
Joanna dan Audrey di bawa ke sebuah gedung kosong. Gedung yang sepertinya sudah sangat lama tidak dihuni.
Mereka ditarik paksa mengikuti orang orang berbadan besar ini masuk ke dalam gedung yang semakin kedalam semakin terlihat mengerikan.
Sesekali Joanna melirik kearah Audrey yang pucat. Gadis itu sepertinya begitu ketakutan. Apalagi dia memang tidak tahu apa apa, sudah pasti jika dia merasa terancam dengan penculikan ini.
Entah apa yang akan dilakukan oleh mereka, dan entah siapa mereka. Joanna tidak tahu, dia hanya mengikuti perintah letnan Jorge untuk mengikuti mereka dan tetap mengawasi Audrey.
Ini tugas yang cukup berat. Bagaimana jika mereka dipisahkan setelah ini. Jelas itu bukan hal yang baik.
Kriek
Derit suara pintu yang berderit kuat membawa mereka ke sebuah ruangan yang cukup luas. Terlihat seorang pria gagah duduk di tengah tengah ruangan itu dan dikelilingi oleh para anak buahnya.
Joanna memandang pria itu dengan kernyitan di dahinya. Apakah pria ini dalang di balik penculikan mereka?
Bruk
Audrey dan Joanna langsung di hempaskan ke hadapan pria itu.
"Nona," Joanna dengan cepat membantu Audrey duduk dengan baik, apalagi bahu gadis itu yang cedera membuat dia terlihat kesusahan.
"Wow, kalian membawa dua gadis cantik ternyata."
Joanna mendongak memandang pria itu yang menatap tajam ke arah mereka.
"Sorry, sir. Keadaan genting. Dan wanita ini memaksa untuk ikut dengan kami." Jawab pria bertato yang membawa Joanna dan Audrey.
"Tak masalah Black, sepertinya dia memang ingin ikut bermain." Ucap Robert. Ya Robert, pria gagah mantan abdi negara yang turun jabatan karena kalah dan terbongkarnya kecurangan yang dia lakukan. Semua itu akibat ulah letnan William dan juga Letnan Jorge. Hingga kini Robert menaruh dendam pada mereka.
Robert berjalan kearah Joanna dan Audrey, dia tersenyum sinis setelah memperhatikan setiap sisi tubuh kedua gadis itu.
Sungguh, Joanna benar benar jijik menatap tatapan ****** pria ini.
"Lepaskan kami! Apa maumu!" Seru Audrey, dia menatap benci dan takut pada Robert.
Robert terkekeh sinis, mendekat kearah Joanna dan Audrey. Berlutut di hadapan Audrey dan mengangkat dagu gadis itu dengan pandangan meremeh.
"William memang benar benar pintar dalam memilih wanita. Tunangan dan pengawal yang sama sama cantik. Boleh juga." Ucapnya
Joanna masih terdiam, dia hanya mewanti wanti jika Robert melakukan sesuatu yang kasar pada Audrey.
"Tapi kalian memang bodoh," umpatnya. Dia meraba kalung yang dikenakan Audrey. Namun dengan cepat Audrey menahan kalungnya.
"Jangan!" Seru Audrey.
Robert berdecak, dia menarik kalung itu dengan kuat dan menghempaskan tubuh Audrey kebelakang.
"Nona!" Joanna langsung menolong Audrey dengan sigap.
"Apa kalian pikir kalian bisa dengan mudah membawa putri jenderal ini hmm, apalagi dia sudah menjadi tunangan dari seorang letnan jenderal seperti William. Tentu saja itu bukan hal yang mudah."
Robert berkata sembari memainkan kalung Audrey di tangannya.
"Kembalikan kalung itu!" Teriak Audrey.
Robert kembali terkekeh, dia malah melemparkan kalung itu ke salah satu anak buahnya.
"Hancurkan kalung itu, kalung dengan kamera tersembunyi." Ucap Robert.
"Apa kalian pikir aku tidak tahu!" Bentaknya lagi. Membuat Audrey dan Joanna sedikit terkesiap. Audrey terkejut, karena dia memang tidak tahu hal itu. Tetapi Joanna sudah tidak terkejut lagi, karena hal ini sudah sempat terpikirkan sebelumnya.
"Kau!" Kini Robert menarik lengan Joanna dengan kuat hingga Joanna tertarik dengan paksa ke arahnya.
