
William duduk di sebuah kursi besar di dalam ruang pribadinya. Wajahnya datar dan begitu dingin, pandangan matanya memandang kosong pada sebuah figura besar yang terpajang di dinding ruangan itu. Namun, tidak terlihat gambar apa yang ada disana karena figura itu tertutup oleh sebuah kain merah.
Hari sudah hampir pagi, namun sampai saat ini dia masih betah duduk di atas kursi itu dan sama sekali belum beranjak sedikitpun. Setelah pulang dari kediaman jenderal Frederick, William langsung kembali ke mansionnya dan mengurung diri di dalam ruangan ini. Bahkan, Gresham benar benar bingung melihat tingkah William yang seperti ini. Apalagi setelah drama yang terjadi di ruang makan bersama dengan Joanna malam tadi, William terlihat diam dan tidak lagi berbicara apapun,.
Ya, apa yang harus di bicarakan. William seperti seorang patung yang tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Ternyata dalang di balik pengkhianatan yang terjadi lima tahun lalu dan mengakibatkan ibunya tewas adalah ayah Joanna.
Apa yang harus dia lakukan?
Membunuh Joanna? Tapi jika itu dia lakukan apa semua akan selesai. Tidak, jelas saja tidak akan selesai. Ingin sekali dia membunuh wanita itu, wanita yang sudah menghancurkan hati dan perasaan nya berkeping keping di tambah dengan kenyataan yang baru saja dia terima ini, membuat semuanya semakin bertambah parah.
Tapi... untuk membunuh Joanna, kenapa rasanya sulit?
William menghela nafas dan memejamkan matanya yang terasa berat. Seberat beban di hati yang entah sampai kapan akan terurai.
Tapi sudah William fikirkan, dia memang tidak akan membunuh Joanna, namun dia pastikan Joanna akan merasakan kesakitan yang lebih berat dari apa yang pernah William rasakan saat ini.
...
Keesokan harinya...
Joanna sedang duduk termenung di kursi taman, memandangi Audrey yang sedang memberikan makan ikan ikannya di kolam kecil yang ada di sana. Gadis itu terlihat asik hingga tidak lagi memperdulikan Joanna yang benar benar tidak bersemangat.
Ya, dia benar benar tidak bergairah. Wajahnya lesu dan sedikit pucat. Perasaan nya benar benar tidak nyaman sekarang, apalagi setelah tahu jika William sudah mengetahui tentang pengkhianatan ayahnya. Semua terasa sakit dan rumit.
William semakin membencinya sekarang, dan Joanna sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Seribu kata maaf yang dia ucapkan juga tidak akan bisa membalas rasa sakit di hati William atas kematian ibunya. Pengkhianatan Joanna dan juga pengkhianatan keluarganya, semua pasti begitu menyakiti William.
Joanna hanya bisa pasrah, semoga dengan kehadirannya disini William bisa membalaskan rasa sakit itu. Tidak mengapa dia terluka, tidak mengapa dia terus menahan rasa sakit ini. Joanna sudah pasrah. Dia hanya berharap, jika dia mati, William sudah akan memaafkannya nanti.
Bisakah begitu? Entahlah.
"Joanna," suara seseorang membuat Joanna sedikit terkesiap. Dia menoleh kearah belakang. Namun tiba tiba sebuah pisau malah melayang kearahnya. Joanna dengan cepat langsung menghindar dengan sedikit memutar tubuhnya.
Jantungnya langsung bergemuruh hebat dengan serangan mendadak itu.
Suara tepuk tangan terdengar beberapa kali, dan bisa Joanna lihat jika letnan Jorge nampak tersenyum tipis memandangnya.
Apa yang di inginkan letnan ini? Apa dia ingin menguji Joanna?
"Lumayan, aku kira kau akan terus melamun tanpa henti." Ucapnya.
Joanna langsung memasang sikap hormat pada kakak Audrey ini.
"Maaf, letnan. Saya hanya sedang memperhatikan nona Audrey." Jawab Joanna.
Letnan Jorge tersenyum miring dan menoleh kearah Audrey yang sudah berjalan mendekat kearah mereka. Dia kembali menoleh kearah Joanna dan memandang nya dengan lekat. Entah apa yang ada di dalam pikiran pria ini, yang pasti pandangan itu benar benar membuat Joanna risih.
"Semut pun tahu jika kau sedang melamun, Anna." Ucap letnan Jorge.
Joanna hanya menghela nafas dan menundukkan pandangan nya. Tidak tahu harus menjawab apa.
"Kakak, kenapa kau sudah pulang?" Tanya Audrey. Di tangannya masih memegang mangkuk makanan ikan.
"Aku hanya ingin berpamitan pada kalian." Jawab letnan Jorge.
"Berpamitan, memang kau mau kemana?" Tanya Audrey lagi. Joanna hanya diam dan mendengarkan saja perkataan mereka. Dia ingin mundur kebelakang Audrey, namun letnan Jorge malah menahan langkahnya.
"Joanna,"
Audrey dan Joanna langsung memandang letnan Jorge dengan bingung.
"Putri dari seorang agen dan polisi."
deg
"Apa, Joanna putri seorang agen?" Tanya Audrey. Nampaknya dia begitu terkejut mendengar ini.
