berita baru lagi.