Robert memutar tubuh Joanna dan menelisik setiap bagian tubuh gadis itu. Dan mudah saja baginya untuk menemukan earphone yang terselip di telinga Joanna.
Robert menariknya dengan paksa, dan melemparkan kembali benda itu ke anak buahnya.
Bruk
Sekali lagi Robert menghempaskan Joanna ke lantai.
"Jangan harap kalian bisa mengelabui ku." Geramnya.
"Bawa putri jenderal ini ke tempat ku. Dan tinggalkan pengawal ini disini!" Perintah Robert.
Joanna dan Audrey langsung panik, mereka saling menatap satu sama lain.
"Tuan, aku mohon biarkan aku ikut dengan nona Audrey. Aku mohon!" Pinta Joanna
"Terserah kalian mau melakukan apapun padanya!" Ujar Robert dengan senyum sinisnya.
"Dasar brengsek kau! Lepaskan kami!!" Bentak Audrey begitu kuat
Grep
Robert langsung meraup dagu Audrey dengan kuat hingga membuat gadis itu meringis sakit.
Joanna ingin mendekat, namun tangannya langsung di cekal oleh anak buah Robert
"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum tunangan mu itu menangis darah karena orang yang dia cintai mati di tanganku," desis Robert
"Kau benar benar bajingan!" Bentak Joanna
Plak
Satu tamparan langsung mendarat di wajah Joanna dari black.
"Jangan ikut campur ******! Bagian mu ada nanti." Ucapnya.
"Kau salah jika ingin membalaskan dendam melalui aku Robert." Ucap Audrey. Wajahnya memerah menahan sakit.
"Aku tidak peduli. Yang aku tahu dia harus menderita, begitu juga dengan jenderal sendiri." Sahut Robert. Dia menghempaskan kepala Audrey dengan kuat.
"Bawa dia," perintah Robert, dia langsung berjalan keluar meninggalkan ruangan itu.
"Jangan, aku mohon jangan bawa nona Audrey! Tuan!" Teriak Joanna.
"Tidak, lepas! Anna!!!" Audrey memberontak saat dia langsung diseret keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Joanna sendiri bersama beberapa orang pria berbadan besar.
"Nona Audrey, aaaah lepas!!" Joanna berteriak dan mulai memberontak kuat.
Tapi sayang, ini pasti akan sedikit sulit dan jelas bukan hal yang baik.
Mereka terpisah, dan dapatkah letnan Jorge menemukan mereka?
..
Sementara di tempat Letnan Jorge dan William, kedua pria itu mulai panik saat tiba tiba alat alat yang menjadi akses mereka menemukan Audrey dan Joanna sudah tidak lagi berfungsi.
Kini, mereka kehilangan jejak kedua gadis itu.
"Sial, sepertinya Robert sudah tahu jika mereka memakai benda itu." Umpat letnan Jorge.
"Jelas saja, dia bukan orang bodoh!" Sahut William. Tangannya masih sibuk bermain di atas iPad nya.
"Jejak terakhir mereka berada di gedung bekas pelatihan." Ungkap William.
"Tapi rasanya tidak mungkin jika mereka tetap disana. Robert pasti sudah membawa mereka pergi." Sahut Letnan Jorge.
"Kau benar, lalu apa rencanamu? Pengawal kita juga kehilangan jejak mereka. Robert benar benar sudah merencanakan ini dengan matang." William bingung, dia benar benar kesal dan sedikit cemas. Walau bagaimanapun Robert adalah musuhnya, dan sekarang Audrey malah ikut celaka karena dia.
"Jangan khawatir, masih ada Xavier yang menguntit mereka. Kita tunggu kabar dari dia." Jawab Letnan Robert.
William mengangguk, mereka terdiam dengan kepala yang penuh dengan rencana dan strategi. Seluruh pasukan sudah bersiap untuk mencari keberadaan Audrey, putri jenderal yang jelas akan membuat heboh satu kota dengan kabar penculikannya ini.
Tidak sulit sebenarnya, tapi Robert, dia adalah mantan rekan William dan letnan Jorge yang tahu dengan kelemahan dan strategi mereka. Jelas, ini akan sedikit sulit.
Tiba tiba lamunan mereka langsung buyar, saat ponsel milik letnan Jorge berbunyi.