"Anna, kau tidak pernah bilang padaku," protes Audrey yang langsung memandang Joanna dengan kesal.
"Maaf nona. Tapi saya rasa itu memang tidak penting." Jawab Joanna.
"Dasar kau, tidak penting dari mana. Aku sudah menceritakan semua tentang ku padamu, tapi kau malah menutupinya dari ku. Bahkan kau berkata jika kau hanya putri dari orang biasa." Gerutu Audrey.
Joanna hanya bisa tersenyum getir mendengar itu. Dia masih bingung kenapa letnan Jorge bisa tahu tentang orang tuanya. Apa dia juga tahu jika Joanna pernah berhubungan dengan William dulu??? Ah... rasanya mustahil. Semoga saja dia tidak tahu.
"Sebenarnya banyak hal yang ingin aku ketahui darimu. Tapi sepertinya waktuku tidak banyak untuk saat ini. Mungkin setelah pulang bertugas aku akan mengintrogasimu, Anna. Apalagi tentang kau yang ternyata memiliki hubungan dengan buronan William." Ungkap Letnan Jorge. Wajahnya terkesan ambigu, dan perasaan Joanna sudah berubah tidak menentu sekarang.
"Apa maksudnya kak?" Tanya Audrey, dia kelihatan nampak begitu bingung.
"Tidak apa apa sayang, tapi aku rasa pengawalmu ini memang bukan orang biasa. Apalagi dia adalah pilihan dari... letnan William." Ucap letnan Jorge dengan senyum miring nya.
Joanna langsung tertunduk, apalagi saat melihat Audrey yang menatap curiga padanya.
"Sudahlah, jangan fikirkan apapun. Aku akan pergi dalam seminggu ini. Kau harus menjaga dirimu dengan baik." Ujar letnan Jorge seraya mengusap bahu Audrey sejenak.
"Kau pergi dengan William?" Tanya Audrey, dia berusaha untuk meredam rasa penasarannya pada Joanna untuk saat ini.
"Ya, karena misi ini milik dia. Tapi aku yang bertugas untuk membantunya disana." Jawab letnan Jorge.
"Kenapa dia tidak ada menemui ku? Bukankah rencana kalian pergi adalah besok?" Tanya Audrey lagi.
"Ada beberapa kendala yang terjadi di lapangan. Sudah banyak korban dan kami harus segera menangani ini. Mungkin dia akan mengabarimu lewat ponsel nanti. Kau tahu jika dia orang yang sangat sibuk bukan." Jawab letnan Jorge.
"Menyebalkan." Umpat Audrey.
"Jangan begitu, setelah menyelesaikan misi ini, dia pasti akan menikahimu. Dia sudah berjanji padaku." Ucap letnan Jorge.
Jonna terdiam mendengar itu. Berarti dalam seminggu kedepan dia tidak akan lagi bertemu dengan William??? Harus senang, atau sedih???
"Anna," Kini letnan Jorge kembali pada Joanna. Dia nampak mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.
"Ini hadiah yang sudah aku janjikan untukmu." Ucap letnan Jorge seraya menyerahkan sebuah kotak kecil pada Joanna.
Joanna mengernyit memandang kotak hitam itu.
"Letnan, anda tidak perlu repot repot. Sungguh, saya tidak layak untuk menerima hadiah dari letnan." Tolak Joanna dengan halus. Namun letnan Jorge malah langsung meraih tangan Joanna dan meletakkan benda itu di tangannya.
"Jangan menolak, benda ini juga berfungsi jika kau memerlukan bantuan atau ada hal yang mendesak. Simpan dengan baik dan jangan jauhkan dari tubuhmu." Ujar letnan Jorge.
Joanna mengernyit sekilas dan memandang kotak kecil yang kini sudah berada di tangan nya.
"Aku pergi, kau jaga dirimu baik baik, oke." Letnan Jorge langsung mengecup pucuk kepala Audrey sekilas, dan setelah itu tanpa mengatakan apapun lagi dia langsung pergi meninggalkan kedua wanita itu yang masih mematung di tempat mereka masing masing.
Joanna memandang kepergian letnan Jorge dengan aneh. Kenapa pria itu memberikan Joanna alat kecil ini? Sebuah earpiece yang terlihat canggih dan pastinya ini benda yang sangat jarang di temui jika tidak di pesan dulu. Joanna juga tahu, jika ini adalah benda yang hanya di pakai oleh orang orang penting saja. Dia tahu benda ini, karena Charles memilikinya dulu. Benda ini sudah terhubung langsung pada seseorang yang dikehendaki, karena benda ini adalah alat komunikasi rahasia yang sering digunakan oleh para agen dan juga pengawal khusus.
Kenapa letnan memberikan ini? Ini benda yang mahal dan Joanna juga tidak sehebat itu untuk menerima misi tertentu.
Aneh sekali.
puk puk
Tepukan dibahunya membuat Joanna terkesiap. Dia langsung menoleh kearah Audrey, namun tiba tiba...
deg
Pandangan mata Audrey yang penuh kecurigaan langsung menghujam jantung Joanna.