Sacrifice of Love

Sacrifice of Love
Diserang



Mobil yang dikendarai Joanna berkali kali ditembak dari belakang. Entah sudah berapa puluh peluru yang berusaha untuk menembus kaca mobil itu. Namun beruntungnya, mobil yang mereka kendarai sudah di modifikasi anti peluru sehingga mereka bisa aman.


Tapi, sepertinya tidak akan lama.


Audrey sudah tertunduk dan meringkuk di kursinya, dia ketakutan setengah mati saat orang orang tidak dikenal tiba tiba menyerang mereka.


Joanna bingung, dia tidak bisa bertahan lebih lama dari ini. Apalagi jalanan semakin sepi, bahkan para pengawal yang mengikuti mereka tadi entah kemana.


"Anna, apa yang harus kita lakukan? Kemana para pengawal kita tadi!" Audrey berseru dengan tangan yang menutup kedua telinga. Bahkan matanya masih terpejam rapat. Dia anak seorang jenderal, tapi dia sangat penakut.


Joanna melirik dua mobil yang mengejar mereka dari belakang.


"Sepertinya pengawal kita sudah bisa mereka lumpuhkan nona." Ucap Joanna.


Dor dor dor


"Aaaaah!" 


Kembali, tembakan beruntun mencoba menembus kaca mobil mereka.


Dor


Joanna langsung membanting stir ke kanan saat salah satu ban mobil berhasil mereka tembak.


Tidak, tidak bisa begini. Joanna pasti kalah. Lalu pada siapa dia akan meminta tolong.


"Nona, bisakah menghubungi jenderal atau siapa saja. Kita minta pertolongan!" Seru Joanna di tengah kepanikan dan rasa gugup setengah mati.


Dengan tangan bergetar Audrey meraba ponsel yang ada di dalam tasnya. Dia mencoba untuk menghubungi ayahnya namun tiba tiba..


Bruk


Mobil mereka ditabrak dari belakang hingga ponsel Audrey terhempas, begitu pula Audrey yang terhempas kedepan dan membentur kursi Joanna.


Dahi Joanna memerah terhantuk setir kemudinya, namun sebisa mungkin dia menguasai kemudi agar mereka bisa mengukur waktu.


"Anna, ponselku entah kemana!" Seru Audrey, dia sudah menangis ketakutan.


"Sial," gumam Joanna.


Namun tiba tiba, Joanna teringat akan sesuatu. Earphone, ya benda itu.


Dia meraba earphone pemberian letnan Jorge yang sempat dia masukkan kedalam saku. Beruntungnya dia mengingat benda itu sebelum pergi. Dengan tangan gemetar dan mata yang fokus kedepan Joanna memasang earphone itu di telinganya. 


Dia mengklik tombol kecil yang ada di sana.


Entah suara apa yang terdengar tidak tahu. Tapi Joanna segera berucap di antara beberapa peluru yang kembali menyerang mereka.


"Letnan, lapor. Kami di serang orang yang tidak dikenal!" Seru Joanna, nada suaranya panik dan bergetar. Dan beruntungnya, laporan Joanna langsung terhubung pada seseorang di seberang sana.


"Katakan dimana posisimu!" Sahut letnan Jorge


"Di jalan xx, letnan!"


Bruk


"Uuuhh!" Mobil Joanna oleng, dia membanting stir dan bermanuver saat mobil mereka ditabrak kembali.


Suara teriakan Audrey begitu melengking menambah keadaan semakin memburuk.


Brak


Joanna langsung memejamkan mata saat mobil mereka menabrak sebuah pohon. Namun beruntungnya Joanna sempat membanting stir hingga mobil itu menghantam bagian kanan, jadi Joanna dan Audrey bisa selamat. Meskipun kini pelipis Joanna berdarah karena pecahan kaca.


"Nona, anda tidak apa apa?" Joanna langsung beralih ke belakang sambil membuka sabuk pengamannya. Dia melihat Audrey yang meringis dan memegangi bahunya. Sepertinya dia cedera.


