
Joanna benar benar kebingungan dengan tatapan mata curiga itu. Apalagi ketika Audrey meniliknya dengan lekat. Seperti ada beribu pertanyaan yang tersimpan di hati gadis ini sekarang. Semua karena letnan Jorge. Kenapa juga dia berkata seperti itu di depan Audrey, yang jelas jelas adalah tunangan dari William.
"Kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku, Anna?" Tanya Audrey. Mereka masih berdiri di taman belakang kediaman jenderal Frederick. Disini cukup sepi, dan sama sekali tidak ada orang. Apalagi ini memang tempat bersantai putri semata wayang jenderal. Semua berjaga di depan, hingga kini hanyalah mereka berdua yang ada disana.
Joanna menghela nafas dan memandang Audrey sejenak.
"Apa yang harus saya katakan, nona? Tentang orang tua saya?" Tanya Joanna kembali.
"Bukan hanya tentang orang tuamu, melainkan tentang letnan William. Sebenarnya sejak awal aku juga sudah curiga kenapa letnan William menempatkan mu di sisiku padahal dia tahu jika aku sudah memiliki pengawal khusus." Ucap Audrey.
Joanna tertunduk, dia bingung harus menjawab apa sekarang.
"Apalagi kau seorang yang terlibat dengan buronan yang di tangkap letnan William waktu itu. Aku benar benar penasaran, Anna." Kata Audrey lagi.
Joanna kembali menghela nafas dan memandang wajah ingin tahu itu. Apa jika Audrey tahu semuanya dia akan menerima dengan lapang hati? Apa dia tidak akan cemburu? Ah... rasanya mustahil sekali.
Joanna juga tidak mungkin mengatakan hubungan nya dengan William pada Audrey, bisa bisa William akan murka setelah ini. Joanna juga tidak ingin terlihat menyedihkan atau mengganggu hubungan mereka. Meski sakit hati, namun ini pilihan nya.
"Sungguh, kami tidak ada berhubungan apapun nona. Mungkin letnan William baik pada saya karena kami sama sama anak dari anggota agen. Apalagi orang tua kami yang memang bekerja satu agensi dulunya." Jawab Joanna. Entah kenapa jantungnya tiba tiba berdebar tidak beraturan.
Audrey memandang Joanna dengan lekat. Dia masih tidak yakin dengan jawaban Joanna.
"Benarkah seperti itu?" Tanya Audrey
Joanna mengangguk pelan.
"Tapi sepertinya ada alasan lain, entah kenapa firasatku mengatakan seperti itu." Kata Audrey lagi.
"Nona, tolong jangan berfikiran buruk dan terlalu jauh. Hubungan kami hanya sebatas anak rekan kerja." Sahut Joanna.
Kali ini Audrey yang terlihat menghela nafasnya. Dia mengangguk pelan, namun ketika ingin berucap kembali, tiba tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang sejak tadi sedang mereka bicarakan.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya William dengan suara beratnya yang terdengar menakutkan di telinga Joanna.
"Letnan William," gumam Audrey
Joanna memberi hormat sekilas dan langsung mundur beberapa langkah saat William datang dan mendekat kearah mereka. Dia menundukkan pandangannya saat mata tajam milik William melirik kearahnya. Joanna masih takut dengan kemarahan William malam itu.
"Aku kira kau tidak datang, letnan." Ucapan Audrey membuat suasana kembali terasa lebih baik.
"Kau berharap aku tidak datang?" Tanya William seraya semakin mendekat kearah Audrey. Bahkan jarak mereka cukup dekat sekarang, membuat Joanna yang melihat cukup sesak. Namun sebisa mungkin dia menundukkan pandangan nya dan mencoba untuk tidak mendengar perkataan dua orang ini, meski rasanya memang mustahil.
"Tentu aku berharap kau datang, karena aku ingin menjadi seseorang yang penting untukmu dalam setiap kesibukanmu yang menggunung itu." Jawab Audrey.
William tersenyum tipis, dia mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya, membuat Audrey memandang itu dengan heran.
Sebuah kotak hitam kecil namun terdapat pita di atasnya. Cantik dan manis sekali.
"Hadiah untuk orang yang spesial." Ucap William.
Audrey terperangah tidak percaya mendengar itu. Ini adalah kali pertama William bersikap manis padanya, apalagi memberikannya sebuah hadiah.
"Apa aku sedang tidak bermimpi??" Tanya Audrey begitu bahagia, bahkan dia langsung meraih kotak kecil itu dari tangan William.
"Tentu saja tidak, bukankah sebentar lagi kau akan menjadi istriku." Kata William lagi. Tangannya langsung meraih pinggang Audrey dan semakin merapatkan tubuhnya, hingga kini mereka saling tatap tanpa jarak.
