Sacrifice of Love

Sacrifice of Love
Kenangan Daun Maple



Joanna memundurkan langkah nya kebelakang saat William maju dan mendekat kearahnya. Tatapan tajam dan begitu menghunus itu membuat Joanna benar benar takut dan bergetar. Dia sudah sering menghadapi Charles yang tempramen dan kasar, namun kenapa saat bersama William, Joanna malah takut??? Apa karena dia tidak pernah melihat William bersikap kasar padanya dulu?? Atau karena malam ini memang William terasa berbeda???


Ya, sangat berbeda. William terlihat begitu murka, bahkan rahangnya benar benar mengeras dan menahan amarah yang begitu besar. Dia seolah olah ingin menghujam jantung Joanna dengan pandangan matanya yang begitu tajam.


"Letnan," gumam Joanna. Dia sudah terhenti karena sudah merapat pada kursi meja makan.


Sedangkan William masih memandang Joanna dengan lekat. Rasanya dia memang ingin sekali membunuh Joanna malam ini. Apalagi setelah dia menemukan bukti yang dia cari, dan semua mengarah pada Joanna dan orang tuanya.


"To.. tolong, biarkan aku pergi." Pinta Joanna.


William mendengus, rahangnya semakin mengeras bahkan wajahnya juga memerah.


Joanna benar benar tidak tahu apa yang di inginkan oleh pria ini.


Hingga tiba tiba


Grep


"Uuhh" Joanna langsung melenguh saat lehernya di cengkram William dengan kasar. Bahkan dia sampai kesulitan bernafas sekarang.


"Letnan," Joanna mencoba untuk melepaskan cengkraman tangan William, namun nihil. Semakin Joanna memberontak, semakin kuat pula cengkraman di lehernya.


"Sakit, hmm??" Tanya William dengan pandangan mata yang benar benar menyalang tajam.


Joanna terdiam, hanya matanya yang terpejam dengan nafas yang mulai sesak.


"Dasar pengkhianat licik!" Sergah William, cengkraman tangan itu semakin kuat seolah dia benar benar ingin membunuh Joanna.


"Ternyata bakat pengkhianat mu itu memang sudah menurun dari orang tuamu." Ucapan William membuat Joanna langsung membuka mata dan memandang wajah merah pria itu.


"Lalu apa lagi yang kau rencanakan sekarang ha?? Dengan teganya orang tuamu menjebak ibuku dan membuat nya tewas, aku benar benar tidak terima." Geram William.


Joanna tertegun.


William sudah tahu ini???


Apa karena ini dia begitu marah???


"Ma... maaf." Ucap Joanna sekuat tenaganya.


"Maaf katamu, apa kau fikir dengan maaf ibuku bisa kembali!!" Sergah William, dia sudah tidak memperdulikan lagi jika suaranya terdengar keluar, namun William tahu jika Gresham pasti menjaga ruangan ini sekarang.


"Letnan, aku.. aku sungguh tidak tahu kejadian itu. Aku... aku tahu ketika ayahku sudah tewas." Ucap Joanna, tangannya bergetar menggenggam lengan William. Karena sungguh, cengkraman ini benar benar membuatnya tidak bisa bernafas.


William mendengus sinis,


"Kau kira aku akan percaya lagi padamu ha? Apa kau fikir karena kita yang pernah dekat aku akan berbelas kasih padamu? Tidak Anna, tidak akan!" Desis William.


brak


Lagi, Joanna langsung meringis saat William menghempaskan tubuhnya dengan kasar hingga dia membentur meja makan itu dengan kuat. Bahkan beberapa makanan dan piring yang ada di atas sana langsung terburai dan jatuh berserakan.


Joanna mengatur nafas yang benar benar tersengal. Dia tidak bisa melawan, karena saat ini William benar benar sedang meluapkan emosinya. Itupun Joanna tahu jika pria itu pasti juga sudah menahan mati matian untuk tidak membunuh Joanna disini.


Jika Joanna mati, maka William sendiri yang akan kehilangan segalanya. Nama baik dan kekuasaan nya pasti akan terancam.


"Aku tidak terima, Anna. Aku tidak terima!!" Sentak William, dia kembali menarik Joanna dengan kuat, namun malah tertarik pada kerah baju Joanna hingga beberapa kancing baju Joanna terlepas dengan paksa dan menampakkan dadanya yang terbuka.


Joanna yang lemas hanya bisa pasrah, apalagi saat William kembali mencengkram dagunya.


"Aku benar benar membencimu, kau dan orang tuamu adalah orang yang paling kejam di dunia ini. Apa salahku pada mu ha, apa salah ibuku pada orang tuamu!!" Bentak William begitu menggebu.