Dengan cepat Joanna mengeluarkan pistol yang ada di balik pinggangnya. Dia ingin keluar, namun tiba tiba sebuah suara di earphone nya berbunyi. Terdengar suara letnan Jorge di seberang sana.


"Anna, kau mendengar ku?" 


"Ya, letnan." Jawab Joanna. Dia melompat ke kursi belakang dengan susah payah karena separuh mobil mereka sudah ringsek. 


"Pengawal sudah tiba di tempat kalian, usahakan untuk mengulur waktu!" 


"Siap!" Jawab Joanna sambil membantu Audrey untuk duduk.


"Auh, bahuku sakit Anna." Keluh Audrey


"Keluar!!!" Tiba tiba beberapa orang berbadan besar menggedor gedor pintu mobil mereka 


"Turuti, dan usahakan jangan melawan. Dia musuh jenderal. Pasti Audrey yang mereka incar."


"Baik," Jawab Joanna.


Dengan helaan nafas yang cukup panjang, dia membuka pintu, hingga orang orang itu bisa menarik mereka keluar.


"Anna!" Seru Audrey saat Joanna ditarik keluar.


Namun ketika orang orang itu ingin menangkap Audrey, Joanna langsung menghalangi.


"Jangan kasar pada nona ku!" Teriak Joanna. Dia membantu Audrey keluar dengan pelan karena sepertinya Audrey memang cedera.


"Jangan ikut campur, atau kau mati!" Bentak salah seorang dari mereka.


"Jika kalian kasar, maka dia akan mati. Kalian tidak melihat jika dia sudah cedera. Jantungnya lemah, dan jika kalian memperlakukan dia dengan kasar, dia bisa mati disini!" Seru Joanna. Dia menarik Audrey untuk berdiri di belakangnya.


"Kau berani ikut campur ha!" Bentak mereka.


"Serahkan nona Audrey, atau jika tidak kami benar benar akan bermain kasar." Seru pria itu.


"Tidak akan, kalian hadapi aku dulu!" Sahut Joanna dengan berani.


"Anna, pergilah dengan mereka." 


Joanna mengernyit, saat tiba tiba ada perintah dari letnan Jorge. Tapi, Joanna hanya bisa pasrah.


"Kemari kau!" Salah seorang pria bertato langsung menarik lengan Audrey, namun Joanna masih menghalangi.


"Ku mohon jangan! Jika kalian ingin membawanya maka bawa aku juga!" Teriak Joanna.


Audrey yang tidak tahu apa apa cukup bingung melihat itu. Namun dia juga langsung mengangguk pelan.


"Ku mohon, aku akan ikut dengan kalian. Tapi biarkan dia ikut denganku." Pinta Audrey pula.


Dor dor dor


Pria pria yang menyandera Joanna dan Audrey langsung menoleh kebelakang dimana beberapa mobil dan orang orang pasukan dari jenderal Frederick sudah tiba dan mulai menguasai keadaan. Mereka kalah jumlah dan tentunya jika tidak bisa menahan Audrey, mereka pasti mati.


"Sudahlah, bawa saja mereka berdua. Hanya wanita, tidak masalah." Sahut salah satu rekannya.


Pria bertato itu mengangguk. Dia langsung menarik tangan Audrey menuju mobil mereka, begitu pula dengan pria yang lain mereka juga membawa Joanna ke mobil yang sama.


"Bagus, ikuti kata mereka dan jangan melawan. Aku dan William sudah berada di perjalanan. Kalian hanya perlu bertahan sebentar."


Joanna mengernyit mendengar perkataan letnan Jorge. Sepertinya dia tahu, jika penangkapan mereka ini memang sudah direncanakan.


Apa jangan jangan, mereka memang sengaja menjadi sebuah pancingan? Atau apa?


Kenapa Joanna jadi curiga. Sepertinya rencana musuh jenderal Frederick ini memang sudah diketahui oleh kedua letnan itu. Dan sekarang dia kembali berada dalam permainan mereka.


Sial.


Tapi apa boleh buat, Jonna memang hanya harus mengikuti perkataan letnan Jorge. Pantas saja letnan Jorge memberikan Joanna benda kecil dan halus ini. Dan ternyata, inilah tujuan nya.