Joanna tertunduk dan semakin tidak berani memandang mereka. Hanya tangannya saja yang saling meremas menahan luapan perasaan yang tidak bisa di jelaskan. William langsung tersenyum dalam hati melihat ekspresi Joanna yang seperti itu.
"Letnan, aku benar benar bahagia. Terimakasih untuk hadiahmu, dan aku ingin kau pulang dengan membawa kabar gembira nantinya." Ujar Audrey
William mengangguk pelan. Dia langsung meraih tengkuk Audrey dan mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Audrey.
Audrey sempat terperangah, namun sedetik kemudian dia langsung tersenyum dan memejamkan matanya. Menikmati sentuhan pertama William yang begitu lembut hingga mampu membuatnya seperti terbang melayang ke atas awan.
Namun berbeda dengan Joanna, dia tertegun dan memandang pemandangan menyakitkan ini dengan mata yang berair. Entah kenapa matanya malah tidak bisa berpaling dan terus memandang kearah William.
Sakit, terluka, dan begitu sesak.
Apalagi ketika dia melihat mata William yang terbuka dan memandang kearahnya. Bibirnya mencium lembut bibir Audrey, namun matanya malah memandang pada Joanna yang terlihat berbeda.
Ada sebuah pancaran kepuasan tersendiri di mata itu. Namun entah kenapa ketika melihat Joanna yang memalingkan wajah dengan air yang sudah membendung, perasaan William kembali menjadi tidak menentu. Dia segera melepaskan ciuman nya dan memandang kearah Audrey yang nampak puas dan sangat bahagia. Karena memang ini adalah sentuhan pertama mereka. Sentuhan yang entah kenapa terasa aneh dan hanya sekedarnya saja untuk William.
"Aku pergi, kau harus menjaga dirimu dengan baik." Ujar William akhirnya. Dia memang sudah harus pergi karena untuk berlama lama disini, William hanya akan menumbuhkan perasaan aneh dan emosi kembali. Apalagi ketika melihat wajah sendu Joanna.
"Terimakasih untuk hadiah mu letnan. Akhirnya aku tidak kalah dengan Anna." Jawab Audrey dengan senyum lebarnya. Namun perkataan itu malah membuat William tertegun dan memandangnya dengan bingung. Dia melirik sekilas ke arah Joanna yang masih tertunduk dan sedang menahan perasaan.
"Memangnya kenapa dengan dia?" Tanya William. Kenapa dia jadi ingin tahu sekarang?
"Kakakku memberikan Anna hadiah sebagai imbalan karena telah menjagaku." Jawab Audrey
William kembali menoleh pada Joanna. Kali ini tatapannya sedikit mengintimidasi. Kenapa letnan Jorge bisa memberikan Joanna hadiah?
Selama ini letnan berwajah tampan itu begitu dingin dengan wanita, sama seperti nya. Tapi kenapa bisa begitu baik pada Joanna??
"Hei, kenapa kau malah memandang Joanna seperti itu?" Tanya Audrey.
William kembali memandang Audrey dan menggeleng pelan.
"Tidak ada, aku hanya heran kenapa kakakmu berkata seperti itu. Padahal dia sudah hampir membuat mu mati beberapa waktu lalu." Ucap William dengan sedikit sinis. Joanna kembali memandang nya dengan sedih. Bukan Audrey yang hampir mati, tapi Joanna. Apa William tidak tahu itu???
"Itu karena aku yang salah dan memaksa Anna, letnan. Bukan salah dia. Kenapa kau jadi terlihat seperti sedang cemburu?" Tanya Audrey
William langsung memicingkan matanya memandang Audrey. Dia terlihat tidak suka dengan tuduhan Audrey barusan.
Cemburu???
Tidak mungkin.
"Kenapa juga aku harus cemburu padanya?" Tanya William.
"Karena aku memang merasa seperti itu. Apalagi aku baru mendengar dari kakakku jika kalian memang sudah saling mengenal sejak dulu." Ungkap Audrey.
Alis William langsung tergerak mendengar itu. Apa letnan Jorge sudah mencari tahu tentang Joanna?
"Sudahlah, kau yang paling tahu bagaimana aku. Aku sudah harus pergi sekarang, dan jangan lupa memakai benda itu." Ujar William.
Audrey langsung menunduk dan memandang kotak kecil di tangan nya.
"Aku pergi." Ucap William, bahkan tanpa menunggu jawaban dari Audrey dia sudah langsung pergi dari tempat itu. Meninggalkan kekasih dan mantan kekasihnya itu hanya berdua.
"Kenapa dia aneh sekali hari ini?" Gumam Audrey dengan senyum tipis nya. Meski curiga, namun dia sangat bahagia. Sedangkan Joanna hanya bisa menghela nafas pelan dan kembali menunduk. Menahan hati untuk tidak mengingat tentang kejadian yang menyayat hati barusan.