Joanna hanya memejamkan matanya, membiarkan William meluapkan segala emosi yang ada di dalam hatinya. Sebab untuk menjawab, Joanna tidak tahu harus menjawab apa. Dia tahu, bahkan sangat tahu jika ayahnya memang bersalah. Ayahnya sudah menjadi pengkhianat dan menyebabkan ibu William tewas.


Semua memang salah ayahnya, dan Joanna tidak bisa membela apapun selain kata,


"Maaf," ucap nya begitu lirih.


"Biar aku yang membalas perbuatan ayahku, Daniel." Ucap Joanna.


William tersenyum sinis, matanya memerah dan sedikit berair. Ada luapan emosi dan juga perasaan hancur yang dia rasa bersamaan. Entah kenapa akan begini kisah mereka akhirnya.


"Aku benar benar menyesal telah mengenalmu dan membuang perasaan berharga ku pada mu, Anna." Desis William.


Joanna menggeleng pelan, matanya sudah membendung air yang tidak akan lama lagi pasti akan tumpah.


"Jangan sebut nama itu lagi!!" Bentak William, dengan cepat dia menarik pistol di balik pinggang nya dan menodongkan ke arah jantung Joanna.


Joanna terisak, memandang William dengan pandangan yang begitu perih dan mengiba.


"Kau boleh membenci ku Daniel, tapi aku mohon tolong jangan pernah sesali cinta yang pernah terjadi di antara kita," pinta Joanna.


William menggeleng pelan, wajahnya masih saja memerah dengan mata yang berair. Tidak tahu apa yang dia rasakan sekarang.


"Hal yang paling aku sesali adalah mengenalmu, Anna." Gumam William.


Dia mulai menekan ujung pistolnya di dada Joanna dengan tangan yang bergetar hebat. Membuat Joanna langsung memejamkan mata saat merasakan sakitnya tekanan pistol itu.


Namun tiba tiba dia kembali membuka mata saat tidak merasakan apapun. Joanna menoleh kearah William, dia tertegun melihat pria itu yang memandang kearah dadanya yang terbuka.


Ya, William langsung terhenyak saat tiba tiba dia melihat sebuah tato yang tergambar jelas di dada Joanna.


Sebuah tato daun maple yang terukir inisial nama mereka berdua. Tato yang William buat sendiri di tubuh mantan kekasihnya itu.


"Letnan!!"


Tiba tiba seruan suara Audrey membuat mereka berdua terkesiap. William dengan cepat langsung melepaskan cengkeramannya dari Joanna. Bahkan dengan cepat pula dia pergi dari ruangan yang sudah porak poranda itu dan meninggalkan Joanna sendirian disana.


Joanna jatuh terduduk dengan lemas di atas lantai. Tangan nya membenarkan baju yang terbuka karena ulah William tadi.


Dia tertunduk dengan air mata yang kembali mengalir di wajahnya. Sangat deras bahkan begitu deras seolah menggambarkan hatinya yang benar benar terluka saat ini.


Joanna tertunduk perih, menangis tertahan menahan kepedihan di hati.


Kenapa harus begini??


Kenapa cinta mereka harus berakhir dengan kebencian seperti ini?


Joanna benar benar mencintai William. Tapi sekarang pria itu sudah begitu membencinya.


Semua karena ayah Joanna yang telah berkhianat.


Kejahatan yang dia lakukan, membuat Joanna yang harus menanggung semua akibatnya.


Joanna semakin tertunduk, meredam tangisan yang benar benar tidak bisa dia tahan.


Semua tentang William, tidak ada yang pernah Joanna lupakan.


....


Flasback


"Daun maple ini indah sekali jika di musim semi," ucap Joanna.


"Kau suka sayang?" Tanya Daniel.


"Ya, apa kau tahu jika daun maple ini memiliki filosofi keharmonisan dan kesetiaan dalam sebuah hubungan." Ungkap Joanna, dia masih betah bersandar di dada William.


"Seperti hubungan kita. Aku berharap cinta kita akan tetap harmonis dan hubungan kita akan terus diliputi kesetiaan." Ucap Daniel


"Aku juga berharap seperti itu."


"Daniel," panggil Joanna, dia memandang Daniel dengan lembut.


"Ya."


"Aku ingin membuat tato ini di tubuhku, mau kah kau yang membuatkannya untukku." Pinta Joanna.


"Tapi ini pasti sakit sayang." Daniel terlihat keberatan.


"Tapi aku ingin, aku ingin ini menjadi kenang kenangan untuk kita."


"Kau serius?" Tanya Daniel.


"Tentu saja." Jawab Joanna.


"Baiklah, jika begitu aku juga akan membuat satu di tubuhku."