Joanna tersenyum tipis, dia melirik ke arah Audrey yang duduk di sebelahnya dan terlihat tertekan. Terpandang di matanya kalung pemberian William, dia kembali tersenyum samar. Dia tahu, itu pasti bukan kalung biasa. Ah.. dasar bodoh. Kenapa dia tidak berpikir jauh sebelumnya.


Sejak kapan William bisa romantis, dia kaku jika tidak dimulai. Dan kalung itu, sudah jelas ada tujuannya. 


Dor


Suara ledakan bom terdengar di belakang sana. Joanna menoleh kebelakang, dimana sekarang mobil yang membawa mereka sudah pergi menjauh dari tempat kejadian. Terlihat asap mengepul di sana. Tempat itu sudah penuh dengan suara tembakan dan beberapa granat.


Benar benar membuang buang waktu.


..


Sementara di tempat lain,


William dan Jorge ternyata satu mobil dan sudah berada di perjalanan pulang. Wajah mereka berdua dingin dan fokus pada iPad masing masing.


"Mereka sudah dibawa." Ucap William


"Ya, sekarang tinggal menjalankan rencana kedua." Sahut letnan Jorge pula.


William mengangguk. Dia terus memantau apa yang terjadi melalui kalung yang dikenakan Audrey. Kalung yang memang didesain khusus dengan sebuah kamera kecil di dalam Bandul kalung itu. Kamera yang bisa menunjukkan tempat dan tentunya apa yang terlihat dari sana. Hanya suara yang tidak bisa dia dengar. Dan tentunya hanya letnan Jorge yang tahu dengan earphone yang ada pada Joanna.


"Apa jenderal sudah tahu?" Tanya William


"Tentu. Dia akan segera pulang. Aku tidak ingin dia mengamuk karena putri kesayangannya celaka." Jawab Letnan Jorge.


"Roger memang tidak tahu diri. Berani sekali melawan kita. Dia memang tidak takut mati." Geram Letnan Jorge.


"Jelas karena dia sakit hati karena kita kalahkan dalam hal jabatan waktu itu." Sahut William.


"Ya, dan kali ini dia harus mengakhiri semuanya. Beruntung, Audrey keluar dan kita juga mendapatkan informasi lebih dulu." Ucap Letnan Jorge


William mengangguk. 


"Anna, jangan beritahu Audrey jika kami akan datang menolong. Biar semua berjalan semestinya." Ucap Letnan Jorge pada Joanna.


William meliriknya sekilas,


"Kenapa kau memberikan benda itu padanya?" 


"Jika tidak pada dia, lalu dengan siapa. Dia yang paling dekat dengan Audrey." Jawab Letnan Jorge.


William menarik nafas dalam dalam.


"Kau begitu percaya padanya. Bahkan aku ragu dia bisa menjaga Audrey atau tidak." Sahut William, terdengar ketus.


Dan kali ini letnan Jorge yang tersenyum tipis.


"Kau terlihat sangat tidak menyukai Anna. Bahkan beberapa kali aku sering melihat kau memarahinya." Letnan Jorge memandang William curiga.


"Aku curiga dengan hubungan kalian berdua," bisiknya.


William langsung menoleh sinis pada letnan Jorge.


"Apa maksudmu?" Tanya William


Letnan Jorge terkekeh pelan.


"Tidak bermaksud apapun. Aku hanya curiga, jika kalian memiliki sebuah hubungan di masa lalu. Kebencian mu pasti karena didasari oleh sesuatu." Jawab Letnan Jorge 


"Kau tahu, jika orang tua kami satu agensi dulu. Dan tidak ada hubungan apapun antara aku dan dia." Ucap William.


"Yah aku tidak peduli sebenarnya. Aku hanya berharap, apapun hubunganmu dengan Anna, jangan sampai kau menyakiti adikku. Jika tidak, aku akan benar benar melubangi kepalamu!" Ancam letnan Jorge.


William tersenyum tipis.


"Aku tidak suka mempermainkan seorang wanita." Ucapnya dengan pandangan mata yang menyimpan makna dan penuh luka.