"Ya," sahut letnan Jorge
William hanya diam dan menunggu letnan Jorge berbicara. Hingga beberapa menit kemudian dia menyudahi pembicaraan yang begitu serius itu.
"Robert membawa Audrey ke pusat kota. Tempat pasti belum jelas. Sepertinya dia menggunakan kelemahan kita." Ungkap Letnan Jorge.
"Tidak bisa berbuat banyak ketika berada di tempat keramaian. Sialan memang, dia benar benar tidak takut mati." Geram William, pandangan mata tajam itu benar benar menyalang.
"Dia memang sudah merencanakan ini. Kita akan bekerjasama dengan rekan yang lain. Aku sudah meminta bantuan orang orang kita." Ungkap Letnan Jorge.
"Jika terjadi sesuatu pada adikku, aku tidak akan membiarkan jasadnya utuh." Ucap Letnan Jorge lagi.
"Kita kesana sekarang." Ajak William
"Apa kita akan membiarkan Joanna di gedung itu?" Tanya letnan Jorge.
Deg
William langsung menoleh ke arah letnan Jorge
"Mereka terpisah, Robert membawa Audrey kesana, namun dia meninggalkan Joanna di gedung itu." Ungkap Letnan Jorge.
William terdiam
"Kita harus menolong Audrey lebih dulu, aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya. Dia di tangan Robert." Ucapnya lagi.
Menolong Audrey? Lalu … apa dia harus membiarkan Joanna mati sia sia disana?
…
Sementara kembali ke gedung tua. Joanna memberontak kuat saat orang orang itu mulai menggerayangi tubuhnya. Para pria ****** ini benar benar buas dan menatap Joanna dengan liar.
"Lepas, brengsek!" Teriak Joanna.
"Kau milik kami sekarang." Ucap mereka.
Joanna tidak terima, dia tidak boleh dinikmati oleh orang orang ini. Lebih baik dia mati daripada melayani nafsu bejat mereka.
Buk
Joanna menendang kuat salah seorang pria yang mencoba meraba tubuhnya.
"Aku lebih baik mati daripada harus melayani kalian!" Geramnya.
"Kau memang cari mati." Orang orang itu begitu marah saat Joanna melawan. Dan akhirnya mereka mulai menghajar Joanna.
Perkelahian tidak terelakkan. Joanna terpaksa harus melawan lima orang sekaligus disini. Meskipun mati, mungkin itu lebih baik.
Buk
"Uuh." Joanna terhempas ke belakang saat tubuhnya di tendang oleh salah satu pria. Namun dengan cepat Joanna bangkit kembali sembari menarik pisau kecil dari balik pinggangnya.
Dengan gesit dia melawan pria pria itu dengan pisaunya. Dan beruntungnya Joanna karena orang orang itu hanya menggunakan tangan kosong.
"Kurang ajar!" Mereka menggeram saat tahu Joanna memiliki kemampuan yang cukup hebat.
Buk
Joanna kembali menendang mereka, dan di saat ada kesempatan Joanna berlari keluar dari ruangan itu.
Tentu saja mereka juga ikut mengejar. Berlari sekuat tenaga, melompati berbagai kardus dan juga balok balok kayu yang sudah lapuk.
Namun sayang, Joanna tersandung sebuah balok kayu yang melintang membuat dia terjatuh dan berhasil ditangkap.
"Mau kemana kau ha!" Teriak pria itu
"Lepas!" Joanna memberontak, namun pukulan di wajahnya membuat Joanna terhempas membentur dinding mengakibatkan darah langsung tersembur keluar dari mulutnya.
Nafas Joanna tersengal , sesak , dan dia merasa sakit di bagian ulu hati.
Apa dia akan mati??
Berharap ada yang menolong? Rasanya mustahil. William dan letnan Jorge pasti akan lebih memilih menolong Audrey daripada dirinya.
"Lebih baik kau pasrah cantik." Ucap mereka dengan gelak tawa yang mengerikan.
Joanna sudah tidak bisa melawan, dia masih menahan rasa sakit di dalam tubuhnya.
Joanna memejamkan mata di saat pria itu mendekat ke arahnya.
Namun tiba tiba
Dor dor dor
Beberapa suara tembakan terdengar nyaring bersamaan dengan terjatuhnya orang orang itu di hadapan Joanna.
Joanna menoleh ke asal suara, dan betapa terkejutnya dia melihat siapa yang datang menolongnya.